Pangeran Melodia

Di sebidang tanah lapang di balik bukit yang hijau, terdapatlah sebuah negeri yang cukup besar. Negeri itu dikenal sebagai Negeri Melodia. Negeri yang dipimpin oleh seorang raja ini terkenal akan rakyat-rakyatnya yang berbakat di bidang musik, baik itu memainkan berbagai alat musik, menyanyi, maupun menari. Hampir tidak ada warga yang buta dengan musik, karena itulah negeri ini disebut sebagai Negeri Melodia.

 

Negeri yang setiap sudutnya terdengar iringan musik ini dipimpin oleh seorang raja bijaksana yang bernama Raja Adhigian. Ia selalu peduli dengan rakyat-rakyatnya, selalu berlaku adil, membaur dengan rakyat, tidak sombong, juga sering mengadakan festival dan acara-acara di istananya, di mana semua warganya dapat hadir dan berpartisipasi tanpa terkecuali. Festival dan acara yang diselenggarakan oleh kerajaan biasanya tidak akan jauh dari kegiatan seni, terutama seni musik yang menjadi ciri khas negerinya.

 

Raja Adhigian baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki. Mengingat anak ini merupakan anak satu-satunya, ia sangat berharap kelak anaknya inilah yang akan meneruskan takhtanya di negeri yang makmur ini. Saking senangnya Raja Adhigian atas kelahiran putra pertamanya itu, ia pun mengundang semua warga Melodia ke istananya untuk berpesta. Kegembiraan pun disambut meriah oleh seluruh warga Melodia.

 

Dan malam perayaan itu pun tiba. Istana kerajaan dipenuhi oleh orang-orang. Semuanya menari, diiringi oleh alunan musik yang membahana di kawasan istana. Beberapa di antaranya menyantap hidangan yang disediakan, bersenda gurau, tak lupa dengan mereka yang sengaja datang untuk menengok anak sang raja sambil memberikan hadiah dan doa-doa untuknya. Semua yang berada di kawasan istana ini diselimuti oleh aura kebahagiaan, suasana yang mampu menghangatkan semua orang di tengah dinginnya malam ini.

 

Namun, suasana hangat tadi mendadak pudar. Pudar, seiring dengan entakan langkah kaki seorang wanita berjubah hitam ke dalam aula istana. Semua yang berada di aula istana tahu siapa wanita itu. Mereka mundur beberapa langkah, mencoba menjaga jarak. Takut, jijik, tidak suka, marah, bertanya-tanya, heran, semua ekspresi itu tergambar dalam bahasa tubuh setiap orang di ruangan ini, tak terkecuali sang raja dan ratu yang langsung bangkit dari singgasananya.

 

“Mau apa kau kemari, Cesillia?”

 

Cesillia—wanita berjubah hitam itu—tertawa pelan. “Aku sama seperti semua orang di sini. Aku ingin melihat anakmu, pangeran yang kelak akan menjadi raja di negeri ini. Tega sekali kau, raja yang agung, mengundang semua warga kecuali aku.”

 

“Itu karena kau bukan lagi warga Melodia,” seru seseorang dari kerumunan. “Kau sudah diusir, tukang sihir!”

 

Seketika itu juga suasana di aula istana menjadi galau. Tidak sedikit orang yang mencerca Cesillia, bahkan ada yang melemparinya dengan makanan kecil yang ada di atas meja prasmanan. Meski begitu, Cesillia tampak diam, dengan senyuman yang tak ada seorang pun tahu maksud di balik senyumannya itu.

 

Cesillia mengangkat jari telunjuk kanannya. Dari situ keluarlah cahaya hijau pekat dan besar yang terbang ke atas—ke langit-langit aula—dan menghantam chandelier besar di tengah aula. Kemudian chandelier itu pun jatuh, dan semua warga terdiam.

 

“Seperti yang kukatakan tadi, aku datang untuk melihat putramu.” Cesillia menolehkan pandangannya ke arah wanita yang berdiri di sebelah Raja Adhigian, menggendong bayi dalam pelukannya. “Oh, di situ kau rupanya.”

 

Cesillia mengangkat jari telunjuknya lagi. Bayi dalam pelukan sang ratu tiba-tiba melayang, lalu bergerak seirama dengan gerakan jari telunjuk Cesillia. Tanpa harus melangkahkan kakinya, Cesillia sudah mendapatkan bayi mungil itu di hadapannya.

 

“Oh, bayi yang tampan dan bersuara indah,” ucap Cesillia sambil memandangi bayi sang raja yang tertawa kecil.

 

“Sudah cukup, Cesillia! Kembalikan anakku!” Raja Adhigian melangkah maju, tak sabaran, namun langkah kakinya seketika terhenti ketika wanita berjubah hitam itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah sang raja.

 

“Aku belum selesai, Yang Mulia.” Cesillia kembali menatap bayi di hadapannya dan mulai bercerita. “Hei, tampan. Kau mau mendengar cerita dariku? Beberapa tahun yang lalu, ada seorang gadis belia yang diusir oleh raja di negeri tempat tinggalnya sendiri. Ia diusir karena dia sedikit berbeda dari orang-orang lainnya. Dia punya suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain, tapi sang raja takut akan kelebihan yang dia punya itu, jadi sang raja mengusirnya dari negeri tersebut, padahal dia masih kecil.

 

“Gadis kecil tadi sedih. Ia tidak punya tempat tinggal. Bertahan hidup sendirian dengan berpindah-pindah tempat, tanpa ada orang yang menemaninya. Ia sempat marah pada dirinya sendiri karena harus berbeda dengan yang lain. Tapi, ketika ia beranjak dewasa, ia sadar kalau apa yang ia miliki itu merupakan suatu anugerah dan tidak boleh disia-siakan. Ia berlatih, berlatih seorang diri mengasah kemampuannya, sehingga suatu saat nanti gadis yang sudah beranjak dewasa itu dapat kembali menemui raja yang pernah mengusirnya untuk menuntut balas.

 

“Dan tahukah kau, wahai pangeranku yang tampan? Akulah gadis itu. Dan saat inilah aku akan menuntut balas.”

 

Tiba-tiba Cesillia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya membahana ke seluruh penjuru istana. Semua orang panik dan berlarian tanpa arah, menduga-duga apa gerangan yang akan dilakukan Cesillia malam ini. Sementara itu sang raja dan ratu yang masih terpaku di tempat mereka berdiri hanya bisa berteriak memohon maaf dan ampun pada Cesillia.

 

“Maafkan aku, Cesillia. Kalau kau ingin membalas dendam, lakukanlah padaku. Aku hanya minta kau jangan sentuh rakyat-rakyatku, istriku, juga anakku.”

 

Cesillia membalasnya dengan senyuman sinis. “Apa kau buta, Yang Mulia? Sejak tadi, aku sama sekali tidak menyentuh anakmu.”

 

Cesillia mengangkat kedua tangannya ke udara. Cahaya hijau pekat berputar di sekelilingnya, deru angin pun berputar di sekitar Cesillia, sejalan dengan mantra yang ia rapalkan dari mulutnya. Tak lama, bayi sang raja melayang ke udara, dan kemudian terbang melesat, keluar melewati gerbang istana, dan hilang dari pandangan.

 

“Tidaaaaaaakk!!” Jerit sang ratu tatkala melihat anaknya terbang menjauh. Sangat jauh dari dekapannya.

 

“Kau apakan anakku, Cesillia?” Tanya sang raja dengan nada yang penuh amarah.

 

“Dulu, kau pernah mengusirku dari negeri ini. Jadi, sebagai balasannya, kubuang anakmu ke negeri yang sangat jauh dari sini. Kuberi ia kutukan agar ia tak akan pernah bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi untuk selamanya.”

 

“Pengawal!! Tangkap Cesillia!!” Seru Raja Adhigian. Murka. Serentak, puluhan pengawal istana membentuk formasi melingkar dan bersiap untuk menangkap Cesillia.

 

Cesillia terkekeh. “Aku ingin kau merasakan penderitaan yang kurasakan selama ini, Yang Mulia.” Asap hijau tebal muncul dengan tiba-tiba, menelan tubuh Cesillia. Ketika asap tersebut menipis, Cesillia sudah meninggalkan istana ini.

