Love Game

The phone ringing in that midnight.

I rubbed my sleepy eyes when the screensaver glowing,

with the blue and white light, shinning the dark room.

"Do you believe in the thing called fate?"

"No, there’s nothing to do with the thing like that"

Randomly, recklessly, I blame it to everyone I can find,

but it's not because that I hate you...

 

           Ketika benda kecil itu mendengking, aku baru saja berhasil tertidur setelah berjam-jam kosong kulalui dengan memandang langit-langit kamar. Sinar biru-putihnya berpendar memecah kegelapan ruangan. Memuakkan. Aku bahkan tak punya waktu untuk bernapas.

             “Halo, sedang apa?”

             Sebuah suara yang akrab menyapa telingaku. Tanpa kusadari, tarikan napas panjang menjawab pertanyaan itu.

               “Memimpikanmu.”

               Terdengar suara tawa datar di seberang sana.

        “Seandainya itu bisa membuatku tersanjung...” Gumamnya dengan nada tanpa ekspresi

         Sebuah keheningan panjang yang dingin mengisi jeda yang sengaja ia buat. Aku bangkit dari pembaringan dan beringsut menuju jendela di sisi lain dinding. Kusingkap gorden biru tebal yang menutup kaca jendela. Seketika sinar bulan purnama menerobos masuk menghalau kegelapan ruang. Lembut namun tegas. Dua hal yang berbanding terbalik.

           “Aku muak, Kazuya. Semua hal tentangmu tak berubah sedikit pun. Apakah begitu sulit bagimu untuk mempertahankan kata-katamu? Apakah begitu sulit untuk mempertahankan semua orang tetap berada di pihakmu? Apakah begitu sulit mempercayai seseorang, siapa pun itu? Dan setelah semuanya terjadi, kau tetap tak berkata apa-apa. Apakah begitu sulit mengatakan sesuatu, bahkan kepadaku?”

               Dalam diam, aku memandang bulan bulat tanggal lima belas itu. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Lagi pula memang tak perlu. Memotong perkataan seorang gadis yang sedang dikuasai emosi dapat berakibat banyak hal.

         “Selama ini aku baru menyadari, ternyata aku tak tahu apa pun tentangmu. Kau menutup dirimu, bahkan walau kau bilang tak akan menyembunyikan apa pun! Ada berapa wajah yang kau miliki sebenarnya? Mengapa aku tak punya kesempatan untuk mengetahui satu pun di antaranya?!”

                Aku tersentak. Muncul lagi. Rasa sakit yang bergelenyar di jantungku.

                “Sampai kapan kau akan seperti ini?”

                Sampai kapan?

        Seandainya aku bisa menjawabnya, karena aku sendiri tak bisa mendapatkan jawabannya di mana pun.

              “Minami...”

             “Aku percaya padamu sebelumnya! Kau juga berkata bahwa kau percaya padaku! Tapi kenyataannya kau tak bisa mempercayai siapapun! Aku muak! Mengapa, Kazuya? Mengapa?”

             “Minami, jawab aku...”

             “Kau yang seharusnya jawab aku!”

             “Apakah kau percaya dengan sesuatu bernama takdir?”

           Sebaris hening menyela paragraf panjang gadis itu. Entah apa yang membuatnya terdiam. Jawaban dari pertanyaankukah, atau alasan mengapa aku bertanya.

           “Tidak ada, tidak ada yang namanya takdir. Ini semua tak ada hubungannya dengan takdir.” Akhirnya ia menjawab dengan suara datarnya.

            Kuhela napas panjang. Betapa mudahnya. Seandainya aku dapat mengatakan hal yang sama...

              “Sudahlah.”

             Sambungan terputus. Lagi-lagi aku hanya dapat menghela napas. Gadis-gadis itu... Mereka selalu menuntut jawaban, tapi tak pernah membiarkanmu menjawab. Dengan entengnya menyemburkan emosi mereka pada siapa pun dan menyudahinya begitu saja. Aku tak menyukai bagian itu.

           Tapi seandainya aku diberikan kesempatan, apakah aku dapat menjawabnya?

 

That simple Love Game.

With no strategies I keep losing.

I want to do something,

 but,  like the spider web,

the reality entangled me...

