[X Herotics + Upgrade] You got Friends on the Other Side

Amelia, dari Istana Kaca

Semerbak aroma bunga-bunga dari taman memang memabukkan. Jika sedetik lagi aku menghirup debu padang pasir dan berkumpul dengan para budak, kurasa aku akan mengasihani diri sendiri. Bunga tulip terbentang warna-warni di halaman belakang, membentuk lukisan sesuai imajinasiku kapan pun aku mau. Salah satu tangkai tulip kuning cerah memanjang dan meliuk mendekati meja teh, kelopak-kelopaknya menuangkan madu merah yang berkilauan di cangkir porselenku.

Oh, sayangku, sebenarnya aku sedang berduka ketika menuliskan ini. Pencipta orang-orangan hitam menyedihkan itu mengambil catatan-catanku dengan kailnya yang hina, kemudian meleburkan dengan hal-hal sinting yang dia sebut realita! Tak tahukah ia bahwa catatan-catatan itu adalah sebagian diriku, yang berarti lebih berharga dari kepala pentol koreknya itu? Oase kacau dan melebur, dan karenanya aku memasuki dunia maya dalam cermin. Ini lebih parah dari waktu mendadak untuk menyocokkan gaun, atau riasan, atau perhiasan. Gadis dari pemakaman itu masih dalam tahananku, sehingga dialah yang menjadi pelampiasan amarah.

Namun, setelahnya dia berkata begini dengan mata semerah bara, “Kau muak dengan semua ini bukan? Bagaimana kalau aku saja yang melanjutkan even aneh ini menggantikanmu? Kau tak perlu berkumpul dengan mereka atau siapa pun, kau bebas mengurusi bayang-bayang dirimu di cermin! Keluarkan aku!”

Aku menatapnya marah, kemudian gadis keras kepala ini melanjutkan.

“Lagipula mungkin saja aku terbunuh kan? Bukankah itu yang kau mau? Wujudku menghilang dari bumi ini?”

Seandainya ingat caranya bernapas, pasti aku sudah menggebu-gebu waktu itu—bahkan keanggunan seorang wanita bisa lepas kendali akan amarahnya. “Kau tahu apa gadis bodoh? Tak tahukah dirimu yang ini bahkan tidak nyata? Bahkan dirimu yang asli lebih terlihat hidup, kau yang sekarang bahkan lebih buruk dari boneka-boneka terbusuk yang kuciptakan!”

Gadis itu tampak bingung sesaat, dan dia menjerit ketika kucakar kulit wajahnya.

Aku membentak, “Lihat ini!”

Sebuah cermin oval terbentuk, cermin dimana aku menyimpan jasad sampah sosok tiruanku. Di bagian dadanya tertancap pisau belati, kemudian kulempar jasad itu—oh bentuknya sungguh menyedihkan, terkutuklah makhluk ini jika mengaku-aku menjadi aku!

“Kuyakin orang-orangan hitam itu yang membuatnya, dan kau tak lebih bagus dari—” kakiku menginjak wajah ciptaan gagal itu hingga koyak, “SAMPAH INI!”

Kukatakan padanya dengan tegas, “Aku mempunyai sejuta bayangan, dan semuanya di bawah kuasaku. Jika ada satu bayangan ganjil, pastilah aku tahu dan itu harus dihancurkan. Sekarang, kau tak lebih dari sosok tiruan cacat yang dibuat orang yang mengaku-aku sebagai pencipta, masihkah kau ingin kembali ke turnamen memuakkan itu? Sungguh bodoh jika menolak belas kasihku dan menjadi pion orang asing! Kau diciptakan untuk dihancurkan sayang, dan karenanya aku menyelamatkanmu!”

Dia hanya diam, wajahnya tertunduk. Tetes-tetes darah yang mengalir dari kulitnya berubah menjadi abu. Beberapa saat kemudian dia berkata pelan, “Jalan yang mana pun, aku akan tetap dikorbankan bukan?”

