[X Herotics] Pre-Battle: Kenistaan Dini

Sekitar satu jam berjalan menyusuri hutan dalam pekatnya malam, mereka bertemu jamur mirip penis.

***

            Fiani, seorang gadis dengan rok mini berulang kali mengeluh kelelahan. Tungkai kakinya yang jenjang kadang menekuk tidak wajar karena kelelahan berjalan menembus hutan. Ia berulang kali mengucap sumpah serapah karena melihat serangga, binatang melata ataupun hantu.

            Seorang gadis—untuk kali ini lebih tepat disebut wanita—lainnya juga berulang kali menyumpah agar Fiani menutup mulutnya. Tapi, entah mereka yang tersesat atau navigasi dari Gabriel—iblis hitam pekat kecil setinggi kaki kursi—yang buruk membuatnya ikut mengucap sumpah.

            Ialah Infidel, wanita semampai berkepala plontos yang berseragam hitam menutupi tubuhnya, menebas-nebas tumbuhan-tumbuhan yang menghalangi jalan mereka dengan sebilah pisau. Fiani mengikutinya dari belakang dengan senjata siaga di kedua tangannya. Sedangkan Gabriel melesat diantara kegelapan—dirinya juga gelap sehingga sulit dilihat, tapi gelap tubuhnya lebih pekat dibanding kegelapan hutan saat itu—membuka jalan yang aman memandu kelompok. Tujuan mereka: menemukan markas para Heretic dan membiarkan Infidel menyentuh mereka agar mendapatkan informasi lengkap.

            Mereka bertiga bukan orang sembarang, Infidel, wanita berkepala plontos itu adalah seorang pembunuh sadis dengan kemampuannya mendapatkan informasi lengkap seseorang hanya dengan menyentuhnya dengan tangan kanan. Fiani, gadis bahenol dengan rok mini, idaman semua lelaki mesum, mantap dengan dua senapan di kedua tangannya. Lalu Gabriel, iblis mini bertubuh gelap satu ini—bahkan Infidel dan Fiani sendiri—tidak tahu kegunaanya apa selain dapat melesat kencang, dan ukurannya kecil, sehingga dapat menyusuri setiap sudut hutan.

            Semua ini adalah ulah F4rend, lelaki jangkung dengan siwak di mulutnya. Si pria alay menugaskan tiga orang—hitung saja Gabriel sebagai ‘orang’—agar masuk hutan dan markas musuh dan mencuri informasi. F4rend menugaskan Infidel, Fiani dan Gabriel alih-alih Limbo dan Helmut yang telah familiar dengan medan tempur karena status mereka sendiri. Limbo dan Helmut adalah mantan Heretic dan beresiko terdeteksi karena pernah berada disana sebelumnya. Lagipula F4rend tidak percaya pada Limbo yang jelas-jelas bukan tipe yang bagus untuk tugas ini.

Terang saja Infidel dan Fiani protes. Pasalnya Infidel baru saja dicampakkan dari markas Hero dan hampir mati, ia kalah memalukan oleh seorang Hero yang dianggapnya lemah sebelumnya, Nolan. Jadi ia terlalu jengah untuk tugas semacam itu. Fiani awalnya tidak protes, tapi setelah merasakan sulitnya medan hutan, ia lebih getol protes. Gabriel sama sekali tidak protes, ini misi pertamanya dan dia harus berhasil kali ini. Ia tidak mau dilihat sebagai ‘Simbiot’—makhluk kecil parasit, lihat Preeliminary Hero—karena kerjanya hanya menghindar dari cahaya yang memakan tubuhnya pelan-pelan.

            Fiani hampir frustasi menghadapi sulitnya perjalanan menembus hutan dengan busana santainya seperti ini. Harusnya tadi dia mengikuti saran F4rend agar berbusana seperti Infidel, tapi busana itu terlalu maskulin dan gerah. Sementara itu, Infidel menyumpah Gabriel karena sudah satu jam mereka menembus hutan dan tidak menemukan apa-apa selain rimbunan pohon, serangga pengganggu dan sumpah serapah Fiani yang kian hebat.

            Tapi gelapnya malam ini kian pekat. Padahal F4rend memberi instruksi agar berangkat dini hari dan kembali sebelum fajar. Tapi pekatnya malam ini, tanpa cahaya rembulan yang tertutup rimbunnya pepohonan membuat Infidel curiga. Insting bertahan hidupnya merasakan, mereka mendekati bahaya.

