Seutas Tali Bersimpul Lasso

 

Secarik surat berbungkus amplop putih, telah dipersiapkan bersama catatan harian. Diletakkan tepat di bawah seutas tali yang tergantung di langit-langit bolong kamarnya.

Ia telah membulatkan tekad untuk memutus tali nasibnya. Malam ini, yang bertepatan dengan wedal kelahirannya, telah ditetapkan sebagai malam terakhir. Malam untuk melepas segala beban kehidupannya.

Dalam kamar yang terkunci, matanya masih saja fokus pada tali bersimpul lasso yang tegantung tepat di hadapannya. Melihat dan memerhatikannya, ternyata malah semakin menguatkan keragu-raguan. Sementara waktu yang telah ditentukan, masih teramat panjang. Ia tak ingin terburu-buru dan mengkhianati ketetapan takdir yang dibuatnya sendiri.

Saat ini, mengerjakan sesuatu ketika pilihan terakhir telah ditetapkan, hanyalah bentuk kesia-siaan. Namun, meneruskan kehidupan yang sama dirasa lebih sia-sia lagi.

Ia beranjak, melangkah ke sudut ruangan, berjongkok dan menenggelamkan kepala di antara kedua lutut dan dekapan tangannya.

♦♦♦

 

Dalam pejam, kepalanya kembali disesaki oleh peristiwa masa lalu. Peristiwa yang akhir-akhir ini ia nyatakan sebagai alasan utama yang mengganggu kehidupan dan sisi psikologisnya. Alasan kebencian pada sosok ayah yang membesarkannya lewat siksaan dan perangai kasar.

Masih terbayang jelas dalam ingatan, tentang masa kecilnya yang teramat suram. Bagaimana ia harus berdiri mematung untuk setiap kesalahan sekecil apapun. Menghadapi sosok yang tersulut murka dan tak segan-segan melampiaskan amarah pada tubuh lemahnya, lalu menahan sakit dan tangisan. Karena menangis, hanya berbuah ganjaran siksaan yang lain.

Kekerasan masa kecil yang berlanjut, dianggap telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang berbeda dengan teman sebayanya. Ia menjadi sosok yang murung di tengah keceriaan, penakut, pemalu dan tak percaya diri. Ia sepenuhnya menyadari hal itu. Dan, satu-satunya orang yang harus bertanggungjawab atas perkembangan mentalnya adalah ayahnya.

Kekerasan yang dialami, setidaknya berlangsung hingga ia duduk di bangku SMP. Mungkin di usia tersebut, ia telah mampu menyembunyikan kesalahan dan kekurangan dari ayahnya. Atau, mungkin saja ayahnya sadar jika melakukan kekerasan fisik di usianya saat itu, bukanlah cara yang terbaik. Seorang anak mungkin akan melawan atau kabur dari rumah. Dan anak yang kabur, bukanlah sesuatu yang diharapkan ayahnya. Ia tahu itu.

Ia pun tahu, di balik sikap keras ayahnya, dia tetaplah ayah yang sayang dan mencintai anaknya sepenuh hati. Buktinya jelas dan sangat sederhana, siang malam mencari nafkah hanya demi keberlangsungan dan keutuhan rumah tangga. Sekaligus menunjukkan sikap yang bertanggung jawab secara ekonomi.

Kendati masa-masa penyiksaan telah berakhir, percekcokan antara ibu dan ayahnya yang hampir terjadi setiap malam, ternyata lebih memengaruhi kondisi mentalnya. Nada-nada sentakkan atau suara benturan benda keras yang terdengar, seolah menjadi trauma berkepanjangan baginya.

Pengalaman berlarut itu, membuat dirinya berubah menjadi sangat sensitif. Jika ada orang yang tiba-tiba saja berteriak atau mengeluarkan nada-nada keras, ia akan terkejut bahkan merasa takut. Begitu pun jika ada suara-suara asing yang tiba-tiba saja terdengar olehnya. Terlebih jika ia mendengar suara pintu terbanting, meski tersebab hempasan angin sekali pun. Maka, dadanya akan berdegup dengan kencang, sehingga melemaskan otot-otot kakinya.

