Bersamamu...

 

Bersamamu…

“Johan?”

Aku tidak menyangka bisa bertemu Lisa lagi dalam situasi seperti ini dan hanya bisa terpana. Kedua preman yang menelikung lenganku saling pandang.

“Lo kenal dia?” salah satu dari mereka menanyai Lisa.

Lisa mengangguk sambil menelan ludah. “Dia klien gue hari ini,” ucapnya. Matanya tak sedikit pun mengarah kepadaku.

Apa maksud perkataannya itu?

“Oh, gitu…” serempak kedua pria penuh tato itu melepas cengkeraman mereka. Aku nyaris terjerembab saking kasarnya mereka melakukan itu.

“Lain kali langsung bilang aja kalau ada bisnis begitu! Nggak perlu sok suci!” seru salah satu preman sembari menepuk tengkukku. Kawannya mengambil dua lembar uang lima puluh ribu dari dompetku yang telah mereka rampas. Dompet yang kini tinggal selembar dua  ribu rupiah isinya itu dilemparkannya kepadaku. “Buat tip!” ujarnya sambil melangkah pergi.

Setelah keduanya menghilang di ujung gang, kuambil kembali kacamataku yang telah mereka lemparkan saat memerasku tadi, lalu kukenakan kembali. Penampakan wanita itu menjadi semakin jelas. Dia memang benar Lisa.

Kini hanya tinggal kami berdua di gang sempit ini. Ia masih tidak berani memandangku dan aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk memecah kesunyian di antara kami.

"Uh… hai Jo?” akhirnya Lisa berkata dengan ragu-ragu.

“Lisa?”

Bibirnya membentuk senyuman. “Masih ingat siapa gue, eh?”

Aku mengangguk sebelum menebar pandangan ke sekeliling kami. Gang Kacang Hijau. Rumah bagi orang-orang yang tak mengenal kesusilaan. Di siang hari seperti sekarang, daerah ini sepi seperti pemakaman karena seluruh penghuninya adalah manusia yang telah bermutasi menjadi makhluk malam. Ketika matahari terbenam, Gang Kacang Hijau berubah menjadi pasar malam dimana barang dan jasa yang diperjualbelikan adalah zat terlarang dan layanan pemuas nafsu.

Teman sekolahku semasa SMA kini berada di hadapanku, menghalau sepasang tukang pukul hanya dengan bualan.

“Gue nggak nyangka bisa ketemu lo di tempat ini,” cetusku tanpa pikir panjang.

“Sama. Siapa sangka Johan bisa juga datang ke tempat kayak gini.”

“Uh… Gue ada kerjaan. Gang ini bisa jadi jalan pintas.”

Lisa mengamati penampilanku sebelum terkekeh. “Lain kali kalau mau lewat sini, pakai baju yang lebih kumal.”

Kuamati baju yang kukenakan. Kemeja dan celana bahan, ditambah jaket katun yang agak kebesaran. Kurasa dia benar juga.

“Emang kerjaan lo apaan?” lanjutnya.

Pertanyaan itu tak bisa kujawab jujur, padahal aku tidak ingin berbohong.

“Cuma karyawan di biro jasa kecil…”

“Ooh. Emang Johan banget tuh…” komentarnya. Aku tak mau menimpali.

“Hey, nggak usah malu-malu, seenggaknya kerjaan lo…” perkataan Lisa terputus sejenak sebelum disambungnya dengan lirih. “… halal.”

Lisa menelan ludah. Kesunyian kembali menguasai suasana di antara kami.

“Uh… jadi, sekarang lo mau pergi ke tempat kerja?” lagi-lagi dia yang membuka pembicaraan. Ia tampak tidak tenang. Pandangannya beralih kesana kemari. Perkiraanku, dia sedang mengharapkan sesuatu.

Mungkin ini adalah kesempatan buatku.

“Nggak. Gue udah telat. Duit juga tinggal pas buat ongkos pulang.”

“Oh, gitu…”

Lisa menarik napas, “Lo mau gue traktir bakso? Kayak dulu waktu SMA. Sekalian nostalgia, gitu, kalau lo mau…”


 

Lisa bangun lebih cepat dari biasanya. Pukul sepuluh pagi. Badannya masih terasa lelah, tetapi ia memutuskan untuk tidak tidur lagi. Paham bahwa ia harus menyegarkan diri, ia pun pergi mandi. Saat itulah rasa sakit itu kembali. Punggungnya seolah membara begitu diguyur air dingin.