            Gabriel di depannya juga tidak kembali lagi, padahal seharusnya dia sudah kembali dan melaporkan jalan di depannya aman untuk dilewati. Infidel kini was-was dan menghentikan langkahnya serta meraba pinggangnya untuk bersiap mencabut pistol bila sewaktu-waktu ada serangan tiba-tiba. Fiani yang sedari tadi asik membasuh pahanya yang digigit nyamuk  jadi siaga penuh.

            “Sepertinya kita semakin dekat dengan Oase—nama markas Heretic,” bisik Infidel ditengah suara jangkrik.

            “Perasaanku tidak enak,” kata Fiani.

            Gabriel lalu kembali setelah sekian lama menghilang dan dinantikan kedatangannya. Pekatnya gelap kali ini lebih menyamarkan gelapnya tubuh Gabriel. Padahal sebelumnya gelap Gabriel lebih pekat.

            Di depan ada tumbuhan aneh. Kukira itu Heretic, tapi aku tidak menemukan seorangpun disana kecuali serangga. Jadi aku kembali kesini dan memperingatimu.

            “Seperti apa rupanya,” Fiani bertanya.

            Berbeda.

            “Sebaiknya kita periksa lebih dekat,” kata Infidel seraya berjingkat cepat menembus hutan. Fiani dan Gabriel mengikutinya dari belakang.

            Mereka menemukan jamur berbentuk phallus yang senantiasa berdenyut..

            “Jamur ini bentuknya aneh, dan bau,” Fiani hampir muntah dan langsung menutup hidungnya dengan lengan kanannya. Infidel lebih merasa jijik dan mundur beberapa langkah.

            “Apa pikiranmu sama dengan pikiranku, Fiani? Jamur ini mirip penis,” ujar Infidel yang ternyata sudah berada lebih jauh dari posisi semula.

            Tapi Fiani tidak menjawab. Gadis ini hanya menoleh pada Infidel dan melemparkan senyum ganjil. Senyum mesum dengan pipi kemerahan.

            “Kalau yang kau pikirkan itu benar-benar penis, aku akan segera memotongnya,” kata Infidel bersiap dengan pisaunya.

            “Eh! Tidak-tidak,” kata Fiani berusaha menahan Infidel dengan kedua tangannya. “Hih, padahal kupikir benda ini bisa kubawa pulang,” lirih Fiani.

            Mungkin dia salah satu dari Heretic.

            Fiani dan Infidel merasa tidak percaya. Fiani malah tidak mau percaya benda seksi seperti ini adalah Heretic. Jadi dia mengambil pisau dari balik rompinya dan bersiap memotong akar jamur itu serta berniat membawanya pulang. Fiani mendekatinya, tapi jamur itu semakin kencang berdenyut.

            Denyutan jamur itu semakin kencang, menyadari ketidakberesan, Infidel berseru, “awas, Fiani!”

            Fiani mengambil langkah mundur. Sementara jamur itu kian kencang berdenyut dan semakin lama terlihat seperti memompa tubuhnya sendiri. Pompa tersebut semakin kencang dan tubuh jamur itu menegang.

            CROOOOT!

            Fiani yang berada di depannya nyaris terkena serangan kalau ia tidak menjatuhkan tubuhnya kebelakang. Infidel di belakang Fiani sempat menghindar. Gabriel berada di samping, jadi tidak kena.

            CROOT! CROOT!

            Proyektil putih yang keluar dari tubuh jamur tersebut keluar berulang kali. Fiani, Infidel dan Gabriel terpaksa mundur dan segera berlindung dibalik pohon agar tidak terkena.

            CROT! CROT! CROT! CROT!

            Proyektil putih itu lama kelamaan semakin sedikit dan pendek jangkauannya, hingga kemudian berhenti. Proyektil putih yang keluar dari tubuh jamur tersebut saking banyaknya menciptakan kubangan air putih di mana-mana. Beberapa milidetik kemudian, terdengar suara desis dari kubangan air putih tersebut. Pohon tempat mereka berlindung terkena air putih tersebut dan melelehkan batangnya, pohon itu tumbang sehingga membangunkan seisi hutan.

            “Aku jadi punya pemikiran yang semakin buruk tentang benda ini,” ujar Infidel.

            Dia mungkin Heretic

            “Dia tidak mungkin Heretic,” kata Fiani berusaha tidak percaya.

            “Mana ada jamur di hutan menembakkan air putih seperti ejakulasi!” Infidel membentak Fiani.