Phobia, ia sadar tentang konsep itu, meski tak tahu phobia kategori mana yang dialaminya.

♦♦♦

 

Badai pasti berlalu. Sebuah ungkapan yang seharusnya bisa diterapkan pada kondisi apapun. Namun ia merasa jika badai dalam keluarganya tak akan pernah berhenti begitu saja. Hingga saat menamatkan SMA, sebuah pertikaian besar terjadi. Ibu yang bertahun-tahun hanya diam saat meladeni sikap keras ayahnya, mulai hilang kesabaran. Adu mulut seolah berubah menjadi baku hantam. Jeritan dan teriakkan menggema di sebelah kamarnya, sekalipun dia menutup telinga rapat-rapat.

Suara-suara yang terus memojokkannya dalam ketakutan, ternyata mulai menyinggung kemarahannya. Ia tak kuat lagi menahan rasa takut, ia tak kuat lagi mendengar ocehan atau sentakkan kedua orang tuanya, ia tak kuat lagi menahan beban yang ditanggungnya selama bertahun-tahun.

“Diam!”

Ia berteriak sekencang-kencangnya. Teriakan yang entah bagaimana, bisa menghentikan keributan di kamar sebelah. Teriakan yang kelak dianggap titik tolak dalam kelangsungan keluarganya.

Dengan wajahnya yang merah padam, ia keluar dengan langkah memburu. Kamar orang tuanya yang terkunci dari dalam itu, digedor dan ditendang. Kemarahannya tak bisa lagi dibendung, namun sisi hatinya yang lembut masih saja mengetuk-ngetuk sisa kesadarannya, bahwa orang yang ada di dalam adalah orang tuanya.

Maka setelah ia sadar jika keributan di dalam telah berakhir, ia ikut terdiam, meski pintu yang digedornya tak kunjung terbuka. Sementara nafasnya masih saja memburu, menunjukkan jika hawa nafsunya belum surut. Tak tahu harus bagaimana lagi melampiaskan amarahnya, untuk pertama dan terakhir kalinya ia menghantamkan tinjuan ke daun pintu. Seiring ayunan tangannya, sebuah kata cacian yang teramat kasar dan tak pantas diucapkan, keluar begitu saja dari mulutnya.

Ucapan yang di kemudian hari disesalinya. Semarah apapun, sebenci apapun, tak pantas kiranya seorang anak mencaci terlebih mengeluarkan kata-kata kasar pada orang tuanya. Namun di sisi lain, kekasaran sikapnya itu ternyata mampu mengakhiri prahara dalam keluarganya.

♦♦♦

Badai memang telah berlalu.  Keharmonisan, perlahan mulai berkembang dan lambat laun mengikis phobia. Meski berbagai bentuk Kekhilafan di masa lalu masih menyisakan trauma.

Di sisi lain, keharmosnisan tersebut seolah menjadi sesuatu yang semu, saat ia merasa menjadi sosok yang ditinggikan oleh orang tuanya. Sosok yang lebih diperhitungkan dalam berbagai keputusan keluarga. Lebih dari itu, ia merasa jika dirinya adalah sosok yang ditakuti oleh kedua orang tuanya.

Ia sepenuhnya menyadari hal tersebut, meski hanya kesadaran sepihak. Namun sisi batinnya berdalih, jika apa yang didapatnya hanyalah balasan masa lalu. Berdasarkan itu pula, ia merasa ingin mengganti pengalaman masa kecilnya yang pahit.

Di masa peralihan menuju kedewasaan, ia menjadi sosok pemberontak sekaligus pemanja. Perubahan sikap yang tentu saja merupakan akumulasi masa lalu. Namun ia terus memaksakan dirinya untuk nyaman dalam posisi tersebut.

