Living Things

Lost in The Echo

Aku berdiri seorang diri, di hadapan pohon oak tua yang sama. Segenggam bunga kuning pudar berada di tangan, masih segar dengan akarnya yang ikut tercabut. Tatapanku mengarah pada dua garis yang mengoyak kulit kayu, menunjukkan lapisan dalamnya yang berwarna lebih terang. Dulu, dua sayatan itu adalah bukti dari janji kami. Janji yang dia buat, lalu dia ingkari sendiri. Aku sebagai saksi.

In My Remains

Kami telah berpisah. Jauh. Bermil-mil. Terpisah oleh sesuatu yang abstrak, yang melukai tanpa suara, yang tak dapat dilihat, namun rasanya sangat pekat di dada. Sesuatu yang tak akan bisa kau dengar, karena tak ada suara di sana. Ya, diam. Membisu. Kami membisu satu sama lain hingga tak sadar kami melangkah saling menjauhi.

Burn It Down

Di mana dia sekarang? Aku ingin tahu, sungguh, untuk setidaknya memastikan alasannya menghancurkan janji itu. Janji yang kami buat dengan tawa dan kegembiraan, yang kemudian dia hancurkan begitu saja. Begitu saja, ya, begitu saja. Tahu-tahu hancur, tahu-tahu rusak, tahu-tahu tak berbentuk. Tahu-tahu terlupakan.

Namun tidak, aku tidak akan melupakannya. Aku tidak bisa melupakannya sebelum menemukan dia. Karena aku ingin kami bertemu lagi di titik yang sama dan menghancurkan janji itu bersama.

Lies Greed Misery

Memang, aku marah. Kalau bisa, aku ingin memberinya pelajaran.

I'll Be Gone

Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku kehilangan jejak, kehilangan arah. Dalam diam pula aku berusaha menemukan dia, tetapi lihat apa yang kudapat. Kesia-siaan, kegagalan. Apa dia sengaja menghindariku? Apa dia memang tidak lagi menginginkan aku? Sebagaimana dua kutub yang tak bisa saling bertemu, kurasa memang begitulah kami sekarang.

Castle of Glass

Rumah itu masih terlihat sama. Hanya catnya yang berubah kusam, beberapa kayunya mencuat keluar, lantainya diseraki dedaunan kering, dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Ini rumahnya dulu. Di balkon itu kami dulu sering bermain. Jika kau pergi ke atas sana, kau akan melihat salah satu sisi dindingnya yang dipenuhi coretan garis, lingkaran, dan tanda silang. Permainan kesukaan kami dulu—aku tidak tahu persisnya mengapa kami bisa begitu menyukai tic tac toe. Jika sedang bosan, kami akan bermain truth or dare, atau menangkapi dedaunan gugur yang beterbangan tertiup angin.

Sebuah kenangan. Dasar untuk menyeretnya kembali.

Victimized

Cukup, kurasa. Aku tetap tidak bisa diam saja. Aku tidak bisa menjadi kutub yang terus menerus menjauhinya. Atau, kami adalah dua kutub yang selalu berusaha untuk bertemu, tetapi kami sama-sama berjalan ke arah yang sama seperti anjing mengejar ekornya sendiri?

Roads Untraveled

Itu berarti, aku bisa berbalik. Aku bisa mencoba jalan yang lain, arah yang bertolak belakang. Aku bisa berhenti menjadi kutub yang sama dengannya—kami bisa berhenti menjadi magnet yang saling menolak. Maka aku mulai menyusuri masa lalu kami, meneliti satu per satu setiap kenangan yang tersisa, meniti langkah demi langkah dengan hati-hati.

Sepanjang jalan aku berusaha menyampaikan pesan ini kepada angin, "Di mana pun kau sekarang, ke mana pun kau mengarah, masih ada tempat di sini."

Skin To Bone

Mulai terlihat celah. Aku melihat kelebatanmu, menjadi bayangan, menjadi siluet. Lama kelamaan menjelma menjadi sesosok manusia. Aku mengamatimu diam-diam, dari jarak yang tak kausadari. Lalu kutemukan sesuatu. Kau berubah. Kau memang berubah.

Tiba-tiba aku bersyukur kita berpisah. Dan janji itu rusak.

Until It Breaks

Kau mulai menyadariku. Aku menghindar. Kau mulai mengejarku. Aku bersembunyi. Kau mulai mencariku. Apa maumu? Rupanya kau pun tahu tentang nasib janji kita. Lalu kau berusaha meminta maaf dengan terus berusaha memintaku mendengarkan penjelasanmu, begitu? Tidak perlu, terima kasih. Aku sudah cukup mengamati. Aku sudah cukup meneliti.

Aku bertahan, dan kau mulai menyerah. Selanjutnya, apakah aku menang dan kau kalah?

Tinfoil

Kini arah panah itu berbalik. Ke arahku.

Powerless

Pintar sekali. Kau menemukanku di depan pohon itu. Kau menahanku di sana, sedang meratap ke arah pandang yang sama. Dua sayatan itu. Janji yang kaukhianati. Lalu terlontarlah semuanya—segala macam penjelasan, elakan, bantahan, sanggahan, pembelaan diri. Pengakuan.

Aku tahu kau yang memulai segalanya. Aku melihatmu runtuh karena memulai sesuatu yang salah. Aku melihatmu berlutut dalam sesal karena mengakhiri dengan cara yang juga salah.

Aku berjalan mendekat, menyentuh pundakmu. Memaafkan. Tersenyum tanpa terlihat melihat diriku menang.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Abel
Abel at Living Things (8 years 4 weeks ago)
90

Khas racauan, ya. Tampak melantur ke sana ke mari tanpa pola jelas tapi tumpah ruah semuanya, yang baca ikut terbawa hanyut juga. Suka suka suka :D

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Living Things (8 years 3 weeks ago)

terima kasih sudah mampir :)

Writer Nyx
Nyx at Living Things (8 years 10 weeks ago)
70

Ini bagus dan ngalir. suka dengan sinkronisasi sub judul dan ceritanya.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Living Things (8 years 10 weeks ago)

spontanitas mesin kepenulisan saya emang lagi jalan waktu nulis ini, jadi hasilnya sinkron begini hahaha
makasih udah mampir ^^

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Living Things (8 years 11 weeks ago)
70

untuk apresiasi.
aku juga suka linkin park. lagu2nya terasa emosional banget. ngena aja. tapi cuman album meteora ke bawah. :D

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Living Things (8 years 11 weeks ago)

iya, musiknya juga dinamis, tapi tetep stay di satu "kesan" yg linkin park banget. buat saya sih semua lagu di semua album bagus2 hoho

Writer montinue
montinue at Living Things (8 years 11 weeks ago)
70

nais sh, tapi lebih ke prosa... mungkin lbh tepat masuk ke poem ya

bagus, gw suka penamaan sub'nya

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Living Things (8 years 11 weeks ago)

iya kah? gak ngerasa kayak nulis puisi sih, hehe.
itu pake judul2 lagu di album Living Things ^^
btw makasih ya udah baca komen poin :)

Writer montinue
montinue at Living Things (8 years 11 weeks ago)

iyup, prosa emang gtu kan, baca shakespeare - sonnet aj amp ratusan halaman, dan kategorinya tetep poem..

hahaha iya toh, ga sadar gtu...anda pasti jarang nemu orang yg hampir sama sekali ga tau linkin park, hehehe maaf ya

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Living Things (8 years 11 weeks ago)

saya malah gak tahu menahu soal shakespeare hehe
ooh gitu ya.. perlu perbanyak wacana nih saya :D
gapapaaa gak wajib tahu LP kok xD