 

              Tahukah kau apa itu Love Game? Itu adalah saat di mana kau kalah telak, tanpa dapat membalas. Angka 0 yang terlihat seperti telur dibaca l’oeuf oleh orang perancis, dan orang Inggris membacanya dengan Love seperti kata Love yang berarti cinta.

            Namun tentang permainan, aku bahkan tak tahu dengan siapa aku bertarung. Dengan diriku sendiri, mungkin. Semua orang berkata ‘menerima takdir’ adalah yang terbaik, namun tak peduli seberapa pun baiknya, menerima atau menolaknya, aku tak bisa melakukan satu pun diantaranya. Menyedihkan bukan? Menang dan kalah atas diriku sendiri. Tak ada bedanya.

           Bagaimana cara mengubah takdir? Saat semua hal terasa menyesakkan. Ketika kenyataan mulai membelitmu, menjeratmu, menyeretmu masuk ke dalam masa lalu yang tak kau inginkan, atau masa depan yang tak kau harapkan. Bagaimana cara mengubahnya?

 

The sighing I heard across the phone,

somehow I can feel the depression and sympathy over it.

Don't wanna think about anything alone in this room, I dash out to the street.

 

            Telepon genggam yang tengah kucengkeram kembali berdering. Benda sialan. Harusnya kulempar saja keluar jendela tadi.

                “Jangan lagi, Kazuya...”

                “Tidak bisa, Ayah, aku tak punya pilihan.”

                Kali ini suara di seberang sana yang menghela napas. “Kau menyakiti dirimu sendiri.”

                Aku terdiam.  Sebagian diriku membenarkan perkataannya. Aku seolah menyayat pembuluh diriku sendiri secara perlahan. Namun antara aku atau mereka. Bagiku, itu bukan pilihan. Itu siksaan.

                “Sampai kapan?”

                Lagi-lagi, pertanyaan itu.

                “Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, tapi semua ada di tanganmu. Tinggal menghitung bulan penuh sampai kau—”

                “Benar, ini semua ada di tanganku. Maka berhentilah bicara.”

                Terdengar suara dengusan. “Bocah keras kepala...” Gumamnya. Tak ada nada emosional di suaranya. Pria itu, ayahku, ia tahu bagaimana caranya menampakkan ekspresi datar di saat apa pun. Tak mudah menebak apa yang ia pikirkan kecuali kau adalah dirinya sendiri.

                “Malam ini juga.”

                Ia menghela napas panjang. Perasaanku saja, atau memang tiap percakapanku malam ini dihiasi bunyi napas yang ditarik dan diulur?

                “Kuharap kau dapat bernapas untuk melihat bulan esok hari.”

                Aku terkekeh. Alih-alih ungkapan tentang matahari, ayahku selalu menggantinya dengan bulan dan malam hari untuk siang. Seperti ‘Itu adalah bulan malam terakhir baginya,’ untuk kata-kata ‘Itu adalah matahari pagi terakhir baginya.’ Entah apa yang membuatnya begitu menyukai malam dan sinar bulan.

                Kalimat terakhirnya sudah cukup untuk diartikan sebagai pengganti ‘Baiklah, sampai jumpa,’ sehingga langsung kutekan tombol pemutus sambungan. Mataku kembali terpancang ke bulan di atas sana. Tak yakin apa yang harus aku lakukan. Tidak mungkin dapat terlelap lagi, maka kuputuskan untuk menyambar mantel di kastop pojok ruangan lalu beringsut keluar dari rumah mungil ini. Selagi masih ada malam yang bisa dinikmati.

 

Between the red light, I passing through the sleepless night.

I can feel there will be something to change,

but it's scared...

 

                Sungguh berbeda kota ini saat siang dan malam. Seperti kota mati dengan sisa-sisa benda yang ditinggalkan oleh penduduknya sewaktu masih hidup. Menyeramkan namun, entah bagaimana, menenteramkan.

                Angin malam ini berhembus dingin, membawa ujung mantel tipisku berkibar. Sedikit melankolis, kutatap bulan di atas sana selagi kakiku tetap berjalan. Aku tak pernah takut kegelapan, tapi sinar benda keperakan itu menyenangkan. Sedikit demi sedikit, aku paham mengapa pria itu menyukai malam. Malam memang menakjubkan.