 

Suasana di aula yang setengah jam lalu tampak riuh ramai dan penuh kegembiraan, kini berubah menjadi hening, sepi, dan penuh kesedihan. Sang raja dan ratu hanya tertunduk diam di singgasana mereka. Para warga pun ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh raja mereka. Begitu pula dengan para utusan kerajaan yang diminta langsung oleh sang raja untuk mencari keberadaan anaknya, meski semua orang tahu kalau usaha ini akan sia-sia. Belum pernah ada seorang pun yang dapat melampaui kemampuan sihir Cesillia.

 

Di tengah suasana yang penuh duka ini, seorang wanita berjalan menghadap sang raja di singgasananya. Wanita itu adalah Phinandhari, seorang penyihir yang tinggal di bukit hijau dekat istana. Berbeda dengan Cesillia, orang-orang di Negeri Melodia menyegani Phinandhari karena ia sering membantu orang-orang yang kesulitan, terutama di bidang pengobatan. Phinandhari menggunakan kekuatan magisnya untuk kebaikan, berbeda sekali dengan Cesillia.

 

“Yang Mulia, saya tahu bahwa saya tidak mampu mematahkan kutukan Cesillia yang begitu kuat. Tapi, mungkin saya bisa sedikit membantu dengan segala kemampuan yang saya miliki,” ucap Phinandhari sambil membungkuk di hadapan raja.

 

“Saat ini, bantuan sekecil apapun akan kuterima, asalkan aku bisa bertemu anakku lagi,” jawab raja, lirih.

 

Phinandhari berdiri. Ia memejamkan matanya. Kedua tangannya setengah diangkat dengan telapak tangan yang terbuka. Kemudian ia merapal mantra. Perlahan-lahan, angin bergerak dan berpusat ke arahnya, menimbulkan semacam pusaran angin kecil di sekelilingnya. Tak lama, Phinandhari membuka matanya. Sebuah bola cahaya melesat dari dalam tubuhnya. Dengan kecepatan kilat, bola cahaya tersebut terbang keluar, melewati gerbang istana, dan menghilang ke arah Cesillia melemparkan anak sang raja.

 

“Bagaimana Phinandhari?”

 

“Maafkan saya, Yang Mulia. Dengan segala kemampuan saya, saya hanya dapat membuat kutukan anak Yang Mulia hilang di saat ia menyanyikan sebuah lagu khusus untuk orang yang ia cintai, tapi kalau ia menyanyikannya untuk orang yang salah, selamanya, Yang Mulia tidak akan bisa bertemu dengannya. Dan kurasa... Cesillia memberinya kutukan tambahan. Sayangnya saya tidak tahu kutukan apa yang ia berikan itu.”

 

Meski dengan bantuan yang diberikan Phinandhari pun, kesedihan sang raja tidak kunjung reda. Tapi, setidaknya, ia yakin bahwa suatu saat nanti, ia akan bertemu dengan anaknya kembali. Anak yang bahkan belum sempat ia beri nama.

 

~ *** ~

 

*Dua Puluh Tahun Berlalu*

 

Di jarak yang terpaut sangat jauh dari Negeri Melodia, terdapat sebuah desa kecil. Desa itu bernama Desa Bosque. Desa yang terletak di pinggir hutan ini cukup tenteram dengan jumlah penduduk yang tidak lebih dari empat ratus orang. Kesenjangan sosial dan ekonomi tidak begitu terlihat di sini. Semua orang bekerja sama kerasnya, saling bahu membahu dalam melaksanakan aktivitas, termasuk bersuka ria bersama.

 

Di desa kecil itu tinggallah seorang pemuda yang pandai bermain alat musik. Ia bernama Shuda. Sejak kecil, Shuda sering menggunakan alat-alat di sekitarnya sebagai alat untuk menciptakan bunyi-bunyian yang berirama dan terdengar merdu. Dedaunan, kayu, bahkan peralatan besi yang biasa digunakan ayahnya untuk menempa bermacam-macam barang ia gunakan untuk bermusik.

 

Setiap pagi, sesaat sebelum fajar menyingsing, Shuda pergi ke pinggir hutan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Ia memanjat pohon mahoni besar yang menjadi tempat favoritnya dan duduk di sana, menanti matahari pagi bangkit dari timur sambil memainkan seruling bambu miliknya. Permainan merdu dari seruling Shuda menjadi pembuka kehidupan Desa Bosque setiap harinya.

 

“Shuda, ayo kita berangkat, nanti kesiangan.”

 

Shuda menjawab singkat dengan isyarat tangannya. Tak lama, ia pun turun dari pohon, menghampiri kedua temannya di bawah. Hari ini Shuda dan kedua temannya berencana pergi ke kota. Memang sejak awal, setiap tujuh hari sekali, mereka rutin pergi ke kota untuk mengumpulkan uang dengan bermain musik di pusat kota. Jarak desa ini dan kota terdekat sebenarnya cukup jauh, tapi untung saja mereka bisa menumpang di kereta kuda ayah Shuda. Ayah Shuda juga harus pergi ke kota setiap tujuh hari sekali untuk menjual berbagai peralatan besi yang telah dibuat oleh ayahnya.

 

Seperti biasa, hari ini pun pusat kota—yang ditandai dengan tanah yang lapang dan air mancur besar di tengahnya—ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang sibuk berdagang, membeli, atau hanya melihat-lihat saja dan sekadar lewat. Pusat kota hari ini lebih seperti pasar kaget yang ada tidak di setiap saat.

 

Selagi ayahnya menjual berbagai barang, Shuda dan kedua temannya memiliki waktu hingga sore hari. Mereka mengambil spot di depan air mancur. Peralatan bermusik pun disiapkan. Shuda menyiapkan klarinet yang menjadi alat musik andalannya, lalu Rezky yang mulai menyetel biola di bahunya, tidak lupa dengan vokalis mereka, Ayani, yang tengah melatih suara messo soprannya yang merdu.

 

Seharian sudah mereka menghibur para penduduk yang lewat. Tidak sedikit dari mereka yang memberikan kepingan-kepingan uang. Lumayan, bagi mereka bertiga, yang terpenting bukan jumlah uang yang mereka dapat, tapi senyuman setiap orang yang menyaksikan pertunjukan mereka.

 

Sore pun tiba, Shuda dan kedua temannya membereskan peralatan mereka dan bersiap untuk pulang. Namun, tiba-tiba seorang pria paruh baya berjubah cokelat mendatangi mereka. Ia menaruh kepingan besar koin emas ke dalam kotak mereka, tampak lebih bersinar dibanding kepingan-kepingan uang logam lainnya di sana. Shuda pun terkesiap.

 

“Saya kagum. Penampilan kalian bagus sekali tadi. Saya bahkan tidak bosan menonton kalian sejak siang tadi.”

 

“Shuda, siapa dia?” Ayani menghampiri seraya bertanya. Shuda hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu dan tangan yang terbuka ke atas.

 

“Ah, maaf, lancang sekali saya ini. Nama saya Alexander, saya datang dari Negeri Melodia. Saya suka berkelana, menjelajahi tempat-tempat baru, juga mencari bakat-bakat baru di luar tempat tinggal saya. Saya mau menawarkan kalian untuk bekerja di kafe milik saya di Negeri Melodia. Bagaimana, kalian mau? Tenang saja, bayaran kalian besar kok.”

 

“Wah, Negeri Melodia yang terkenal itu kan?” Rezky melompat kegirangan.

 

“Pasti menyenangkan kalau bisa ke sana. Gimana menurutmu, Shuda?”

 

Shuda terdiam. Ia sedikit menunduk sedih dan berkata melalui isyarat tangannya.

 

“Ah, iya juga sih. Kita bakal jarang ketemu pulang nih. Tapi, kita sudah dewasa kan. Tidak apa lah kita pergi ke daerah lain yang masih asing. Ayolah, kapan lagi? Orang tuamu pasti mengizinkan.”

