Pesona Mimi

 

           Siapa yang tidak kenal Mimi? Katanya dia manusia paling tampan di sekolah ini. Hidungnya bangir, mata berwarna cokelat, rambutnya klimis dan lesung pipit yang senantiasa menempel di pipi tirusnya. Tingginya menjulang dan dadanya bidang bak aktor kondang luar negeri.

            Katanya juga, dia karismatik dan santun. Konon, kalau dia berjalan berjalan menelusuri koridor sekolah atau bahkan hanya sekedar berjalan untuk membuang sampah ke tempatnya, pancaran cahaya tidak terlihat menusuk dan menggelitiki mata setiap kaum hawa yang berada di dekatnya.

            Mimi juga katanya pernah sekali ikut main bola sepak. Itupun karena kakak kelas kami yang mengajukan tantangan terhadapnya. Teman-teman sekelas kami tidak ada satupun yang berani. Pasalnya, kakak kelas kami tersebut tersohor di seluruh penjuru sekolah karena kehebatannya bermain bola sepak dan menggunakan kekerasan bila kalah tanding. Mimi menerimanya dengan jantan dan percaya diri. Teman-teman kami terperanjat, bagaimana mungkin kami bisa menang melawan.

            Alhasil, Mimi sendiri yang masih bertahan dan melawan. Mimi bertanding sendirian. Satu lawan sebelas. Seluruh sekolah menonton, penjaga kantin, satpam, guru-guru dan kepala sekolah lengkap dengan jajaran pengurusnya. Sesekali tepuk tangan dan teriakan gadis-gadis remaja tanggung membahana saat Mimi membasuh keringat di pelipisnya.. Pengendara becak dan motor yang melintas juga menyempatkan diri menepi dan ikut bertepuk tangan dari sisi luar gerbang sekolah.

           Lima belas menit tanpa istirahat, Kesebelasan kakak kelas dicukur habis-habisan. Mimi tidak kebobolan satu bolapun. Delapan belas berbanding nol. Mimi yang menang, dengan elegan meninggalkan kesebelasan kakak kelas yang marah dan suasana sekolah yang penuh euforia. Hari itu sekolah pulang lebih cepat karena itu.

           Sinting memang, bagaimana pula seorang remaja yang katanya tampan menang telak melawan kesebelasan kakak kelas berpengalaman dan berhasil meriuhkan sekolah sampai pulang lebih cepat? Tapi itu fakta kata teman-temanku.

           Aku jadi menyesal tidak datang sekolah waktu itu. Salahkan penyakit ini, salahkan Ibu yang suruh aku istirahat panjang di rumah. Kisah dari teman-temanku yang berkunjung untuk menjenguk sukses bikin rasa penasaranku membuncah.

           Teman-temanku kemudian melanjutkan, Mimi merupakan murid pindahan dari luar kota. Baru saja pindah beberapa hari lalu dan bergabung bersama kami empat hari lalu.

           Mengapa pula bisa dalam empat hari saja sekolah bisa heboh?

           Namanya juga Mimi. Hantu belau darimana yang merasuki pikiran orang tuanya memberikannya nama Mimi? Dijawab teman-temanku, mereka juga awalnya berpikiran begitu. Tapi terjawab sudah setelah Mimi beralasan orang tuanya memang memberikan nama begitu. “Sudah dipersiapkan sejak sebelum dia lahir,” kata salah seorang temanku.

           Mereka bilang, kursi untuk Mimi tempatnya tepat dibelakangku dan Mimi sekali bertanya, siapa murid yang duduk didepannya. Teman-temanku memberitahu padanya itu kursiku. Mimi mengangguk, semua terpesona.

           Teman-temanku lalu bilang, setelah bel istirahat pertama, ada dua belas siswi sekelas kami yang menyatakan perasaannya pada Mimi. Semuanya ditanggapi Mimi dengan halus dan lembut. Beberapa diantar siswi-siswi tersebut mimisan setelahnya.

           Terhitung bel istirahat pertama sampai bel akhir berbunyi, total ada 48 siswi dari berbagai kelas datang ke kelas kami demi beberapa tujuan, ada yang ingin jadikan Mimi pacar, ada yang ingin Mimi menyatakan perasaan cintanya, atau ada yang hanya sekedar ingin beradu pandang dengan Mimi.

           Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah siswi yang datang pada Mimi mengharap tanggapan yang diharapkan. Bahkan, beberapa siswi dari sekolah di luar kota juga datang berbondong-bondong, rela berpeluh dipanggang sinar matahari, menunggu jam sekolah kami berakhir untuk bertemu langsung dengan Mimi.

           Benar-benar luar biasa pengaruh Mimi pada sendi-sendi kehidupan sekolah dan sosial kami. Puluhan laki-laki dari berbagai tempat terpaksa diakhiri hubungannya karena para siswi terlanjur tertarik pada Mimi.

           Kiki, salah seorang siswi dari sekolah di luar kota masuk koran hari ini. Sebabnya, Mimi menolak permintaan Kiki untuk jadi pacar. Walaupun halus, Kiki tetap saja patah hati. Ia iris pergelangan tangannya dengan pisau cukur, kemudian terpaksa dirumahsakitkan.

           Vivi beda lagi, ia masuk halaman depan koran hari ini karena perbuatan anehnya. Ia membangun menara dari kertas di halaman belakang rumahnya, khusus untuk Mimi seorang. Vivi bilang, kekuatan cintalah yang membuatnya bisa membuat menara dalam sehari.

           Teman-temanku berpesan padaku untuk segera datang ke sekolah untuk melihat Mimi secara langsung. Memang, besok aku diperbolehkan untuk pergi ke sekolah lagi. Ibu bilang masa istirahatku sudah selesai. Rasa penasaranku jadi semakin meluap-luap. Kubayangkan wajah Mimi seperti apa bila aku berhadapan langsung. Malam itu aku tidak bisa tidur.

            Esok hari dikelas, aku sengaja datang lebih cepat. Pukul enam tepat aku sudah berada di gerbang sekolah. Ternyata sekolah sudah ramai. Aku kembali berpikir, Mimi ini memang luar biasa pastinya. Kutembus keramaian, aku masuk ke kelas yang ternyata lebih ramai lagi dari gerbang sekolah. Mereka berbincang-bincang riuh, ada yang komat-kamit berdoa dengan barang-barang yang kuduga hadiah untuk Mimi. Mereka memenuhi ruangan, duduk-duduk di atas kursi, meja, lantai dan bersandar di dinding.

            Kuusir seorang siswi yang duduk diatas kursiku. Ia bersikeras tidak mau pergi. Kujelaskan kalau aku yang berhak atas kursi ini, dia bergeming. Akhirnya, dia pergi setelah kuancam dengan tangan terkepal.

            Mimi merupakan biang semua ini. Kelas yang ramai seakan-akan bukan lagi kelas untuk belajar, sekolah yang lebih mirip pasar, dan siswi-siswi yang jadi sinting.

            Setelah menunggu sekian lama, Mimi akhirnya datang.

            Hidung, mata, rambut, pipi dan penampakan fisiknya sesuai dengan yang dikisahkan teman-temanku kemarin. Sambil berjalan menuju kursinya, ia tersenyum berkali-kali menanggapi siswi-siswi yang bertebaran diseluruh kelas ini. Saat dia mendekat kearahku, bulu kudukku berdiri, jantungku berdebar kencang, aku jadi sesak pipis.

            Aku jatuh hati pada Mimi pada pandangan pertama. Mimi tersenyum padaku. Manis sekali. Semerbak harum menerpa penciumanku waktu Mimi melewati kursiku, kemudian dia duduk ke kursinya dengan tenang. Aku mabuk, lalu tersenyum-senyum sendiri. Rasa apa ini?

            Lalu suasana mendadak panas. Kilatan cahaya berpendar diujung langit. Meteor menghantam kami. Mimi masih tetap memesona..