                Kuhentikan langkah, menghirup dalam aroma udara yang tak pernah tidur itu. Terhirup olehku wangi tanah dingin yang tak ramah, daun kering yang tak punya harapan, dan sedikit sisa polusi kendaraan di siang hari. Malam hari adalah waktu di mana kenangan-kenangan buruk saat matahari bersinar meninggalkan bekasnya dan angin, sinar bulan, serta sinar bintang inilah yang bekerja keras menghapusnya untuk menyediakan kembali udara segar di pagi hari.

                Sesaat kemudian, aku tersentak lagi. Rasa sakit itu muncul kembali. Jantungku nyeri hingga ke rusuk, merambat naik ke lenganku dan memukul-mukul kepalaku. Sialan kau, tidak malam ini.

 

The simple Love Game.

It's supposed to be my last time, but why still I stuck in it?

This chest fulled with the feeling I've never felt before...

 

                Menyerahkan diri pada iblis. Hal yang tabu. Tapi apa yang dapat kau lakukan jika leluhurmu terikat perjanjian dengan makhluk yang tidak semestinya dan kau, sebagai keturunannya, harus menanggung akibatnya?

                Tak ada yang bisa dilakukan saat kekuatan itu menjalar naik, menguasai kedua lenganmu, kemudian kakimu, lalu menguasai kepalamu beserta memori dan akal sehat di dalamnya. Mata ini dapat melihat tapi tak dapat mengendalikan. Aku seperti diseret masuk ke dalam barisan perang para makhluk laknat itu. Tubuhku, jiwaku, emosiku, semuanya bukan milikku.

                “CUKUP!!” Aku berteriak sekuat tenaga.

                Sebuah tawa bergema berat di batok kepalaku.

                “Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, dan kekuatan dibayar kekuatan.”

                “Sialan! Tutup mulut, brengsek!!”

                Tawa itu kembali terdengar, kali ini lebih keras.

                “Apa yang bisa kau lakukan? Menyingkirkanku? Kau bahkan tak sanggup menyingkirkan kesintinganmu. Percuma berusaha mencari kekuatan untuk melawanku. Darahmu adalah darahku. Jika aku mati, maka kau pun mati.

                “Tapi tidak semudah itu. Jika kau mati, belum tentu aku mati, bocah. Masae meminjam kekuatanku bukan dengan tanpa alasan.”

                Ia kembali tertawa.

      Aku mencengkeram kepalaku kuat-kuat. Tawanya, suaranya, keberadaannya memuakkan!

                “Terimalah takdirmu.”

                “Tidak ada, tidak ada yang namanya takdir.”

                Tiba-tiba perkataan Minami tadi terdengar di kepalaku.

              Hal terakhir yang terlintas di kepalaku sebelum aku kalah dalam perebutan kuasa atas tubuhku sendiri.

 

"It's not me" I can't say it directly.

With my childish egoism, I hurt you.

"I'm allright this way" I told you,

but the truth says different.

No matter how hard I do,

 I can't break out from this foolish fate...

 

                “Apa lagi kali ini?”

             Ketika aku tersadar, aku telah terpuruk di depan pintu apartemen gadis itu. Hari masih tak terlalu terang, namun semburat keunguan di langit timur menandakan bahwa matahari telah terbangun. Setengah linglung, kutatap Minami yang berkacak pinggang di pintu yang telah terbuka. Rambutnya berantakan, tubuhnya terbalut piyama merah muda motif kelinci yang kuberikan pada hari ulang tahunnya yang lalu. Ia terlihat manis dan polos, seperti biasanya.

                Berusaha keras bangkit, namun aku kembali terpuruk. Kepalaku sakit bukan main. Trance selalu berdampak seperti ini.

                “Kau mabuk?” Terbersit nada kekhawatiran di suaranya dinginnya.

          “Tidak, aku...” Aku terdiam. Mungkin lebih baik ia menganggapku seperti itu. Tak mungkin kukatakan yang sebenarnya.

Perlahan aku berdiri. Penglihatanku masih buram dan telingaku masih berdenging tiap aku menggerakkan tubuh terlalu cepat.

