[Preliminary] Nolan Collard Fambrough - Beginning Balance

BOR HXH PRELIMINARY
Nolan Collard Fambrough – Calon Karyawan Bank Syariah

Beginning Balance

 

00:40:13

“Awas! Gyaaaaahhh!!”

“Ja-jangan ke sana! Tidaaaaaaaaaakk!!”

“Aaaaaaaahhh!!!”

“Ugyaaaahhh!!!”

 

“Belle! Cepat ikut aku!”

“Ferrum…”

“CEPATLAH!!”

 

“Kyaaah!”

 

“Sialan! Duluan! Larilah duluan!”

“Bagaimana denganmu Ferrum?”

“Cepat sembunyi! Sembunyi di sana!”

“Ferrum!!”

“Jangan pikirkan aku, Belle! LARILAH!”

“Ferrum, kamu harus selamat!”

00:35:22

Terdengar bunyi dentuman keras dari segala penjuru diiringi suara teriak dan erangan kesakitan. IRSS Chekov telah dimasuki dua makhluk pengganggu sejak lima menit yang lalu. Saat semua orang sedang bersantai dan kurang waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Begitulah, hingga akhirnya keadaan yang damai berubah berantakan dalam tempo yang singkat.

Seorang perempuan berambut keriting berlari sekuat tenaga menuju meja bar kosong yang ada di salah satu sisi ruang rekreasi. Dia menghentakkan kaki dan melompati meja bar hingga berhasil mendarat dengan mantap di sisi sebaliknya. Dia berjongkok dan hendak bersembunyi di dalam celah di bawah meja, namun ketika dia melihat Nolan yang sedang tertidur di sana, jantungnya terasa nyaris copot.

Perempuan itu mencoba untuk menguasai dirinya setelah menerima kejutan yang tak terduga. Dia pun mengerutkan dahinya dan berpikir, apa yang sebaiknya dia lakukan. Membangunkannya, atau membiarkannya. Cukup lama ia berpikir, namun pada akhirnya dia memilih untuk membangunkannya.

“Er, Tuan? Bangunlah! Hei, bangunlah!” Perempuan itu memanggil Nolan dengan berbisik dan malu-malu. Tangannya mengguncang pelan bahu Nolan.

“Aaaaaaaaaaah!” Nolan terkejut dan langsung membuka mata. Dirasakannya sensasi basah dan dingin di sekujur tubuh akibat keringat. Dia terdiam, detak jantungnya sangat cepat dan tak beraturan. Nolan berusaha mengatur napasnya hingga kembali teratur sebelum dia secara sembrono menghentakkan tubuhnya, bangkit dari posisinya dengan tergesa-gesa hingga tanpa sengaja kepalanya membentur bagian dalam meja kafe.

“Adududududududuh!!!” Nolan berguling-guling ke kanan dan kiri sambil memegangi kepalanya.

“Tuan, tuan tidak apa-apa?” sapa perempuan itu lagi. Mendengar suara perempuan yang tak dikenalnya, Nolan pun langsung menghentikan aksi berguling-gulingnya. Tatapannya berubah kalem seolah-olah rasa sakit di kepalanya sudah benar-benar hilang, tapi sebenarnya dia hanya sedang berusaha terlihat kuat. Dia pun mencoba untuk bangkit sekali lagi, kali ini dengan hati-hati hingga dirinya bisa duduk tanpa harus membentur meja lagi. Nolan menarik napas dalam-dalam dan membetulkan posisi kacamatanya yang miring.

“Ah, ya! Terima kasih sudah membangunkanku,” Nolan tersenyum. Ia mendengar keributan yang berasal dari areal di balik meja bar. Nolan beringsut dari posisinya untuk melihat keadaan. “Ada apa ini?”

Perempuan itu langsung menarik Nolan kembali pada posisinya. “Aduh! Ada apa?”

“Ssst, jangan berisik, Tuan,” kata perempuan itu. “Kita sedang dalam bahaya.”

“Eh? Bagaimana bisa?” Nolan menelan ludah. Ia bersandar pada meja bar dan menatap perempuan yang ada di sisinya. Wajahnya terlihat cantik, namun entah kenapa ekspresinya tampak begitu murung. “Ka, kau… ah, maaf namaku, Nolan! Maaf baru berkenalan…” kata Nolan.

