Seatap

Tumben sekali siang ini Jo sudah pulang. Seperti biasa dia datang bersama seorang wanita. Seorang gadis kukira. Kutaksir usianya masih belasan tahun. Rambutnya hitam panjang, kakinya kecil, kulit putih dengan wajah oval disertai poni yang tertata rapi di sekitar dahi. Keduanya masih saling lilit - berjalan mendekati kursi sofa kemudian duduk sembari menyalakan televisi yang terletak di atas meja depan sofa.

            Aku baru saja selesai merapikan kamar dan menjemur pakaian. Meskipun satu atap kami seperti hidup di dunia yang berbeda. Jo gila dengan teman-teman wanitanya, sedang aku harus tetap waras demi anak kami : Rus. Di rumah, sebelum berangkat menitipkan aneka penganan ke toko-toko maupun sekolah-sekolah aku membereskan dulu pekerjaan lain, memasak untuk Jo, kalau masih ada waktu aku akan sekalian mencuci atau mencicil membereskan bagian rumah yang masih kotor.

            Semakin hari kehidupanku kian hambar saja. Aku seakan tak butuh lagi kehadiran Jo. Entah dia ada atau tidak, tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi keluarga ini. Lagipula, menurutku Jo malah merepotkan saja. Ketika pulang, jika tidak menghabiskan uang ia akan membuat rumah berantakan, botol-botol berserakan, puntung rokok yang sembarangan beretebaran atau bungkus-bungkus makanan kecil yang tak terbuang pada tempatnya. Jo seperti bayi dan aku bagai orang tua asuhnya.

            Semenjak Jo tak menginginkanku menemani tidurnya, tak sedikit pun aku merasa sakit hati. Ketika dia mulai terang-terangan membawa teman wanitanya ke rumah pun aku tak merasakan cemburu. Juga saat dia bilang badanku sudah tidak enak ditiduri lagi aku tak pernah tersinggung. Terserahlah dia mau ngomong apa. Kegilaan Jo sepertinya turut mematikan sebagian syarafku. Aku tak memiliki rasa benci, sebaliknya tak lagi dapat mengindera rasa cinta. Yang kutahu aku harus tetap hidup dan bertahan demi  Rus, itu saja.

            “Saya tulus mencintai kamu, minta cerai saja nanti saya yang bantu…”

            Normalnya,  ketika kehidupan sulit melanda seperti sekarang  aku merasa bahagia  saat ada orang lain datang,  dengan penuh perhatian ingin mengentaskan penderitaan dan kemiskinan ini. Sayangnya tidak, lagi-lagi sosok tinggi besar Jo menghantuiku. Bukankan dulu sebelum kami menikah dia juga bermulut manis layaknya laki-laki ini?

            Ya Tuhan, tidak seharusnya aku membanding-bandingkan keduanya. Aku tahu mereka berbeda. Aku ingin bahagia, tapi kelihatannya sudah terlanjur nyaman dengan keadaan ini. Oh Jo, kau berhasil membuat raga ini menghamba untuk menjadi budakmu.

            Pelan-pelan  ternyata aku diliputi oleh trauma. Menolak setiap laki-laki yang datang lantaran telah habis-habisan dibuat kecewa oleh satu lelaki saja. Lebih baik aku hidup sendiri jika kehadiran seorang lelaki nantinya hanya akan merepotkan saja.

            “Maaf, saya belum bisa…” seraya tanganku merenggangkan genggaman tangannya.

            Saat berjalan meninggalkan dia, aku sempatkan diri untuk menoleh. Baru kali ini  melihat laki-laki menangis karena ditolak oleh seorang wanita setengah tua. Tapi biarlah, kupikir ini hanya perasaan sentimentil sementara dia saja.

            Cukup sekali aku meghadapi manusia bayi macam Jo. Tidak ada lagi setelah ini, juga dia. Tidak sepantasnya juga mendekati wanita tua macam aku. Selain itu, aku sendiri tidak mau menjadi Jo, suka memainkan dan memanfaatkan gadis-gadis belia yang masih haus kasih sayang.

