Your Wish is My Command

 

Hai, Lu, sudah lama kau tidak mengunjungiku. Aku sangat merindukanmu.

Seperti yang kau ketahui, aku sama sekali tidak menyukai rumah ini. Aku benci sekali jalan di depan yang telanjang tanpa aspal dan berbatu besar. Kepalaku selalu sakit karena guncangan hebat ketika mobil kami melewatinya. Aku benci jendela rumah ini yang kecil-kecil, seakan mengurung dan membiarkanku kehabisan oksigen di dalam. Aku benci kebun liar di seberang rumah yang mengering tiap kali kemarau, seperti memberitahuku bahwa nantinya aku akan mengeriput dan mati seperti mereka.

Tidak, mungkin aku bahkan tidak perlu repot-repot mengeriput.

Semua yang berada di sini seperti ingin melihatku mati. Kau tahu, Lu, bahkan kamarku juga menyeramkan. Tempat itu berada di lantai dua rumah terkutuk ini, menyendiri dan menyepi jauh dari segalanya. Sepertinya Bibi Berwajah Menor itu mengusahakanku berada sejauh mungkin dari dari pandangannya. Tidak masalah untukku. Aku juga membenci wanita bermuka dua itu, lebih dari aku tidak menyukai rumah ini.

Kau tahu yang kutakutkan, Lu. Petir selalu terdengar lebih keras di tempat tinggi. Aku selalu merasa mereka menggedor-gedor jendela mungil di sudut sana sambil meraung seakan ditugaskan mencabut nyawaku.

Saat itu, Lu, aku sangat takut. Bahkan terlalu takut untuk bersembunyi di bawah ranjang. Tapi terima kasih untukmu, Lu, sekarang aku memilikimu.

Lu, satu hal yang paling kusyukuri dalam hidupku adalah malam itu. Ketika aku memutuskan menyelinap ke kebun belakang dan menggambar di sana. Biasanya aku menggambar sesuatu yang hidup. Namun kali itu aku hanya mencontek gambar dari buku milik ibu. Sebuah lingkaran dengan banyak bintang dan garis, juga berbagai simbol yang tak kumengerti.

Kemudian, Lu, tepat ketika lilin yang kupegang mati karena embusan angin kencang, kau muncul dan menyapaku.

“Hei, kau cantik,” begitu katamu, melelehkan hatiku. “Siapa namamu?”

“Brielle,” jawabku.

“Namamu juga cantik,” katamu lagi.

Aku tidak bisa melihat jelas malam itu karena penerangan yang minimal. Tapi tidak, Lu, aku tidak takut padamu. Saat itu aku tahu, kau akan membuat hidupku jauh lebih menyenangkan.

“Bagaimana kalau kita mengobrol di dalam saja?” katamu, seakan sudah sekian tahun mengenalku. “Jujur saja, aku tidak suka angin kencang. Dan wajahmu pucat sekali.”

“Aku memang selalu pucat,” aku berkilah. “Dan lagi, kau tidak bisa masuk. Nanti Bibi Berwajah Menor bisa melihatmu.”

“Dia melihatku? Yang benar saja,” kau tertawa ringan. “Siapa itu Bibi Berwajah Menor?”

“Wanita jahat yang pura-pura merawatku tapi sebetulnya menginginkan kematianku,” jawabku jujur. Seketika aku mempercayaimu, Lu, kau harus tahu itu.

“Masalahmu pelik sekali,” katamu kemudian, setelah bersiul kecil. “Sungguh, kita harus mengobrol akrab di dalam. Kau masuk duluan, nanti aku menyusul.”

Aku tidak tahu apa maksudmu akan menyusul. Tapi begitu aku masuk ke kamar, kau sudah ada di dalam. Aku bisa melihatmu tiduran santai di ranjangku, satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk duduk di sana. Aku bisa dengan mudah mengamatimu di bawah cahaya lampu neon. Kau tampan, Lu, jelas sekali.

“Kenapa cuma berdiri?” tanyamu membuyarkan lamunanku. Lalu kau menepuk tempat di sebelahmu. “Sini, jadi mengobrol tidak?”

Kemudian, mengalirlah cerita hidupku. Tentang ayahku yang tidak pernah kukenal. Tentang ibuku yang meninggal tiga tahun lalu. Tentang waliku, tante pesolek yang selalu memakai make up berlebihan dan membuat hidupku seperti di neraka. Tentang kekesalanku, tentang kesedihanku, tentang ketakutanku, tentang segalanya.

“Kurasa aku bisa membantumu,” katamu sambil memainkan rambut panjangku. “Aku bisa mengabulkan satu permintaanmu. Sebut saja.”

“Kurasa... aku minta... tiga permintaan yang harus kaukabulkan.”

Aku bisa melihat kerutan di dahimu. “Kau pintar,” katamu.

