[Road to Round I] Nolan C. Fambrough - Accumulated Depreciation

“Sebelum bertanya, aku ingin kalian mendengarkan dan mencerna dengan baik segala hal yang akan kusampaikan. Jadi, aku tidak akan menanggapi siapa saja yang berusaha menyela ucapanku.”

Samar-samar terdengar suara di kejauhan, seperti suara seseorang yang sedang melakukan orasi. Semakin lama semakin jelas, semakin jelas, dan semakin keras. Sebuah tepukan di pundak Nolan membuatnya langsung tersadar.

“Hei!”

Nolan terkejut setengah mati. Dia membuka kedua matanya dan bernapas tak karuan. Sedetik kemudian dia sadar sedang berdiri diam di antara orang-orang. Sejak kapan dia berada di sana? Tak mampu mengingat apa pun yang terjadi beberapa menit sebelumnya, membuat Nolan merasa bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah ketika dirinya bersembunyi di bagian bawah meja bar, berteriak kesakitan saat parasit berbentuk jelly berwarna hitam merayap dan menyebar dengan sangat cepat ke tubuhnya. Ya, Symbiote. Entah bagaimana makhluk itu sudah tidak ada lagi.

Sementara jantungnya berdebar-debar dengan cepat, Nolan berusaha mati-matian agar dapat mengatur nafas dengan tenang. Setelah debaran jantungnya kembali stabil, Nolan menoleh ke arah siapa pun yang menepuk pundaknya.

“Ah, halo…” kata Nolan sambil berusaha tersenyum ramah di sela-sela kengerian yang dirasakannya. Namun, baru sedetik dia tersenyum, ekspresinya berubah drastis. Matanya membelalak, mulutnya menganga. Ekspresi yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dirinya tengah dilanda rasa panik dan ketakutan.

“Halo, kamu tidak apa-apa?” tanya orang tersebut, seberkas senyum tergambar di wajahnya. “Orang aneh di depan sana sedang berbicara. Kulihat kamu seperti tertidur, karena orang itu bilang apa yang mau disampaikannya begitu penting, kurasa kamu juga harus mendengarnya.”

Nolan mengangguk lemas dan memberikan kode yang berarti ‘terima kasih’ dengan tangannya. Keringat dingin mengalir keluar dari dahinya. Dia segera mengambil sapu tangan di saku celana hitamnya dan mengusapkannya ke wajah dengan tangan yang gemetaran. Siapa yang dilihat Nolan adalah keanehan yang luar biasa. Karena dia ingat betul lawan bicaranya tersebut seharusnya sudah mati. Ferrum.

“Kamu yakin tidak apa-apa? Kamu sampai mandi keringat loh,” belum sempat Ferrum menyentuhkan tangannya ke pundak Nolan, Nolan menjawab dengan nada nyaris membentak.

“Aku tidak apa-apa, Ferrum!” Nolan membetulkan kacamatanya yang melorot dan kemudian menyambung ucapannya, “Ah, maaf!”

“Eh?” Ferrum melongo. Dia mengurungkan niat untuk menepuk pundak Nolan. “Ba-bagaimana kamu bisa tahu namaku? Padahal berkenalan saja kita belum pernah…”

Nolan menatap Ferrum dengan ekspresi bingung. Ferrum yang melihat sikap Nolan terhadapnya pun ikut merasa bingung. Lebih tepatnya, merasa aneh.

“Ka, kamu…,” kata Ferrum akhirnya, setelah mereka berdua saling bertatapan beberapa detik lamanya.

“A, apa?”

“Ka, kamu tidak naksir aku kan?” tanya Ferrum. “Ka, kamu menguntit ya? Sampai-sampai bisa tahu namaku?”

“Enak saja!” bentak Nolan, namun kemudian dia berkata dengan nada yang sopan, “Bukan itu, hanya saja, di dalam ingatanku seharusnya kamu sudah mati!”

“He?” Ferrum tertawa, “Tidak mungkin! Ferrum yang ganteng ini tidak bisa mati mudah tahu. Lihat! Aku di hadapanmu, sehat dan bahagia!”

Ferrum berkata dengan begitu meyakinkan. Dengan sengaja dia pun mengeluarkan cairan yang memadat dengan cepat dari tangannya dan membentuk sebuah mainan lucu yang terbuat dari besi murni. Nolan berjengit, namun karena dirinya merasa pernah melihat keanehan yang sama dilakukan oleh Ferrum, dia menjadi lebih terbiasa dan mampu mengatasi rasa ngerinya.