            “Tapi... tapi... “ Fiani masih tidak percaya.

            Agar kita mengetahuinya, coba sentuh dia, tante.

            “NO! ABSOLUTELY NO!!!” balas Infidel langsung dengan berkali-kali menyilangkan lengannya. Ia merasa jijik melihat jamur itu sangat mirip seperti penis. Ia benci penis. Infidel sangat benci penis karena itu milik laki-laki. Infidel bersumpah tidak mau lagi trauma akibat jamur itu hanya karena mirip penis.

            “Kita tidak akan tahu bila tidak mencoba,” Fiani mendukung Gabriel.

            “PUIH! NO!” Infidel membalikkan pandangannya dari jamur tadi dan berkacak pinggang.

            “Infidel!” bentak Fiani.

            Tante, tolonglah.

            “Kita sudah cukup banyak membuat keributan disini, Blackz pasti mengetahui kedatangan kita. Kita akan musnah!” Fiani berusaha membujuk Infidel.

            Lalu terdengar suara dentuman dari kejauhan. Suara pepohonan yang tumbang dan angin ribut.

            Mereka... datang!

            “Infidel!” Fiani kembali membentak Infidel agar menyentuh jamur itu dan segera pergi dari tempat ini.

            Infidel, setelah mendengar suara dentuman dari kejauhan tadi menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia menyumpah:

            “Sesampainya kembali nanti, beneran kubuka paksa semua bajumu!” kata Infidel kepada Fiani, lalu berlari sambil menghindari kubangan-kubangan air putih. Infidel akhirnya menyentuh jamur tersebut dan langsung membuka resleting depan baju tempurnya.

            Infidel meletakkan tangan kanannya di dada.

“Azad!”

Lalu dengan gerakan mengusap tiap senti dadanya, tato yang memuat informasi jamur itu muncul. Infidel mengambil senter dan membiarkan Fiani serta Gabriel menyusuri dadanya. Ternyata memang benar jamur itu adalah Heretic.

            “Namanya siTUASi, panggilannya Tuas, air putih tadi itu adalah api berwarna putih dan ia punya Silia dibelakang...”

            Belum sempat Fiani membaca semua tato Infidel, rambut-rambut panjang sekonyong-konyong muncul dari balik Tuas. Rambut itu melilit Fiani dan Gabriel. Infidel yang terkejut melihat itu dengan sigap mengeluarkan pisaunya dan menebas silia dengan cepat.

            “Kira harus segera pergi dari sini,” ujar Infidel yang kemudian merasakan denyutan disekujur tubuhnya disertai pusing yang hebat. Begitu juga dengan Fiani dan Gabriel. Mereka kemudian berusaha pergi sebelum sesuatu muncul dari balik kegelapan hutan dan mengarah pada Infidel, Fiani dan Gabriel. Benda diselimuti api yang membara dan melesat dengan cepat.

            “Awas!” Fiani berseru sebelum Infidel melompat kearah Fiani dan membuatnya jatuh ke tanah. Benda berapi itu melesat dengan kencang diatas mereka dan mengenai batang pohon. Benda tersebut segera menancap di tanah setelah menembus pohon sehingga membuatnya tumbang.

            Infidel, Fiani dan Gabriel belum sempat bernapas sekali ketika muncul dari balik hutan, makhluk seperti gorila dengan palu godam di kedua tangannya, bersiap menghempaskan Infidel, Fiani dan Gabriel.

            “Lari!” Infidel memperingatkan. Merekapun berpencar, sedangkan makhluk gorila tadi mengejar Fiani, karena busananya yang mencolok diantara hutan. Infidel bersembunyi di balik pohon dan membaca lebih lanjut perihal kelemahan Tuas.

            KRAK!

            Pohon tempat Infidel berlindung roboh ketika Infidel sedang membaca tato di bawah ketiaknya. Seorang anak kecil disana sedang dalam lompatan tinggi dengan sabit besar di tangannya, bersiap menebas Infidel. Namun, Infidel segera menghindar. Ia telah mengetahui kelemahan jamur bernama Tuas itu. Tapi pikirnya, ia tidak mau lagi bersentuhan dengan jamur itu. Jadi segera setelah menghindar dari serangan sabit besar yang mengoyak tanah tempat Infidel berpijak sebelumnya, ia berteriak pada Gabriel dan Fiani.

            “JAMUR ITU... TARIK DIA SAMPAI TERCABUT!!!” Infidel berteriak kencang dan menghindar lagi menyusul anak kecil tadi berusaha menyabet Infidel dengan tebasan horizontal.