 

Malam harinya, saat makan malam, Shuda menceritakan tawaran pria yang ditemuinya di kota tadi kepada orang tuanya.

 

“Tentu saja kami bolehkan, Shuda,” jawab ayahnya, “Tapi desa ini akan sepi tanpa permainan seruling bambumu di pagi hari.”

 

“Tapi... sebelum kau pergi, ada satu hal yang perlu kau ketahui, Nak.”

 

Ayah menengok kepada ibu yang tiba-tiba saja mengatakan hal itu. “Ibu!!”

 

“Tidak apa, Yah. Sudah saatnya kita ceritakan hal ini pada Shuda.”

 

Shuda yang tidak mengerti pun jadi bertanya-tanya. Akhirnya ibunya pun menceritakan rahasia yang telah disimpan selama dua puluh tahun. Shuda ternyata bukanlah anak kandung mereka. Mereka menemukannya di bawah pohon tempat Shuda biasa memainkan serulingnya di pagi hari. Mereka sangat bahagia ketika menemukannya. Sebelumnya, mereka sempat memiliki seorang anak laki-laki, namun meninggal karena suatu penyakit. Karena itu, pasangan suami-istri ini pun akhirnya merawat anak itu layaknya anak sendiri hingga sekarang, dan memberinya nama “Shuda”.

 

Shuda tak tahu harus berekspresi seperti apa. Yang jelas ia terkejut, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya dalam gerak tubuh maupun ekspresi wajah soal apa yang sesungguhnya ia rasakan. Bahkan untuk dituliskan pun ia tidak tahu harus menggunakan kata apa untuk menggambarkannya. Akhirnya ia pun hanya terdiam dalam ekspresi yang kosong.

 

“Ibu pikir, kalau kau mengembara, kau mungkin bisa bertemu dengan orang tua kandungmu.”

 

Tiba-tiba saja Shuda menggebrak meja dan menggunakan isyarat tangannya dengan cepat sambil menatap mata kedua orang tuanya dalam-dalam.

 

“Kau jangan berprasangka buruk dulu, Shuda. Mereka pasti punya alasan khusus. Kalau kau nanti bertemu mereka, jangan benci mereka ya. Bagaimanapun juga, mereka itu orang tua kandungmu.”

 

~ *** ~

 

Keesokan harinya, Shuda dan kedua temannya menyiapkan perbekalan, peralatan, juga kuda untuk mereka tunggangi. Mereka bertiga pun berpamitan pada desa tercintanya ini. Entah kapan mereka baru bisa kembali ke desa ini, tapi desa dan seluruh isinya ini memiliki tempat teristimewa di hati dan kenangan mereka.

 

Perjalanan ke Negeri Melodia ternyata sangat jauh, jauh melebihi apa yang ketiga sahabat ini bayangkan. Walaupun mereka menggunakan kuda, tempat tujuan mereka baru dapat dicapai dalam waktu paling cepat lima hari. Itu pun jika mereka tidak beristirahat di malam harinya. Sungguh perjalanan yang melelahkan, namun sekaligus menyenangkan. Mereka dapat menikmati pemandangan alam yang hijau sepanjang perjalanan, aroma pantai dengan lautnya yang biru dan pasirnya yang putih bersih, juga bertemu dengan orang-orang baru kala melewati berbagai desa dan kota. Sesekali mereka mempertunjukkan kemampuan bermusik mereka untuk membeli perbekalan perjalanan, juga untuk bermalam di penginapan. Akan tetapi, jika mereka tidak menemukan desa atau kota saat matahari telah tertidur, mereka pun bermalam ditemani suasana alam, sembari disinari cahaya bulan dan bintang yang memenuhi langit gelap di malam hari.

 

Dan akhirnya, di hari kesembilan, mereka sampai di tepi bukit hijau.

 

“Hei, teman-teman, lihatlah!”

 

Rezky yang memimpin di depan berseru di atas kudanya. Shuda dan Ayani yang bersantai pun segera memacu kudanya ke arah tepian bukit hijau. Benar apa yang dikatakan Rezky. Dari bukit tempat mereka berdiri ini dapat terlihat sebuah negeri yang terbentang luas di hamparan tanah hijau. Itulah Negeri Melodia, dengan istana kerajaan yang berdiri kokoh dan tampak menonjol di bagian tanah yang terlihat lebih tinggi dari sekitarnya.

 

“Selamat datang di Negeri Melodia.”

 

Tanpa pikir panjang, mereka bertiga pun menuruni bukit dan memasuki kawasan Negeri Melodia. Seperti kabar yang mereka dengar sepanjang perjalanan tentang negeri ini, begitu memasuki gerbang kerajaan, mereka langsung disambut oleh lantunan nada dari berbagai macam alat musik. Semakin mendekati pusat kota, mereka menemukan banyak penari, baik pria maupun wanita, yang menari di pinggir jalan, mengikuti irama lagu yang terdengar atau lagu yang mereka nyanyikan sendiri.

 

Lelah, Shuda dan kawan-kawan beristirahat dulu di sebuah kafe sebelum mencari tempat penginapan. Kafe yang mereka masuki lumayan ramai, mengingat sekarang waktunya makan siang. Kafe ini tidak kecil, lumayan luas meski ada sebuah panggung untuk pertunjukan musik di sudut ruangan, lengkap dengan peralatannya.

 

Di panggung itu, sekelompok pemusik tengah menghibur pengunjung dengan musik lembut yang mereka mainkan. Orang-orang pun kelihatan tenang dan menghayati selagi menyantap hidangan di mejanya.

 

“Shuda, kau mau pesan apa?” Tanya Ayani selagi ia memilih-milih menu makanan dan minuman yang ada di hadapannya.

 

Shuda tidak begitu memedulikannya. Saat ini ia terfokus pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh pemusik di kafe. Sebuah lagu yang membuat orang-orang di ruangan ini ikut menyanyi. Jika didengar dari jenis musiknya, ini seperti lagu daerah. Mungkin lagu daerah negeri ini. Tapi, entah kenapa, Shuda merasa tenang dan nyaman, seakan-akan ia tahu lagu ini dan menjadi bagian di dalamnya.

 

“Sebelum kami pergi, kami akan mempersembahkan lagu terakhir untuk semua yang ada di sini. Oh, ya. Hari ini kita punya tamu khusus. Mari kita sambut, Diana Isabelle!!”

 

Mendengar nama itu disebut, mendadak suara riuh rendah sorakan juga tepukan tangan memenuhi kafe ini. Kemudian, muncul seorang wanita muda mengenakan suatu pakaian daerah dengan aksesoris kain panjang semacam selendang yang diikatkan di kedua pergelangan tangannya. Musik pun dimainkan. Wanita itu lalu bergerak lincah, seirama dengan nada yang dilantunkan. Ia berputar, bergerak ke kanan dan ke kiri, melompat, dan berbagai gerakan lainnya. Selendang di tangannya pun bergerak sesuai dengan gerakan yang ia buat.

 

Shuda bergeming. Suatu getaran aneh tiba-tiba menyerang dada kirinya. Suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang bersamaan di saat kedua bola matanya tak bisa lepas dari wanita yang disebut Diana itu. Mungkin ini pertama kalinya ia merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

“Shuda, kau mau ke mana?”

 

Tanpa sadar, Shuda berdiri dan berjalan mendekati panggung. Detik itu juga, Diana membalas tatapan mata Shuda. Ia langsung menarik Shuda ke atas panggung dan mengajaknya menari. Shuda yang tak tahu apa-apa tentang menari pun akhirnya hanya menurut pada iringan gerakan tangan Diana. Penonton pun terpukau dan memberikan aplaus yang meriah.

 

“Maaf, aku memaksamu naik ke atas panggung,” kata Diana. Tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya. “Perkenalkan, namaku Diana. Kamu?”

 

Shuda tak langsung menyambar uluran tangan itu. Ia mengeluarkan secarik kertas dan pena dari tasnya. Ia tuliskan namanya di sana, baru kemudian menyambar uluran tangan itu sambil menunjukkan kertas tadi pada Diana.