Ekspresi bahagia Ferrum hanya bertahan beberapa detik saja, hingga akhirnya menghilang dan berubah menjadi lesu. Entah apa yang mendadak melintas di benaknya. Ferrum melemparkan mainan besi di tangannya itu jauh-jauh dengan malas, disusul oleh bunyi gedebuk keras seperti mengenai sesuatu dengan permukaan yang lebih empuk.

“Aduh! Woi, siapa yang melempar besi rongsok ini ke arahku, HAH!” bentak seseorang yang tidak dikenali Nolan.

Nolan berusaha untuk tidak mempedulikan ekspresi Ferrum saat itu. Di dalam kepalanya berputar-putar pertanyaan yang sama, “bagaimana bisa Ferrum hidup kembali dan berada di belakangnya saat ini?” Nolan yakin betul apa yang dialaminya waktu itu adalah kenyataan. Ferrum mati, lalu… Belle. Nolan tersentak dari lamunannya dan segera mencari-cari ke segala penjuru ruangan. Hingga dia menemukan Belle yang sedang berdiri di antara dua laki-laki. Salah satunya mengenakan headset. Mereka semua mengenakan jaket. Hanya saja yang tidak mengenakan headset terlihat jauh lebih atletis. Tapi bukan itu yang membuat Nolan berjengit ngeri, melainkan karena dirinya juga bisa melihat Belle yang utuh. Hidup. Padahal seharusnya dia sudah mati di bunuh oleh laki-laki berkekuatan super yang mengaku bernama Sylar.

Tiba-tiba Nolan teringat dengan keporak-porandaan yang terjadi waktu itu. Tapi apa yang dilihat Nolan sungguh berbeda. Semua kerusakan sudah hilang. Semuanya kembali seperti sedia kala, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Masa iya kejadian waktu itu cuma mimpi?” Nolan mengecek tubuhnya sendiri, tak ada bekas luka goresan, memar, atau bahkan bercak kotor di kemeja putihnya. Dasinya masih terikat rapi dan sempurna. Jam tangannya bekerja, kacamata tidak rusak. Berkas-berkas masih dia bawa di tangan kanannya, dan tak lupa sebuah ransel hitam berisi laptop di punggungnya. Tak ada masalah. Seharusnya justru tak ada lagi rasa khawatir.

Nolan baru saja hendak menghela napas untuk meyakinkan dirinya bahwa kejadian waktu itu hanya mimpi belaka ketika suara seseorang yang berdiri paling depan dengan pakaian yang agak nyentrik membuatnya tersadar penuh bahwa dirinya sedang berada di dalam suatu kegiatan semacam majelis khusus.

“Aku tahu di kepala kalian semua pasti banyak sekali pertanyaan. Bahkan sebagian besar dari kalian pasti merasa ingin menyumpah serapah diriku—atau mungkin juga membunuhku—atas segala hal yang sebelumnya terjadi pada kalian,” kata orang di depan. Dia berdiri dengan sangat tegap. Saat berbicara sorot matanya tajam dan memandang mata seluruh orang yang ada di sana secara bergantian. Dari gerak-gerik tubuhnya, sangat terlihat sosok seorang pemimpin tangguh yang sangat mengerti cara menyampaikan sesuatu di depan umum.

“Sebelumnya biarkan aku sekali lagi memperkenalkan diri kepada kalian, namaku Tsuki. Ketua faksi. Dan tempat kalian berada saat ini adalah IRSS Chekov, kapal luar angkasa mega luas yang berada di perbatasan dimensi. Tempat ini adalah markas besar pertahanan kita. Faksi Hero. Kalianlah yang menjadi anggota faksi. Maka izinkan aku memimpin kalian.”

Nolan menatap Tsuki dengan serius. Dia tidak mengerti apa yang diucapkannya. Setidaknya belum. Dia sanggup mendengar beberapa decakan kesal beberapa orang yang ada di sana. Nolan memandangi seluruh bagian ruangan IRSS Chekov dan baru menyadari hanya ada delapan orang—termasuk dirinya—yang berkumpul. Padahal sebelumnya dia ingat ada begitu banyak orang. Ke mana mereka semua? Nolan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Nyatanya, Nolan tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan jawabannya. Tsuki melanjutkan kembali orasinya.

“Kalian adalah salinan,” kata Tsuki dengan nada tegas. Entah kebetulan, saat mengatakan itu tatapan mata Tsuki mengarah tajam kepada Nolan. Membuat Nolan menelan ludah karena gugup. “Artinya, kalian hidup, kalian punya kesadaran, tapi kalian bukanlah orang yang sebenarnya. Hanya hasil copy-paste.”