Matanya menatapku tajam di antara aliran darah, “Lagipula kau sendiri tidak bisa membunuhku—sekali pun hanya tiruan. Mungkin saja di sana ada orang yang lebih kuat darimu untuk membunuhku. Kau tidak perlu repot-repot. Kau boleh memasangkan jerat padaku, kemudian menarik orang itu dan membunuh aku yang asli.”

Dia menyeringai.

Melihat gadis lugu ini tersenyum keji, ulu hatiku jadi nyeri. Dan aku memaksa membalas senyumannya tanpa mengurangi rasa jijikku padanya. “Sayangku, kau seperti genangan air di musim gugur. Untuk kali ini kau menang.”

Aku mengambil belenggu besi dari cermin kecil. Dia membelalakkan matanya, kemudian diam saja ketika kupasangkan pada leher anak itu.

“Besi adalah kesukaan barumu, kan sayang? Anggap saja pengganti mawar logammu yang murahan.”

Dia meraba belenggu dingin yang membebani lehernya.

“Dan itu bukan jerat biasa, di dalamnya ada puluhan bom mikroskopik yang akan meledak jika kau mencoba lepas belenggu itu atau menghancurkannya. Tentu saja bukan hanya kau yang mati, namun sekelilingmu juga hancur bagai pecah belah yang dilontarkan meriam. Bum! Hancur berkeping-keping. Kau akan mati, dan jasadmu akan ditarik oleh setan-setan cermin—itu pun kalau kau bisa hidup lagi seperti dirimu yang asli.”

Aku terkekeh pelan, kemudian terkejut ketika dia mengulas senyum polos.

“Terima kasih, Amelia,” katanya, wajahnya begitu lugu seperti gadis cilik yang bermain di tengah alang-alang.

Dia mencoba berdiri walau limbung, kemudian mengambil pisau daging yang tergeletak tak jauh darinya dan menyelipkan di balik jas hujan. “Sekarang kembalikan aku ke kapal Chekov, tempat di mana terakhir kali kau membawaku kemari.”

Oh, demi kaca-kaca patri yang mengukir kecantikanku, sungguh aku ingin menangis!

“Kemarilah sayang, biarkan ibu memelukmu untuk terakhir kali,” kataku lembut. “Walau kau hanya tiruan yang hina, kau sangat mirip dengan Belle asli.”

Dia mendekatiku tanpa ekspresi apa pun, aku memeluknya dengan kasih dan sayang. Dialah anakku yang hilang, satu-satunya anakku yang cantik. Dan karenanya dia harus mati.

Aku membuatkan portal cermin untuknya, kemudian dia pergi tanpa berkata apa pun.

“Anak itu hanya berjalan pada kematian,” Meg tiba-tiba berbicara—bahkan aku melupakan kehadirannya sejak tadi. Namun aku yakin kata-katanya hanya untuk menghiburku. “Dia hanya akan menjadi pion dan itulah dia, keberadaannya hanya dianggap boneka oleh orang lain—untuk pajangan atau dimanfaatkan. Takdirnya sekelam hutan tak berkabut. Para iblis berpesta pora di atas mayitnya, anak itu bangkit kembali hanya untuk mati berkali-kali.”

Aku memutar mata. “Ah, nenek tua! Kata-katamu membuatku pusing!”

Meg tertawa, kemudian dia melanjutkan kata-katanya dengan desisan ganjil. “Hss..dia menyimpan sesuatu yang tak kau tahu, dan suatu saat hsss.. itu akan jadi senjata mematikan untuk membunuhmu. Berhati-hatilah Amelia sayang, bahkan boneka mati bisa bergerak di waktu malam. Wekekekeke.”

Setelahnya dia menghilang. Aku penasaran, apakah sosoknya juga tiruan atau bukan.

Kemudian aku mengamati apa yang terjadi selanjutnya di oase. Orang-orangan hitam itu tampak mencari budak-budak yang tersisa, kemudian berkatalah dia setelah berbasa-basi: “Kalian adalah petarung terkuat, prajuritku yang sebenarnya!”

Sungguh menggelikan sang pencipta itu, mungkin tidak ada cermin di kamar mandinya.