                “Apa maksudmu,” gadis itu berbicara, “tentang mengumpulkan kekuatan untuk mengubah dunia dan memusnahkan apa yang harus dimusnahkan?”

                Hah?

                “Apa yang kau bicarakan?”

                Minami menghela napas dan melemparkan pandangannya ke arah langit dengan warna ungu yang semakin terang. “Tengah malam buta tadi, kau meneleponku. Tertawa seolah tak ada yang terjadi sebelumnya lalu berkata kau membenci dunia ini. Kau ingin mengubahnya sesuai dengan jalan yang benar dan memusnahkan apa yang seharusnya dimusnahkan. Lupa?”

                Itu pasti ulah si laknat itu. Tapi apa maksudnya? Apa yang diinginkannya?

                “Kau tidak mengerti Minami, itu... Bukan aku...”

                Mata gadis itu kembali terpancang padaku lekat-lekat. “Apa?”

                Kalut, aku memandang sekeliling, seolah iblis itu dapat menampakkan dirinya di mana saja. Kemudian kusadari di mana diriku berada. Berada dalam wujudku, apa yang ia coba lakukan pada Minami tadi? Apa pun itu, pasti matahari datang di saat yang tepat untuk menghentikannya. Ia kembali terlelap di tubuhku sebelum sempat melakukan sesuatu.

Berpaling kembali pada gadis itu, kuremas bahunya dan kutatap matanya lurus. “Aku punya permintaan. Jika aku menghubungimu lagi dan kembali bicara aneh, atau aku datang dan berlaku aneh kepadamu, jangan, jangan pernah biarkan diriku melakukannya. Lari, pergi, selamatkan dirimu.”

                Ia memandangku dengan mata melebar penuh tanya dan rasa getir.

                “Kau mulai membuatku takut...”

                Nada suaranya menuntut jawaban. Tapi jawaban apa yang bisa kuberikan? Hanya memandangnya balik, tanpa kata-kata. Ia memang gadis yang kuat, tak pernah aku melihatnya menangis. Emosional, mungkin, tapi ia tangguh. Namun kali ini aku harus melindunginya. Maaf, tidak ada waktu untuk adegan romantis.

                Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, aku berbalik dan berlari secepatnya dari sana. Meninggalkan Minami yang meneriakkan namaku.

                Sial, kini setelah diriku, ia mulai membidik orang-orang di sekitarku.

 

The perfect Love Game.

Even I keep on losing, I don't want to give up.

I'll live this spiderweb-like life, no matter what happen.

Because that's all this game about...

 

 

                “Oniichan?!”

                Suaranya terdengar bahkan sebelum aku sempat mengetuk pintu. Himeka berdiri di tak jauh di kiriku, dengan entah berapa puluh batang krisan, bunga matahari, wisteria, lily, dan lonceng ungu memenuhi pelukannya.

                “Ayah...” Gumamku pelan di sela napas yang tersengal-sengal.

             Cepat-cepat ia meletakkan bunga-bunga itu lalu membuka pintu, berseru memanggil ayah dengan nada semangat bercampur khawatir. Pria tua itu menampakkan diri tak sampai tiga menit kemudian. Dengan air muka datar, seperti biasa, memakai hakama—celana tradisional—abu-abu, atasan kimono dan montsuki—Jubah luar tradisionalgaris-garis biru-nya dan memegang kipas besar, seperti  biasanya.

                Ia menatapku dengan dagu terangkat dan sinar mata yang seolah memindai serta melihat jauh menembus diriku. Himeka dengan riang menarikku masuk ke dalam rumah sebelum kami dapat berbicara satu sama lain.

              Wangi bangunan tua yang terbuat dari kayu ini terhirup olehku ketika menjejakkan kaki masuk. Membawa kembali kenangan masa kecilku. Tak ada yang berubah dari rumah ini sejak sembilan tahun yang lalu. Rouka—koridor berlantai kayu—itu membawa kami menuju ruang keluarga, di mana tatami lebar terbentang melapisi seluruh lantainya, dengan meja persegi lebar di tengah ruangan, televisi kecil di seberangnya, beberapa rak buku di sampingnya, tumpukan peti kayu di satu sudut, dan tokonoma—sebidang ruangan yang lantainya lebih tinggi untuk acara sakral dan formal—di sudut lainnya.