 

“Oh.... Senang berkenalan denganmu, Shuda,” balas Diana dengan senyum di wajahnya.

 

Kafe yang Shuda dan teman-temannya datangi itu ternyata kafe milik Alexander, pria yang mereka temui di kota tempo hari lalu. Shuda dan teman-temannya bekerja tetap di sana mulai keesokan harinya. Bekerja sebagai pemain musik di kafe ini tidak jauh beda dengan yang biasa mereka lakukan di pusat kota setiap tujuh hari sekali. Banyak orang bergantian mengisi ruangan ini, banyak pula senyuman yang terpancar dari wajah mereka. Dan mereka tidak perlu berdiri di bawah panas matahari yang menyengat.

 

Hidup di Melodia tampaknya tidak semudah yang Shuda bayangkan. Teknologi di sini lebih maju daripada di desanya. Alat-alat musik pun bermacam-macam jenis dan bentuknya. Ia sampai bingung ingin mempelajari yang mana lebih dulu. Meski agak sulit beradaptasi, tapi ada Diana yang selalu membantunya.

 

Sejak pertemuan pertama mereka di kafe, Shuda dan Diana menjadi teman akrab. Mereka sering mengobrol, bercanda bersama, juga bekerja bersama-sama. Seketika itu juga hari-hari yang dilalui Shuda terpenuhi dengan bayangan Diana. Ia yakin kalau ia punya perasaan yang lebih pada Diana, namun ia juga tidak begitu yakin bisa mengungkapkannya. Ia sadar dengan keterbatasan yang ia miliki sejak lahir ini.

 

Apa mungkin ada seseorang ya mau denganku yang bisu ini? Kata Shuda dalam hati.

 

~ *** ~

 

Di suatu malam, langit tanpa awan terbentang luas di atas Melodia, menampakkan sinar bulan dan jutaan bintang di sana, yang melakukan tugasnya sebagai lilin-lilin kecil penerang Bumi. Saat itu Shuda tengah berjalan santai menuju sebuah pohon di pinggir sungai. Di bawah pohon itu, Diana duduk bersandar sambil menyiulkan sebuah lagu. Melihat orang yang ditunggu sudah datang, ia pun berhenti dan melambaikan tangannya kepada Shuda.

 

“Akhirnya kau datang juga.”

 

Shuda mengulas senyum. Ia menghampiri Diana dan mereka berdua pun berbincang banyak hal, seperti biasa. Namun, kali ini, ada satu hal yang ingin Diana sampaikan.

 

“Hei, apa kamu sudah dengar soal festival di istana empat hari lagi?”

 

Shuda menggelengkan kepalanya.

 

“Kita datang ke sana yuk. Kebetulan untuk tahun ini festivalnya berupa pesta dansa.”

 

Shuda tetap menggelengkan kepala disertai dengan isyarat tangan.

 

“Tenang saja, nanti aku ajarkan teknik-teknik dasar berdansa. Bagaimana, kau mau kan?”

 

Shuda bimbang. Diajak ke pesta dansa oleh seorang Diana tentu ia mau. Siapa yang tidak mau? Ia menjadi idola di negeri ini meski ia pendatang baru seperti Shuda. Meski begitu, Shuda tidak ingin mengecewakan Diana. Ia tidak bisa berdansa.

 

Shuda pun akhirnya memberikan jawaban melalui isyarat tangannya.

 

“Baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali ya?” Diana berusaha tersenyum, tapi dalam kegelapan pun terlihat jelas ekspresi kekecewaan di wajahnya. Ia beranjak dari posisinya dan pergi meninggalkan Shuda sendirian. Dan kini Shuda yang merasa kecewa pada dirinya sendiri. Menyesal.

 

Shuda memetik sehelai daun lebar dari pohon. Ia duduk bersandar, kemudian menempelkan daun itu di bibirnya dan meniupnya. Dari sehelai daun itu, ia membuat rangkaian melodi yang lembut dan menyejukkan. Di saat perasaannya sedang kacau tidak keruan, Shuda sering menenangkan dirinya dengan memainkan melodi lembut dari daun yang ia temukan. Kali ini ia memainkan lagu yang berjudul “Kembali”. Itu adalah lagu yang ia dengar di kafe saat pertama kali datang di Melodia. Lagu yang dapat membuat hatinya merasa tenang dan nyaman.

 

Dari kejauhan, Ayani yang baru pulang berbelanja, mendengar suara seruling daun dari seberang sungai. Ia menoleh dan mendapati Shuda duduk sendirian di bawah pohon. Ia pun berbelok ke arah jembatan dan menghampiri Shuda.

 

“Shuda, apa yang kau lakukan sendirian di sini?”

 

Shuda menoleh. Ia menggelengkan kepalanya dan ditambah sedikit isyarat tangan. Ia kemudian memainkan daunnya lagi.

 

Ayani duduk di samping Shuda sambil berkata, “Kau bohong. Pasti ada sesuatu. Ceritakan saja. Kita sudah lama bersahabat, kan?”

 

Shuda menceritakan tentang tawaran Diana tadi, terutama masalahnya dalam berdansa.

 

“Oh, dansa? Ga usah bingung, aku ajarkan sekarang juga. Kalau cuma dansa seperti di buku-buku dongeng saja sih aku bisa.” Ayani berdiri dan menarik tangan Shuda, menyeretnya ke tanah luas yang tersinari oleh cahaya rembulan. Tangan kanan Ayani menggenggam tangan kiri Shuda. Mereka berdiri sangat dekat dengan tangan kanan Shuda yang memeluk Ayani di punggung, sementara Ayani menjatuhkan tangan kirinya di bahu pria berpostur tinggi dan tegap ini. “Sekarang, ikuti gerakanku pelan-pelan. Satu... dua... tiga....”

 

Ayani bergerak ke kanan dan ke kiri perlahan-lahan. Ia mengajarkan teknik-teknik dasar dalam berdansa pada Shuda. Semalaman itu mereka berputar, berpegangan tangan, menari di bawah sinar rembulan dan bintang, diiringi pula oleh alunan musik alam Melodia. Malam itu, entah mengapa Shuda merasa sangat nyaman sekali. Ia bahkan lupa dengan kegelisahannya beberapa menit yang lalu. Kalau diingat-ingat, jarang sekali mereka berdua menghabiskan waktu bersama, karena biasanya ada Rezky yang meramaikan suasana. Tapi kali ini, Ayani merasa lebih beruntung. Karena akhirnya ia bisa menatap mata orang yang ia kasihi tanpa ada sosok perempuan lain di sana.

 

~ *** ~

 

Selama tiga hari, setiap malam, Shuda dan Ayani berlatih dansa. Oh, tidak lupa dengan Rezky yang juga datang menyumbangkan dirinya sebagai pengiring lagu untuk latihan dansa  dengan biola kesayangannya. Dalam waktu yang singkat, Shuda berhasil menghafal gerakan dansa yang menurutnya cukup sulit.

 

Akhirnya malam festival pun tiba. Malam ini, istana kerajaan dipenuhi oleh masyarakat Melodia. Para pria mengenakan jas berbagai warna, sementara itu wanitanya mengenakan bermacam-macam gaun yang indah. Ketiga sahabat di gerbang istana itu pun langsung merasa kurang percaya diri. Mereka hanya mengenakan pakaian seadanya karena belum punya cukup uang untuk membeli jas dan gaun, tapi untungnya penjaga gerbang mengatakan bahwa semua orang boleh masuk tanpa terkecuali. Mereka pun merasa lebih lega ketika sampai di aula istana yang besar itu. Ternyata banyak juga yang seperti mereka. Benar, jika orang-orang di luar sana mengatakan negeri ini negeri yang tak mengenal kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.

 

“Aku pergi cari makan dulu ya.” Seketika itu Rezky pergi, meninggalkan Shuda dan Ayani yang terpaku bingung di tengah kumpulan orang ini.

 

“Eh, Rezky... tunggu.” Ayani ingin mengejar Rezky, tapi tangan kanannya tertahan. Ada tangan Shuda yang menggenggamnya dan seolah mengajaknya berdansa. Musik lembut pun mengalun. Mereka berdua melebur dengan beberapa pasangan yang berdansa di aula ini.