Beberapa budak tampak protes, dan omongan mereka berhasil menyita perhatianku.

“Asal kalian tahu, ada berbagai aspek yang kugunakan sebagai parameter penilaian,” ujar si orang-orangan hitam. “Kurasa tidak penting kalian mengetahui apa saja aspek-aspek itu, karena semuanya kunilai secara subjektif. Jadi yah, lupakan saja. Lagipula kalian sudah terpilih, dan terbukti memiliki kekuatan melebihi cecunguk-cecunguk Heretic lainnya!”

Perkataannya memancing budak yang sepertinya memiliki nyali lebih untuk menyangkal, dan ketika itulah si bodoh memamerkan kecacatannya pada semua orang. Dia melemparkan hasil penilaian subjektifnya itu, tadinya aku menggeram marah karena nilaiku jauh di bawah para budak. Namun, kemudian aku menyadari satu hal: sudah sepantasnya dia takut pada Amelia yang bukan tiruan. Dengan cara merendahkanku dia menyingkirkanku, oh tidak adakah cara yang lebih hina?

Sayangku, belum pernah aku bertemu orang-orang yang begitu lucu.

Tiga orang pria tampak sangat menentang orang-orangan itu—dan karenanya aku menghapus pandangan kalau mereka adalah budak. Aku membuka gerbang lebar-lebar untuk mereka.

“Anak-anak yang manis,” aku berkata lembut. “Masuklah ke dalam, aku sudah membuat kue untuk kalian.”

“Amelia Elburn?” Kini aku tahu kenapa dia tidak punya wajah: dia tidak ingin terlihat konyol, terlebih saat kebingungan seperti ini. “Bagaimana kau bisa…”

“Memangnya mengapa aku harus tidak bisa?” potongku sinis. “Masuklah anak-anak manusia. Mari kita saksikan kehancuran si hitam itu bersama-sama.”

Kemudian tiga orang itu masuk dan gerbang cermin segera menutup—sebelum si orangan sempat mengarahkan senjatanya. Tak lama kemudian, aku menyadari aura satu di antara mereka berbeda dari manusia—oh, ini sungguh menarik!

Langkah selanjutnya adalah memasang jerat. Kail-kail milik si Hitam sudah kujerat sejak dia mengambil catatanku, namun kurasa itu tidaklah cukup. Diam-diam benang tipis kupasangkan melingkar di leher hitamnya, kemudian di leher kedua pesuruhnya. Tak lupa para budak sisanya juga berada dalam jerat halus, sehingga mereka bisa diawasi kapan pun.

Jerat sudah disebar, langkah selanjutnya adalah memberi sambutan untuk para pemberontak. Aku menyalakan lilin dan lampu hingga terlihat dimensi cermin menjadi ruangan besar yang menjadi bagian sebuah manor bergaya gothik. Sepertinya mereka tampak heran, terlebih dengan sistem di dunia ini yang membuat mereka tidak bisa asal bergerak.

“Selamat datang di dunia maya,” sambutku. “Lakukan apa saja semau kalian, jika kalian terbiasa bergerak di sini, semua akan menyenangkan.”

Aku membuat kursi berlengan di atas undakan, kemudian langsung duduk sembari memandangi cermin oval perak kesayanganku. Nampaknya mereka segera mengerti dengan cara kerja yang serba terbalik, ketiga pria itu langsung menempatkan diri di sofa besar tak jauh di depanku.

“Pertama-tama, aku hanya ingin menikmati pembodohan massal ini serta kehancurannya. Kuyakin kalian juga berpikir sama,” aku merapikan bedakku yang mulai tidak rata, “Anakku yang terjerat memberi tahu tentang kubu yang mungkin saja seharusnya dilawan kedelapan budak—yang katanya—kuat dan terpilih itu.”

Sementara aku mengamati mata merah rubi-ku, sebuah cermin persegi panjang berukuran besar dan berbingkai sulur-sulur besi mewujud perlahan dari ketiadaan. Ketiga pria itu langsung mengalihkan perhatian ke arahnya: di sana terpampang pemandangan ruang-ruangan putih dengan desain futuristik—menurut catatan Belle, itu adalah kapal luar angkasa.

