Battle of Realms N2 : Final

 

Final

Mari kita mulai akhir dari segalanya dengan satu pertanyaan sederhana.

Apa itu ‘Kebenaran’?

Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja berbeda-beda tergantung siapa yang menjawabnya dan kenapa mereka mencarinya. Namun, semuanya secara garis besar dapat disederhanakan menjadi satu kalimat.

‘Kebenaran’ diperlukan agar setiap dari mereka yang hidup di dunia tahu garis pembatas dalam kehidupan mereka.

Antara yang benar dan yang salah.

Antara yang nyata dan yang maya.

Antara yang terwujud dan yang tidak.

Dan seterusnya.

Dengan adanya ‘Kebenaran’, setiap individu tahu apa yang dapat mereka antisipasi dalam kehidupan, apa yang harus mereka hindari, dan pembeda antara satu hal dengan lainnya.

Bila ‘Kebenaran’ menyebutkan bahwa  bumi itu bulat seperti bola, orang-orang tidak akan lagi mengganggap dunia ini berujung.

Bila ‘Kebenaran’ menyebutkan bahwa pihak yang jahat selalu kalah, orang-orang dapat menebak seperti apa akhir dari setiap cerita dengan tokoh baik dan jahat.

Bila ‘Kebenaran’ menyebutkan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini, orang-orang tidak akan berhenti mencari kemungkinan dari segala hal yang belum mereka temui.

Mengapa kita perlu membawa topik ini di akhir perjalanan panjang ini?

Karena semua yang telah melalui turnamen ini bertarung untuk hal tersebut. Mereka telah bersedia dia bawa ke tempat antah berantah dan mempertaruhkan waktu, tenaga, hingga nyawa hanya untuk satu hal yang mereka harap dapat mengubah sesuatu menjadi apa yang mereka inginkan.

Sebuah harapan.

Sayangnya, orang yang menawarkan hal tersebut sebagai hadiah bagi pemenang turnamen ini kelihatannya punya rencana lain.

Tentu saja, menawarkan ‘Kebenaran’ bagia siapapun masih dalam cakupan kemampuannya. Ia bisa memodifikasi cerita, jadi ia bisa saja mengabulkan apapun yang ingin dijustifikasi oleh siapapun untuk dunia dan kehidupan mereka.

Tapi ia bukan Tuhan. Ia bukan pencipta. Karenanya, ia tidak sempurna.

Ketidaksempurnaan yang sejauh ini berusaha ia tutupi dengan satu skema.

Skema di mana ia berniat merebut [skenario] dari siapapun yang menang di akhir.

Sebenarnya pikirannya tidak sejahat dan sepicik itu untuk tidak menepati janjinya pada siapapun yang telah berusaha sampai sejauh ini. Mungkin ia tetap akan mengabulkan apapun permintaan mereka.

Namun yang pasti, ia akan menjadikan apapun yang terjadi hingga akhir sebagai miliknya.

Ini adalah satu hal yang tidak diketahui oleh siapapun selain dirinya, dan seorang ‘pemeran pengganti’ yang telah ia persiapkan untuk akhir cerita ini.

Kini, dengan fakta yang masih tak terlihat oleh kedua peserta yang tersisa, panggung terakhir turnamen Battle of Realms akhirnya dibuka!

*****

Sakaki membawa Mliit dan Galon kembali ke dunia hitam putih. Kini yang tersisa hanyalah kedua finalis, serta kedua panitia. Turnamen yang telah dibanjiri oleh air mata, keringat, dan darah, kini harus berakhir di sini.

Kedua peserta tampak tidak sabar. Kelihatannya ‘beban’ yang mereka bawa dari setiap pertarungan yang mereka lalui telah mencapai puncaknya.

Hanya selangkah lagi, dan keinginan mereka akan terkabul, Usaha mereka akan terbayar, dan salah satu dari mereka akan keluar sebagai pemenang.

