Kakekku Bersedih

Namanya Tukijan, mantan pejuang kemerdekaan yang gagah berani. Tidak ada yang ia takuti, selain sang pencipta. Peluru kaliber berapa pun ia tidak gentar, cita-citanya hanya satu waktu itu. Yaitu membebaskan negeri ini dari penjajah, agar anak dan cucunya dapat hidup nyaman. 

Ia pernah tertembak di paha kiri, ketika sedang berusaha menyelamatkan sahabatnya. Darah mengalir sangat deras, ia tidak perdulikan. Ia masih terus bergerak dengan menyeret kaki kirinya, untuk mencapai sahabatnya yang sebenarnya sudah meregang nyawa. Ia tau kalau sahabatnya itu sudah tiada, tetapi ia tidak mau meninggalkan jasadnya begitu saja. Dengan bersusah payah, akhirnya ia mencapai tubuh sahabatnya. Perjuangan belum selesai, ia harus membawa tubuh sahabatnya itu ke tempat yang lebih aman. 

Dengan tekad yang keras seperti baja, ia menyeret tubuh sahabatnya dengan darah yang masih mengalir dari paha kirinya. Baru beberapa meter, tubuhnya sudah tidak sanggup. pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa sangat berat, ia hampir jatuh pingsan. Tidak mau  kalah dengan keadaan, ia menggigit kuat-kuat bibirnya sampai berdarah, ia lakukan agar tidak jatuh pingsan. Usahanya berhasil, rasa sakit di bibrnya membuat ia kembali sadar. ia pun bergerak kembali, menyeret tubuh sahabat dan tubuhnya sendiri. 

Namun tubuhnya tetap tidak bertahan, ia tidak sanggup lagi. Akhirnya, ia jatuh pingsan. Setelah beberapa jam ia pun tersadar di ruang kesehatan, dengan paha kiri yang sudah diperban. Ketika sadar, ada seorang suster yang berdiri dekat dengannya. Dengan suara yang sangat lirih, ia bertanya pada suster itu.

"Siapa yang menyelamatkan saya suster?"

"Seorang kopral pak, ia sangat berani,"

"Siapa namanya suster?"

"Maaf pak, kami tidak tau nama kopral itu,"

"Baiklah, terima kasih suster,"

Suster itu hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan pasiennya. Ia memandang sekelilingnya, banyak sekali tentara gagah berani di medan tempur yang sekarang terbaring lemah di atas ranjang. Mereka semua bertempur untuk satu tujuan yang sama, yaitu membebaskan anak cucunya dari belenggu penjajahan. Mereka bertempur tanpa lelah, tidak perduli tertembak atau tidak, mereka akan terus maju menghabisi penjajah.

Sekarang pak Tukijan hanya bisa duduk di kursi roda dan selalu menangis setiap melihat tayangan di televisi. Ia menangis karena perjuangannya ternyata sia-sia, anak cucunya sekarang lebih bengis dari penjajah. Mereka tidak perduli dengan negara tercinta ini, hanya ambisi pribadi yang selalu mereka tunjukkan. Bahkan anak cucunya ada yang berkomplot dengan penjajah, untuk menghabisi kekayaan negeri ini. 

Ia tidak akan berhenti menangis, jika aku tidak memindahnya ke ruang belakang. Untuk menikmati kicauan burung pelirahaan kakek. Ia tidak menolak ketika aku mendorong kursi rodanya untuk berpindah tempat, bahkan ia senang karena dipindahkan. Hatinya sudah tidak sanggup lagi, melihat anak cucunya menghabiskan kekayaan negeri ini untuk kepentingan pribadi mereka.

"Kek, pindah kebelakang ya,"

"Iya, kakek capek lihat tv. Isinya cuma berita korupsi, korupsi dan korupsi,"

"Ya sudah, nggak usah dilihat kek."