Nolan membelalak. Isi kepalanya berputar-putar, berusaha mencerna maksudnya. Dia melihat keadaan orang-orang di sekitarnya lalu kemudian merasa lega karena sepertinya bukan hanya dia yang merasakan kebingungan. Seorang pria yang mengenakan headset tiba-tiba menenggak habis isi minuman kalengnya. Ekspresinya sangat suram. Kemungkinan besar dia memang merasa stres setelah mendengar apa yang diucapkan Tsuki.

“Bukan sembarangan copy-paste. Karena yang kusalin dari kalian, bukan hanya bentuk fisik saja, melainkan juga kepribadian, kebiasaan, isi hati, pikiran, ingatan, dan segala hal yang berhubungan dengan hidup kalian sebelum akhirnya kalian disalin dan berkumpul di sini. Bisa dibilang, akulah Tuhan yang telah menciptakan kalian. Dan IRSS Chekov, boleh kalian anggap sebagai Valhalla. Tempat yang mulia bagi kalian. Di tempat ini kalian lahir, dan di tempat ini pula kalian akan mati.”

Kali ini semua orang terperangah. Mereka tidak sabar ingin berteriak menyampaikan protes dan beribu pertanyaan. Namu, seorang gadis kecil berpakaian seperti penyihir di dalam film-film kartun muncul dan mencegah mereka berbuat onar. Nolan mengenalinya sebagai Clive Hangeru.

“Dan maafkan aku telah menciptakan kalian karena keegoisanku sendiri,” kata Tsuki, kali ini jelas sekali nada penyesalan di dalam ucapannya. “Ingatan kalian akan tempat asal kalian melekat kuat di dalam alam sadar kalian. Aku tahu kalian pasti merasa ingin pulang ke tempat asal masing-masing. Namun, harus kusampaikan, tak ada satu pun dari kalian yang bisa kembali. Karena itu artinya merusak keseimbangan dunia.”

Tsuki berdeham sebentar. Dia menatap semua orang yang kini memandangnya dengan marah. Namun, hal itu sama sekali tak membuatnya gentar.

“Aku bisa menciptakan kalian, dan begitu juga sebaliknya,” kata Tsuki. “Tapi tidak untuk saat ini, karena aku benar-benar membutuhkan bantuan kalian.”

Semua orang langsung terdiam.

“Kamu percaya dengan perkataannya? Kurasa dia hanya membual. Dia tidak bisa menciptakan makhluk hidup kan? Dia bukan Tuhan! Tuhan cuma satu!” gumam Nolan dalam hati, berbicara pada dirinya sendiri. Dia menolak kenyataan yang baru saja disampaikan oleh Tsuki. Tak peduli apa pun yang diucapkannya, baginya Tsuki adalah orang gila yang sedang bermain-main menjadi Tuhan. Mempercayai Tsuki, sama artinya dia telah mengkhianati agamanya. Namun, tiba-tiba saja dia teringat akan teknologi cloning, yang mana sebetulnya tetap saja suatu hal yang haram bila dilakukan terhadap manusia. Lantas apakah dia clone dari Nolan yang sesungguhnya? Nolan terus berpikir dan berpikir. Mengerahkan logikanya, membayangkan segala kemungkinan yang sangat absurd. Tanpa sadar dia meremas map di tangannya dengan kuat, membuat kertas-kertas di dalamnya kusut.

Nolan menoleh ke arah Ferrum yang sedang merasakan kebingungan yang sama.

“Hei, Ferrum,” panggil Nolan.

“Eh? Ya, ada apa? Er, siapa sih namamu?”

“Namaku Nolan, Nolan C. Fambrough. Aku ingin menanyakan ini kepadamu, hal apa yang terakhir kali kamu lihat terjadi di tempat ini?”

“Er…,” Ferrum memandang situasi di sekitarnya dan menelan ludah. Dia mendekatkan dirinya pada Nolan dan mulai berbicara dengan suara nyaris berbisik. “Kehancuran. Dan aku berhasil selamat.”

Nolan mengamati ekspresi Ferrum. Dia berkata jujur.

“Uh, baiklah, bagaimana denganku? Apa kamu melihatku waktu itu?”

“Ya, aku melihatmu, hanya saja waktu itu aku tidak tahu kamu, jadi aku tidak begitu peduli. Oh ya! Kamu ada di sini sekarang, artinya kamu masih hidup waktu itu,” Ferrum tersenyum seolah-olah dia merasa puas sudah menemukan jawaban akan pertanyaannya.

“Ya, tapi seharusnya kamu mati,” kata Nolan dengan nada datar tanpa ekspresi.

“Lagi-lagi kamu mengatakan itu! Aku masih hidup!” Ferrum memberengut.

