[Heretic] Alexander Aleksei – Ambassador of Happiness

 

Umur                         : 28 Tahun

Jenis Kelamin         : Laki-laki

 

            Dia nyaman berdiam diri selama berjam-jam. Duduk membaca buku di kursi goyang adalah kesukaannya. Umurnya masih muda, namun caranya bergerak, berinteraksi, dan merespon  lebih mirip seperti bapak paruh baya yang hampir menginjak usia senja. Lambat dan berhati-hati.

            Alexander senang berimajinasi. Selain membaca buku, ia sering ditemukan duduk melamun, berbicara sendirian atau berinteraksi dengan benda-benda disekitarnya. Di kamar tempat tinggalnya, penuh benda-benda yang sering ia bawa pergi keluar. Mainan anak-anak, lukisan-lukisan dan setumpuk buku-buku tebal tanpa rak buku. Ia susun sedemikian rupa sehingga dinding kamarnya hampir dipenuhi buku.

            Pakaian favorit pria kurus ini adalah sweater tanpa hoodie tebal berwarna biru muda. Ada garis tebal berwarna putih melintang horizontal disana. Bawahannya Jeans biru laut yang kepanjangan hingga bergulung di pergelangan kakinya. Alexander sering pakai sepatu boot bila keluar rumah beserta sarung tangan tebal warna biru.

            Alexander sering sisir rambutnya yang hitam kusam. Tidak lupa juga ia memakai pembersih wajah agar segala minyak pergi. Parfum dan segala alat rias tidak pernah ia pakai.

            Semua orang tahu Alexander memiliki warna iris yang berbeda. Sebelah kiri hitam, sebelah kanan keabu-abuan. Tapi hanya sedikit yang tahu yang mata dengan iris berwarna keabu-abuan tersebut telah buta.

            Alexander adalah pria yang terbiasa berdiam diri dalam dunianya sendiri dan terbiasa lambat dalam bergerak. Ia tidak ingin terburu-buru dan segalanya harus diselesaikan tanpa kecerobohan dan perbuatan tidak perlu lainnya.

            Alexander tidak berbicara banyak. Kata per kata ia susun dengan cermat agar tidak ada yang tersakiti. Setiap kata berarti banyak untuknya, maksudnya, seringkas-ringkasnya dalam bercakap-cakap dengan orang lain.

            Ia lebih sering mengeluarkan emosinya lewat mimik wajah. Kalau ia gembira, tentunya akan tersenyum, kalau kecewa, air mukanya pasti turun.

Latar Belakang

            Sekitar 20 tahun lalu, negerinya ditimpa peperangan yang hampir tiada habis-habisnya. Penduduk dibantai, tentara bergerilya di hutan dan gunung. Pria dewasa maupun anak-anak terbiasa berjalan menenteng senjata laras panjang.

            Kala itu Alexander masih berusia sekitar 10 tahun. Ia hidup dalam pengungsian bersama ayah dan ibunya. Ia mengungsi karena desanya diserbu tentara negeri seberang yang haus darah manusia. Hampir semua laki-laki remaja dan dewasa ditembak mati. Namun Ayah Alexander berhasil membawa keluarganya ke tempat yang aman hingga kemudian ditemukan orang untuk dibawa ke pengungsian.

            Pengungsian waktu itu ramai, sebuah desa yang dibuat menjadi pemukiman darurat. Tentara aliansi negara-negara dikerahkan dalam jumlah sedikit untuk mengamankannya, atas nama kemanusiaan.

            Namun beberapa bulan kemudian, tentara negeri seberang yang jahat datang. Menghabisi tentara aliansi yang kalah jumlah. Setelah menghabisi tentara, mereka mengumpulkan semua pria dewasa dan remaja untuk dibantai. Ribuan orang mati oleh peluru, termasuk Ayah Alexander.

            Tidak puas membantai para pria, mereka membumi hanguskan pemukiman dengan tank lapis baja mereka. Rumah rumah diratakan dengan tanah. Rumah yang dihuni Alexander dengan ibunya tidak luput dari sasaran.

            Tidak ingin Alexander mati terbunuh, ibunya kemudian membawa lari anaknya, berusaha kabur dari kepungan tentara. Mereka menembus badai yang beresiko menghilangkan nyawa mereka berdua.

            Hingga kemudian seorang tentara melihat mereka dan bereaksi dengan memberondong Alexander dan ibunya. Mereka terjungkang ke tanah. Ibu Alexander tewas, Alexander tidak.

            Tentara itu tidak menyadari Alexander masih hidup, kemudian pergi ditelan reruntuhan bangunan, meninggalkan Alexander yang masih tersungkur di tanah.

Kemampuan

          Alexander punya dua jenis kelereng dalam sakunya.

  • Happy Marble—Kelereng yang berfungsi bila dilempar ke tubuh objek hidup akan membuat perasaanya menjadi bahagia. Berlaku kelipatan.
  • Sad Marble—Kelereng yang berfungsi bila dilempar ke tubuh onjek hidup akan membuat perasaanya menjadi sedih. Berlaku kelipatan
  • Bisa menggunakan senjata laras panjang sederhana—Alexander remaja sudah masuk hutan dan gunung untuk bergerilya. Senjata laras panjang senantiasa ia gandeng, sehingga terbiasa menggunakannya.

Kelemahan

  • Mata kanannya buta—penglihatannya jelas terganggu.
  • Telinga kanannya hampir tuli—keseimbangannya terganggu
  • Daya tahan tubuh rapuh—Rentan terkena penyakit dan mudah lelah

Faksi

Heretic

Realm

Dunia angan-angan pengarang

Read previous post:  
68
points
(1880 words) posted by Dedalu 9 years 13 weeks ago
85
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Battle of Realms | Dedalu | Gabriel | HxH
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Hmm, menarik juga karakter ini... Tipe-tipe karakter suram.

90

Ini emosi dan karakternya kerasa banget. Tapi kenapa ko dia heretic ya Mas Lazu? Kyknya dia heroik banget justru

oooh, ini yang waktu itu ikut desain OC si kuro myswalk ya? sama kaya ezy, tipe yang make senjata api

Iya, tapi ini yang udah dewasa. Masih banyak plotholenya.