Seumur hidup, aku belum pernah pergi ke kapal luar angkasa, namun melihat kondisinya yang kumuh begitu, meliriknya saja enggan. Cermin menampakkan sudut-sudut kapal yang muram, sementara ada cermin lain yang menampakkan proses perubahan bebungaan menjadi anak-anak manusia—salah satunya adalah Belle, dengan belenggu besi di lehernya—ada energi-energi negatif yang tumbuh bersama kebencian di dasar kapal itu. Di sanalah berkumpul orang-orang suram yang kupikir sudah mengetahui posisi mereka sebagai budak.

Aku membuatkan portal cermin ke sana, kemudian dua dari tiga pria di sini dengan senang hati menjemput mereka. Sedikit drama terjadi di sana, namun tak lama manusia-manusia penuh kebencian itu juga memasuki dunia maya.

“Selamat datang,” sambutku ala kadarnya. Dari pada melihat wajah-wajah suram mereka, aku lebih memilih mengagumi betapa bening kulitku saat itu. Begitu halus dan sempurna melekat di lekuk-lekuk wajah yang penuh keanggunan.

Mereka langsung berinteraksi atau meluapkan emosinya—melakukan hal-hal wajar selayaknya manusia. Aku hanya tersenyum menanggapi, sesekali tidak peduli, sesekali mengasihani mereka yang berada di sini.

“Jadi,” akhirnya aku angkat bicara, “Aku akan membagi sedikit kekuatanku kepada kalian, makhluk menyedihkan, dan karena ini dunia kekuasaanku—bukan duniamu, aku tidak menerima protes. Siapa pun yang tidak menurut boleh keluar, kalian memiliki teman di sisi lain.”

Sebelas cermin segi empat terbentuk, di sana terpantul sosok-sosok yang terjerat. Orang-orangan hitam dan budak-budaknya.

“Aku sudah memasang jerat pada mereka, portal cermin bisa terbentuk dalam jarak lima ratus meter di sekeliling mereka. Kalian tidak bisa seenaknya keluar-masuk portal, mintalah bantuan kepada para setan.” Sekelebat gerakan hitam membayangi sudut-sudut ruangan, kemudian setan-setan itu mengikik. “Untuk kembali lagi ke sini, kalian juga harus menemukan cermin. Setan-setan lucu itu akan menarik kalian masuk. Ingat, jaraknya lima ratus meter dari yang terjerat. Lebih dari itu, tidak ada portal dan aku tidak mau tahu kalau kalian terbunuh atau tidak bisa kemana-mana.”

Si gadis botak tampak ingin berkata sesuatu, namun aku menatap tajam.

“Tidak ada pertanyaan sebelum penjelasan.” Kurasa gerak jari-jariku sudah membantunya mengerti. Kemudian aku menyorot salah satu cermin besar yang memantulkan gadis dari pemakaman itu.

“Saat ini, aku belum menjerat siapa pun di kapal angkasa itu, kecuali gadis ini. Kalian boleh menjerat siapa pun untuk diawasi,” gulung-gulungan benang tipis muncul di atas meja kaca di depan mereka, aku mengambil milikku yang tersemat di gaun, kemudian memperagakan cara memasang jerat. “Dengan hanya menyentuh lehernya, jerat sudah terpasang. Saat ini portal di kapal luar angkasa hanya terbentuk di sekitar gadis itu, namun aku tidak melarang kalian memasangkan jerat pada budak-budak di sana.”

Mereka tampak berpikir, kemudian aku melanjutkan, “Namun, ketika mereka menyadari kalau mereka dijerat, maka tamat sudah. Jerat masih bisa dipotong, sayang. Dan jerat bisa dipasangkan ke apa-apa yang bukan manusian.”