Perempuan itu melirik Nolan dengan mata merahnya. “Er, Belle… Ezebelle Rosetta.”

“Woaaah, nama yang indah,” puji Nolan sambil menganga lebar. “Er, matamu kenapa? Sakit mata?”

“E, enak saja, warna mataku memang seperti ini. Lagi pula kenapa anda menanyakannya sih? Kita sedang dalam bahaya!” kata Belle setengah sebal.

“Oh ya, maaf! Ngomong-ngomong, kamu bisa memanggilku Nolan saja, karena aku masih muda, ya, masih muda,” senyum Nolan sambil menatap Belle lekat-lekat. Hening sesaat, hingga Nolan tersadar dirinya sudah terlalu lama menatap Belle dan segera memalingkan wajahnya. “Er, bagaimana keadaan di belakang sana?”

“Menurutmu?” Belle balik bertanya.

“Er, kacau balau,” tebak Nolan. “Oke, sebenarnya aku ingat bermimpi buruk tentang dua orang, er, dua makhluk yang mendadak menyerang tempat ini. Salah satunya seorang pria klimis dengan kemeja hitam, yang satunya lagi—“

“—makhluk hitam seperti lendir yang merayap dengan cepat, menempel ke orang yang ada di dekatnya dan menggunakannya sebagai inang,” lanjut Belle. “Kamu memimpikan kejadian di tempat ini.”

“Persis! Eh, tunggu,” Nolan terkejut. “Bagaimana bisa?”

“Bisa saja!” potong seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan meja bar. Dia merangkak ke balik meja dan bersandar di samping Nolan. Napasnya tersengal-sengal. “Er, maaf, tapi bisakah kita bertukar posisi? Aku ingin duduk di sebelah Belle.”

“FERRUM!” Belle tersenyum riang. Walaupun sedang riang, entah kenapa warna mukanya tetap saja terlihat murung di mata Nolan.

“SSSTT! Jangan berisik, nanti dia bisa menemukan kita di sini,” kata Ferrum sambil menarik Nolan agar duduk agak menjauh dari Belle.

“Oi, oi, apa yang kaulakukan!” kata Nolan sebal seraya membetulkan posisi kacamata besarnya yang melorot.

“Bagaimana? Bagaimana kamu bisa selamat, Ferrum?” tanya Belle bersemangat. “Kenapa kakimu terluka?”

“Ceritanya panjang,” jawab Ferrum singkat. Nolan segera bersandar di sebelah Ferrum. Terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ferrum. Ferrum menatap Belle dan Nolan secara bergantian sebelum akhirnya angkat bicara.

“Ketika aku menyuruhmu berlari, sebetulnya aku sudah mempersiapkan diri untuk menyambut ajal. Tapi, aku beruntung, karena tiba-tiba saja wanita itu muncul.”

“Siapa?” tanya Belle.

“Dia, er, dia botak,” kata Ferrum. Belle cemberut mendengarnya. “Dan bertelanjang dada.”

“Sudah kuduga itu Infidel,” Belle mencibir. “Enak ya melihat dada wanita?”

“Eh, bukan itu! Ke, kenapa kamu malah berkomentar soal itu sih? Dengarkan dulu ceritaku!”

“Iya, iya maaf! Ayo lanjutkan,” kata Belle sementara dia kembali bersandar ke meja bar.

“Jadi, wanita botak itu terlihat seperti sedang mabuk, dia bertingkah konyol dengan cara menyapaku sambil, you know—“

“Oh, oke, masih soal Infidel!” Belle mulai sebal.

“Hei, sabarlah. Aku juga ingin mendengar ada apa gerangan di tempat ini. Ayo teruskan, Ferrum. Teruskan!” kata Nolan tersenyum kalem sambil menyeka darah yang mengalir keluar lewat hidungnya. Belle dan Ferrum melongo.

“SERIOUSLY??” kata mereka berdua bersamaan. Sementara itu suara ledakan besar terdengar dari kejauhan. Jelas sekali di sisi lain ruangan ini tengah terjadi pertempuran dahsyat.

