[Post Battle Round 1] The Wingmen’s Quarantine

“Hei Rick... aku punya saran yang bagus untukmu.”

 

Rieke menatap Diane dengan pandangan curiga. Air mukanya berubah waspada.

 

Kendati demikian, Diane tidak memedulikannya. Ia justru melanjutkan, “Aku ingin kau bergabung dengan Kubu Herotic.”

 

***

 

“Eeeee.... APAAAA? Dasar goblooook! Cewek goblok ga punya otaaaak!”

 

Diane lebih memilih untuk mengisap cerutunya dalam-dalam ketimbang meladeni rekannya yang kelewat norak itu. Betti dengan penuh semangat mengungkapkan unek-uneknya. Makhluk itu sekarang sedang berkepala wanita bertubuh pria. Dia melompat ke sana ke mari bak balerina kesurupan, membuat Diane semakin sebal.

 

“Berhentilah bertingkah seperti kutu loncat seperti itu,” pinta Diane, mengembuskan asap cerutu dengan nikmat.

 

“Heh, cewek nggak pake kutang! Aku kayak ayam keselomot api kayak gini juga gara-gara mulut cablakmu nggak punya rem cakram!” cerca Betti pada Diane yang masih duduk tenang dan santai di sofa. “Seenaknya kamu rekrut anggota Herotic baru! Kau lupa kalau si lampir Amelia sudah menutup Manor noraknya itu? Mau kautampung di mana tuh si peserta yang kalah?!”

 

“Aku suruh dia tinggal di karantina,” jawab Diane santai.

 

“Ka-Karantina?” Betti kaget, sampai-sampai wujudnya berubah lagi. Kali ini wajahnya berganti jadi pria brewokan sementara badannya meramping dengan dada menyembul kenyal. “Maksudmu karantina yang kauminta untuk kubuatkan beberapa hari yang lalu?”

 

Diane mengangguk.

 

“Kampreeeeeet!” Betti terbang tak tentu arah seperti balon yang bocor. “Kukira kau menyiapkan karantina untuk anggota Herotic yang terluka!”

 

“Ya, itu juga boleh,” jawab Diane, mengembuskan lagi asap cerutunya.

 

Betti benar-benar gemas pada rekannya yang tetap acuh tak acuh itu. Ingin rasanya dia mengubah Diane menjadi tisu toilet atau semacamnya.

 

“Oke! Terus, si Rieke ini mau kau apain? Kau jadikan pembantu? Atau, jangan-jangan kalau ada pecundang lainnya yang tersisih pada ronde selanjutnya, kau mau merekrut mereka juga?”

 

“Mungkin,” Diane mengangkat bahu.

 

“Aaaaargghh!” Kepala Betti meletus, menyemburkan konferti dan kembang api yang meledak heboh di dalam ruangan. “Memangnya kau ini siapa? Pekerja sosial? Pemilik panti asuhan? Angelina Jolie yang doyan mungutin anak orang?! Kita udah punya kerjaaan, ngapain kau tambahin lagi dengan nampungin mereka?!”

 

Diane tidak langsung menjawab. Dia mengisap cerutu untuk yang terakhir kalinya sebelum menggilas cerutu tersebut ke asbak. “Dia akan jadi wingman-ku.”

 

Wingman? Untuk apa?” Alis Betti yang melengkung rapi terangkat.

 

“Antisipasi dini.”

 

“Terhadap apa?”

 

“Aku sih berharap hal ini tidak akan terjadi, tapi tidak ada salahnya melakukan tindakan antisipasi,” Diane menjelaskan maksudnya. “Aku yakin kau sendiri memiliki kekhawatiran akan hal ini. Kau memang heboh dan menyebalkan, tapi kau tidak bodoh.”

 

“Langsung saja deh. Nggak perlu muji sekaligus ngehina kayak gitu.”

 

“Ini soal sekuritas Herotics sendiri,” kata Diane. “Kita tahu kalau Herotic itu terdiri dari orang-orang sombong yang terlalu tolol untuk akrab satu sama lain. Lihat saja mereka terpecah belah akibat keeksentrikan mereka masing-masing. Aku tidak peduli sih. Yang kupedulikan hanyalah tujuan Lord tercapai. Dan, aku perlu melindungi tujuan itu.”

 

“Karena itulah kita ada, bukankah begitu?”

 

“Benar,” angguk Diane. “Dan, aku perlu memastikan kita benar-benar mampu melindungi tujuan itu dari segala kemungkinan. Aku tidak meragukan kemampuanmu, dan aku pun memiliki kemampuan yang lebih hebat. Akan tetapi, ada baiknya kita punya back up plan untuk mengantisipasi hal-hal seperti... pengkhianatan.”