“Bukan itu, sepertinya aku mulai memahami sesuatu.”

“Paham sesuatu?” tanya Ferrum bingung.

“Yap, tentang ‘salinan’ yang dikatakan Tsuki. Teori ini mungkin masih sekedar perkiraanku, dan bisa saja—“ ucapan Nolan terpotong karena Tsuki kembali berbicara lantang. Nolan segera berbalik dan mendengarkan. Ferrum memutar bola matanya sambil menarik jaket yang dikenakannya sebelum kembali pada posisinya.

“Kalian pasti bertanya-tanya kenapa hanya ada delapan orang yang tersisa di sini. Tentu saja tidak termasuk aku sendiri, Clive, dan juga Deus. Ada beberapa hal yang akan kuperjelas di sini. Yang pertama, aku ingin kalian tahu, bahwa aku sanggup melakukan apa saja. Termasuk mengendalikan sepenuhnya apa-apa yang terjadi pada salinan. Itu artinya KALIAN. Tolong tenang dulu! Semua pertanyaan akan kujawab nanti,” kata Tsuki saat ada salah seorang di depannya yang ngotot ingin berbicara. Clive harus menahannya sekuat tenaga sebelum akhirnya orang itu berhenti melawan.

“Terima kasih,” Tsuki menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan penjelasannya. “Aku sadar, masing-masing dari salinan yang kubuat memiliki satu kelemahan. Egois. Ya, sangat manusiawi. Oleh karena itu, aku membuat beberapa lapis dimensi. Sesuai dengan jumlah kalian waktu itu. Artinya apa yang masing-masing kalian lihat dan alami sejak awal mula kalian datang ke sini, kecuali kalian sendiri yang lainnya hanya salinan yang lain. Setiap salinan di dimensi berbeda, semuanya mengalami cobaan yang sama. Itu adalah serangan perdana Blackz untuk menghancurkan Faksi kita. Dia mengirimkan superbeings bernama Sylar dan makhluk asing bernama Symbiote.”

Nolan kembali berjengit. Symbiote dan Sylar. Keduanya tak akan pernah bisa dilupakan olehnya karena dirinya nyaris tewas berkat kedua makhluk tersebut. Ferrum membelalak. Begitu juga dengan yang lainnya. Semua baru tersadar telah terhubung ke satu relasi, masing-masing dari mereka mengalami pengalaman yang sama, diserang makhluk yang sama, hanya saja berbeda pengalaman. Nolan mulai menatap yang lainnya mulai saling bertatapan. Mungkin itulah alasan mengapa ada beberapa orang yang seharusnya mati menurut ingatan mereka ternyata hidup kembali di tempat ini. Alasan paling absurd yang setidaknya masih bisa diterima akal sehat karena kalkulasi kemungkinannya sah bila dihitung menggunakan rumus matematika. Perbedaan dimensi.

“Itulah kenapa aku bilang, kamu seharusnya sudah mati, Ferrum. Itu hanya berlaku di dalam dimensiku. Ingatanku,” jelas Nolan. Ferrum menatap Nolan ngeri. Dia tidak percaya Nolan bisa mengerti segala hal yang terjadi hanya dengan mendengarkan perkataan Tsuki. Nolan membetulkan kacamatanya dan hendak berbalik hingga tanpa sengaja matanya bertemu mata yang lain. Ezebelle menatap Nolan dengan ekspresi muramnya.

“Kalian bisa saja mati di satu dimensi, tapi tetap hidup di dimensi yang lain. Dan sayangnya… ada di antara kalian yang benar-benar mati di dimensi manapun. Itu membuat mereka menghilang, tidak ada lagi. Tak bisa kuselamatkan karena sudah terlalu rusak,” Tsuki kembali berucap. “Kalianlah, delapan orang yang tersisa dari masing-masing dimensi yang sanggup kuselamatkan.”

Tsuki menatap Nolan tajam. “Dia! Dia Nolan C. Fambrough.”

Semua mata kini memandang Nolan.

“Ah, aku baru sadar! Seharusnya dia sudah mati!” kata salah seorang di sana. Nolan yang sudah mengerti arah pembicaraan Tsuki menanggapi dengan biasa saja perkataan orang tersebut.

“Nolan, saat kuselamatkan, dirinya nyaris digerogoti Symbiote. Untunglah aku berhasil menemukannya tepat waktu. Kutarik dia ke sini, dan kuhilangkan hal-hal yang mengancam nyawanya. Bagaimana denganmu, Ferrum? Belle? Albiero?”

Mereka yang merasa namanya disebut langsung terdiam. Pastilah mereka ingat betul pengalaman waktu itu yang jelas-jelas akan berbeda satu sama lainnya.