“Jadi, ketika Infidel melakukan aksi gilanya itu, dia tidak sadar kalau pria yang ada di belakangnya sudah melepaskan bola radiasi dan mengarahkannya padaku. Yak! Sungguh sial nasibnya. Dia menjadi butiran debu,” kata Ferrum. Nolan mengertakkan giginya. Mulai merasa takut.

“Bisa kau jelaskan lagi dengan lebih spesifik maksud dari bola radiasi ini? Apa seperti kamehameha Songoku?” tanya Nolan santai. Padahal dia hanya sedang menyembunyikan rasa ketakutannya. Melihat Ferrum dan Belle yang terdiam dengan mata membelalak, Nolan langsung salah tingkah. “Er, ya, kalian tahu, waktu kecil aku sering menontonnya. Ya, er—“ Nolan menatap Belle dan Ferrum bergantian. “Oke, lupakan!”

“Lalu bagaimana kamu bisa sampai di sini? Pria itu tidak mengejarmu?” tanya Belle.

“Tidak, tidak! Dia terlalu sibuk! Karena sesaat setelah dia membunuh si wanita botak, sosok makhluk seperti babi muncul dan menerjang tubuh si pria dengan kekuatan penuh. Pria itu terpental jauh sekali. Yak, kumanfaatkan saja kesempatan itu untuk berlari menyusulmu ke sini,” Ferrum menutup penjelasannya.

“Sudah?” tanya Nolan tak percaya.

“Tentu saja, memang apa lagi yang kauharapkan?” Ferrum mengangkat sebelah alisnya.

“Ya, seperti,” Nolan menggaruk jenggotnya. “Seperti alasan kenapa kakimu bisa sakit seperti itu.”

“Oh, ini bukan apa-apa. Hanya ketika aku hendak melompat, rupanya gagal, aku tersandung. Itu saja,” senyum Ferrum.

“Oh, oke!” Nolan memutar bola matanya. “Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Jujur aku sendiri tidak tahu,” kata Ferrum mengangkat bahu. “Tapi bila mereka menemukan kita, tenang saja. Aku akan melindungi kalian.”

“Oh ya? Dengan cara bagaimana?” Nolan sangsi.

“Begini,” Ferrum mengangkat tangan kanannya, sekejap kemudian sesuatu seperti gagang besi keluar dari telapak tangannya. Ferrum menggenggamnya dengan tangan kiri dan menariknya dengan cepat. Sebuah pedang katana tercipta dalam waktu singkat. “Ini bisa jadi penyelamat kita!”

“Wah, keren!” puji Belle, sementara Nolan jatuh pingsan.

“Sepertinya aku terlalu berlebihan?” Ferrum ragu-ragu. “Eh, sebentar! Bukankah yang ada di sini semuanya memiliki kemampuan khusus? Lalu kenapa dia pingsan setelah melihat kemampuanku?”

Belle mengangkat bahu lagi. “Entah. Tapi dari tadi kutatap dia baik-baik. Sepertinya dia memang hanya manusia biasa yang tak bisa apa-apa.”

“Masa? Tadinya kukira dia semacam teroris. Kenapa bisa ada di sini? Merepotkan saja,” ujar Ferrum. “Ayo seret dia ke bawah meja. Dia aman di sana.”

“Hm, apa benar begitu?” tanya sebuah suara dengan nada mengejek. Suara itu begitu dingin. Belle dan Ferrum mendongak ke atas, mencari-cari sumber suara. Keduanya pun membelalak. Ferrum langsung berdiri dan mengacungkan pedangnya. Seorang pria sedang berjongkok dengan santainya di atas meja bar. Mengangkat sebelah alisnya dengan malas. Sesaat kemudian ia menunjuk Ferrum dengan jari telunjuknya. Jari telunjuk itu diayunkannya dengan santai. Pedang Ferrum pun terpental dengan sendirinya. Pria itu mengayunkan jari telunjuknya kembali, kali ini dengan gerakan seolah-olah menusuk udara kosong. Ferrum pun terdorong ke dinding di belakangnya dengan keras. Dia tak mampu bergerak, seolah ada puluhan tangan yang menahan tubuhnya agar tidak bisa beranjak dari tempat itu.