Aku teringat jerat yang terpasang pada kail si orang-orangan hitam ketika dia mengambil catatan-catatanku. “Satu kelemahan lain, mereka yang terjerat biasanya akan sadar kalau sedang diawasi. Sebisa mungkin untuk tidak menampakkan diri kalian di depan cermin jika sedang memantau: bayang-bayang kalian akan terpantul di cermin yang dekat dengan si terjerat.”

Kini mereka mengerti kenapa letak-letak cermin pengawas agak berjauhan dengan posisi mereka.

“Kurasa itu saja cukup, lakukanlah apa yang kalian mau.” Aku berdiri dari kursi berlengan itu sambil membawa cermin perak, kemudian melirik cermin yang memantulkan sosok gadis dari pemakaman. Aku menambahkan, “Gadis itu tidak bisa melepas jerat dengan mudah, dia anak kesayanganku dan tentu saja boleh dibunuh. Nah, sebelum aku meninggalkan tempat ini, ada pertanyaan?”

***

Aku mencatat sekali lagi apa yang kuberikan pada mereka.

Yang pertama pastilah sebuah Manor yang sangat mewah, penuh cermin dan kaca, serta bergaya gothik. Kubiarkan setan-setan cermin melayani dan memberi apa yang mereka mau.

Di luar manor itu tidak ada apa pun, gelap dan kosong. Kurasa tak perlu repot-repot membuat lebih banyak.

Dan seperti yang diketahui, sistem kerja di dunia maya serba terbalik--jika belum terbiasa, selamanya ingin menggerakkan tangan kanan, maka tangan kiri yang bergerak. Bahkan penampilannya juga seperti bayangan di cermin. Kurasa mereka akan cepat terbiasa.

Aku memberi mereka jerat sehingga mereka bisa mengawasi serta mengikuti tiruan-tiruan bodoh yang diperbudak si orang-orangan hitam dan antek-anteknya.

Siapa pun selain mereka yang terikat di sini, tidak bisa melewati portal cermin--tentu saja sayangku, ini adalah dunia kekuasaan seorang Amelia.

Dan sekali lagi kutulis, aku tidak peduli dengan mereka: namun aku akan senang hati melihat kehancuran pembodohan massal ini.

Read previous post:  
54
points
(711 words) posted by Grande_Samael 8 years 27 weeks ago
77.1429
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Battle of Realms HxH | HxH | Limbo | Pemberontakan
Read next post:  

*readed*

100

Astaga...nenek amelia ini kepribadiannya sungguh sesuatu...kalo suatu hari Raven bergabung, akankah diterima??
*plakkk

Ada 2 penyihir dlm satu tempat itu sesuatu bangetttt......

"Kemarilah Lady."

90

aiishaaa~
(づ。◕‿‿◕。)づ
'
jadi makin komplikatif ini para ex~
seruuuuu!
#mengundurkan diri
lalu

bergabung dgn para Ex~
hhhoho~ #meringankanTugas panitia (≧◡≦)

ayo bergabunglah nak, mama punya kuee ~~ .w.)/

100

Nenek Amel ngelamar jadi Superbeing aja
:D

ogah disuruh2 :p
.
terlalu imba ya ?? wkwk berbahagialah kalian mendapat kebaikan hati seorang amelia~!

80

"Mak lampir, makasih ya udah ngasih kita markas baru. Ternyata keriput2 begini lo berguna juga" kata Infi :3
Hahahahaha
Thank u udah ngasih markas, Ann :D

*buru2 ngaca*
wajah sempurna gini dibilang keriput, kau iri padaku atau apa? hahaha~!
.
awkwk, no problem

90

Wuuhuu!! markas baru! dan gw suka bagaimana Amelia bener2 ngerendahin orang di sini. u got my 9 Ann, u got my rare 9 >:D

wah, mkasi pak ketua XD

100

Ahay, markas ketiga sudah siap, saatnya melakukan serangan balasan!!! >.<

pembalasan yg gk akan dilupakan seumur hidup~! (?) wkwk

80

udah punya markas sendiri pula... dah, cocok deh komplotan ini jadi musuh mingguan buat pahlawan serial tokusatsu

wokwowk villain of the week~!