“Rieke? Akero? Mahesa? Hilya? Kalian semua memiliki ingatan yang berbeda, kan? Tapi aku tahu semuanya. Aku ada, dan aku menyelamatkan kalian. Mengumpulkan kalian di sini. Hal ini juga yang membuatku menganggap bahwa kalian adalah orang-orang terbaik di Faksi yang kupimpin ini. Kalian memiliki potensi luar biasa untuk membawa Faksi ini menang melawan Heretics. Walau sejujurnya ada salah satu di antara kalian yang masih membuatku bingung di mana potensinya.”

Semua orang tertawa walaupun tekanan yang intens sedang mereka rasakan saat itu. Sepertinya sikap berwibawa Tsuki membuat mereka semua merasa lebih tenang menerima kenyataan. Nolan menyadari Tsuki melirik ke arahnya saat dia berkata seperti itu. Membuat Nolan terdiam, mencoba menyadari apa yang salah dari dirinya. Keberadaannya bisa jadi memang salah besar, karena dia tidak merasa memiliki potensi apa pun untuk membantu Tsuki membawa Faksi menjadi pemenang dalam peperangan. Kenapa peperangan? Nolan menyimpulkan ini adalah perang, sejak Tsuki mengatakan ada Faksi lain bernama Heretics. Pastinya memiliki anggota lebih dari satu, dan itu artinya perang.

Tsuki berdeham. Tampak tidak sedang berniat mengatakan sesuatu yang lain. Saat itulah Nolan secara refleks mengangkat tangannya.

“Ada apa, Nolan?” tanya Tsuki.

“Aku hanya ingin bertanya. Siapa Blackz? Kenapa kamu terlibat dalam perang yang juga harus melibatkan kami?” suara Nolan terdengar bergetar. Semua orang memakluminya karena saat ini mereka juga merasakan ketakutan yang sama.

“Baiklah. Aku akan menjelaskan yang berhak kalian ketahui saja. Ingat kalian hanya salinan. Aku pemimpin kalian, dan kalian tak bisa melawanku. Itu kenyataannya, walaupun sebetulnya aku merasa tidak enak sudah membawa kalian ke masalah pribadiku,” Tsuki menimbang-nimbang apa yang kira-kira akan diucapkan selanjutnya.

“Blackz adalah sainganku dalam memperebutkan sesuatu. Sesuatu itu apa, aku tak bisa memberitahu kalian saat ini. Yang jelas dia adalah orang jahat, dan kekuatan kami seimbang. Sangat seimbang hingga kami tidak bisa memutuskan siapa yang terbaik di antara kami. Setelah pertarungan panjang yang tidak berkesudahan, akhirnya kami memutuskan untuk bertaruh. Kami membuat Faksi. Dan kami bersaing menggunakan Faksi kami. Aku membuat Faksi Heroes, dan Blackz membuat Faksi Heretics.”

“La, lalu, apakah Heretics juga memanfaatkan salinan sebagai pasukan mereka?” tanya Belle dengan malu-malu. Membuat Nolan kembali menatapnya dalam diam di kejauhan. Bukan hanya Nolan, Ferrum juga menatapnya.

“Ya, dia juga melakukan hal yang sama, walaupun aku—sejujurnya—tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan salinan tersebut,” jawab Tsuki.

“Bagaimana kamu memilih orang-orang yang hendak kausalin?” Rieke berkata dengan gugup sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Perhiasan di rambutnya berkelip-kelip terkena pantulan sinar lampu.

“Melacak potensi, dan kemampuan,” Tsuki berdeham sebentar. “Aku tidak menyalin kalian atas dasar keinginanku sendiri. Ada pakem-pakem tertentu yang menyatakan kalau kalian adalah salinan dari orang-orang berpotensi di dunia tempat asal kalian. Bisa jadi karena kalian berbeda daripada manusia lainnya. Berbeda dari segi kemampuan. Ferrum, tunjukkan kemampuanmu!”

Ferrum kaget setengah mati saat Tsuki menyebut namanya. Dengan grogi, Ferrum segera mengeluarkan besi cair dari tangannya yang perlahan-lahan berubah menjadi pedang yang bagian gagangnya bengkok dan berantakan. Semua orang memandangnya dan terkesima, beberapa tidak karena mungkin sudah pernah melihatnya melakukan itu di dalam ingatan mereka.

“Oh, baiklah! Ferrum mampu membuat apa pun dari besi di dalam tubuhnya. Menarik. Walau hasilnya belum sempurna karena dia merasa tegang,” kata Tsuki setengah bercanda. Ferrum mencibir menahan rasa malu. Belle menahan senyumnya dengan cara menutupi mulutnya dengan tangan kanan.