“Ehem!” Sakaki membuka dengan berdehem pelan. “Baiklah, pertama-tama kuucapkan selamat pada kalian yang telah sampai sejauh ini, juga terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah rela berjuang hinnga titik ini. Setelah ini, siapapun di antara kalian yang menang akan mendapatkan apapun yang kalian mau dari ‘Kebenaran’ yang kutawarkan. Eh, lalu....(apa lagi?) ...mungkin sekian saja. Selamat jalan, dan semoga yang terbaik keluar sebagai pemenang!”

Kelihatannya Sakaki ingin cepat-cepat menyelesaikan bagiannya, atau ia memang tidak tahu harus bicara apa lagi di tengah dua peserta yang tegang dan satu rekan panitia yang kelihatannya telah menutup hatinya sejak insiden terakhir. <*note : SS>

Jadi, ia menyudahinya dengan membuka sebuah buku tebal.

Buku yang berjudul ‘Battle of Realms’.

“Kalian pasti sudah tahu kalau turnamen ini bukan turnamen pertama. Sesuai tradisi (?), kisah kalian tidak akan disia-siakan dan akan terus kurekam dalam bentuk cerita. Tidak akan ada di antara kalian yang tidak diingat oleh generasi selanjutnya. Nama kalian akan....ah, rasanya omonganku mulai melantur. Intinya, sekali lagi, selamat berjuang.”

Tiba-tiba kedua finalis tersedot ke dalam buku di tangan Sakaki oleh gaya yang begitu mendadak, meninggalkan Sakaki dan Fort di tempat tersebut.

Sakaki melirik ke arah Fort sejenak.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Pergilah, dan buat mereka mengakhiri kisah ini.”

Sekejap kemudian, Fort ikut terhisap ke dalam buku Sakaki.

Kini Sakaki tinggal seorang diri di dalam dunianya.

“....sebenarnya aku berharap bisa membuat akhir cerita ini lebih meriah...tapi mungkin itu memang bukan kepribadianku. Hahaha.....uh. Bahkan tertawa pun rasanya sulit.”

Sakaki sedikit menyesali dirinya tak bisa mengakhiri turnamen ini sebagaimana turnamen sebelumnya. Ia tertawa lirih, kemudian membuka halaman pertama buku tersebut, menelusuri setiap titik perjalanan cerita panjang berjudul ‘Battle of Realms’ yang telah ia buka.

*****

Sementara itu, Mliit dan Galon kini mendapati diri mereka di dalam sebuah tempat yang aneh.

Tentu saja, mereka telah melihat banyak tempat aneh sebelum ini. Namun yang satu ini mungkin lebih aneh daripada yang sudah-sudah.

Apa yang ada di depan mata mereka terlihat seperti ‘tempat’ yang dicampuradukkan antara satu dengan yang lain. Sulit menggambarkannya dengan kata-kata, namun siapapun yang melihatnya pasti merasa tempat ini seperti ‘sebuah gambar yang ditumpuk’.

“Sama seperti kalian, aku juga terkejut dia menyiapkan tempat seperti ini sebagai panggung terakhir...”

Baik Mliit maupun Galon segera melirik ke arah pemilik suara tersebut. Seorang bocah berambut pirang yang kini berdiri di depan mereka sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

“Baik, baik, sesuai standar prosedur, biar kuperkenalkan diriku. Namaku Fort Maxwell, dan aku adalah pemandu final ini, sekaligus panitia sebenarnya yang merancang keseluruhan konsep turnamen ini. Kenapa aku baru muncul sekarang, kalian bisa tanyakan pada si masker gas itu nanti setelah keluar dari sini...”

Sesaat ekspresi Fort melunak setelah ia mengucapkan kalimat terakhir.

“....keluar dari sini, eh...”

Kemudian terdengarlah suara sesuatu yang lain.

Suara pertarungan.

Dari segala arah. Satu, dua...hingga tak bisa dihitung lagi ada berapa pertarungan sebenarnya yang tengah berlangsung di ‘tempat’ ini.