 

Shuda dan Ayani berdansa dengan baik dan lembut. Tidak sia-sia mereka berlatih selama tiga hari ini. Mereka berputar-putar dan menyatu dengan alunan musik, seolah-olah di aula besar ini hanya ada mereka berdua, khususnya bagi Ayani. Kedua matanya tak lepas menatap pria tampan di depannya ini. Dibaluri dengan alunan musik lembut ini, perasaannya menjadi sangat nyaman. Di satu sisi, Shuda juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi kedua tangannya saat ini tidak bisa lepas dari Ayani. Ia pun hanya bisa tersenyum.

 

Musik berganti. Musik lembut lainnya pun dimainkan oleh pengiring musik di istana. Orang-orang bergeser ke pinggir aula, menyisakan cukup ruang di tengah kerumunan orang. Raja Adhigian dan ratu memasuki ruang tadi dan berdansa, kemudian diikuti beberapa pasang orang lainnya yang ikut berdansa di sekelilingnya.

 

“Lihat, itu raja dan ratu Melodia,” seru Ayani. Shuda menoleh ke arah yang sama, tapi ia tidak menemukan sepasang pedansa yang terlihat berbeda, istimewa, atau paling tidak mengenakan mahkota di atas kepalanya. Yang terlihat di matanya hanyalah beberapa pasang pedansa yang membuat formasi lingkaran besar dengan ruang kosong di tengahnya.

 

“Lihatlah, mereka tampak anggun sekali.” Shuda masih tidak menangkap sosok yang dimaksud oleh teman wanitanya ini. Ia kebingungan. Yang ia temukan justru Rezky yang sedang membawa segelas minuman dan Diana di sebelahnya. Mereka berjalan ke arahnya.

 

“Shuda? Kupikir kau tidak datang.” Diana tersenyum gembira saat melihat Shuda berdiri di sana. Shuda pun tak kalah kagetnya. Ia terpesona dengan penampilan Diana malam ini. Diana mengenakan gaun hitam panjang, lengkap dengan berbagai aksesoris di tubuhnya. Shuda bergeming.

 

Melihat Shuda yang terpaku di tempat, Ayani membisikkan sesuatu di telinganya. “Sudah, sana cepat kau ajak Diana berdansa.” Shuda pun tergerak. Ia pun langsung meraih tangan Diana dan mengajaknya berdansa meski agak sedikit gugup. Di lain tempat, senyuman Ayani mengendur seiring langkah kaki pasangan itu.

 

“Kau kenapa sih? Kok kayak sedih gitu?” Tanya Rezky sembari meneguk minuman di tangannya.

 

Ayani menggeleng pelan. “Ah, ga apa-apa kok. Dansa aja yuk.”

 

Rezky mengangkat alis. “Eh, aku kan ga bisa dansa.” Tapi, sudah terlambat untuk mengelak. Dengan cepat, Ayani menarik tangan Rezky dan mengajaknya berdansa bersama puluhan pasang pedansa lainnya.

 

Selagi berdansa, pikiran Ayani tak lepas dari bayang-bayang Shuda. Sesekali ia menoleh ke arah Shuda, berharap pria itu juga berbalik memandangnya. Tapi, sekali lagi, Ayani hanya bisa berharap. Shuda tidak memandang balik seperti yang ia harapkan, malah Shuda dan Diana berjalan ke halaman samping istana berdua saja. Pikiran Ayani pun menjadi tak keruan.

 

~ *** ~

 

“Katamu kau tidak bisa berdansa. Apa ini semacam kejutan?” Shuda hanya menjawabnya dengan senyuman. Dengan posisi berdansa seperti ini tentu ia tidak bisa menjawab dengan isyarat tangan seperti biasanya.

 

Di tengah alunan musik lembut ini, Shuda teringat sesuatu. Spontan, ia menggandeng Diana ke halaman samping istana melalui pintu besar yang sengaja dibuka. Kebetulan sedang sepi dan sesuai dengan yang ia inginkan. Shuda mengeluarkan seruling bambu dari balik rompinya. Ia hendak memainkan sebuah lagu yang telah ia ciptakan tadi malam. Khusus untuk Diana.

 

Diana duduk di tangga kecil selagi Shuda menyiapkan permainan lagunya. Tak lama, Shuda meniupkan not pertama dari lagunya. Tapi, ia langsung terdiam. Kepalanya mendadak dipenuhi oleh bayang-bayang Ayani. Shuda mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya sedikit. Kemudian memainkan sebaris nada. Tapi, kembali wajah Ayani muncul di kepalanya. Ia pun ragu.

 

“Kau kenapa, Shuda?”

 

Shuda menggeleng. Ia kembali menempelkan ujung seruling bambu di bibirnya dan meniupkan sebaris nada, namun akhirnya ia berhenti lagi dan menjatuhkan seruling bambunya. Shuda lalu berkata dengan tangannya.

 

“Tidak apa. Mungkin lain kali. Kau tidak perlu membuatkan lagu khusus untukku, aku sudah mencintaimu apa adanya. Jadi, bagaimana kalau kita hidup bersama?”

 

Shuda tertunduk sebentar, lalu menatap Diana sambil menyampaikan juga perasaannya yang sesungguhnya.

 

“APA?!” Diana terkejut, marah, juga kesal setelah membaca maksud dari bahasa isyarat Shuda tadi. “Kau... berani-beraninya kau menolakku?! Kau menghancurkan semua rencanaku!” Diana mengacungkan tangan kanannya di depan wajah Shuda, memperlihatkan kelima ujung jari yang terbuka, kemudian berkata, “Sekarang juga, kau mainkan lagu tadi untukku.”

 

Bola mata Shuda mendadak berubah gelap dan tatapannya kosong. Dengan keadaan tidak sadar, Shuda mengambil seruling bambunya yang terjatuh, dan memainkan lagu yang berkali-kali tidak jadi ia mainkan itu. Diana pun mengulas senyum buaya di wajahnya.

 

“Cukup, Cesillia!”

 

Tiba-tiba sebuah anak panah berwarna putih terbang persis di depan wajah Shuda. Seketika itu tubuh Shuda ambruk dan tidak sadarkan diri, sesaat setelah ia menyelesaikan lagu yang telah ia mainkan. Diana—Cesillia—menoleh, dan ia mendapati Phinandhari berdiri di depan pintu besar bermodel kupu-kupu itu sambil memegang busur berwarna putih.

 

“Kau!! Mau apa kau datang ke sini?” Tanya Cesillia dengan nada yang kesal.

 

“Sudah jelas untuk menghentikan perbuatanmu.” Phinandhari mengayunkan busurnya. Busur panah itu kemudian diselimuti cahaya putih yang pekat dan berubah menjadi sebuah pedang. Phinandhari menerjang dan mengayunkan pedang putihnya ke arah Cesillia. Namun, dalam sekejap, Cesillia juga mengeluarkan pedang sihir hitamnya, menepis tebasan Phinandhari. Kini, kedua pedang hitam dan putih itu saling beradu di halaman istana.

 

“Kau selalu saja mengganggu rencana-rencanaku. Apa kau tidak punya pekerjaan lain, hah?”

 

“Tugasku adalah melindungi semua orang, khususnya Negeri Melodia tempat tinggalku ini. Dan aku tidak akan membiarkanmu merusak kedamaian negeri ini.”

 

“Lalu, ke mana kau saat aku mengunjungi raja dua puluh tahun yang lalu?” Cesillia mengulas senyum. Phinandhari pun terpancing dengan kalimat tanya Cesillia tadi. Ia melompat mundur. Diayunkannya pedang putihnya itu dan mengarahkannya ke Cesillia. Sebuah bola putih bersinar melesat cepat dari pedang Phinandhari. Cesillia berputar menghindar, dan langsung membalas dengan pusaran angin hitam yang muncul dari pedang yang diarahkannya pada Phinandhari. Phinandhari lengah. Ia pun terhempas mundur akibat serangan pusaran angin itu. Ia terpental ke arah aula, menabrak kaca yang terpasang di pintu dan menerobos kumpulan orang-orang di aula. Suasana di aula pun menjadi kacau tidak keruan.