            “Kau coba saja, bocah haram!” ujar Infidel tertawa menghina dan mengeluarkan pistol dari sabuk pinggangnya, mengokangnya sekali dan menembaki anak kecil dengan sabit besar sambil berguling diantara pohon.

            Sedangkan Fiani, setelah mendengar teriakan dari Infidel kehilangan momentumnya menghindar dari pukulan palu godam si gorila. Fiani terlempar jauh diantara pepohonan, senapan di kedua tangannya juga terlepas. Si gorila yang mengetahui lawannya terkena pukulannya semakin beringas dan berniat melumat Fiani sampai penyek.

            Namun, dalam usahanya tersebut, sebuah benda hitam menyerang wajahnya. Gorila tersebut terjungkang kebelakang. Benda hitam tersebut datang lagi saat si gorila sedang jatuh dan menghantam wajahnya sekali lagi.

            Memanfaatkan si gorila yang terjauh, Fiani bangkit. Ia berusaha bangkit setelah menyadari tangan kirinya sangat perih untuk digerakkan.

            “Terimakasih...,” rintih Fiani kepada Gabriel yang sedang melesat dengan sebuah batu besar dalam pegangannya.

Jadi dengan tertatih-tatih, Fiani menyambar senapan dengan tangan kananya dan dengan segera melepaskan tembakan ke arah gorila tersebut sambil berlari diantara pepohonan.

            Si Gorila segera setelah memantapkan posisi terlentangnya mengayunkan lengan kanan yang memegang palu godam ke arah lesatan benda hitam yang memegang batu.

            Kena.

            Gabriel terlempar jauh seperti bola kasti dipukul pemukul bisbol dan menghantam pohon di dekat Tuas. Gabriel hampir tidak sadarkan diri saat silia dari Tuas melilit tubuhnya. Silia Tuas itu mengikat Gabriel dengan sangat kencang sehingga Gabriel kesulitan bergerak melawan. Gabriel diseret menuju Tuas yang bersiap dengan dua buah bola sebesar tubuh Gabriel.

            Dua bola tersebut melesat meninggalkan Tuas dengan dua arah yang berbeda. Gabriel melihat pergerakan kedua bola tersebut tiba-tiba berbelok dengan tujuan menghimpit Gabriel.

            DOR! DOR!

            Suara letusan tembakan terdengar sebelum dua bola tersebut menabrak Gabriel. Gabriel baru menyadari itu adalah tembakan dari Infidel yang tepat mengenai kedua bola tadi. Wanita berkepala plontos itu berlari ke arah Gabriel dengan cepat dengan pisau di tangannya. Pisau tersebut dengan mudah memotong silia yang menjerat Gabriel sehingga Gabriel terlepas.

            “Gabriel! Tarik jamur itu sampai tercabut!” Infidel berseru, kemudian lari lagi setelah melihat sabit besar melesat ke arahnya.

            Gabriel juga turut melesat kencang kearah Tuas. Namun ia tidak tahu bagaimana cara menarik Tuas. Terang saja, Tuas dua kali lipat lebih besar daripada Gabriel saat dia menegang seperti ketika dia menembakkan api berwarna putih tadi. Kali ini, walaupun Tuas tampak lemas dan mengecil, bentuk Tuas tetap lebih besar dari pada Gabriel.

            Jadi, Gabriel mengambil keputusan cepat dengan menarik Tuas dengan memeluk batangnya, kemudian melakukan gerakan melesat ke atas. Tarikan pertama, Gabriel melakukannya dengan seluruh tenaganya. Gabriel merasakan Tuas menggerung. Tapi sampai lelahpun Gabriel tetap saja belum mampu mencabut Tuas dari akarnya. Jadi Gabriel mencoba lagi dengan gerakan yang kontinu.

            Naik.

            Turun.

            Naik.

            Turun.

            Sementara itu, Infidel dan Fiani sedang bertarung melawan Heretic dan hampir memangkas habis semua pohon di sekitar Tuas. Mereka bertarung semakin jauh dari posisi semula—posisi Tuas. Suara tembakan dan dentuman ledakan juga semakin lirih terdengar.

            Hutan yang tadinya ramai kini senyap hanya dengan aktivitas Gabriel yang berusaha menarik Tuas. Tuas juga sepertinya bersikeras agar tidak tercabut dari batangnya dengan mengerahkan silia yang tersisa untuk melepaskan Tuas dari pelukan Gabriel.

