Penulis Sinting 3

Mataku mulai terbuka, perlahan aku perhatikan sekelilingku. Entah sudah berapa lama, aku tidak sadarkan diri. Makhluk itu benar-benar mengejutkanku, wajahnya sangat tidak layak dipandang. Sial ! sekarang perutku semakin terasa lapar. Sepertinya cukup lama, aku tidak sadarkan diri. Aku terduduk sesaat, memperhatikan lemari pakaianku. Merasa sudah cukup aman dari ancaman makhluk aneh itu, aku beranikan diri untuk berdiri. 

Tetapi rasa penasaran tentang selembar uang seratus ribu itu, masih saja menggelayuti pikiran dan hatiku. Ah kenapa jadi lebay begini, tentu saja aku ingat terus selembar kertas itu. Karena tinggal dialah, satu-satunya benda yang dapat membuat lambungku tidak lagi berteriak.  Karena tinggal selembar itulah penolong jiwaku saat ini, Semakin kacau saja pikiranku. Mungkin karena rasa lapar yang tidak terhingga, membuat aliran darah menuju otakku sedikit padat merayap. Hilang sudah mood untuk menulis pagi ini, semua sirna karena perut yang lapar. Hilang juga gambaran tentang si tuyul, yang sebelumnya sudah tertancap di otakku.

Aku periksa semua isi lemari pakaian, tidak juga aku temukan uang itu. Kemana perginya engkau wahai selembar penyelamatku, tanpamu aku bisa pingsan lagi nih. Sesaat aku melupakan tentang makhluk yang berhasil membuatku pingsan, mungkin karena kondisiku yang kelaparan. Setelah selesai memeriksa lemari pakaian, aku melangkah menuju dapur. Berharap masih ada sebungkus Mie instant, lumayan untuk sedikit membungkam lambung ini.  

Begitu memasuki dapur, aku langsung bertatap muka dengan makhluk aneh itu. Ingin rasanya berlari, tetapi kaki ini seperti tertancap di lantai. Ingin pingsan, tetapi tadi sudah pingsan. Jadi nggak mungkin aku lakukan lagi. Yang tertinggal sekarang ini adalah rasa penasaran yang amat kuat, membuat semua alat perasaku menjadi semacam mati. 

Perlahan aku dekati makhluk itu, ia tidak sedikit pun bergerak. Hanya tatap matanya saja, yang semakin tajam mengarah padaku. Wajahnya memang sangat tidak layak. Hidungnya mancung sih, cuma tidak ada lubang disana. Nah ini yang membuat aku semakin heran, dar mana dia menghirup oksigen, atau hidung itu hanya hiasan saja. Mungkin supaya terlihat sedikit lebih tampan. 

Aku melangkah agar dapat lebih dekat dengan makhluk itu, tetapi ketika kaki ini baru saja melangkah, ternyata lantai dapur sangat licin. Tubuhku terpelanting, lalu mendarat dengan keras di lantai. Yang paling menyebalkan, kepalaku juga menghantam lantai. Seketika itu juga semua menjadi gelap, yah pingsan lagi. 

 

BERSAMBUNG :)

 

Read previous post:  
16
points
(344 words) posted by mingki 9 years 21 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | komedi | horor | komedi | lelucon
Read next post:  
Writer sabbath
sabbath at Penulis Sinting 3 (9 years 20 weeks ago)
90

haduh haduhhh... kok pingsan lagi sihh...
wajah makhluk aneh itu gak layaknya bagemanaaaa???
*gak bisa bayangin*

Writer mingki
mingki at Penulis Sinting 3 (9 years 20 weeks ago)

terima kasih sudah mampir, belum bisa lanjutin lagi nih ;)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Penulis Sinting 3 (9 years 20 weeks ago)
70

ini lumayan lucu :)
masbro, kalau ini cerita bersambung kenapa yang sebelum dan sesudahnya ga ditandai aja di read previous/next post?

Writer mingki
mingki at Penulis Sinting 3 (9 years 20 weeks ago)

saran sudah dilaksanakan..;) terima kasih