          Setelah berkata riang akan membuat teh dan kudapan ringanHimeka bergegas menghilang ke dapur. Sementara tanpa berkata apa pun, pria itu langsung duduk menghadap shogi—catur jepang—nya. Ia melirikku dan menggedikkan kepala ke tempat kosong di hadapannya.

                “Aku tak punya waktu, Ayah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

            Seolah tak mendengar, ia menjalankan pion pertamanya. Tak ada pilihan maka sambil menghela napas berat, kuenyakkan diri dengan kasar menghadap papan shogi di seberangnya.

                “Kapan terakhir kalinya kita melakukan ini bersama?” Suaranya terdengar puas.

                “Aku butuh kekuatan itu. Reihou.” Aku tak butuh basa-basi. Kujalankan salah satu pion selangkah ke depan, sementara ia menjalankan jenderal perak secara diagonal. Strategi kastil Yagura.

                “Hati-hati dengan langkahmu. Kau tak akan pernah tahu apa yang mungkin terjadi.” Dengan lincah ia menggerakkan menterinya.

                “Aku tak akan pernah tahu jika tidak melakukannya.”

                “Kau tak akan terluka jika tidak melakukannya.”

                “Justru, bukan hanya aku yang akan terluka jika tidak melakukannya.”

                Menteriku, drop.

                “Apa yang terjadi padamu? Kau semakin payah.” Ia berkata dengan nada setengah mencemooh, setengah bercanda. Mengingatkanku pada masa kecil dulu.

                “Pekerjaanku bukan hanya duduk manis main shogi.”

              “Untuk melakukan hal besar, tidak selalu harus berlelah-lelah. Banyak hal cemerlang yang bisa dlakukan saat kau duduk dan berpikir.”

                Ia menggerakkan kuda kirinya, dan Tsumi. Skak mat.

                Ia menatapku dengan pandangan yang seolah berkata, ‘Sudah? Itu saja?’

                “Dengar, Ayah, aku punya waktu sampai matahari terbenam hari ini. Aku tak tahu apa yang akan diriku—dengan ia didalamnya—lakukan saat bulan bersinar nanti malam, atau malam selanjutnya.”

                “Kau membosankan. Bahkan kita belum sepuluh menit bermain...”

             Tak kuasa, kubalikkan papan shoji itu. Bidak-bidak kayunya berhamburan di tatami.  “Aku tak punya waktu untuk bermain-main, pria tua!!” Aku berseru marah, menantang dirinya yang tak merubah sedikit pun posisi alisnya.

                “Begitukah caramu bicara pada ayahmu sendiri?”

                Bagaimana mungkin ia setenang itu? Apa yang sebenarnya ia pikirkan?! Bahkan meremas kepalan tanganku sendiri hingga terasa panas tak membuat amarahku mereda. Ini soal hidup-mati dan ia malah menghadap shogi sialan itu!

                Kami beradu pandang selama beberapa saat hingga ia menghela napas panjang.

                “Reihou,” ia angkat suara “tidak semudah itu...”

            Ia bangkit dan berjalan menuju tokonoma di mana foto seorang wanita didirikan dengan bunga-bunga yang dipetik Himeka tadi di sekitarnya. Wanita itu tersenyum anggun ke arah kamera, pesonanya tak terhapuskan walau kerutan halus mulai muncul di sudut mata dan lesung pipinya.

                “Ingat bagaimana ibumu kehilangan nyawanya?”

                Ayah membelai foto itu dengan lembut dan perlahan berpaling kepadaku. Sinar matanya bergurat kepedihan dan kemarahan yang bercampur dengan kasih sayang.

                “Aku tak punya pilihan.”

           Ia menatapku lekat-lekat, seolah berusaha mencari garis-garis ragu dalam pandangan mataku. Tapi ia tak menemukannya, ia tak akan menemukannya. Dengan helaan napas berat, ia berbalik keluar dari ruangan. “Mungkin begitu juga denganku...” Gumamnya lirih, mengalah. Tepat di sebelum mencapai fusuma—pintu geser tradisional—ia berbalik dan berkata dingin, “Tunggu di sana.”