Read previous post:  
103
points
(228 words) posted by Dedalu 9 years 42 weeks ago
79.2308
Tags: Cerita | Cerita Pendek | dongeng | Dedalu | malam | puisi
Read next post:  
Writer irayukii
irayukii at Pesona Mimi (9 years 11 weeks ago)
90

Ira jarang baca cerita. Tapi ceritamu alur dan gaya bahasanya bagus. Cuman kok ya penggunaan pun yang seharusnya dipisah kok masih kamu gandeng semua ya? itu aja sih paling.
emm.. berjalan berjalan? dobel kali itu ya.
Sekilas liat judul kirain si mimi cewek. Eh ternyata oh ternyata ^^
Ceritamu semakin membuatku percaya kalau cinta pada pandangan pertama itu hanyalah terjadi pada mereka yang cantik dan ganteng ajaah fufufu --"

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 11 weeks ago)

Woh, iya, ternyata ada dua "pun" sejauh ini yang saia deteksi digabung dan salah. Sisanya seperti "Walaupun" kan digabung.:D
.
Hehehe, saia juga termasuk orang yang percaya kok :v
.
Makasih sudah berkunjung dan membaca :D

Writer Alfreda
Alfreda at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)
80

kenapa kamu dipanggil Laz? Mimi? ahahaha

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

Bukan siapa-siapa itu. Huehehehe :v

Writer Alfreda
Alfreda at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

mungkinkah dari kata Dedalaz? atau Sulaztri? *garuk dagu

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 11 weeks ago)

Bukan bukaaan :v

Writer Alfreda
Alfreda at Pesona Mimi (9 years 11 weeks ago)

wah yasudahlah.. *pulang dengan melas

Writer SR_2127
SR_2127 at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)
100

Aku suka cerita ini^^ Lucu, dan gaya bahasanya enak buat dibaca

Kirain si tokoh utama gak bakalan suka sama Mimi, eh ternyata...

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

Eh, ternyata endingnya gaje >.<
Makasih syudah baca :D

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)
90

ih wow. saya beneran iri sama gaya nulis Laz. rasanya enak banget dan cocok buat cerita pendek ginian.
.
dan entah kenapa saya ngebayangin kalo ini jadi komik one-shot ala manga Nickelodeon (buatan Douman Seiman) pasti bagus

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

Wkwkwk, makasih, om sam >.<

Writer just_hammam
just_hammam at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)
80

Kata “berjalan” di baris ke-empat dobel.

Kalimat “pancaran cahaya tidak terlihat menusuk dan menggelitiki mata setiap kaum hawa yang berada di dekatnya.” di paragraf kedua rancu antara tidak terlihat dan menusuk. Mungkin lebih baik “pancaran cahaya lembut terpancar dan menggelitiki ...”

Paragraf keempat baris keempat ada titik dobel.
Paragraf dua belas kalimat “Beberapa diantar siswi-siswi tersebut mimisan setelahnya.” Kata “diantar” seharusnya “diantara”.

Kalimat “Puluhan laki-laki dari berbagai tempat terpaksa diakhiri hubungannya karena para siswi terlanjur tertarik pada Mimi.” Kata “diakhiri” lebih tepat “mengakhiri”.

Titik di akhir cerita dobel.

Ceritanya bagus, sayangnya diakhiri dengan kondisi yang tidak jelas (meteor tiba-tiba menghantam). Mungkin keren kalau diakhiri dengan ekstrim seperti "Parfume" yang akhirnya seluruh bagian dari tubuh pemerannya diperebutkan tidak tersisa karena pesonanya tidak tertahankan.

Terima kasih atas ceritanya. :)

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

Kalimat “Puluhan laki-laki dari berbagai tempat terpaksa diakhiri hubungannya karena para siswi terlanjur tertarik pada Mimi.” Kata “diakhiri” lebih tepat “mengakhiri”.

.

Saya sih mikirnya siswi yang memutuskan hubungan dengan laki-lakinya karena sudah dapat pujaan hati yang baru. Hehehe.

.

Ceritanya bagus, sayangnya diakhiri dengan kondisi yang tidak jelas (meteor tiba-tiba menghantam). Mungkin keren kalau diakhiri dengan ekstrim seperti "Parfume" yang akhirnya seluruh bagian dari tubuh pemerannya diperebutkan tidak tersisa karena pesonanya tidak tertahankan.

.

Sip bang. Saya tampung masukannya.

.

Makasih banyak sudah menyempatkan diri buat mampir. >.<

Writer dansou
dansou at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)
100

Cerita jeruk yang memesona (y) Ini bagus, Laz. :D

Writer Dedalu
Dedalu at Pesona Mimi (9 years 12 weeks ago)

Maaciw dandi <3