“Kalian mendengarnya? Itu, adalah bayangan dari pertarungan panjang turnamen Battle of Realms sebelumnya. Seperti sebuah proyeksi. Mereka ada di sana, namun tidak benar-benar nyata. Dan semua cerita pertarungan mereka ditaruh di satu ‘tempat’ seperti ini, karenanya semua terlihat berantakan ke manapun kita memandang.”

Mliit dan Galon bertukar pandang, kemudian menatap Fort seolah meminta kejelasan tentang apa sebenarnya yang harus mereka lakukan di final ini.

“Dia hanya berpesan padaku untuk membuat kalian menutup akhir turnamen ini. Kalau mengikuti aturan normal, mungkin kalian hanya perlu bertarung hingga salah satu dari kalian ‘kalah’ dan yang lain keluar sebagai pemenang. Kalau kalian tidak puas, mungkin kalian bisa mencari jalan lain untuk keluar dari sini....yang manapun itu, aku di sini hanya sebagai saksi. Peranku adalah ‘untuk membawa akhir dari kisah kalian’. Jadi, silakan dimulai.”

Suara pertarungan terdengar semakin mengganggu. Tempat ini pun berubah wujud seperti video rusak, berganti elemen tiap waktu, membuat mata tak bisa konsisten melihat satu pemandangan yang sama sekalipun tidak bergerak ke mana-mana.

Fort menghela nafas, menyaksikan kedua finalis yang terlihat ragu dan bingung. Seperti dirinya.

Ia tahu Sakaki mengawasi dari luar. Yang ia tidak tahu adalah sejauh mana ia bisa mengambil peran dalam ‘akhir cerita’ yang diinginkan Sakaki.

 

Kini, ia hanya dapat berharap kedua finalis tersebut dapat memberikannya sebuah jawaban.

*****

PERATURAN PERTANDINGAN

[Buatlah akhir dari turnamen ini.]

Tidak ada aturan apapun. Kalian bebas menentukan bagaimana perjalanan kalian berakhir di sini.

Tempat pertarungan adalah cerita Battle of Realms pertama, dengan kata lain, kota langit Prucia hingga Le Colosseum de Phantasm, yang dapat berhganti wujud atau bercampur satu sama lain sewaktu-waktu secara acak. Tempat yang tidak stabil. Terkadang kalian akan menemui siluet pertarungan para peserta BoR sebelumnya, walau itu hanya proyeksi yang tidak nyata

*****

PENTING BAGI PESERTA

·        Tidak ada deadline

·        Sisanya yang bersifat teknis, rasanya kalian sudah tahu tanpa perlu diberi tahu.

·        Tantangan : Siapapun yang bisa menyelesaikan Final dalam waktu kurang dari sebulan akan diberi sebuah ‘epilog khusus’ dari versi panitia, melanjutkan bagaimana akhir kisah kalian (opsional – kalau menolak juga tidak apa-apa).

·        Mekanisme pemenang : Siapapun dengan vote [WIN] paling banyak sebulan setelah salah satu cerita selesai.

Read previous post:  
40
points
(989 words) posted by Sam_Riilme 8 years 48 weeks ago
80
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Writer redtailqueen
redtailqueen at Battle of Realms N2 : Final (8 years 36 weeks ago)
100

*lemparlink* #plok x3
http://id.kemudian.com/node/272679

Writer smith61
smith61 at Battle of Realms N2 : Final (8 years 39 weeks ago)
90

Rumit yak.

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Battle of Realms N2 : Final (8 years 41 weeks ago)
100

Meninggalkan jejak dulu... =.=

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Battle of Realms N2 : Final (8 years 44 weeks ago)
100

"Hmp, sudah kubilangkan? Lebih baik aku mundur."
.
"Eeh.. ya, Al.. aku juga gak yakin bisa bikin cerita dengan setting kayak gini *sigh*"
.
"Sekarang, si Psychotic Gas Mask itu hanya harus menunggu cerita terbaik yang akan disuguhkan kepadanya."
.
"Menurutmu apa yang dia lakukan setelah itu?"
.
"Entahlah. Aku ingin mengurus pemakamannya."