 

~ *** ~

 

Raja Adhigian tengah menari bersama istrinya, begitu pula dengan orang-orang di dalam aula ini. Menari mengikuti alunan musik yang agak cepat. Namun, suasana itu berubah ketika sesosok wanita berpakaian putih terbang menabrak kaca pada pintu samping istana dan terkapar di tengah aula. Sang raja tahu siapa wanita itu. “Ada apa ini sebenarnya?” Dan alunan musik pun berhenti.

 

Phinandhari berusaha bangkit dengan susah payah akibat entakan serangan dari Cesillia. Bersamaan dengan itu, Cesillia berjalan memasuki ruangan dengan diselimuti asap hijau pekat yang mengubah penampilan dirinya. Begitu Cesillia menampakkan dirinya dalam wujud yang sebenarnya, Raja Adhigian terkejut, para pengawal istana langsung siap siaga, orang-orang berlarian, serta Ayani dan Rezky yang terpaku di tempat karena kebingungan dan tidak tahu mau berbuat apa. Hanya satu hal yang terlintas di pikiran Ayani: Shuda.

 

“Mau apa kau kemari, Cesillia? Kau merusak semuanya!” Tanya Raja Adhigian dengan nada yang kesal. Akibat kedatangan Cesillia, acara pesta dansa malam ini pun jadi berantakan.

 

“Eits... tunggu dulu, Yang Mulia. Biar kuluruskan sedikit. Aku datang ke sini dengan damai, aku menikmati musik yang indah tadi, dan juga ikut berdansa. Semuanya baik-baik saja sampai dia datang.” Ujar Cesillia sambil menunjuk-nunjuk Phinandari.

 

Raja pun mengalihkan pandangannya ke Phinandhari. “Apa itu benar?”

 

Phinandhari menjawab, “Ya. Kalau masalah datang dengan damai, dia benar. Tapi, dia datang, menyamar sebagai wanita baik-baik, mendekati putra Anda, agar dia bisa mematahkan sihir pelindung saya.”

 

Semua orang di dalam aula mendadak kaget, terutama sang raja. “Mendekati putraku?” Raja mengulang perkataan Phinandhari dipenuhi kebingungan. “Maksudmu, anakku ada di sini? Di istana ini?”

 

“Benar sekali, Yang Mulia.” Jawab Phinandhari singkat. Meski singkat, jawaban itu sangat berarti bagi raja dan ratu yang telah menanti selama bertahun-tahun ini.

 

“Kalau begitu, di mana dia?” Tanya sang raja penasaran.

 

“Kau tetap tidak akan bertemu dengannya, Yang Mulia,” sahut Cesillia. “Kau ingat, dua puluh tahun yang lalu Phinandhari berkata apa?” Raja Adhigian masih ingat betul dengan apa yang dikatakan Phinandhari waktu itu. Tentang cara untuk mematahkan kutukan anaknya. “Baru saja anakmu menyanyikan sebuah lagu indah yang ia ciptakan khusus untukku. Itu artinya, kalian tidak akan bisa bertemu lagi. Hahahaha...” Cesillia terbahak-bahak. Suara tawanya menggema di keseluruhan istana ini.

 

Raja Adhigian yang kesal pun segera memerintahkan pasukannya untuk menangkap Cesillia. Kali ini Cesillia tidak menghindar. Ia memanggil pedang hitamnya dan memasang kuda-kuda. Pasukan kerajaan pun menyerang. Satu persatu, juga serentak. Tapi, seni permainan pedang Cesillia tidak bisa diremehkan. Dalam waktu kurang dari tiga menit, para pasukan kerajaan berhasil ditumbangkan oleh Cesillia. Namun, selagi Cesillia berurusan dengan para pasukan kerajaan, Phinandhari memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat lingkaran sihir.

 

Millón Sol!!

 

Dari lingkaran sihir yang dibuat Phinandhari di udara, muncullah ribuan sinar putih bercahaya yang berpencar dan menyerang Cesillia secara bertubi-tubi. Cesillia memutar pedangnya ke posisi bertahan dan merapal mantra, lalu timbullah pelindung berwarna hijau tua yang melindungi Cesillia dalam radius satu meter. Pelindung itu mampu menahan sihir Phinandhari dalam jangka waktu tertentu, namun jumlah panah cahaya yang dilontarkan tidak seperti dugaan Cesillia. Maka, tidak lama, pelindung itu pecah dan panah-panah cahaya itu mengenai Cesillia.

 

“Ini belum selesai!!” Teriak Cesillia. Ia bersiap merapal mantra dari mulutnya, dan di saat itu juga ia melihat sosok seorang wanita yang berlari ke arah halaman istana. Ayani. Cesillia melirik ke arah yang dituju Ayani dan melihat Shuda yang berjalan terhuyung-huyung ke dalam aula. Otaknya pun segera bermain.

 

Phinandhari menyiapkan mantra untuk menghalau serangan dari Cesillia, tapi... “Phinandhari, kau mungkin bisa menghindari seranganku ini, tapi wanita itu tidak.” Cesillia memutar badannya dan menembakkan sihir yang berwujud petir hitam ke arah Ayani. Ayani menoleh, namun ia tak sempat menghindar dari petir yang bergerak cepat itu. Akhirnya petir hitam itu telak mengenai Ayani, dan ia pun jatuh tersungkur di lantai tak berdaya.

 

Tanpa pikir panjang, Shuda dan Phinandhari lekas menghampiri Ayani. Cesillia tidak tinggal diam. Ia memanfaatkan kelengahan Phinandhari dan segera melancarkan petir hitam berikutnya ke arah Phinandhari. Sontak, Phinandari terkena serangan sihir itu dan ambruk di lantai.

 

“Hahahaha... tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang!” Cesillia tertawa keras atas kemenangannya itu. Orang-orang yang masih tersisa di aula istana pun benar-benar ketakutan sekarang. Mereka berlarian ke arah pintu keluar, tapi mendadak pintu itu tertutup dengan sendirinya. Mereka terkunci di dalam.

 

Di sisi lain, Shuda menghampiri Ayani yang terbaring di lantai. Rezky temannya itu pun ikut mengalami kepanikan yang luar biasa.

 

“Shuda, bagaimana ini, Ayani ga bangun-bangun.” Rezky tetap berusaha membangunkan Ayani, panik. Ia yakin kalau Ayani hanya pingsan. Sementara itu, Shuda menjadi sangat tenang. Kepalanya tertunduk dalam diam. Perlahan, kedua tangannya mengepal. Phinandhari yang baru saja sadar, melihat suatu aliran energi yang tidak biasa berkumpul di sekeliling Shuda. Ia pun tersenyum.

 

“Pergi kau, Cesillia!” Raja Adhigian tidak tinggal diam melihat kekacauan ini. Ia menghunuskan pedang peraknya dan menerjang Cesillia. Cesillia kembali mengeluarkan pedang hitamnya lagi dari udara dan menepis serangan itu. Mereka berdua bertarung sengit dan terlihat sama kuat, meski Cesillia sejak tadi terlihat sangat tenang dan percaya diri.

 

“Shuda! Shuda!!” Shuda menoleh ka arah Phinandhari yang memanggilnya. Dan sedetik kemudian, sebuah busur putih dilemparkan kepadanya. “Percayalah pada kekuatanmu.”

 

Shuda tidak tahu harus berbuat apa dengan busur itu. Jika memang untuk memanah, kenapa Phinandhari tidak memberinya anak panah? Ia menoleh lagi, tapi Phinandhari hanya tersenyum padanya.

 

Akhirnya ia terpikir untuk menggunakan seruling bambunya sebagai anak panah. Shuda menggenggam seruling bambu di tangan kanannya dan memasangkannya di busur. Ia siap menembak sekarang. Di hadapannya, yang terlihat hanyalah Cesillia yang sibuk memutar-mutar pedangnya di udara. Mau apa sih dia? Pikir Shuda di dalam hati.

 

Belum...

 

Belum...

 

Belum...