          Tepat tujuh menit kemudian, ia kembali dengan kotak kayu berwarna merah yang dihiasi ornamen-ornamen berwarna emas, memiliki keempat kaki dengan ukiran meliuk indah serta lidah pengunci dengan gembok emas berbentuk burung bersayap.

               Elang, lambang keluarga Takahaya.

             Tangannya bergerak menarik sesuatu yang dikalungkan ke lehernya dan tersembunyi di balik kimono rumahnya. Sebuah kunci. Berwarna emas dengan bagian atas membentuk selembar sayap. Ia memasukkan kunci bersayap ke gembok kotak yang dibawanya dan membukanya.

          Sebuah kalung berbandul elang berada di dalamnya dengan sayap yang membentang lebar, kira-kira empat inchi dari ujung sayap satu ke yang lainnya. Seperti ornamen lainnya, elang ini berwarna emas, diukir dengan sangat detail hingga terlihat seolah nyata. Matanya terbuat dari batu mulia berwarna merah api, begitu kemilau dengan pantulan warna dari badan emasnya, seakan ia hidup dan tengah balik menatapku.

                “Rei...hou?”

                “Pembebas jiwa.” Jawab ayah. Sama sepertiku, matanya tertancap lekat pada bandul elang itu, setengah takjub, seolah baru melihatnya untuk yang pertama kali. “Elang adalah makhluk yang independen dan tangguh. Mereka berdiri di kaki mereka sendiri, terbang dengan sayap mereka sendiri, dan berburu dengan mata mereka sendiri untuk hidup. Mereka memiliki kekuatan besar yang tak dapat disamakan dengan burung lainnya sehingga dikenal sebagai Raja Para Burung”

                Dengan sangat perlahan, seolah bandul itu adalah perhiasan kaca yang mudah pecah, ia mengambilnya dari kotak. Kedua sayap itu memenuhi telapak tangannya saat ia memegangnya di antara kami berdua, memastikan agar kami dapat melihatnya dengan lebih jelas.

                “Kekuatan itulah, Kazuya, yang tersimpan di dalamnya.”

                Ia memegang tangan kiriku, membuka kepalannya, dan meletakan bandul elang itu di sana. Matanya beralih kepadaku dengan pandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Pandangan yang, entah bagaimana, setelah sekian lama membuatku kembali merasakan hubungan antara seorang ayah dan anak laki-lakinya. Tentang melindungi dan dilindungi, tentang mengajari dan diajari, tentang hidup yang keras dan cara memimpin. Tentang segala sesuatu yang tak pernah ia ajarkan pada Himeka. Tentang sesuatu yang mungkin sejenis dengan yang Himeka dapatkan dari mendiang ibu.

Ibu.

                “Kekuatan yang merampas kehidupan ibu...”

                Ia mengangguk, tegas. “Benar. Yang merampas kehidupan Moriko.”

          Ia terlarut dalam keheningan sejenak, seolah kembali berkabung untuk istri tercintanya namun cepat-cepat menukas pikirannya sendiri dan kembali padaku. “Satu hal yang harus kau ingat, sebelum coba mengalahkan yang lain, kalahkan dirimu sendiri.”

                Ia menepuk bahuku.

                “Lakukan apa yang harus kau lakukan, Takahaya Kazuya.”

 

No matter where the future leads...

The simple love game.

 

         Aku pernah melihat ibu melakukannya. Secara alamiah, kaum wanita dapat menjadi Miko—pendeta wanita—yang kuat. Sama seperti yang banyak legenda katakan: Pria dapat menjadi pendekar yang kuat, namun wanita dapat menjadi penyihir yang lebih hebat. Tapi aku tak punya pilihan. Tak mungkin membiarkan Himeka melakukannya, kakak macam apa yang membunuh adik perempuannya sendiri?

         Inti dari Reihou adalah pembebasan jiwa dari raganya. Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, dan kekuatan dibayar kekuatan. Ia tak berwujud, sehingga secara tersirat, aku harus keluar dari tubuhku, menantang iblis itu satu lawan satu.