 

“Pengkhianatan?” Lagi-lagi Betti berganti wujud saking kagetnya. Sekarang dia memiliki wujud lelaki tampan bak personel boyband Korea yang mengenakan rok tutu warna pink. “Kau yakin ada pengkhianat di Herotics?”

 

Diane menggeleng. “Tidak. Sama sekali tidak. Hanya saja, aku bukan orang naif. Akan selalu ada pengecut yang akan menikam punggung temannya sendiri, bahkan di organisasi sesakral agama sekalipun. Jadi, aku sebenarnya tidak akan kaget jika kekhawatiranku ini menjadi kenyataan. Akan tetapi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Makanya aku mengajak Rieke.”

 

“Sepertinya aku mulai memahami isi kepalamu,”  kata Betti, mulai terlihat paham dan tenang. Wujudnya kini wanita seutuhnya. Wanita cantik, ramping, dan seksi. “Kau mengajak Rieke bergabung dengan Herotics bukan sebagai anggota mereka, melainkan sebagai wingman-mu untuk menjadi agen internal affair yang mengawasi Herotics?”
 

“Tepat,” angguk Diane. “Makanya aku menyuruh Rieke untuk tinggal di karantina bukan di Manor nyonya galak itu.”

 

“Bagaimana jika justru Rieke-lah yang berkhianat?” tanya Betti.

 

***

 

"... Jika kau berkhianat, maka aku sendiri yang akan membunuhmu," pungkas Diane, mengembuskan asap cerutunya di depan Rieke.

 

Rieke dapat melihat keseriusan di mata Diane. Dia tidak tahu kekuatan wanita cantik itu, tapi dia tahu dia tidak boleh gegabah dengan meremehkan Diane.

 

Dia kemudian terdiam. Berpikir dan menimbang-nimbang tawaran Diane tadi. Terus terang, dia agak kecewa karena tidak bisa bergabung dengan F4rend dan Dee. Dia ingin sekali berjuang bersama anggota Herotic lainnya. Tapi, harapannya tinggal harapan karena dia tidak mungkin bisa masuk ke dalam Manor-nya Amelia.

 

“Tidak bisakah kau melakukan sesuatu untuk memasukkanku ke sana?” tanya Rieke belum mau membunuh harapannya begitu saja.

 

“Aku tidak bisa,” jawab Diane, mengembuskan asap cerutunya. “Betti mungkin bisa, tapi aku tidak akan mengizinkannya.”

 

“Kenapa?!” todong Rieke, “Aku ingi bergabung dengan Herotics! Izinkan aku bergabung dengan mereka! Kalian punya kekuatan untuk itu, dan aku—”

 

“Percuma saja membujukku, Rick,” potong Diane, dingin, “Tawaranku sudah mutlak.”

 

"Kalau aku bersedia menjadi wingman-mu, apa aku bisa berinteraksi dengan anggota Herotic?"

 

"Barangkali, walau mungkin tidak sering. Aku lebih suka kalau kau bekerja di balik bayang-bayang. Bahkan kalau perlu, jangan sampai para anggota Herotics tahu akan keberadaanmu."

 

"Apa boleh aku membunuh peserta BoR?"

 

"Boleh, tapi dengan seizinku. Kau bergerak dengan seizinku, kau diam dengan seizinku. Dan, terus terang aku senang kau memiliki kebencian mendalam pada BoR. Kau harus memiliki itu untuk menjadi wingman-ku."

 

"Apa boleh aku membunuh Tsuki?"

 

"Aku tak yakin kau mampu. Bahkan melawan Clive atau Deus pun kuyakin kau akan kalah. Aku tidak meremehkan kekuatanmu, tapi level kalian berbeda. Aku sendiri belum tentu bisa mengalahkan Tsuki atau Blackz. Betti mungkin bisa, tapi dia seringkali tidak fokus. Jadi, yah, barangkali kami berdua bisa mengalahkan Clive-Deus atau Link-Xia. Tsuki atau Blackz kami serahkan pada Lord saja."

 

Rieke terdiam lagi.

 

“Jadi, bagaimana? Kau menerima tawaranku?” Diane menjulurkan tangannya, menunggu jawaban dari Rieke.

 

 

***

 

 

Read previous post:  
81
points
(2184 words) posted by HinataUmmi 7 years 44 weeks ago
81
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Battle of Realms
Read next post:  
90

*pilihan yg sulit :3

100

sukaa pasangan Betti-Diane >w<

80

Herotic gak jadi TPCA
:v /

di dominasi oleh dialog

100

Diane Betti beraksi \o/ #goyanggoyang

80

Awasi anak itu baik-baik!

80

wow...