 

Sekarang! Begitu targetnya berhenti bergerak dan membelakanginya, Shuda melepaskan tembakannya. Seruling bambu yang menjadi anak panahnya itu kemudian memancarkan sinar kebiruan dan melesat cepat di udara. Ajaib, dan Shuda berharap tembakannya itu mengenai Cesillia si penyihir jahat.

 

Cesillia berhasil mementalkan Raja Adhigian ke pinggir ruangan dengan sihirnya, tapi ia sama sekali tidak tahu akan kedatangan tembakan dari Shuda. Begitu ia menoleh, serangan itu telak mengenai perutnya. Cesillia pun terpelanting hingga menubruk singgasana raja. Semua orang pun bersorak dan memberi aplaus besar untuk Shuda.

 

Shuda memutar badannya. Ia kembali memfokuskan dirinya pada Ayani sekarang. Dan, untungnya Ayani segera siuman.

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Ayani!! Syukurlah kau sudah sadar.” Rezky berseru gembira seraya memeluk Ayani erat-erat.

 

“Hei, hei... sudah. Aku baik-baik saja kok, cuma agak sakit aja nih di perut.” Ayani tersenyum kecil, kemudian ia melihat Shuda yang berdiri tegap tepat di depannya. Shuda mengulurkan tangan padanya. Hendak membantu berdiri. Ayani menerima uluran tangan itu dan berdiri.

 

Dari dekat, Ayani melihat setitik air mata menetes dari mata kanan Shuda. “Kau kenapa, Shuda?” Shuda pun tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya sedikit. Kemudian ia memeluk Ayani erat. Itu sebuah tanda kebahagiaan.

 

“Nona, kau tidak apa-apa?”

 

Raja Adhigian menghampiri Ayani selagi menyarungkan pedang peraknya. Ayani pun menjawab, “saya tidak apa-apa, Yang Mulia.”

 

Shuda menoleh sedikit, maksudnya ingin melihat dengan siapa Ayani berbicara, tapi tidak ada seorang pun di sana. Ia bingung. Shuda menanyakan hal itu pada Ayani, tapi apa yang dijawab Ayani benar-benar tidak masuk akal.

 

“Lho, Shuda, ini Raja Adhigian, raja Negeri Melodia. Kau ini bagaimana sih?” Kata Ayani sambil menunjuk ke ruang kosong di hadapannya. “Dan ini Ratu Melodia juga ada di sebelahnya.” Shuda pun semakin bingung.

 

Tapi, kebingungan itu ternyata tidak hanya dirasakan Shuda. Sang raja dan ratu pun juga bingung.

 

“Kau berbicara dengan siapa, Nona?” Tanya sang ratu, melihat Ayani berbicara sendirian.

 

Dan kini, Ayani-lah yang kebingungan.

 

“Biar saya jelaskan semuanya.” Phinandhari berjalan ke arah mereka. Ia pun menjelaskan semuanya, dimulai dari kejadian dua puluh tahun lalu, Cesillia yang membuat Shuda tidak bisa berbicara agar kutukannya tidak dapat dipatahkan, Cesillia yang menyamar untuk bisa mendekati Shuda, hingga kejadian malam ini.

 

“Jadi, anakku ada di sini?”

 

“Benar sekali, Yang Mulia. Anak Anda persis berdiri di samping Anda.” Raja Adhigian dan ratu menengok ke samping, tapi mereka tidak melihat siapapun di sana. Begitu pun dengan Shuda yang juga tak bisa melihat raja dan ratu. Saat sang raja menggapai di udara, tangannya terhenti. Dengan tangannya itu ia merasakan adanya sebuah sebuah tembok yang tak terlihat. Ya, itu karena pengaruh kutukan Cesillia. “Tapi, kutukan itu bisa dipatahkan jika Shuda menyanyikan lagu khusus untuk orang yang ia cintai.”

 

“Hahahaha....” Cesillia tertawa keras. Ia berjalan pelan dengan raut muka yang kesal, tapi juga bahagia dan puas. “Percuma! Apa aku harus mengatakannya berkali-kali, hah? Kutukanku sudah menjadi abadi di saat Shuda memainkan lagu untukku. Akulah pemenangnya! Kau kalah, Phinandhari! Akulah yang terkuat!”

 

Phinandhari tidak menggubris ocehan Cesillia yang memekakkan telinga itu, malahan ia tertawa kecil. “Oh, ya? Kalau begitu, buktikan.”

 

Cesillia mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan berikutnya. Memasang kuda-kuda, juga merapal mantra. Namun, Phinandhari hanya berdiam diri dan menyilangkan tangannya di depan dada. Cesillia gerah melihat Phinandhari yang terlihat santai, ia pun mengepal tangannya dan langsung memukul maju di udara. Tapi... tidak terjadi apa-apa. Ia mengulangi gerakannya tadi, dan tetap tidak terjadi apa-apa, sementara itu, Phinandhari mengeluarkan semacam gelang dengan sihirnya, lalu melemparkan gelang itu pada Cesillia. Tanpa ada kesulitan, gelang itu membesar dan mencengkeram tubuh Cesillia dan membuatnya tak berdaya.

 

“Apa yang terjadi? Kekuatan sihirku hilang!”

 

“Kau telah meremehkan Shuda. Kau bahkan tidak tahu kalau ia juga memiliki kekuatan sihir. Dan sihir yang tadi ia lancarkan adalah sihir penetralan. Dengan sihir itu, ia menetralkan kekuatan sihir yang kau miliki. Dan untuk selamanya, kau tidak akan bisa menggunakan sihir lagi.”

 

Cesillia berteriak keras. Kesal. Ia bahkan menangis. Beberapa menit yang lalu ia tampak kuat dan percaya diri, namun kini ia tidak berdaya saat digiring pengawal-pengawal istana ke penjara.

 

~ *** ~

 

“Apa kau yakin, Shuda?”

 

Semalam itu memang malam yang sangat melelahkan, khususnya bagi Shuda yang tidak hanya lelah fisik, tapi juga lelah hati dan pikiran. Ia tidak menyangka kalau ternyata ia adalah anak dari seorang raja. Fakta itu menjadikan ia sebagai seorang pangeran. Lantas, kenapa pagi-pagi sekali Shuda berjalan ke arah bukit hijau, membawa tas ranselnya, seolah-olah ingin pergi ke tempat yang jauh? Ayani bertanya-tanya dalam hatinya. Ayani pun mengejar Shuda sambil meneriakkan namanya. Dan akhirnya, di sini lah mereka berdua, duduk bersandarkan pohon besar, memandangi tanah Negeri Melodia yang masih bersinarkan lampu-lampu kota dari atas bukit ini.

 

Shuda mengangguk untuk pertanyaan Ayani barusan. Kemudian ia menggerak-gerakkan tangannya, memberikan alasan atas jawabannya itu.

 

“Kurasa itu bukan masalah. Semua orang di sini menerimamu apa adanya kok. Lagipula, apa kau tidak ingin bertemu dengan kedua orang tua kandungmu?”

 

Shuda menggeleng dengan diiringi bahasa isyarat tangannya.

 

“Kalau begitu, apa kau tega meninggalkan ayah dan ibumu yang telah menanti dua puluh tahun untuk bertemu lagi denganmu?”

 

Shuda terdiam. Pertanyaan itu menciptakan keheningan hebat di antara mereka berdua. Ayani mencoba membaca ekspresi Shuda, tapi yang ia temukan hanyalah ekspresi datar yang tertutup bayangan. Ayani menyerah. Ia memeluk kakinya dengan kedua tangan dan memandang lurus ke depan.

 

“Jadi... kau berniat untuk pergi meninggalkanku juga?”

 

Shuda terkesiap. Ia tak menyangka Ayani akan melontarkan pertanyaan itu. Jujur saja, ia tak mau. Kini jantungnya berdegup kencang. Ia ingin mengungkapkan satu kalimat ajaib itu, tapi Shuda mengurungkan niatnya. Entah apa yang menggerakkannya, tiba-tiba saja Shuda memeluk Ayani erat dari samping sambil meneteskan air mata. Ayani pun terkejut.