“Namaku Sylar. Percayalah, teman-temanmu yang di sana itu bukan tandinganku,” Sylar mendekati Ferrum sambil terkekeh. “Mereka semua… MATI.”

Belle tegang. Sekali lihat saja dia bisa tahu bahwa Sylar adalah sosok yang memiliki nafsu kuat untuk membunuh siapa saja yang dikehendakinya. Ferrum dalam bahaya besar. Di saat seperti itu dia harus memikirkan cara untuk menolong. Dikeluarkannya pisau daging yang ia sembunyikan di balik jaket dan ia gunakan untuk memotong tangan kanannya. Tangan kanannya pun putus dengan satu tebasan. Belle berteriak. Ternyata dia tak cukup kuat menahan rasa sakit yang dideritanya.

“BELLE!!” teriak Ferrum.

Sylar segera berbalik dan menghantam Belle dari jauh dengan kemampuan telekinesisnya. Belle terpental dan menabrak tubuh besar yang sudah berubah menjadi makhluk berwarna hitam seutuhnya. Lidahnya menjulur-julur liar di antara gigi-giginya yang besar dan tajam.

“Jangan kau bunuh dia, Symbiote! Aku menemukan sesuatu yang menarik dari dirinya,” kata Sylar. Entah bagaimana, makhluk hitam bernama Symbiote itu terdiam patuh sambil memegang erat tubuh Belle. Sulur-sulur hitam muncul dari tubuh Symbiote dan mengikat erat Belle.

“Kau diam saja di sana.” Sylar berkata pada Ferrum tanpa menoleh. Ferrum yang kesal hendak memberontak. Namun tenaganya tak cukup untuk bisa melepaskan diri.

Sylar membungkuk dan mengambil potongan lengan Belle. “Hmm, menarik.” Dia memandang setiap bagiannya lekat-lekat dan kemudian tersenyum sambil menatap Belle. “SPEAR!” Sekejap lengan Belle pun berubah bentuk menjadi tombak panjang dengan mata pisau besar berkilat di salah satu ujungnya. Belle membelalak tak percaya. Bagaimana bisa Sylar mengetahui rahasia di balik potongan tubuhnya itu.

Di bawah meja bar, Nolan mengerjapkan matanya. Dia baru saja tersadar dari pingsannya. “Belle? Ferrum? Di mana kalian?”

Sylar menatap Nolan yang sedang merangkak keluar dari bawah meja bar. Sedetik kemudian Sylar pun menyambut Nolan dengan kemampuan telekinesisnya. Diangkatnya tubuh Nolan dan membiarkannya melayang-layang di hadapan Sylar.

“Woooaaaa! Woaaa!! Apa yang terjadi? Tu, turunkan aku! Turunkan aku!” Nolan meronta-ronta hingga hendak pingsan kembali, namun tamparan tak terlihat yang cukup keras membuat Nolan tetap tersadar. “Urgh!”

Sylar memperhatikan Nolan dengan seksama dan hati-hati sampai akhirnya melempar dirinya hingga jatuh ke lantai logam.

“Tak berguna,” ujar Sylar. “Hampir tak ada kelebihan di dalam dirinya kecuali otak yang dipenuhi dengan angka-angka, aku tak ada waktu bermain-main dengan orang seperti dia.”

Ferrum menatap Nolan yang kini sedang mengusap-usap bokongnya sambil membetulkan kacamatanya dengan tangannya yang bebas. Merasa sedang ditatap, Nolan membalas tatapan Ferrum. Ferrum menggerak-gerakkan bibirnya seolah sedang berbicara namun tanpa suara, bola matanya bergerak ke kanan, seolah sedang menunjukkan sesuatu pada Nolan.

“Kanan?” gumam Nolan dalam hati. “Ya? Apa?” Nolan menggaruk kepalanya, hingga akhirnya mengerti maksud Ferrum dan menganggukkan kepalanya. Sementara Sylar terbang menghampiri Belle yang terikat langsung ke tubuh besar Symbiote di belakangnya.

