Ramadan di Sela Jemari

            Semburat bintang bersinar samar-samar ditutupi awan hitam tipis yang lewat bergerombol sekenanya. Centang-perenang menempel di langit-langit sampai ke kaki bumi. Bintang-bintang ini bermacam rupa, ada yang besar dan terang benderang, ada juga yang kecil tapi percaya diri.

            Lewat jari-jari tanganku, kulihat dan kuyakini para bintang menyusun diri dan mengirim pesan tersirat pada siapa yang menyadari.

            Lebaran tiba besok hari.

 

            Aku sangat-sangat percaya pada keindahan kembang api yang diletuskan bersama kerabat, teman dan keluarga pada malam-malam seperti ini. Riuh rendah sebagaimana mereka malang-melintang bersama bintang di atap bumi, tentu saja mereka adalah sahutan takbir, oleh para orangtua lewat menara masjid yang khusyuk dan anak-anak lewat takbir keliling yang gembira.

            Sedangkan atap bumi ibarat sebulan Ramadan yang senyap nun gelap. Namun tersembunyi diantaranya sang bulan yang dicari-cari dan gemar berlari-lari syahdu. Diantara gelapnya atap bumi itulah mereka tunggang-tungging salat, komat-kamit doa, memohon ampun kepada khalik dan mengungkapkan kerinduannya.

            Romantis sekali malam Ramadan menuju Syawal, sayang sekali bila ada yang melewatkannya.

            Dan salah satu orang yang melewatkannya adalah aku.

            Apalah artinya bila aku cuma duduk sendirian di loteng kamar tempat aku indekos. Menatap langit lewat jari-jari tanganku yang panjang dan kurus-kurus.

            Lalu bila aku mulai bosan, kunyalakan satu buah kembang api sederhana yang hanya memercikkan api, kecil-kecil. Kupegang dan kujunjung tinggi-tinggi. Aku merasa seperti ada bintang dalam genggamanku.

            Kalau habis satu kembang api, kupandangi lagi langit lalu menantangnya dengan dada terbusung dan kuteriakkan takbir mengikuti yang mereka ucapkan lewat pengeras suara masjid.

            Setelah kutantang langit, aku menunggu jawabannya. Kiranya langit memberi pertanda lewat kegelapannya atau awan-awan hitam tipis yang terbang pelan. Atau juga susunan bintang yang kemudian kuciptakan rasi sendiri lewat sela jemariku. Berharap langit memberi petuah untuk orang-orang tenggelam dalam kenestapaan sepertiku ini.

            Bosan menunggu langit menjawab, kunyalakan lagi kembang api. Ternyata kembang apiku hanya tersisa tiga buah lagi dan langit belum menjawab sama sekali! Kuminum saja soda kuning dalam botol air minum disebelahku agar kali ini teriakan takbirku dapat lebih keras dari sebelumnya. Langit harus menjawab kali ini!

            Mereka harus menyaksikannya. Kunyalakan lagi kembang api ketiga terakhir. Percikan apinya ganas sekali memakan habis mesiu yang ditempelkan di seutas kawat. Lalu kujunjung tinggi menghadap langit dan bertakbir lantang.

 

Kembang api ketiga terakhir, 30 Ramadan 1341 Hijriah.

            Aku agak tidak enak hati melarang adikku ikut takbir keliling. Katanya dari para remaja masjid, takbir keliling itu simbol kemenangan, sekaligus syiar Islam. Adikku menirukan perkataan para remaja masjid itu sambil berlinang air mata. Aku gemas bercampur kesal.

            Bagaimana tidak, pendek sekali pikiran para remaja masjid pikirku. Masjid mereka punya bedug dan menara untuk pengeras suara padahal, tapi fasilitas itu diberikan pada orang tua yang sebentar-sebentar terbatuk-batuk mengucap takbir sampai mau lepas nyawanya. Mereka malah menyewa mobil bak, membawa bedug, lalu teriak-teriak gembira sampai bikin jalanan macet. Mending mereka i’tikaf di masjid daripada menyebar pikiran kedangkalannya.

            Adik jadi tersedu sedan karena tidak kubolehi ikut. Kubelikan dia kembang api pelangi. Tangisannya mereda. Jadilah kami main kembang api semalaman di teras rumah. Ayah dan ibu juga ikut, tapi mereka hanya duduk di kursi teras sambil mengoceh pada kami supaya berhati-hati dengan api kembang api.

            Tapi lama kelamaan mereka tertarik juga ikut main. Karena kembang api pelanginya tidak cukup untuk kami berempat, kami beli lagi banyak-banyak. Malam itu kami main sampai adik minta tidur.

           

            Kembang api ketiga terakhirku itu telah habis rupanya. Ah, aku jadi mengenang masa lalu sampai lupa pada tujuanku sebelumnya. Langit tampaknya belum memberikan jawaban padaku, ataukan kenangan itu jawabannya? Tidak, tidak masuk akal. Kunyalakan lagi kembang api kedua terakhir, langit harus menyaksikan.

