LCDP - GEM : 8 & 9 of 30

 

8 of 30

_______________________

Ujian Teleportasi hari ini kulewati dengan mulus. Kemampuanku sudah lumayan, setidaknya aku sudah bisa melakukan lompatan dengan benar ke tempat yang kuinginkan.

Setelah melakukan teleport aku selalu merasa kelaparan. Teleport selalu menguras energi. Aku mengelus perut sembari melangkah memasuki rumah kaca yang terletak di lantai enam gedung sekolah. Banyak yang bisa di makan di sini. Segala macam buah-buahan dan sayuran ada dalam bentuk dan rupa yang terbilang unik, semuanya adalah tumbuhan hasil penelitian para siswa.

“Ingin mencoba satu?” Seorang perempuan tua kurus dan jangkung, berambut putih dan berpakaian hitam-hitam muncul dari balik rak tanaman buah-buahan. Ia membawa keranjang berisi beberapa macam buah-buahan. Disodorkannya sebuah padaku.

Apel yang merah dan besar. Aku mengambil dan melahapnya tanpa berpikir. “Terima kasih.”

“Bagaimana rasanya?” Perempuan tua itu bertanya.

“Manis.”

Perempuan tua itu mengernyit dan menggeleng-gelengkan kepala. “Ah, ekperimen kali ini gagal lagi.”

“Hah?”

“Jangan khawatir, efeknya hanya dua puluh empat jam,” ia berkata sembari melangkah meninggalkanku, keluar dari rumah kaca.

“Apa? Efek apa?” Aku melangkah mengejarnya. Dan ketika sampai di depan pintu rumah kaca, aku tahu apa maksudnya.

Di kaca itu tampak bayanganku yang tak seperti aku. Ada moncong seperti rusa, sepasang mata besar seperti kucing, sepasang telinga runcing, di rambutku yang pendek coklat terang tampak mencuat sepasang tanduk berbentuk lingkaran, dan warna kulitku yang sawo matang berubah putih mulus seperti salju.


Aku mengerutkan dahi. “Hey, aku berubah jadi ... keren!”

***

 

9 of 30

_________________________

Tergeletak di lantai lift, sebuah buku bersampul hitam bertuliskan Acta dengan sulaman benang perak.

Acta, bahasa Latin dari jurnal atau buku harian. Mungkin milik salah seorang siswa atau guru sekolahku. Kubuka sampul buku, tampak layar sentuh 7 inci di balik sampul itu. Buku harian elektronik. Tidak bisa dibuka. Terkunci dengan kata sandi.

“Milik siapa ini?”

Sebaris kalimat tiba-tiba muncul di permukaan layar.  [NAITO]

Aku mengernyit. “Naito? Siapa Naito?”

[NAITO]

[Siswa Sekolah Khusus Anak Bumi Berbakat ‘UMBRA’]

[Kelas 12]

[Penyandang nilai terbaik di pelajaran Praktek Ilmiah]

“Siswa sekolah ini rupanya. Aku gak kenal, tuh,” ujarku. “Seperti apa rupa Naito itu?”

Layar tujuh inci itu lalu mengeluarkan kilau cahaya hijau yang berhamburan ke udara. Detik berikutnya cahaya itu menyatu, mewujud dalam bentuk seorang manusia. Sosok hologram itu berdiri di depanku dalam ukurannya yang sebenarnya, pria bertubuh tinggi mengenakan celana jins dan jaket kulit hitam. Rambutnya abu-abu gelap senada dengan warna matanya, kulitnya putih dan ia tampan.

DIA?!

Buku harian elektronik itu jatuh dari tanganku menabrak lantai lift. Bersamaan dengan itu cahaya hologram yang membentuk sosok manusia itu buyar, berhamburan di udara dan lenyap.

Aku kenal siapa pria itu!

Pintu lift bergeser dan membuat perhatianku teralihkan. Seorang pria muncul dari balik pintu lift itu.

Ia menatapku sekilas, lalu mengambil buku harian elektronik yang tergeletak di lantai lift. “Punyaku,” ujarnya singkat. Ia masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup kembali. Ia menoleh ke arahku yang masih bergeming. “Wajahmu kenapa? Hasil percobaan ilmiah yang gagal? Atau berhasil?” Tampak ia menahan tawa.

Aku tak menjawab. Dia tidak mengenalku karena bentukku sedang tidak dalam rupaku yang sebenarnya. Efek apel yang kumakan di rumah kaca sekolah membuatku tidak mirip manusia sekarang.

Aku berdiri kaku di sebelah pria yang pernah mencoba untuk melenyapkanku. Si pembunuh bayaran antar waktu yang kupikir sudah mati.

***

Read previous post:  
8
points
(474 words) posted by Gem 8 years 17 weeks ago
40
Tags: Cerita | Novel | fantasi | Latihan Nulis Harian | proyek LCDP
Read next post:  
Be the first person to continue this post