“Nona, aku hanya ingin mengatakan kalau dirimu memiliki kemampuan yang unik sekali,” kata Sylar mengejek. Dia memandang Belle lamat-lamat. “Seluruh bagian tubuhmu memiliki sifat yang serupa. Mampu berubah bentuk. Kurasa alasannya ada pada darahmu. Darah yang mengaliri nadimu. Sylar membentuk bola radiasi seukuran biji jagung dan melepaskannya tepat ke dada Belle.

“Urgh!!” bola radiasi itu menembus dada Belle seperti peluru. Darah pun mengalir keluar. Sylar mengusapkan jari telunjuknya ke dada Belle, mengambil sedikit sampel darah dan mengidentifikasinya.

Di belakangnya, diam-diam Ferrum membentuk lempengan besi di telapak tangan kanannya. Nolan masih belum terbiasa dengan pemandangan itu. Namun, Ferrum memberikan isyarat dengan putaran bola matanya agar Nolan segera bangkit dan menarik lempengan besi itu dari tangannya. Nolan mengangguk kepalanya tanda mengerti. Dilihatnya Sylar yang masih sibuk mengidentifikasi darah Belle. Kesempatan. Nolan segera bangkit dan menggenggam ujung lempengan besi di telapak tangan Ferrum dan menariknya sekuat tenaga.

“Yes!” Nolan terpukau. Ferrum memberikan isyarat agar Nolan segera menghantamkan lempengan besi itu ke tubuh Sylar. Namun terlambat.

Sylar sudah lebih dahulu menoleh ke belakang dan membanting Nolan dengan telekinesisnya. Lempengan besi di tangannya pun jatuh berkelontangan. Walau matanya agak terpejam saat menerima rasa sakit akibat benturan pada punggungnya, Nolan yakin sempat menyaksikan fenomena aneh. Makhluk hitam di belakang Belle bergerak-gerak seperti kesakitan. Pasti ada hubungannya dengan suara besi yang terjatuh tadi.

Ferrum memandang dengan kecewa. Ternyata tingkat kewaspadaan Sylar sangat jauh di atas rata-rata manusia.

Sylar terbang ke arah Nolan dan memaksanya berdiri. “Tak kusangka kau berani juga,” kekeh Sylar. “Aku tidak ingin membunuhmu, karena dirimu sama sekali tak berguna. Jadi, jangan membuat gerakan menyebalkan yang akan membuatku terpaksa melakukannya.”

Nolan menatap Sylar lekat-lekat. Walau ada rasa takut yang dirasakannya, namun ia tetap tak gentar. “Lakukan saja!” kata Nolan sambil menggigit bagian bawah bibirnya.

Sylar mengangkat alisnya dan kemudian tertawa terbahak-bahak. “Tidak, tidak! Masih ada dua orang yang lebih berharga untuk dibunuh dibandingkan dirimu. Misalnya saja,” Sylar melirik Ferrum dan berjalan santai menghampirinya.

“Kemampuanmu menciptakan benda apapun yang terbuat dari logam. Sayangnya levelmu masih rendah. Tidak bisakah kau membuat benda yang lebih praktis? Handgun misalnya?”

Ferrum melirik ke arah Sylar dengan tatapan tajam.

“Hoo, ya, ya! Baiklah kalau itu maumu,” Sylar meletakkan telapak tangannya di kepala Ferrum. Ferrum berteriak-teriak kesakitan.

“FERRUM!” Belle dan Nolan berteriak bersamaan. Tak lama kemudian suara Ferrum menghilang. Dia lemas.

“Sekarang kau tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Dan seperti ritual yang selalu kulakukan, aku tak akan pernah lupa memberikan hadiah,” Sylar mendekatkan bibirnya ke telinga Ferrum, “berupa akhir yang damai untuk selama-lamanya.”

Ferrum membelalak. Sylar menancapkan mata tombak di tangannya tepat ke jantung Ferrum. Darah mengalir keluar dari sisi-sisi mulutnya. Kepalanya pun tertunduk kaku. Dia tewas.