            Dia laki-laki muda yang haus kasih sayang, Rus lebih tepat mendampinginya.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arbi bianglala
arbi bianglala at Seatap (7 years 47 weeks ago)

Masih kurang mengalir bahasanya
dan coba dibuat alurna jangan terlalu klise
semangat

Writer sekar
sekar at Seatap (8 years 19 weeks ago)
80

mbaa, aku berasa nonton sinetron hidayah..hehehe

Writer Shinichi
Shinichi at Seatap (8 years 21 weeks ago)
70

tuturnya oke :D

saya rasa komposisinya jugak tepat. meski, saya pribadi berharap cerita begini jangan terlalu "tell". gregetnya kurang. ehehehhe.

lalu, ketika sampai pada bagian akhir cerita, kalimat yang rasanya memang telah dipikirkan sejak awal oleh penulis itu, saya merasa agak kurang greget. boleh2 saja siy menghadirkan "kenyataan" seperti itu, dengan cara begini. namun, akan lebih greget kalo sebelumnya, penulis sudah menunjukkan keberadaannya. spoiler gitu. ya, pembaca toh jugak akan mengerti soal kenapa kalimatnya begitu, dengan berpikir untuk menyimpulkan.

namun tetap saja, itu terlalu "njeblak". andai saja ada adegan di mana laki2 itu ternyata ada interaksi dengan tokoh aku dan Rus. disamarkan saja, tapi ada. cukup intens. saya rasa itu bisa bikin cerpen ini lebih ngena lagi.

kira2 itu aja siy. mohon maap bila kurang berkenan.
salam
ahak hak hak

Writer mizz_poe
mizz_poe at Seatap (8 years 21 weeks ago)
50

ini saya yg oon apa gimana? aneh bangeud baca kalimat eksekusinya:
Dia laki-laki muda yang haus kasih sayang, Rus lebih tepat mendampinginya.

Writer hirumi
hirumi at Seatap (8 years 21 weeks ago)

Kenapa bikin crita seperti ini? Kerasa banget sakitnya, aneh ngeliat si 'aku' ga ngerasa apa-apa. Ini bisa kebayang gimana sungguhannya... Apa yang salah coba? Siapa coba?

Writer cunex_junaedi@yahoo.com
cunex_junaedi@y... at Seatap (8 years 22 weeks ago)
80

si aku memang masih cinta ma jo bila saatnya jo dititik sedih dia kan menghmpiri si aku hehe salam kenal j sekarang malah ada cerita lebih sadis lagi si istri disuruh melacur buat beli minuman suaminya diantar dia sama pelanggan yang dia bertahan "aku masih cinta" itu kunci cinta bikin korban

Writer dhika moreno
dhika moreno at Seatap (8 years 23 weeks ago)
70

dibacanya enak...

Writer mingki
mingki at Seatap (8 years 23 weeks ago)
70

mengalir lancar dan smooth. "aku" dalam cerita ini, benar2 tidak memiliki syaraf marah dan benci lagi :)

Writer NiNa
NiNa at Seatap (8 years 23 weeks ago)

makasih, Mingki :)

Writer Favemale
Favemale at Seatap (8 years 23 weeks ago)
80

Seperti biasa, alur ceritamu mengalir dan asik di baca.
Tapi...soulnya gak begitu terasa Nin, gak conect dengan pembaca (dalam hal ini, saya) ^_^
Satu hal, jarang banget ada tokoh sesabar dan sepasrah "si aku".
Apapun, penyampaianmu memang bagus :)

Writer NiNa
NiNa at Seatap (8 years 23 weeks ago)

begitulah, tolong, saya lagi terkena virus menakutkan yang suka menyerang para penulis amatiran^^. saya maklum, nulisnya juga ga sampe soul sendiri kok.

saya sendiri juga kasian sama "si aku", makasih :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Seatap (8 years 23 weeks ago)
60

dipanjangin lagi aja ceritanya... kembangin lagi konfliknya :D

Writer NiNa
NiNa at Seatap (8 years 23 weeks ago)

iya kakak, saya harus menemui si Jo dulu #eh :D

yah, lagi mentok segini e

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Seatap (8 years 23 weeks ago)

wah... atau ga moga2 si Jo yang lekas menghampirimu lagi ya :) #he