           

Kembang api kedua terakhir, 30 Ramadan 1342 Hijriah.

            Ayahku marah sekali padaku dan adik karena membeli senapan mainan diam-diam. Ia paling marah padaku karena mengajari adik bermain hal yang berbahaya. Ibu istigfar berkali-kali sambil mengoceh kejadian anak tetangga yang matanya bengkak karena kena tembak peluru plastik.

            Padahal senapan mainan ini kami beli dengan uang tabungan kami sebulan ini. Aku kesal pada ayah dan ibu yang tidak percaya pada alasan kami. Kami berjanji supaya bermain dengan hati-hati dan akan selalu menembak kelangit agar tidak kena orang. Atas permintaan ibu, ayah menyita senapan mainan kami.

            Suram sekali malam lebaran ini. Wajahku muram sedangkan adik matanya berlinang-linang, tapi segan menangis. Kudekati dan kuusap rambutnya supaya dia tabah, air matanya malah tumpah ruah. Walaupun adikku manja begini, aku begitu sayang padanya melebihi orang lain. Aku tidak punya teman sebaya, makanya dialah satu-satunya teman sekaligus adikku.

            Kujanjikan padanya kembang api pelangi lagi, dia tetap cemberut. Dia mau yang lebih dahsyat, tapi aku takut ayah dan ibu bakal marah. Air matanya tumpah lagi. Tidak ada pilihan lain, kubelikan kembang api lebah dan gasing. Akhirnya dia senang juga setelah berhasil kubujuk ayah dan ibu supaya mengijinkan kami main.

            “Mainnya jauh-jauh dari mobil, nanti mobilnya meledak,” nasihat ibu.

            Kami serempak mengiyakan.

            Kembang api lebah—yang bila dinyalakan akan terbang gesit berputar-putar acak—kami nyalakan, ayah dan ibu menegur kami supaya main diluar saja karena berbahaya. Tapi di luar gerimis, kami tidak mau main kembang api hujan-hujan. Ayah dan ibu setuju sambil mendengus.

            Kembang api gasing—berputar-putar bak gasing di lantai teras—lebih meriah percikan apinya dan gesit bergerak di lantai. Ayah dan ibu sangat cemas kelihatannya.

            “Awas masuk kolong mobil, nanti meledak,” nasihat ibu lagi.

            Kami mengiyakan, tapi kenyataanya kami tidak peduli. Kami nyalakan lagi kembang api gasing dua buah, asumsi kami agar bisa beradu dan lebih heboh.

            Adikku bertepuk tangan saat kedua kembang api itu berputar dan berbenturan sekali. Aku ikut senang, ayah dan ibu cemas.

            Pada benturan kedua, salah satu kembang api gasing terpental dan masuk kolong mobil.

 

            Duh, aku menggaruk lenganku yang digigit nyamuk. Kurasakan kulit-kulit yang keras dan berkerak, luka bakarku masih belum pulih sepenuhnya semenjak kejadian tahun lalu.

            Kembang api kedua terakhir juga sudah habis, tanpa ada jawaban dari langit. Apakah kenangan tadi adalah jawaban? Ataukah langit memang tidak menjawab? Ataukan aku terlena kenangan tadi sehingga melewatkan jawaban dari langit?

            Sebenarnya jawaban apa yang kuperlukan? Apa pertanyaanku?

            Mengapa malam lebaran ini hanya aku sendiri yang main kembang api? Mana adik? Ayah? Ibu yang kerap mengomel kalau aku main kembang api? Lantas mengapa aku masih main kembang api sendiri?

            Air mataku serasa mendobrak keluar. Aku ingat tangisan adik kala dilarang ikut takbir keliling atau senapan mainan kami disita. Ditambah sulitnya hidup sendiri tanpa orangtua atau wali. Cari nafkah untuk sendiri, sewa kamar untuk sendiri. Tidak ada lagi yang bisa kuminta petuahnya kalau aku sedang bimbang.

            Aku berani-beraninya menantang langit dan aku malah menangis.

            Lewat kembang api terakhir ini, langit mau tidak mau harus memberikan jawaban. Kumantik korek api pada ujung kembang api. Percikan ganasnya memakan mesiu disepanjang kawat. Kubuka dan kusiram dari atas kepalaku minuman kuning disampingku tadi. Luka bakarku masih gatal sekali, tapi demi jawaban langit, lebih baik kujemput saja jawaban dari pertanyaanku.

            Korek api yang masih berapi kutelan. Kembang api terakhir kugenggam dan kujunjung tinggi dengan dada terbusung.

            “Tuhan, apalah arti Ramadan-Mu untukku lagi?”