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!! FERRUUUUUUM!!” tangis Belle. Sementara Nolan masih diam terpaku. Ngeri melihat seseorang mati dibunuh di hadapannya. Nolan merasakan perutnya bergolak. Dia berlari ke sudut ruangan dan muntah.

“Lihat teman kita yang satu itu. Benar-benar lemah. Bahkan muntah melihat darah,” Sylar tertawa puas. Nolan baru saja mengeluarkan muntahannya yang terakhir. Mengelap bibirnya menggunakan lengan kemejanya, dan berbalik menatap Sylar.

“Jangan seenaknya!” Nolan menyerang Sylar. Namun Sylar menangkap tangan Nolan dengan begitu mudahnya.

“Pfft. Nekat sekali kau?” Sylar mendorong Nolan menjauh. “Jangan sentuh aku dengan tangan bau itu.” Nolan mengerjapkan pergelangan tangannya yang sakit karena cengkeraman kuat Sylar.

Sylar kembali menghampiri Belle yang tersedu. “Senang melihat pacarmu mati?”

“KURANG AJAR KAU!” bentak Belle. Sylar hanya memejamkan matanya dan tersenyum.

“Hei, Symbiote, lepaskan dia!”

Symbiote langsung beringsut ke belakang, melepaskan Belle. Sylar meletakkan tangannya di kepala Belle. Belle pun berteriak kesakitan. Nolan yang tak tahan mendengar jeritan itu menutup telinganya. Nolan sangat ingin melakukan sesuatu untuk menolongnya, namun dia tidak sanggup.

Jeritan Belle pun terhenti. Disusul suara ledakan besar yang sudah dikenali Nolan. Suara ledakan yang diakibatkan oleh bola radiasi yang dihempaskan Sylar. Beberapa menit kemudian, Nolan memberanikan diri untuk membuka matanya. Hanya setengah dari tubuh Belle yang tersisa tergeletak di lantai. Mati. Belle mati. Nolan gemetar.

Ditatapnya Sylar yang secara spontan menarik lengannya sendiri hingga putus. Tak ada reaksi kesakitan yang ia rasakan. Ekspresinya tetap datar. Dia menatap lengannya yang putus itu dan kemudian berkata pelan, “Gun!” sekejap lengannya berubah menjadi sebuah pistol semi automatic lengkap dengan pelurunya. “Luar biasa. Kemampuan yang luar biasa. Dan kini menjadi milikku sepenuhnya.”

Sylar mengarahkan pistolnya ke jantung Symbiote dan menembaknya. Tak terjadi apa-apa. Sylar terkekeh senang dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Nolan sendiri bersama dengan Symbiote. Symbiote itu meraung, menampakkan lidahnya yang panjang dan menjulur dengan liur yang menetes-netes. Nolan menelan ludahnya.

00:00:33

Symbiote itu berlari ke arah Nolan, hendak menerjangnya. Nolan yang sudah bersiap dengan kemungkinan tersebut segera berlari dan mengambil lempengan besi yang tergeletak tidak jauh di depannya. Dia berguling-guling hingga menabrak meja bar. “Aduh!” erang Nolan. Symbiote itu melompati meja bar dan menatap Nolan. Symbiote melancarkan serangannya, namun Nolan dengan sekuat tenaga memukulkan lempengan besi di tangannya ke sisi logam meja bar.

Suara kelontang keras menghentikan serangan Symbiote. Dia bergerak-gerak liar tanpa arah. Nolan membelalak dan kemudian memukulkan lempengen besi di tangannya berkali-kali tanpa henti. “MATI KAU MATI! AAAAARRRGGGHHH!!”

Symbiote itu meringis menahan sakit, perlahan-lahan permukaan hitam pada tubuh inangnya pada tubuh inangnya itu pun terkelupas. Seolah-olah Symbiote itu ingin sesegera mungkin pergi dari tempat itu. Akhirnya, Symbiote pun berhasil memisahkan diri dengan sempurna dari tubuh inangnya dan pergi entah ke mana. Nolan berhenti memukul besi dan menghampiri sang inang. Dia tak mengenali orang itu, yang jelas siapa pun dia, dia telah mati. Dengan lubang tertembus peluru di bagian jantungnya. Nolan menyentakkan tubuh korban dan mundur ke bagian bawah meja bar.