“Yang lainnya? Akero?”

Akero Kaoze bisa dibilang orang yang paling nyentrik bila dibandingkan semua yang ada di sana. Nolan menganga saat melihat dengan jelas penampilannya. Dia mengenakan topeng yang hampir menutupi seluruh wajahnya, kecuali hidung dan mulutnya. Rambutnya juga panjang dan spiky. Baju yang dikenakannya sangat berciri khas Jepang dengan ornamen yang sebetulnya indah. Dua sabit besar segera ditunjukkannya. Dia menebas udara dengan kecepatan tinggi. Ekspresinya datar, dan dia jarang berbicara. Salah satu anggota faksi yang sangat bisa diandalkan. Nolan menelan ludah dan kemudian mengangkat tangannya lagi.

“Ya, Nolan?” tanya Tsuki.

“Semua orang memiliki kemampuan khusus. Lalu, apa yang menjadi pertimbangan dalam menyalin diriku? Kautahu, aku tidak memiliki kemampuan khusus seperti mereka,” tanya Nolan. Mendengar pertanyaan itu, Tsuki terdiam beberapa detik.

“Nolan… maafkan aku, karena sejujurnya, aku juga tidak tahu. Aku sempat merasa kamu adalah kegagalan sistem. Kamu tahu—“

“BUG, ya aku tahu itu. Jadi, begitu ya?”

“Ah, walau begitu, itu hanya dugaanku. Karena aku sangat percaya diri dengan sistem penyalinan yang kupunya. Aku yakin kamu bukan kegagalan sistem. Kamu pasti punya potensi. Aku sendiri tidak tahu, karena kamu juga tidak tahu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Maksudku, kamu mengambil resiko terlalu besar bila mempertahankanku di sini, ya kan?”

“Er, itu benar. Ya, itu benar. Tapi, seperti kata pepatah, bahkan seekor cacing memiliki peranannya sendiri dalam membantu penghidupan segala makhluk,” jelas Tsuki. Mungkin nanti kamu bisa menemukan potensimu. Mungkin,” Tsuki menutup penjelasannya.

Nolan membetulkan kacamatanya dan menatap lembaran kertas di dalam map kusut yang dipegangnya. Jadi, dirinya terjebak di sini. Masih merasa sebagai diri yang sesungguhnya, namun terbatasi. Tidak bisa kembali ke dunianya, tak bisa juga melakukan sesuatu diluar batas yang bisa ditoleransi oleh Tsuki. Hidup dan matinya kini di IRSS Chekov. Nolan menganggap konsep ini sebagai bentuk dari dunia baru. Dengan Tuhan yang berbeda. Dengan proses penciptaan yang berbeda. Tsuki adalah Tuhan di sini, dan apa-apa yang menjadi keharusan bagi semua orang di Faksi ini, secara tidak langsung telah menjadi kodrat. Dan para Heroes adalah khalifah di IRSS Chekov. Lalu bagaimana kedudukan Clive dan Deus? Nabi? Nolan menggelengkan kepalanya, dia mencoba memikirkan sesuatu yang lebih masuk akal. Dia tidak percaya pada Tsuki. Maksudnya, dia tidak mau mengakui Tsuki sebagai Tuhan.

“Tsuki! Satu hal,” mendadak Nolan kembali berbicara. Tsuki mengangkat alisnya. “Aku mengerti bagaimana posisi kita saat ini. Tapi, walau aku mengerti. Sampai mati aku tidak akan mengakuimu sebagai Tuhan kami. Aku akan tetap setia pada apa yang kuyakini.”

“Bisa diterima,” kata Tsuki tenang. “Dan malah bagus. Aku juga tidak mau dianggap sedang bermain-main menjadi Tuhan di sini. Aku hanya membutuhkan bantuan kalian untuk mendapatkan apa yang kuinginkan.”

“Kami akan membantu bila memang tujuanmu layak untuk kami perjuangkan!” kata Albiero. “Hidupku sudah suram! Aku tak mau mengalami kesuraman lagi! Jadi, beri tahu kami apa yang menjadi tujuanmu sesungguhnya!”

“Sudah kubilang, aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Tapi aku bisa menjaminnya. Aku tidak menghapus ingatan kalian dan juga rasa kemanusiaan kalian. Aku ingin kalian bertindak sebagai diri kalian sendiri. Memperjuangkan sesuatu berdasarkan keyakinan kalian bahwa kalian sedang melakukan hal baik dan terpuji. Percayalah padaku, bila sudah bertemu dengan Kubu Heretics, kalian akan tahu maksudku. Mereka semua pantas untuk dihancurkan,” jelas Tsuki.