Read previous post:  
54
points
(1133 words) posted by Dedalu 9 years 7 weeks ago
77.1429
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | Dedalu | Mimi | pesona | random
Read next post:  
Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Ramadan di Sela Jemari (8 years 45 weeks ago)
90

membuat saya yang merenung akan Ramadhan yang tiap tahunnya berbeda :'(

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 45 weeks ago)

:"((

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)
80

terlepas dari berbagai kesalahan dl penulisan sbgm ditunjukkan kak shinichi, menurutku ini bagus :'(

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)

Makasih kak :'( Saya mesti banyak banyak latihan >.<

Writer Shinichi
Shinichi at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)
60

saya pikir, saya hanya akan bisa membantu dengan penulisan saja.
mungkin ini akan terbaca sepele, tapi "diantara" itu harusnya terpisah. begitu juga dengan "disebelahku". "di" di sana berfungsi sebagai kata depan, yang menunjukkan tempat. akan disambung jika hanya berfungsi sebagai kata kerja pasif.
lalu ini, perhatikanlah:

Percikan apinya ganas sekali memakan habis mesiu yang ditempelkan di seutas kawat.

Sepintas nggak ada rasanya yang "keliru" di sana, kecuali penggunaan "di" pada "di seutas kawat". penulisannya udah benar. tapi "di" di sana nggak cocok. akan lebih cocok kalo menggunakan "pada".

Kembali lagi ke atas. Saya paste di sini:

Aku sangat-sangat percaya pada keindahan kembang api yang diletuskan bersama kerabat, teman dan keluarga pada malam-malam seperti ini.

Nggak ada masalah dalam kalimat itu kecuali tanda bacanya. Tapi ini nggak bisa lepas dari tujuan penulis. Dalam kalimat tersebut terdapat tiga item, yang dipisah menggunakan tanda koma. Penggunaannya yang sedikit keliru.

Cara memisahkannya itu saja sih. Seharusnya ada tanda koma sebelum "dan". Itu artinya "teman dan keluarga" itu terpisah atau merupakan dua item yang berbeda. kalau tidak ada, berarti keduanya tergolong dalam satu jenis. Teman dan keluarga itu jadi satu paket yang setara dengan "teman" pada item sebelumnya. Kesalahan begini sering terjadi siy. Bahkan dalam skala besar. Contoh umumnya terdapat dalam peringatan merokok. Ada tanda koma yang hilang di sana.

Di sini juga. Istilah untuk ini saya lupa. Maaf. tapi bisa googling aja kali ya: penggunaan tanda koma.

Contoh lainnya biar kamunya ngerti, semisal bingung:

Pensil, Kertas, dan Meja. <<< ini bentuk yang sebenarnya menurut bahasa Indonesia. ada koma setelah "dan".

Alasannya tentu ada. Contohnya agak lebih rumit. Tapi saya coba deh. Kali aja bisa membantu.

Pasangan yang lolos seleksi tiga besar tahun ini adalah Rony dan Siska, Kurt dan Ann, dan Bowo dan Sofie.

Coba bila nggak ada tanda koma yang terakhir itu? Bagaimana membaca pasangan Kurt dan Ann dan Bowo dan Sofie? Bingung jadinya :)

lalu, saya yakin ini hanya typo. karena kamu menulis kelangit. "ke" di sana kan harus dipisah dengan kata setelahnya, bila berfungsi sebagai kata depan, atau kata tunjuk begitu.

saya rasa cukup ini dulu soal penulisan. di sisi cerita, saya percaya tiap-tiap orang punya cara menceritakan ide di kepalanya, memilih bagaimana cara menarasikannya. jadi itu lebih kepada selera pribadi. namun, untuk cerita ini, saya cukup menikmatinya. meski show-nya belum begitu "show". bukan masalah di pov. hanya saya rasa kurang greget aja :)

mohon maaf bila kurang berkenan.
kip nulis

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)

Wah, saya baru tau peletakan koma sebelum 'dan' itu. Selamanya saya pikir itu salah karena udah ada kata 'dan'.
Walah belum show, sip sip, saya masih kurang latihan. Makasih banyak mod udah bersedia panjang-panjang komennya >.<

Writer hamdan15
hamdan15 at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)
70

wkwk.
.
.
kisahnya mengharukan sekali.
.
tapi, jangan bunuh diri kk, n_n ....

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)

Enggak bunuh diri kok, dia dibunuh api kak.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)
70

jadi ortunya meninggal karena ledakan kembang api kah? :(
btw yg kembang api lebah dan gasing itu apa gak lebih pantas disebut petasan?

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)

Kena mobil kaka.
Biar seragam semua pake nama kembang api kak, hehe.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)
80

yaampun :'(
awalnya manis tp ternyata akhirnya tragis begitu
tp jadi pelajaran buat orang lain. nice story (y)

Writer Dedalu
Dedalu at Ramadan di Sela Jemari (8 years 47 weeks ago)

Makasi kaka :')