        Aku menarik napas dalam sambil memejamkan mata. Sekilas muncul di kepalaku kejadian itu, sembilan tahun yang lalu. Saat itulah pertama kalinya aku melihat ayah begitu terguncang, menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan ibu melakukan pemanggilan roh Reihou. Mereka adalah saudara jauh, sehingga keduanya memiliki kekuatan yang sama namun dengan intensitas berbeda. Kekuatan ibu lebih besar, tentu saja.

       Semenjak Masae, leluhur kami semua, membuat perjanjian dengan iblis itu untuk membuatnya lebih kuat namun efeknya malah berbalik pada dirinya sendiri, generasi kami terpaksa menanggungnya hingga kini. Seperti warisan, namun bukan berwujud harta, melainkan berwujud iblis. Ia terus berada dalam tubuh salah satu dari kami, berpindah dari generasi ke generasi.

       Ketika kakekku wafat, ibuku yang melepaskan iblis itu dari tubuhnya untuk selanjutnya dipindahkan ke raga generasi terakhirnya. Yang saat itu berarti aku atau Himeka. Namun sebenarnya mereka tak berniat memindahkannya. Dengan menggunakan kekuatan yang berasal dari iblis itu sendiri, ibu dan ayah berusaha menghancurkannya. Hal yang pernah dilakukan nenek mereka sebelumnya.

       Tapi tak semudah itu. Kekuatan itu menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Ibuku yang memiliki kemampuan lebih dari ayah berusaha menghalaunya, namun ternyata kekuatan miliknya bergabung dengan kekuatan yang mereka ambil dari iblis itu. Bersatu, kuat, tak terpecahkan. Begitu besar untuk ibuku kendalikan sehingga meledak di dalam dirinya. Menyemburkan kegelapan, kebencian, dan keputuasaan.

      Kekuatan itulah yang kemudian mereka namakan Reihou, yang kemudian mereka simpan dalam bandul totem keluarga kami yang berwujud elang.

          Benar. Takahaya, berarti ‘secepat elang’.

      Setelah membuat kekacauan begitu besar, iblis itu merayap, mencari celah untuk ditinggali dan ia menemukan Himeka. Si gadis kecil yang duduk terdiam di pojok ruangan, sendirian, ketakutan, dan tak mengerti apa yang sedang terjadi.

            Masih dengan syok yang belum hilang akibat kematian ibu, ayah meradang. Tak ingin Himeka menyimpan iblis itu di tubuhnya namun tak memiliki daya untuk menghancurkannya. Saat itulah akhirnya ia memutuskan untuk menaruhnya di tubuhnya sendiri sambil mencari bagaimanapun cara untuk menghancurkannya walau ia tahu iblis itu akan ia bawa hingga mati nantinya.

           Tapi percuma saja.

         Jika ayah meninggal suatu hari nanti, iblis itu akan terlepas dan mencari tubuh baru. Pilihannya antara aku, Himeka, atau anak-anak kami kelak, tak akan berubah. Maka aku maju, menginterupsi entah ritual apa yang sedang pria itu lakukan dan memasukkannya ke tubuhku sendiri. Ayahku berusaha menghentikannya, tapi terlambat. Sudah tak ada yang bisa dilakukan.

           Sejak saat itulah, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Membawa serta takdir ini bersamaku.

         Selama ini iblis itu terdiam dalam tubuhku, hanya bangkit di masa bulan purnama ganjil. Itu berarti januari, maret, mei, juli, dan seterusnya. Masa itu yang dinamakan masa trance. Sepanjang masa itu di malam hari, ia menempati tubuhku sepenuhnya. Seringkali sepanjang masa trance, aku bangun di tengah jalan, di stasiun kereta atau atap rumah orang lain di mana keadaannya selalu sama, telah porak poranda. Seolah aku telah menjadi mesin perusak selama satu malam namun tiba-tiba berhenti begitu saja karena kehabisan baterai ketika matahari terbit. Entah berapa kali aku diboyong ke kantor polisi, diinterogasi berkali-kali, bahkan ditahan selama dua tiga hari. Namun tak lebih dari itu, karena mereka tak pernah punya cukup banyak bukti. Tentu saja, bukan aku yang melakukannya. Apa yang bisa kukatakan pada mereka?