            Gabriel menarik sekuat tenaga dan ini yang sudah keberapa kalinya dia naik turun. Silia yang dikerahkan Tuas tidak mampu melepaskan Gabriel. Gabriel juga semakin lelah. Tapi justru, Tuas semakin menegang dengan gerakan naik-turun Gabriel.

            Gabriel merasakan Tuas juga semakin membesar dan menegang. Kini Tuas lebih berat dari sebelumnya. Namun Gabriel tidak mau menyerah. Ia mengerahkan tenaganya lebih pada gerakan naik daripada gerakan turun. Gabriel semakin yakin ketika Tuas sedikit terangkat dari tanah tempatnya menempel.

            Gabriel dan Tuas sama-sama menggerung dalam sunyi. Gabriel melakukan usaha terakhirnya dengan melesat sekuat-kuatnya keatas. Tuas sedang berada pada kondisi puncak ketegangannya.

            UUUUUGH!

            Tuas bergeming.

            CROOOOOT!! CROOOOT! CROOOOT!

            CROT!

            Api putih keluar dari ujung atas Tuas. Api putih itu menyembur tinggi dan jauh. Saat api putih tersebut habis, sisanya keluar dan melumer ke badan Tuas. Api putih tersebut mengenai Gabriel yang kelelahan.

            Tubuh Gabriel seperti terbakar. Pasalnya api putih itu menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Suara-suara mendesis muncul akibat tubuh Gabriel yang kian menipis dan bersamaan dengan itu, Tuas kembali melemas dan terkulai.

            “Gabriel! Gabriel!”

            Penglihatan Gabriel berkunang-kunang. Yang ia lihat hanyalah api putih yang menutupi matanya dan kegagalannya mengalahkan Tuas. Gabriel berpikir F4rend dan yang lainnya pasti kecewa dengan Gabriel. Padahal Tuaslah yang paling mudah untuk dikalahkan. Gabriel berpikir pesimis, ia akan kalah dalam kenistaan.

            “Gabriel!”

            Itu suara Infidel, tapi yang dipanggil tidak merespon seiring dengan tubuhnya yang semakin mengecil.

            Tiba-tiba sebuah tarikan keras menarik tubuh Gabriel dari lelehan api putih yang menempel di batang Tuas. Menggenggamnya dengan kencang dan membawanya lari.

            “Bertahanlah, aku bisa jamin semua informasi Heretic kita ketahui,” Infidel berkata mantap kepada Gabriel dalam genggamannya. Fiani dibelakang mengikuti dengan tergopoh-gopoh. Dibelakangnya juga mengikuti para Heretic yang mengejar, serta dibelakangnya lagi, matahari terbit tanda fajar telah menyingsing.

Read previous post:  
85
points
(1596 words) posted by Dedalu 9 years 10 weeks ago
85
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Battle of Realms | Gabriel | HxH | Pemberontakan
Read next post:  
Be the first person to continue this post

astaga :V:
saya barusan baca apa? Herotic pre-batle apa cerita porno ini? :v
.
demi apapun yang nulis... wkwkwkwkkwk >_<

90

Saya lupa ngasih skor

BWAHAHAHA LAZU BRENGSEK! Bisa bikin tulisan koplak mesum bgini dengan innocent-nya. Go Lazuuu!

100

Ebuset..!!

.
Si tuas ternyata punya ero-power melebihi Infi atau Limbo!
XD
.
Wkakakakak, parah anjrit! Dikocok naik-turun-naik-turun ampe CROOTTT..!
**ngakak guling-guling ampe nabrak tong sampah**

100

akh~... double crot
D:

100

ukh, double orgasm
D:

100

Damn! Triple orgasm
DX

2550

Gabriel unyuw >,<
.
tuas emg gk bsa diapa2in ya, menjijikkan =A=

80

kwkwwkwkwkwk si Tuas dikocok X))
.
Koplak dah ni cerita. Ampun Lazu XD

90

Tuas nyebelin :v

100

DAMN! INI NGAKAK!!! WOAKAKAKAKAKAKAKAK.
.
"Sekitar satu jam berjalan menyusuri hutan dalam pekatnya malam, mereka bertemu jamur mirip penis."
^ Uda kayak quote film fokumenter aja. >.<
.
Sial, Tuas nya bener-bener menjijikkan, sampe ejakulasi 2 kali pulak >.< Gabriel jadi pengocok. =A=

2550

Tuas menjijikkan. :v