 

Matahari pagi mulai menunjukkan sinarnya. Langit gelap di atas Negeri Melodia berangsur-angsur menjadi terang. Warna jingga di langit itu menghangatkan semua yang berada di bawah sinarnya, termasuk Shuda dan Ayani.

 

Shuda melepaskan pelukannya. Lalu ia berkata dengan bahasa isyaratnya, yang jika diartikan menjadi “Aku tidak akan pergi, karena aku sayang kamu.” Ayani pun tersenyum dan berkata, “Aku juga sayang kamu. Makanya kamu jangan pergi.”

 

Shuda teringat dengan satu hal. Satu hal yang selalu menjadi ciri khas di daerah ini. Musik. Shuda mungkin tidak bisa menyanyikan sebuah lagu untuk Ayani, tapi ia bisa memainkan sebuah lagu dengan seruling bambunya. Shuda mengambil seruling bambu dari dalam tas ranselnya dan ia pun memainkan sebuah lagu untuk Ayani. Sebuah lagu yang selalu menarik perhatian Shuda sejak datang ke Negeri Melodia. Sebuah lagu yang membuat perasaannya tenang dan nyaman, juga bahagia. Sebuah lagu berjudul “Kembali” yang mengisahkan kerinduan seseorang. Shuda memainkan lagu ini, sambil menyanyikan liriknya di dalam hati. Ia pun teringat pada semua orang yang ia sayangi, Ayani, Rezky, orang tuanya dan juga penduduk di Desa Bosque, tidak lupa dengan penduduk serta raja dan ratu Negeri Melodia.

 

Hari kembali gelap

Langit malam bersinarkan bintang dan rembulan

Saat itulah kuterdiam di sini

Mengingat semua kenangan singkat kita

 

Melewatkan waktu yang enggan berlalu

Berbagi tawa juga tangis bersama

Aku selalu merindukan masa-masa itu

Sampai kau harus pergi meninggalkanku seorang diri

 

Di negeri hijau ini kumenunggu

Memainkan melodi indah yang kubuat

Ditemani hangatnya mentari pagi

Kumainkan hanya untukmu seorang

 

Tak peduli seberapa lama ku harus menunggu

Ku kan tetap menyanyikan lagu ini

Berharap kau kembali pulang

Ke negeri kita tercinta ini.

 

Seusai memainkan lagu itu, tiba-tiba Shuda melihat sebuah pelindung tipis berwarna ungu mengurung dirinya. Sedetik kemudian, pelindung itu pecah dan menghilang di udara. Shuda yang terkejut pun jatuh terduduk di tanah.

 

“Ada apa, Shuda?”

 

“K... kau... kau tidak lihat... yang barusan?”

 

Shuda dan Ayani keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Perlu waktu sepuluh detik bagi mereka berdua untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

 

“Shuda! Kau bisa bicara! Suaramu kembali!” Ayani melompat kegirangan.

 

“A... apa benar ini suaraku?” Shuda masih tidak percaya dengan apa yang sesungguhnya terjadi padanya. Ini benar-benar di luar dugaannya.

 

“Tentu saja!” Ayani mengangguk. “Suaramu indah sekali, Shuda. Aku tak sabar ingin mendengar kau bernyanyi.”

 

“Tapi... gimana bisa? Kemarin malam kan aku memainkan lagu untuk Cesillia.”

 

Ayani menggenggam kedua tangan Shuda. Menenangkannya. “Kupikir, ‘lagu khusus’ yang dimaksud Phinandhari kemarin malam itu bukanlah lagu yang kaubuat untuk Cesillia, tapi lagu ini. Lagu yang dibuat sendiri oleh Raja Adhigian untuk putranya yang hilang. Dinyanyikan dengan setulus hati oleh seluruh warga Melodia. Semacam sihir tak kasat mata yang memanggilmu kembali, menunggu jawaban dari seseorang yang dirindukan.”

 

“Kalau setelah kumainkan lagu tadi suaraku kembali, berarti kutukan Cesillia menghilang, dan itu artinya...”

 

“Kau bisa bertemu dengan kedua orang tuamu!” Seru Ayani, melanjutkan.

 

~ *** ~

 

Tanpa pikir panjang, Shuda dan Ayani bergegas lari ke istana kerajaan. Tak peduli jarak yang cukup jauh, harus menerobos lautan orang yang sudah mulai beraktivitas di pagi hari, yang mereka pedulikan hanyalah bertemu dengan sang raja dan ratu. Sesampainya di gerbang istana, pengawal pun mengizinkan mereka masuk tanpa syarat. Bagaimana mungkin pengawal-pengawal itu menolak permintaan sang pangeran, bukan?

 

Pada akhirnya, Shuda sampai di sebuah pintu yang besar dan tinggi. Jantungnya berdegup kencang, agak takut jika saat membuka pintu itu ia tidak menemukan siapapun. Namun, dengan kemantapan hatinya ia membuka pintu itu. Rasa takutnya itu berubah menjadi rasa bahagia tatkala melihat singgasana besar di seberang ruangan diduduki oleh seorang pria yang cukup tua berbalutkan jubah kerajaan dan juga mahkota emas yang menhiasi kepala pria itu. Dan di sampingnya, juga duduk seorang wanita bermahkota. Tak salah lagi, itu memang Raja dan Ratu Melodia.

 

Begitu tahu seseorang yang masuk ke ruangan adalah anaknya yang hilang, sang raja dan ratu  berlari meninggalkan singgasananya dan langsung memeluk anak mereka itu.

 

“Aku kembali, Ayah, Ibu.”

 

Pesta meriah pun digelar untuk merayakan pertemuan mereka kembali. Berbagai makanan disediakan untuk seluruh warga. Dan tidak lupa dengan musik yang selalu dimainkan sepanjang hari. Semua orang menari-nari bahagia menyambut Shuda yang sekarang menjadi Pangeran Shuda dari Melodia. Mereka pula berkesempatan mendengar nyanyian yang dibawakan Shuda. Meski belum bisa menyanyi dengan baik, Shuda merasa bahagia, begitu pula dengan semua orang di sini.

 

Meski sudah menjadi seorang pangeran, Shuda tidak lupa dengan orang tuanya di Desa Bosque. Ia mengajak ayah dan ibu yang telah membesarkannya untuk tingal bersama di Negeri Melodia. Ia juga tidak lupa dengan kebiasaannya memainkan seruling bambu saat fajar menyingsing. Hanya saja, kini, setiap kali ia memainkan seruling bambunya, ada Ayani yang selalu berada di sampingnya sebagai Putri Melodia.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer centuryno
centuryno at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)
100

cerita yang mengharukan, ya walaupun awal-awalnya kayak cerita putri tidur. tapi cerita ini membuatku ingin membuat dongeng lagi

Good Job ^_^

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)

Terima kasih udah mampir. :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)
80

fiuh. panjang banget utk ukuran Kekom. tapi saya tertarik utk menamatkannya :D ga gitu ngerti soal fantasi jadi ga kebayang mesti komen apa, yang jelas saya bisa menikmati.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)

Haha...
Kalo dibuat pendek, saya malah bingung ngerangkumnya.
Terima kasih udah mampir. :D

Writer herjuno
herjuno at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)

Haha, gaya penceritaannya yang mirip dongeng anak-anak ini apik. Overall, cukup puas dengan suguhan plot yang oke dan dinamika konflik yang baik, meski agak kurang sreg di bagian "sihir penetralan" itu.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)

Wah... kupikir gagal membentuk bahasa dongengnya.
Makasih, makasih udah mampir.

Yang "sihir penetralan" itu memang agak aneh sih kalo dipikir2. Hehehe...
Kalo bisa menetralkan, kenapa kutukannya ga ilang sekalian ya? Saya bingung sendiri. XD

Writer herjuno
herjuno at Pangeran Melodia (8 years 26 weeks ago)
90

Haha, gaya penceritaannya yang mirip dongeng anak-anak ini apik. Overall, cukup puas dengan suguhan plot yang oke dan dinamika konflik yang baik, meski agak kurang sreg di bagian "sihir penetralan" itu.