Cahaya menyilaukan mendadak terbentuk di area kosong di depan meja bar. Dua orang muncul dari baliknya. Mereka adalah Ketua Faksi dan wakilnya. Mereka datang untuk menolong orang-orang yang mungkin masih hidup di tempat itu.

"Periksa tempat ini, selamatkan mereka yang masih hidup," ujar Tsuki sambil berlalu. "Terlambat. Kita terlambat. Semoga saja aku masih bisa menemukan para penjahat itu."

Nolan mendengar suara kedatangan mereka. Namun, belum berniat menunjukkan dirinya di hadapan mereka. Rasa shock menjalari pikiran dan perasaannya. Napasnya tersengal dan pendek. Dia mengangkat tangan kirinya untuk membetulkan posisi kacamatanya. Saat itulah dia melihat bercak hitam seperti jeli di dekat pergelangan tangannya. Nolan berusaha menariknya, namun benda hitam itu semakin menyebar dengan cepat. Symbiote. Symbiote itu menjalari tubuh Nolan. Nolan yang panik pun berteriak sekuat tenaga.

“TOLONG! SIAPA PUN TOLONGLAH AKU!!

To be Continued (ke Canon Panitia)

Read previous post:  
Read next post:  
70

Klo saya setubuh dengan bang manik, agak gimana gitu, kayak seluruh keadaan tercipta for Nolan's sake.
.
Tapi ya itu, emang dia manusia biasa sih ya, jadi ya justru natural klo cara bertahan hidupnya begitu. ^^
Namun anyway seru sih.
.
Yang jelas ngelawan Nolan bakal berabe nih, selamat memeras otak untuk Heretic! Wokwokwokwok.

Buset Sun setubuh sama Bang Manik? Kembar siam? :))
.
Iya pan Nolan tokoh utama, wajarlah kalo keadaannya seolah2 menangin dia. Kalo bang manik bilangnya kan gegara dia emang ga sreg baca tulisan yang kisahnya ttg orang biasa vs superbeings... syukurlah Bang manik di kubu Hero, jadi beliau ga perlu repot2 nilai Nolan kalo emang ga demen... wkwokwokwow... :D
.
Thanks udah baca Sun~! Lawan Heretic mah cingcay lah... kecuali Tuas I sih... =_=

70

"NOLAAAAN! LIAT KE SINI DOOOONG!" panggil Infi.
Nolan menoleh, dan...
*Gyuuut~~~*
"TA-DAAAA!"
"UGYAAAA!"
*Crooot!* Nolan mimisan dengan epiknya.
:D

90

Nolaaan... kasihan sekali hidupmu nak, selamat karena dikasihani, atau emang gak guna buat dibunuh.

jadilah akuntan di warnetku nak.... :D

80

Menurutku si Nolan ini punya potensi lebih gede dibanding ANON buat ngelaju ke akhir turnamen, soalnya dia lebih populer dan orisinil dibanding ANON, dengan semua kepolosan dan keculunannya tapi masih pengen usaha buat ngelindungin orang2. Sylar ngerasa gak worth it buat ngebunuh dia wkwkwk

100

Nolannya beneran manusia biasa di sini~
tapi sepertinya mimpinya di awal bisa jadi clue bwt kemampuan Nolan.
yeah u r right~ komedinya ada berasa kurang, ,
tapi openingnnya lumayan asik~

LOL~ Xaxenonnya tidak dideskripsi~
tapi ending ditemploki Symbiotenya oke!

HAIYOOO~
(づ。◕‿‿◕。)づ

~ it's time to LEARN! it's time to EARN! ~

80

First thing about Nolan :
- Dia akuntan
- Dia sunggug manusia biasa
- Pembawaannya kocak, atau bisa dibilang lugu
.
Ferrum and Belle :
"Kalian pacaran?"
.
Dan... saya merasa symbiote ini mirip hitam-hitam---apalah itu namanya---di Spiderman 3. Soalnya takut sama suara logam dipukul. dan somehow, Nolan jadi mirip Eddie (bener ga ini), mantannya Gwen, rivalnya Peter Parker, yang dihinggapi hitam2 saat Parker berhasil melepasnya.
.
eheheh.. but still, a good job x3