Kakek hanya mengangguk, lalu tersenyum padaku. Senyum yang penuh makna, senyum dari pejuang kemerdekaan yang menangis bersama ibu pertiwi. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Kakekku Bersedih (9 years 14 weeks ago)
90

Apa yang mau saya omongkan didahului Shinichi semua oTL

Tapi bener deh, suka bacanya. Gayanya ngaliiir enak. Nulis yang panjangan dong :|

Writer chenhakase
chenhakase at Kakekku Bersedih (9 years 16 weeks ago)
70

miris...

Writer mizz_poe
mizz_poe at Kakekku Bersedih (9 years 16 weeks ago)
80

memberi nilai demikian kerena relasi perasaan yg terbangun setelah melirik ini. Opung alm pun pernah menjadi bagian dari peristiwa sejarah berdarah negeri ini (entah besar kecilnya porsi doi)

Writer mingki
mingki at Kakekku Bersedih (9 years 17 weeks ago)

komentarnya membangun sekali, mudah2an tulisan saya yg lain bisa lebih baik. terima kasih

Writer Shinichi
Shinichi at Kakekku Bersedih (9 years 17 weeks ago)

masama :)

Writer Shinichi
Shinichi at Kakekku Bersedih (9 years 17 weeks ago)
50

hmmmm...

sepertinya ini kali pertama saya komentar di tulisan kamu :) sebelumnya salam kenal. ehehehehe. saya mohon maaf bila komentar ini kurang berkenan ya *sungkem*

cerita ini diawali dengan cara yang saya rasa cukup baik, potensial malah menjadi mula dari cerita yang keren. narasinya juga lumayan oke. namun, saya cenderung ngerasa kurang greget gitu ketika "tema" yang dikedepankan penulis di sini hanya berhenti sebatas "tell" dari penulis ke pembaca. saya sebagai pembaca, awalnya mengharapkan sebuah tutur yang baik, dengan ditunjukkannya seperti apa itu perjuangan sang kakek. deskripsi tepatnya. akan lebih bagus lagi saat tokoh itu menuturkan dengan gayanya sendiri (tentunya yang sudah dipersiapkan penulis).

lalu mengenai "perbandingan" yang saya rasa jadi poin penting yang diharap penulis dalam cerita ini, itu juga kurang "diceritakan". bukan kuantitasnya. antara keadaan di masa lalu (perjuangan) dan masa sekarang (setelah perjuangan), di mana sang tokoh hidup di kedua masa itu, merupakan bagian penting. namun, penilaian penulis (POV orang ketiga yang tahu segalanya) yang "diatasnamakan" melalui pikiran tokoh kakek, rasanya nggak mulus. tentang apa penilaiannya itu juga akan lebih bagus kalau cukup dijabarkan saja.

contoh saya ambil dari kalimat dalam cerita di atas:

Bahkan anak cucunya ada yang berkomplot dengan penjajah, untuk menghabisi kekayaan negeri ini.

Ini fatal karena merupakan argumen tanpa deskripsi memadai untuk mendukungnya. begitu juga dengan beberapa kalimat lain (termasuk pada bagian masa perjuangan itu). bukan bermaksud rewel ehehehehe. ini hanya pendapat pribadi. kalimat yang saya ambil sebagai contoh itu, layaknya kesimpulan. dan... kesimpulan bukanlah fokus penulis, melainkan pembaca. jadi, "bagaimana" mengarahkan pembaca kepada kesimpulan itulah fokus penulis. dengan menceritakan (menunjukkan) pada seluruhnya cerita, hal itu dirasa bisa terwujud :)

kira-kira seperti itulah yg bisa saya sampaikan.
lebih kurangnya saya minta maaf. perbanyak aja interaksi sama member lain. ehehehehe. semoga yang lainnya bisa menambahi atau meluruskan setidaknya saya keliru.

salam

ahak hak hak :)

Writer deathly_hymn
deathly_hymn at Kakekku Bersedih (9 years 14 weeks ago)

sebagai tambahan, adalah mengenai penggunaan tanda baca yg klw diperbaiki pasti akan tambah keren :D

Writer mizz_poe
mizz_poe at Kakekku Bersedih (9 years 16 weeks ago)

ikud mengamati.. kerena sungguh sebuah petuah..