“Jadi boleh tidak?”

“Tentu saja,” katamu lagi. Kerutan itu sudah menghilang dari wajahmu, kini digantikan sebuah senyum menawan.

“Dan apa yang bisa kulakukan untukmu sebagai imbalannya?” tanyaku. Aku tahu, Lu, perjanjian ini tidak gratis. Kau harus mendapatkan sesuatu dariku.

“Biar kupikirkan nanti,” kau meraih sejumput rambutku lagi dan menghirup aromanya dalam-dalam.

Aku minta maaf, Lu. Sejak saat itu, aku selalu meminta tiga permintaan lagi setelah aku menggunakan dua lainnya, supaya kau tetap bersamaku. Aku memerangkapmu bersamaku di rumah sempit ini, karena hanya kau yang kupunya, Lu. Tapi kau tidak pernah protes. Kau selalu mengabulkan permintaanku, meskipun itu hanya keluhan kecil.

“Kuharap pekerjaan ini cepat selesai,” aku ingat pernah menggerutu seperti itu di depan mesin cuci.

Dan kau, Lu, ternyata mendengarnya. Kemudian kau mengedip padaku, menampilkan senyum menawan, memamerkan sederet gigi rapi sempurna, dan mengatakan kalimat favoritmu, “Your wish is my command.”

Mengingatmu membuatku makin merindukanmu, Lu. Di mana kau sekarang? Hidupku kembali sengsara tanpamu. Mengapa kau tiba-tiba pergi, Lu? Apakah kau sudah bosan setiap hari mendengar rengekanku yang seperti bayi?

Lu, kembalilah padaku. Apa kau tidak melihatku? Aku kini sedang duduk di sudut kamar, seperti yang sering kulakukan dulu ketika aku belum mengenalmu. Ketakutan seperti dulu. Rasa takut ini begitu mengerikan, karena kali ini aku menghadapinya tanpamu.

Seluruh tubuhku terasa nyeri dan terlihat membiru. Bibi tadi memukuliku, Lu, sekembalinya kami dari rumah sakit. Kau pasti heran, Lu, mengapa wanita kejam itu berbaik hati membawaku ke rumah sakit. Bibi membawaku ke sana secara terpaksa. Saat itu seseorang melihatku pingsan di depan rumah. Dan karena seperti yang sudah kubilang dia bermuka dua, dia pura-pura panik dan membawaku ke rumah sakit.

“Anak sialan, kau menghabis-habiskan uangku! Kau tahu tidak, biaya rumah sakit itu mahal! Tahu tidak?!”

Suara wanita itu masih terngiang di telingaku, Lu. Itu yang dia katakan ketika memukuliku dengan tangkai sapu.

“Sebaiknya kau cepat mati dan menyusul ibumu! Supaya aku bisa mendapat ganti rugi dari warisanmu, kau dengar aku?!” kemudian wanita itu tertawa sinis. “Oh iya, kata dokter tadi kau berpenyakit. Parah, dia bilang. Tenang saja, aku takkan repot-repot mengobatimu. Hidupmu toh takkan lama. Jangan lupa cepat mati, Nak. Oke?”

Begitu katanya, Lu. Kemudian dia pergi, meninggalkan tubuhku yang kesakitan. Mengapa kau menghilang begitu lama, Lu? Apakah kau kini membenciku? Sudah lewat sebulan sejak aku mengatakan permohonanku padamu. Kau masih menyisakan satu permohonan untukku. Kalau kugunakan itu, akankah kau mendengar dan mengabulkannya?

“Kembalilah padaku, Lu,” kataku gemetar. Butir-butir air lolos dari mataku dan jatuh ke lantai. Sungguh, aku merindukanmu.

“Your wish is my command.”

Kaukah itu, Lu? Atau hanya suara dalam kepalaku?

Aku menyeka mataku. Bisa kulihat sosokmu yang berjongkok di depanku. Ah, itu benar kau, Lu. Mata cokelatmu mengamatiku lekat-lekat. Tanganmu yang hangat menempel di pipiku dan menghapus jejak yang ditinggalkan air mata.

“Maafkan aku,” ujarmu. Aku menghambur ke pelukanmu. Merangkul lehermu erat. Aku bisa mencium wangimu yang seperti pinus, Lu.

“Aku pikir... kau takkan kembali,” suaraku teredam karena aku membenamkan wajahku dalam pelukmu. Kau membelai rambutku pelan dan nyaman.

“Aku pulang sebentar, memikirkan sesuatu. Tapi sepertinya aku sudah pergi terlalu lama. Aku memang tidak terlalu pandai berpikir,” kau terkekeh sambil melepaskan pelukan. “Kurasa aku tahu apa yang kuinginkan darimu.”

