Rangkaian Kata

Ternyata begini rasanya.
Rasa yang tidak pernah kusangka-sangka akan mengusikku.
Setelah kepercayaanku akan dongeng yang indah lenyap olehnya. Tergerus oleh rasa kecewa, frustrasi dan ketakutan menjadi satu.

Masih teringat jelas bagaimana keyakinanku saat kali pertama melihatmu.

Aku tidak akan menyukaimu.

Namun kedua mataku terus mengikuti gerak langkahmu. Entah saat kau berada di ujung ruangan ataupun saat kau membelakangiku. Dan saat itu aku berharap punggungmu miliknya. Membuat mataku tanpa sadar selalu berpaling menatapmu. Padahal aku tahu rupamu tidak lebih baik darinya.

Dan keyakinanku bertambah kuat seiring tindak lakumu. Kau hanyalah anak ingusan yang bertingkah layaknya anak kecil. Seperti idiot yang melakukan banyak aksi konyol. Tapi anehnya aku tertawa dan terhibur di tengah sepinya hari. Idiot yang jenius.

Sampai hari itu tiba, aku masih memegang keyakinanku. Tetapi sepucuk pesan penuh basa-basi perlahan meruntuhkan keyakinanku. Membuahkan harapan kecil. Dan harapan itu semakin bertumbuh seiring kau dan aku saling bertukar pesan.

Pesan itu mengubahku. Membuatku semakin memperhatikan gerak-gerikmu. Menyadarkanku bahwa kau lebih dari dirimu. Melebihi pendapat-pendapat yang ada.

Kau hanyalah anak yang berusaha meramaikan hidupmu. Bersenang-senang dalam setiap waktu. Dan dibalik rupa kekanak-kanakanmu tersimpan kharisma nyata, berambisi dan bersinar.

Aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku. Kau nyaris sama sepertiku. Dan aku mengetahuinya saat aku sadar kau memperhatikanku sejak lama. Tanpa aku sadari.

Kau menyukaiku.

Dan aku terkejut mengetahuinya. Melebihi keyakinanku. Menarikku lebih dalam untuk menelusuri dirimu. Memberikan fakta bahwa kau mengetahui segala kebiasaanku yang terlihat.

Semakin lama kau menarikku lebih dalam. Membuatku merasakan indahnya kasih sayang, hangatnya kebersamaan, dan manisnya kecemburuan. Walaupun kita sering kali bertengkar di atas ketidak jelasan dan dalam satu sisi lain yang mendebarkan, jejak langkah kita tidak pernah tegas antara perlakuan sebagai teman ataupun kekasih.

Dan aku menyukaimu.

Setelah dan ketika kau membiarkanku mencicipi rasa manis, asam dan pahitnya cinta. Meskipun buah harapan itu semakin matang. Dan kemudian perlahan mati karena ulahku sendiri.

Kita tidak akan pernah bersama.

Kau pun mempertegasnya dengan menyalakan api dalam hatiku. Membakar habis harapan dan meninggalkan segumpal asap kecemburuan dan kekecewaan. Kecemburuan yang nyata karena kau berpaling dariku. Kekecewaan yang mengiris hati karena aku tidak dapat menarikmu. Di tambah rasa sakit dan perih karena kau meninggalkanku saat aku menyukaimu dan belajar menjadi lebih baik.

Kau menolakku.

Dan saat itu air mataku mengalir. Tanpa kau ketahui. Betapa sakit hati ini saat aku jatuh ke dalam lubang bernama cinta. Di mana kau naik ke atas dan meninggalkanku terjatuh sendirian. Dengan tertimbun rasa malu karena cinta membodohkanku.

Kemudian aku membencimu.

Membencimu dan merindukanmu dengan segenap hati. Tapi aku sadar, rindu adalah kata terlarang di saat aku mulai melepaskanmu. Karena aku percaya kau bukanlah yang terbaik.

Dan aku akan melupakanmu.

Selamanya.

Semoga...

-2012-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Rangkaian Kata (9 years 2 weeks ago)
70

aku kurang begitu paham dg "rasa" yang hendak disampaikan "prosa" ini, tapi bg penulisnya mesti sangat berarti... dg menuliskannya aja menurutku udah bagus.

Writer mingki
mingki at Rangkaian Kata (9 years 3 weeks ago)
60

semacam curhat penulisnya nih....terus menulis ya :)

Writer Nelson
Nelson at Rangkaian Kata (9 years 3 weeks ago)
60

Ceritanya tanpa percakapan, jadi sperti cerita pengalaman yang sedang dikatakannya, dan tentang cinta? Pendapatku ini adalah pengalaman sang penulis, mungkin.