Luka itu masih belum pulih sepenuhnya. Mungkin akan ada tambahan luka lain malam ini jika ia masih belum juga ‘jinak’. Ia mengumpat mengingatnya.

Mama Remi punya banyak pesaing di kawasan ini. Kalau salah satu anak-anaknya gagal memuaskan pelanggan, bisa dipastikan ia akan pindah ke tempat lain. Mama Remi adalah predator yang amat serakah dalam memburu mangsa. Ia tak akan segan menggigit anaknya jika mangsanya lolos karenanya.

Jika ia harus jujur, Lisa sudah tak tahan. Sentuhan pria-pria langganan Mama di tubuhnya serasa meninggalkan lendir yang lengket di kulitnya hingga berhari-hari. Setiap kata-kata manis yang ia lontarkan ke telinga mereka yang kebal celaan, ia merasa ingin berkumur. Namun begitu, tak selangkah pun ia ambil untuk menjauhi kehidupan menjijikkan itu. Karena uang. Karena ancaman Mama. Karena masa lalu.

Kalau ia harus memilih, dirinya sendirilah yang paling Lisa benci. Saat ini, ia tak ingin percaya bahwa gadis – ya, dia yakin tubuhnya masih belum terjamah sampai ke dalam – yang ada di dalam cermin itu bukanlah dirinya. Lisa telah mencapai titik di mana ia mulai bergantung pada fantasi untuk mempertahankan pendiriannya. Entah sampai kapan ia bisa bertahan menjadi anak ‘liar’.

Berlama-lama merenung membuatnya semakin galau dan tak tahan. Lisa pun akhirnya memutuskan untuk melupakannya. Cukup sudah ia memikirkan hidupnya. Ia harus melanjutkannya. Perutnya lapar. Ia pun cepat berpakaian dan keluar dari rumah menuju warung makan langganannya.

Gang Kacang Hijau tempatnya bermukim nyaris sunyi senyap karena setidaknya baru tiga jam yang akan datang para penghuninya mulai bangun dari dekapan mimpi. Wajar jika suara-suara yang datang dari ujung gang dapat didengar Lisa tanpa masalah.

Seperti bentakan sepasang preman yang tengah merampok orang lewat, misalnya.


 

“Coba gue nggak datang tadi, Jo. Habis lo.”

“Gue nggak butuh bantuan lo tadi. Gue bisa hadapi mereka sendiri.”

Perkataan Johan terdengar jauh dari meyakinkan.

Lisa tergelak. Johan masih seperti yang diingatnya semasa SMA. Pendiam, datar tanpa ekspresi, tetapi diam-diam berhati sensitif.

“Yeah, yeah. Gue yakin lo bisa…”

Mereka berdua duduk di bangku panjang, menunggu bakso pesanan. Si penjual bakso tampak tak senang melihat Lisa datang bertandang. Namun, seperti juga Lisa, keinginannya untuk membiayai hidup mengalahkan standar moralnya walaupun jelas dibandingkan Lisa, dia tidak ada apa-apanya.

Lisa sudah lama kebal dari rasa malu dan risih meski mendapat tatapan tak ramah seperti itu. Apakah itu suatu hal yang seharusnya perlu ia sesali? Lisa sering bimbang akan pertanyaan itu.

“Lo masih ada kontak dengan teman-teman SMA, Jo? Gue sih enggak.”

Johan menggeleng. Pembicaraan mereka berlanjut.

Lisa terus saja menjadi yang aktif mengajak bicara di antara keduanya. Johan hanya menimpali seperlunya dan tak sekalipun teman lamanya itu langsung bertatap mata dengannya. Johan seperti menjaga jarak. Tak sedikitpun pembicaraan mereka membahas pekerjaan Lisa. Mungkin Johan diam-diam curiga kepadanya tetapi tidak berani berterus terang. Atau mungkin ia diam-diam merasa jijik terhadap Lisa.

Ah, ia mengerti sekarang mengapa ia begitu ingin tetap bersama Johan seharian. Ia begitu merindukan seseorang di sampingnya. Orang yang tidak perlu ia rayu, orang yang dihadapannya Lisa tidak perlu bersandiwara. Meskipun orang itu hanya Johan yang pemalu.

“Ugh…”

Mengapa tiba-tiba pandangannya memburam?

Mengapa tiba-tiba pipinya menghangat?

Mengapa ia merasakan asin di mulutnya?

Mengapa? Mengapa? Mengapa?

            “Gue bukan lagi Lisa yang kalian kenal, Jo… Gue udah berubah… Gue, gue bukan lagi cewek idola sekolah, bukan lagi… bukan lagi…”

            Johan hanya diam seperti patung.