1. Nolan dimirip2in sama Eddie (?) yang fotografer juga bukan? Wajar sih, ya namanya juga Symbiote dari Marvel, mikirnya ga jauh2 dari produk aslinya. XD
.
2. Kelemahan Symbiote itu sebetulnya karena getaran. Dan Nolan mukul2in logam itu menimbulkan getaran. Saya bukan ngambil contoh dari Venom di Spiderman 3. Soalnya saya baca di WIKIA Marvel begini:
"All symbiotes seem to have a weakness against very large vibrations and heat"
^ This! :D
.
3. Ferrum and Belle di sini emang saya bikin dalam kondisi punya ketertarikan 1 sama lain, tp belum pacaran... ;)
.
4. Makasih udah baca~ ;)

50

Entah kenapa ... agak kurang sreg dengan gaya nulisnya.

Mungkin bukan selera saya baca average guy among incredible gui.

*guy*

Masalah selera. Subjektif. That's okay~ thanks udah baca... :)

90

LOOOLL endingyaaahhh XDDDDD
.
kasihan Belle, udh sy bilangin pakek kacamata item aja skalian, tpi dianya ngeyel :'(
.
Kereen Nolannya kak, akhirnya dia bsa mengalahkan symbiote n dikasianin Sylar (?) :'D
makasii ud ngundang Belle jd bintang tamuu
gud luck Nolan ~ <3

Wkwkwkwk... makasih udah baca Ann~

80

Saya sempet ngira ini cerita beneran bakal full dialog sampe akhir saking panjanganya obrolan trio OC yang kau pake. Kalo sampe gitu, mungkin malah jadi poin plus sendiri buat saya karena unik.
.
Jujur saya mengharap Nolan melakukan sesuatu yang super-wah...meski setelah sampe ke ending dan dipikir lagi, sebenernya justru in a sense kau berhaslin nonjolin kalau 'Nolan bener-bener cuma your average guy' alih-alih berusaha bikin dia jadi sesuatu di luar itu, dan rasanya itu kesuksesan tersendiri.
.
Oh, dan saya lebih suka gaya tulisan di sini daripada Anon. You know why

Tadinya saya sempet mau bikin ketiga OC ini seru ngobrolin kejadian dengan santainya sampe akrab tanpa sekalipun mereka harus berhadapan sama SpB loh. Ngobrol gila sampe ketua faksi dateng. LOL. Tapi nanti poin penilaian lain jadi kagak ada.
.
Nolan melakukan sesuatu yg super wah? Kalo mau liat gaya Nolan bertahan idup and ngalahin lawan dengan caranya, mungkin baru bisa nanti kalo udah nembus 8 besar. Kan kayak yg saya bilang, lawan superbeings itu seperti memberikan handicap pada OC kita sendiri... >.<
.
Yeah I know why. Saya lebih enjoy nulis yg ini sih. Saya juga sisipin dialog bergaya 'Pets Save the World'. Hahaha. Tp sepertinya kelucuannya kurang yak?.
.
Thanks for reading~

2550

ga di bunuh sama Sylar karena ga punya kelebihan apa-apa >,< *Nolan's Luck*

Wohohoho... keuntungan menjadi manusia biasa. Bisa lolos dari superbeings yang arogan... :))

80

wuah, hebat, bisa mengolah karakter Nolan yang gada skill jadi seperti ini. jagoan! sayangnya di cerita ini gw berasa karakter xaxenon cuma tempelan doang & jadi kaya anak buah sylar. akhirnya terlihat main enemynya hanya seperti sylar seorang. nahh kalo lolos jadiin Nolan versi symbiote yah :p

Thanks yak. Masalah Xaxenon biarin aja ah, saya sengaja. :v
.
Nggak kok, kalo lolos kan nanti direset statusnya sama panitia... jadi ya Nolan bakal tetep Nolan yang biasa... anggep aja scene setelah itu nanti Ketua Faksi berhasil nolongin Nolan terlepas dari Symbiote tanpa membahayakan nyawanya... hohohoho~
.
Thanks udah baca~