        Bukan itu saja, iblis itu juga menghisap sedikit demi sedikit kekuatan dan usia inangnya. Itu sebabnya mereka tumbuh semakin kuat dari generasi ke generasi. Di tiap masa trance, aku harus membiarkannya mengeluarkan kekuatan. Jika tidak, ia akan meledak dalam tubuhku, menghancurkanku, sama seperti yang ia lakukan pada ibuku. Kali terakhir ia melakukannya, ia melukai seorang anak kecil tak bersalah dengan tanganku. Anak itu pasti sudah mati jika matahari tidak menghentikannya. Sejak itulah, selama sekian lama, aku tak pernah membiarkannya mengeluarkan kekuatan itu lagi. Aku tak bisa membiarkannya melukai siapa pun lagi.

          Oleh karena itu aku harus menghancurkannya malam ini. Tak dapat kubayangkan keturunanku, keturunan Himeka, dan seluruh kerabat kami, harus menanggung takdir seperti ini lagi. Dia harus dihancurkan, walau aku harus mempertaruhkan nyawaku.


That’s right, No matter where the future leads
A simple Love Game.

               

                Tak butuh mantra atau ritual khusus untuk mengeluarkan kekuatan Reihou. Selain iblis itu, pada dasarnya, keluarga Takahaya juga mewarisi kekuatan supranatural yang kuat dalam diri mereka.

                Konon, Himiko—seorang pendeta wanita tertinggi di legenda Jepang—memiliki beberapa hewan kesayangan, di mana dipercayai sebagian besar dari mereka juga memiliki kekuatan supranatural yang didapat dari sang majikan. Salah satu dari hewan itu adalah seekor elang besar bernama Takahaya. Saat Himiko meninggal, binatang-binatang tak bertuan itu berpencar. Takahaya sang Elang dipercaya menjelma menjadi manusia dan hidup di tengah manusia lainnya, menikah, memiliki keturunan, dan mewariskan kekuatan kepada darah keturunannya. Itu menjadi salah satu alasan mengapa Masae, nenek buyut dari buyut kami, keturunan kelima dari Takahaya, dapat memanggil iblis, hal yang tak bisa dilakukan manusia biasa.

                Sejak meninggalkan rumah, aku tak pernah memakai kekuatanku lagi. Bukan berarti sebelum itu aku sering menggunakannya, tapi kini hidupku cenderung berjalan secara normal, dengan mengesampingkan apa yang ada dalam tubuhku, tentu saja.

                Berusaha mengingat apa yang pernah ibu ajarkan tujuh belas tahun yang lalu, kurapatkan kelopak mata. Mengosongkan pikiran, mencari titik dengan energi terkuat dalam pikiranku. Berfokus ke sana, temukan ia. Aku menemukannya, kekuatan itu timbul tenggelam. Yang harus dilakukan adalah merasakannya, membiarkannya menyelubungi pikiranku, kepalaku, kemudian tubuhku.

                Berhasil, sedikit demi sedikit, aku merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan di sekujur tubuhku. Hanya sebentar, sampai sesuatu menginterupsi pemanggilan kekuatan itu.

                Iblis itu terbangun.

                “Apa yang kau lakukan, anak muda?”

                Tidak, ia tak akan bisa melakukan apa pun, matahari masih bersinar. Konsentrasi, tetap konsentrasi.

                “Reihou...?!”

                Dia menyadarinya, kekuatan lain yang berusaha kubangkitkan dengan kekuatanku sendiri. Tentu saja, Reihou memiliki setengah kekuatannya sendiri sehingga ia pasti turut merasakannya. Tapi tak akan kubiarkan kekuatan itu menjadi miliknya.

                “Oh, mau main-main denganku rupanya...”

                Fokus Kazuya! Tetap biarkan pikiranmu kosong, dengan cara itulah jiwamu akan terlepas dengan mudah dan Reihou akan menyatu dengan dirimu.

                Iblis itu tertawa kencang, lagi-lagi bergema dalam batok kepalaku. “Permainan menarik. Coba saja! Coba saja dan kita lihat siapa di antara kita yang akan menang!”

                Siapa pun yang akan menang, akan kupastikan permainanmu tak akan berjalan seperti sebelumnya. Di mana aku harus selalu kalah tanpa dapat melawan. Aku akan bangkit.

                “Mari kita mulai, iblis.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post