♦♦♦

Belasan tahun berlalu, usianya telah melampaui kategori pemuda. Ia baru saja tersadar jika perilaku yang dianggapnya nyaman tersebut, ternyata memberikan dampak buruk bagi kehidupan ekonomi dan sosialnya.

Tak ada kemapanan secara ekonomi, meski usianya telah matang. Di lain pihak, jaringan pertemanan dan jaringan ekonominya semakin menciut saat beberapa tahun yang lalu ia memutuskan untuk menjalani hikikomori. Mengurung diri dalam kamar, sibuk dalam dunia semunya.

Beberapa hari merenung, ia paham jika pilihan hidupnya ternyata malah menjadi beban orang tuanya. Bahkan tak menutup kemungkinan jika menjadi beban sosial di kemudian hari. Ia sadar, tak ada gunanya terlarut, menyalahkan dan memanfaatkan kekhilafan masa lalu. Menjerumuskan diri dalam dendam masa lalu tak akan pernah memperbaiki masa depan.

Perenungan yang membuatnya jatuh dalam penyesalan. Namun, sebesar apapun bentuk penyesalan, sepertinya tak akan mengubah apapun. Kekecewaan di masa lalu, kenyataannya tak akan pernah terobati. Karenanya, mengakhiri nasib adalah keputusan terbaik.

Selesailah segala bayang dan renungan masa lalu. Ia menengadahkan kepala, pandangannya kembali tertuju pada seutas tali yang akan menentukan nasib dan takdirnya.

Ia berdiri, melangkah menuju ketetapan akhirnya. Selangkah, dua langkah, dilakukan dengan sangat perlahan hingga berada tepat di depan simpul lasso yang telah dibuatnya. Diamatinya jerat kematian tersebut, tak lupa membebaninya dengan tangan, seolah tak ingin berujung kegagalan.

Beberapa saat kemudian, ia mengambil amplop surat yang berada di depan kakinya. Perlahan sekali ia mengeluarkan isinya, lalu membuka lipatannya. Dengan nada yang sangat pelan namun terkesan mantap, ia menyuarakan  isi surat yang telah ditulisnya.

“Saatnya untuk melepaskan beban dan saling memaafkan. Tak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.”

Digantungnya surat tersebut, lalu melangkah pergi untuk bersuci[.]

♦♦♦
|
bdg,010313.hers

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Yayang
Yayang at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)
90

Baguslah, gak jadi disimpul di leher, berarti doi masih punya iman. Nanti klo dah berkeluarga semoga gak segalak bapak. Ternyata yang mau digantung itu surat ya Mas :)

hers at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)

ahah, iya Yang :) kasian si doi, ga tau bisa berkeluarga atau ngga,,*loh hahay

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)
90

argh. cerpen apa ini... *ngacak2 rambut
jadi penasaran, ada berapa sih populasi anak muda dg permasalahan yang sama dg yang ada dl cerita ini... :(
.
hayuk ah salat dulu...

hers at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)

cerpen apa ya? saya juga ga tau.. ahahah
meski belum data statistik, yang jelas banyak

freesoulflyer at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)
100

gw setuju ama loe bro..bener2 keren dah gw kasi 10

hers at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)

thanks bro,
sukses juga buat bukunya

Writer Titikecil
Titikecil at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)
90

Ini keren kang... Aku nyengir garing buat surat yang digantungnya... :P
Ternyata dia ga serapuh itu yak....

hers at Seutas Tali Bersimpul Lasso (9 years 10 weeks ago)

Makasih Tik, asal jangan nyengir kuda aja sambil ngarenghik,, hahay.
Kadang seseorang butuh momen atau penanda khusus sebagai titik tolak kehidupannya. Anggaplah sebagai monumen pribadi. hayyah, ngomongin apa ini? :P