 

            Johan meninggalkan nomor ponselnya kepada Lisa hari itu. Pada awalnya, Lisa tidak mencoba menghubunginya karena tidak tahu harus bicara apa. Diluar dugaannya, kali ini lelaki itu yang membuka hubungan.

            “Mau jalan-jalan besok?” sebuah SMS darinya.

Setiap hari Minggu sejak Lisa bertemu lagi dengannya, Johan datang mengajaknya beraktivitas. Jalan-jalan, makan bersama, apapun. Lisa bahkan berpindah shift sehingga tidak perlu terjaga hingga menjelang pagi. Ia juga kian berani menolak permintaan pelanggan yang dianggapnya keterlaluan. Mama Remi kerap marah terhadapnya, tetapi ia mulai kebal terhadap caci maki dan hukumannya.

Johan menjadi orang yang ia tunggu-tunggu setiap akhir pekan. Ia masih jarang berbicara dan lebih jarang lagi memasang wajah yang tidak murung di depan Lisa. Namun itu cukup. Apa yang dilakukannya memberi Lisa keberanian untuk terus hidup dengan tidak membiarkan dirinya jatuh terlalu dalam dari batasan moral dan tata susila.

“Jo, lo sebenarnya tahu kan, kalau pekerjaan gue bukan pekerjaan baik-baik?”

Dua bulan berlalu, dan sebuah keinginan terbesit di benak Lisa. Ia memutuskan untuk mengungkapkannya saat keduanya duduk bersebelahan di tepi sebuah kolam. Memancing ikan. Lisa tidak tahu mengapa ia setuju melakukan itu.

“Selama ini gue berpikir bahwa gue nggak punya pilihan, atau mungkin, selalu ada pilihan, tapi gue nggak berani ambil salah satu.”

Johan tak berkata apa-apa mendengar pengakuannya. Namun Lisa yakin ia mendengarkan.

“Mungkin gue masih jauh, jauh banget dari gue yang dulu, yang masih cewek baik-baik. Tapi berkat lo, Jo. Gue mulai merasa gue bisa kembali lagi jadi kayak dulu.”

Akhirnya, Johan membuka mulutnya. “Kenapa lo ngasih tahu itu ke gue?”

Lisa tersenyum. “Gue nggak ingat kapan terakhir kalinya gue berkata sesuatu yang jujur dan tulus semenjak gue jadi pelacur. Gue ingin lo jadi yang pertama dengar kata-kata yang jujur dari mulut gue yang udah kotor ini.”

Johan menghela napas panjang sebelum menarik kailnya. Umpannya telah habis termakan tanpa seekor ikanpun terkait di pancingan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rival_chan
Rival_chan at Bersamamu... (8 years 42 weeks ago)
60

numpang kasih nilai,, pendapatnya sama yg lain!(hehe)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
100

ceritanya enak sih dibaca. karakternya bisa dipahami. ada unsur kejutannya. masih mikir2, poinnya apa ya... apa sekadar persinggungan antara profesi johan dan lisa itu, apa diem2 lisa ada rasa sama johan, kebaikan lisa yang dibalas dg air tuba, ga langsung nangkep sih hehehe, maaf ya.

Writer Widhi P
Widhi P at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
40

terburu buru,
santai saja biar dapet alur ceritanya jadi ga kaya mau lari loncat2

salaman dulu
nice

Writer cat
cat at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
70

6 poin

Menggunakan pencampuran POV sih boleh-boleh saja.

Tapi dalam hal ini harus diatur dengan baik.
Dalam kasusmu ini percampuran POV malah membuat pembaca bingung.

Tapi ceritanya menarik.

Practices make perfect

Writer NiNa
NiNa at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
70

iya, sebenarnya tahu maksud isi dan alurnya. Cuman, ngerasa kurang rapi aja nyampeinnya, semangat! :D

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
40

wah POV nya kok malah loncat ya?kl POV1,terus konsisten smpe akhir,kl mau POV3,dari awal pake yg itu hehe jd agak bngung bacanya. Tapi ceritanya lumayan. Smangaat. Salam kenal ya

Writer vandcurrent
vandcurrent at Bersamamu... (8 years 44 weeks ago)
40

newbie ikut komen

pertamanya udah bagus langsung konflik, tapi kesininya ceritanya aga sulit di pahami (ato gara2 ada yang kelewat nulisnya?). terus alurnya aga sulit di pahami, antar alur 1 dengan yang lainnya kurang singkron.

mohon maaf jika komennya banyak yg salah.
maklum newbie