“Apa itu?” tanyaku setelah terdiam beberapa saat. Apakah ini akhirnya, Lu? Setelah kau mendapat apa yang kaumau, kau akan pergi lagi. Kali ini untuk selamanya.

Aku menunggu kau menjawab, Lu. Tapi kau hanya mematung dan memandangiku. Kemudian kau mendekatkan wajahmu, membuat jantungku berdetak lebih cepat. Bibir kita bertemu untuk beberapa saat. Kau tahu, Lu, kau membuatku merasa lebih hidup.

“Ikutlah denganku,” katamu kemudian, ketika sudah sanggup berkata-kata.

Aku tersenyum. Aneh rasanya, sudah begitu lama aku tidak tersenyum. Kali ini aku merasa bahagia, Lu, dan itu karenamu.

“Your wish is my command, Sir Lucifer,” jawabku, meniru gayamu. Kau tersenyum geli, mendekat padaku kembali, dan bibir kita bertemu lagi.

Aku pernah memutuskan takkan mengikuti jejak ibuku. Dulu aku tidak habis pikir, mengapa pada saat itu ibuku membiarkan jiwanya diambil setan yang dipanggilnya, meninggalkanku, dan membiarkanku hidup merana. Kurasa sekarang aku tahu alasannya. Apakah setan itu juga membuatmu jatuh cinta, Bu?

“Kita masih harus membereskan sesuatu di sini,” katamu sambil berusaha meraih sesuatu di balik jaket kulitmu. “Kau pernah membalas dendam, Sayang?”

Kutatap benda keperakan di tanganmu. Pistol. Aku menggenggamnya, terasa dingin dan aneh di tanganku yang mungil.

“Belum,” jawabku jujur. Pistol ini berat.

“Nanti kuajari. Ayo, kudanil betina ber-make up itu sedang tidur di bawah,” setelah mengecup pipiku pelan, kau bangkit berdiri dan menarikku. “Oh iya, Brielle, kau tidak benci kambing, kan?”

“Tidak. Memang kenapa?”

“Karena aku memelihara kambing,” katamu, Lu. “Banyak sekali kambing. Dan ketika nanti kita sampai ke tempat tujuan, kau akan kukenalkan pada mereka.”

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer field.cat
field.cat at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)
70

Padahal ini keren. Tapi -ku dan -mu yang jadinya bertebaran agak bikin jengah bacanya. Memadukan POV 1 dengan POV 2 agak sulit memang, butuh skill dan pembendaharaan kata yang luar biasa biar ngga bosen sama -ku dan -mu tadi. :D
.
Tapi isi ceritanya saya suka. :)

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 13 weeks ago)

iya memang ^^ karena membuat cerita ini seperti menulis surat, jadi saya tidak tahu bagaimana mengatasi segala -ku dan -mu itu ._. tapi saya berusaha semaksimal mungkin (?). terimakasih banyak, mampir lagi ya :)

Writer Gitta-chan
Gitta-chan at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)
90

sa-saya suka ini!
Btw, daridulu saya juga udah kepikiran. Kalo misalnya saya dapet 3 permintaan, saya juga bakal ngelakuin apa yang si aku lakuin *curcol
.
Tapi kenapa di bagian akhir ada kambing? #saya ndak tau. mohon dijelaskan~

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)

hihi terima kasih sudah membaca, Gitta-chan :D saya senang sekali dikunjungi olehmu ^^
itu ada kambing karena... setahu saya Lucifer itu simbolnya kambing ._. menurut buku yang saya baca sih begitu ._. tapi saya tidak tahu pasti juga ._."

Writer flainst
flainst at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)
80

awalnya say bingung ngebacanya.. tapi menarik sekali

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)

terima kasih banyak :D

Writer zenocta
zenocta at Your Wish is My Command (9 years 18 weeks ago)
70

i like it

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 17 weeks ago)

terimakasih sudah membaca :)

Writer zulaikhaamaliasrg
zulaikhaamaliasrg at Your Wish is My Command (9 years 19 weeks ago)
70

sebenernya......... aku... bingung._. tadi aku malah baca lagi punyamu yang tanda-tanda jatuh cinta :3

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 19 weeks ago)

apa-apaan, kamseupay -_- makaci cyilegal :3

Writer zulaikhaamaliasrg
zulaikhaamaliasrg at Your Wish is My Command (9 years 19 weeks ago)

eheheh ._.v cama-cama ecyiiiik :* bonus cium nih

Writer Shinichi
Shinichi at Your Wish is My Command (9 years 19 weeks ago)
70

love this symbol :D

suka dengan tuturnya, meski ya... masih ngerasa kurang greget konfliknya. anyway, saya pikir udah cukup bagus.
kip nulis.

ahak hak hak

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Your Wish is My Command (9 years 19 weeks ago)

ehehe aku memang nggak pandai bikin konflik ._. makasih kak shinichi sudah mau mampir dan berkomentar :D