Tak ada lagi di antara mereka yang mengeluarkan suara. Mereka semua berusaha menerima kenyataan walaupun berat sekali rasanya. Nolan meremukkan map ditangannya dan melemparkannya pada Rieke. Rieke yang kaget langsung melancarkan serangan elemen api ke arah map kusut itu dan membakarnya habis.

Semua mata kembali memandang Nolan. Nolan hanya menunduk, diam. Lalu tiba-tiba saja dia mengangkat kepalanya dan tertawa lebar. Mengagetkan semua orang yang ada di sana.

“Hahahahaha… sudahlah. Hidup ini kan harus terus maju ke depan,” kata Nolan. Kata-katanya menjadi perhatian. “Mungkin menyebalkan seperti ini. Tapi ya sudahlah, menjadi diri sendiri kan tidak perlu bergantung pada lingkungan. Hanya berubah kondisi saja. Tapi diri kita masih tetap sama. Bukan begitu, Tsuki? Itu kebaikan yang hendak dia tunjukkan kepada kita. Lagipula bila aku berada di posisi Tsuki, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dan kemudian merasa menyesal sudah melakukan ini. Jadi, er, jadi…”

Perkataan Nolan tertahan. “AKU TETAP PADA PENDIRIANKU! Dan aku berada di sini, dengan niatan ikhlas untuk membantunya meraih tujuan. Lagipula apalagi yang bisa kita lakukan di sini? Hahahaha…”

Nolan beranggapan mungkin saja yang menyaksikan dirinya berbicara seperti itu menganggapnya sudah gila. Tapi nyatanya berbeda. Mereka semua bertepuk tangan. Bertepuk tangan karena berkat kata-kata Nolan, mereka bisa menemukan pencerahan. Sedikit menenangkan.

Belle tersenyum memandang Nolan yang disambut juga dengan senyuman oleh Nolan. Saat semua orang sedang tertawa terbahak-bahak sebagai usaha untuk menenangkan pikiran mereka, Nolan berjalan mendekati Belle.

“Ezebelle…” sapa Nolan.

“Ya, er, Nolan kan? Tadi itu…,” Belle tersipu. “Aku tak menyangka kamu bisa mencairkan suasana sampai seperti ini. Ah, bagaimana kamu tahu namaku?”

“Hahaha, ingatanku. Ingatanku di dimensi yang berbeda denganmu. Di sana kita sudah saling kenal.”

“Be, begitu yah?” Belle tertawa kecil, namun matanya kembali menatap pada Ferrum yang sedang sibuk memamerkan kekuatannya terus-menerus hanya demi memastikan tak ada yang salah dengan produk-produk besi yang diciptakannya.

Nolan tersenyum. Dia berusaha untuk tak peduli lagi dengan pengalaman mengerikan di IRSS Chekov sebelumnya, bagaimana dia tahu Belle memiliki kemampuan super aneh, dan bagaimana Belle pada akhirnya dibunuh oleh Sylar. Yang jelas dia berada di sini sekarang. Itu sudah cukup membuatnya merasa tenang. Orang-orang terdekatnya di IRSS Chekov—baik mereka menyadarinya atau tidak—masih bertahan. Setidaknya di dunia yang baru ini, Nolan tidak akan kesepian.

Mendadak Nolan ingat akan sesuatu. Hubungan Belle dan Ferrum. Mungkin bisa jadi sangat bertabrakan ketika pada akhirnya dimensi-dimensi terpisah itu kini dikumpulkan jadi satu. Bisa jadi Belle menyukai Ferrum, tapi Ferrum tidak mengenal Belle. Mereka bersama hanya di ingatanku saja. Atau mungkin diingatan Belle juga? Atau Ferrum? Nolan menghela napasnya, dia sadar bukan saatnya memikirkan hal tersebut. Nolan pun kembali menatap Tsuki di depan yang tengah bersiap menyampaikan sesuatu lagi.

“Baiklah. Terima kasih kalian sudah mengerti. Mulai saat ini, kita satukan kekuatan. Kita adalah satu keluarga dan bersama-sama kita kalahkan Faksi Heretics!”

Perkataan Tsuki disambut oleh semangat. Kecuali Albiero yang jelas-jelas masih memasang wajah suram.

“Sebelumnya, aku sudah mendapatkan surat dari Blackz,” lanjut Tsuki, tangannya menyapu udara, dan sedetik kemudian sebuah kertas muncul dari udara kosong. “Perang kita akan segera dimulai. Untuk itu aku akan membentuk kelompok yang terdiri dari dua orang. Kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”

Nolan menelan ludahnya. “Langsung dimulai?”

Semua mata kini terfokus. Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka. Tsuki pun mulai memanggil nama mereka satu per satu.

“Ezebelle dan Hilya.”

Belle menoleh memandang Nolan. “Namaku sudah dipanggil. Kita bertemu lagi nanti, ya.” Belle berlari ke sisi ruangan yang kosong untuk bertemu dengan Hilya. Sekilas Nolan melihat senyuman manis yang dilemparkannya sesaat sebelum dia beranjak pergi.

“Akero dan Rieke.”

“Mahesa dan Ferrum, lalu…”

Nolan menatap Albiero dari kejauhan. Seorang pemuda bermuka muram, memakai headset ungu. Sekilas memang terlihat seperti manusia normal. Apa kelebihan yang dimilikinya, Nolan pun belum mengetahuinya. Albiero balas menatap Nolan dan kemudian menenggak kaleng minumannya.

“Nolan dan… Albiero…”

TO BE CONTINUED

Read previous post:  
89
points
(2958 words) posted by field.cat 8 years 22 weeks ago
74.1667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Battle of Realms | Heroes Sides | HxH
Read next post:  
80

wew sampai ikut tegang bacanya :v
.
itu di ujung kenapa malah jadi romens Nolan sama Belle? Bagaimana nasib Ferrum?? /:v\

Justru ituh... :3 itu nanti jadi kisah seru cinta segitiga Nolan - Belle - Ferrum... fufufufuh~~~!! :3

100

guru Nolan adalah BUG~
(σ`▽´)-σ wkwkwk untung bukan pirus brontok
#ampuuniiiii~ (≧◡≦)
yeay~ pappah Tsuki!
(づ。◕‿‿◕。)づ

8 orang dengan reaksi sama

aku agak bingung penjelasan Tsuki di sini

Maksudnya "BUG" apa kak?

Hahaha... agak gak jelas yah? :D
BUG atau bug sajah itu istilah dalam data berbasis digital. Kalo kamu pernah ngejalanin program di komputer, dan mendadak mengalami sesuatu yang tidak semestinya (di luar sistem yg seharusnya) maka bisa dibilang itu "bug".
.
Makanya software kan sering di-upgrade, di-update dan sebagainya. Tujuannya untuk mengurangi "bug".
.
Begitcuh~! Thanks ya udah baca... :D

Go Nolan si akuntan jujur

80

Papa Tsukinya berhati lembut >.<
.
Ditunggu round 1 nya!

Iya kan soalnya hero... >.<
.
Siap~ Round 1 sedang dimasak~
makasih udah mampir btw~

2550

stuju sma kak Sam (dah brpa kali sy komen idem sma kak Sam =w=) Tsuki nya jdi kelihatan berwibawa, bahkan dia ndak perlu ngancem2 utk bertarung OwO
.
Nolan nya jg suka bgt disini~ skilas dia org plg gugup, tp dia yg plg ngerti situasi.. kasian dia disamain sma cacing.. .w.)
.
Belle nya maniiiss~~ kyaa >///< *plakk

Hahaha... makasih Ann~
Untuk Belle, tenang aja. Saya bakal bikin dia selalu tampak manis di versi Nolan... :3

80

Hmm.. Jadi ini bener-bener in-depth buat ngehantarin overall situation di kubu hero dan persepektif Nolan ya.
.
Saya acungin jempol buat konflik batinnya, juga gimana si pemimpin faksi ditampilin di sini. Setidaknya dia jadi ga keliatan kayak orang otoriter yang punya God complex dan seenaknya nyuruh orang bertarung.

Iya Sam~! Dengan begini seenggaknya yang baca cerita Nolan selanjutnya ngga bakal bingung lagi sama konsep di dalamnya... :D
.
Makasih sudah baca~ :D

90

Jeder!
endingnya sesuatu sekali. wkwkwkwkkw
.
Oke..
Ini ceritanya bagus, aku suka cara Nolan mandang ke depan.
Wew, bener-bener sebuah prolog yang apik xD
.
Nah, tapi aku nemu 2 hal :
1. Ada 2 jenis EYD yang sebenarnya saya masih bingung, mana yang benar. Kakak nulis napas dan nafas.
2. Typo. 'Namun' ditulis 'Namu'
.
Well, ndak penting juga sih kritikannya XD
.
.
.
BURUAN TULIS R1 nyaaa

Buakakakaka... sepertinya saya terlalu semangat ngetik sampe gak nyadar ada yg typo begitu... >.< nanti saya ricek lagi. Makasih yak komennyah~! Hohoho... :D

dan................ saya suka BL jokes di dalamnya #eh