[X Herotics] Dee Mau Pulang

Ronde pertama HxH telah usai beberapa hari yang lalu. Dan Amelia tiba-tiba saja mengajak para anggota Herotics untuk berlibur. Dia berkata ini hanya acara bersantai sejenak sebelum melaksanakan rencana besar untuk Ronde 2.

Dan tempat yang dipilih oleh Amelia membuat para Herotics bersorak, terlebih lagi Dee.

Saat ini para Herotic sedang berada di bagian tersembunyi Negara Cahaya di Dunia Baru, tempat Dee berasal. Pemandangan yang menyejukkan mata terhampar sejauh mata memandang. Tanah berumput, pepohonan rindang, taman bunga berwarna-warni yang cantik, pelangi yang menghias langit disertai kilauan-kilauan perak yang membuatnya terlihat semakin menakjubkan. Dan di kejahuan tampak sebuah menara putih bercahaya yang menjulang tinggi sampai ke langit, Menara Valgus.

Saat itu Dee dan F4rend sedang bersantai sambil bersandar di sebuah pohon. Beberapa kupu-kupu terbang di sekitar mereka, membuat Dee tersenyum senang. Dee menjulurkan tangan kanannya, salah satu kupu-kupu bercorak hitam-kuning segera hinggap di ujung jari Dee.

"Kupu-kupu itu serangga yang cantik," komentar F4rend melihat kelakuan Dee.

"Tapi hidupnya singkat."

Kupu-kupu yang ada di jari Dee terbang perlahan. Dee hanya memandangnya dalam diam. Belum jauh kupu-kupu itu terbang, kupu-kupu itu tampak oleng. Dengan sigap Dee mengulurkan tangannya dan kupu-kupu itupun jatuh dengan lembut ke tangan Dee.

Dee memejamkan mata seraya mendekap kupu-kupu yang sekarat itu. F4rend hanya melirik gadis kecil itu dalam diam. Sesaat kemudian Dee membuka mata, dari dalam dekapannya yang mulai melonggar, terbanglah kupu-kupu tadi dengan cantik. Kupu-kupu itu mengitari Dee sejenak kemudian terbang perlahan di hadapan F4rend.

"Dee lebih suka lebah dan kumbang tanduk. Lebah itu serangga yang menakjubkan. Kerja sama mereka luar biasa. Dan mereka menghasilkan madu yang manis bersama-sama. Menurut Tuan Ksatria, apa kita semua seperti lebah? Paman Limbo, Tante Infi, Kakak Fia, Kakak Fivi, Paman Helmut, Kakak Zein, Gabriel, Ratu Amelia, Tuan Ksatria dan Dee. Kita semua bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Bukankah itu seperti lebah?" ujar Dee senang.

F4rend mengangguk pelan. Kerja sama lebah memang menakjubkan, dan itu bisa diumpamakan sebagai X Herotics.

"Dan kumbang tanduk. Dee sangat suka kumbang tanduk." Kali ini senyum Dee mengembang lebih lebar. "Tuan Ksatria tahu kenapa?"

F4rend menggeleng. "Kenapa?"

"Tentu saja karena kumbang tanduk mirip Tuan Ksatria~!" girang Dee seraya memeluk lengan F4rend. F4rend termenung sejenak, namun kemudian ia mengusap-usap kepala gadis kecil itu dengan lembut.

"Dan Dee seperti bunga," gumamnya pelan dan tak ada seorang pun yang menyadari bahwa saat itu sebuah senyum tipis terukir di bibir F4rend.

Lama mereka bertahan dalam posisi seperti itu. F4rend kemudian mengamati para anggota Herotic lain yang sangat berisik. Terlihat di kejauhan adegan kejar-kejaran antara Fia, Limbo, dan Infi. Sesekali terdengar suara tembakan yang sepertinya berasal dari wanita botak itu. Kemudian ada Gabriel yang sedang tidur dengan nyaman di ranting sebuah pohon kecil. Helmut dan Zein terlihat sedang adu kekuatan, yang diawasi oleh Fivi. Amelia tidak terlihat di manapun. Mungkin ia sedang memperbaiki riasan wajahnya seperti biasa.

Semilir angin sejuk menerpa wajah F4rend membuatnya mulai mengantuk. Suara dengkuran lembut terdengar berasal dari sisinya. Ia melirik Dee sekali lagi yang kini sudah tertidur dengan nyaman sambil tersenyum, masih sambil memeluk lengan F4rend.

F4rend menghela napas. Entah kenapa, dadanya terasa begitu sesak. Hanya saja sepertinya kali ini dadanya dipenuhi oleh sesuatu yang menyenangkan.

Kehangatan.

* * *

F4rend mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tak sadar bahwa sejak tadi ia tertidur. Kemudian ia teringat mimpi yang baru saja dialaminya. Rasa senang segera memenuhi dadanya, namun itu hanya sesaat.

Suara napas tercekat dari gadis kecil yang terbaring lemah di hadapannya menyadarkannya, membuat ulu hatinya ngilu.

Ini semua salahnya.

Itulah yang ada di pikirannya saat ini. Rasa bersalah, khawatir, takut akan kehilangan sesuatu yang berharga, semuanya bercampur menjadi satu, menciptakan sebuah perasaan kecewa yang teramat kental.

Ya, F4rend kecewa pada dirinya sendiri. Karena kebodohannya saat melawan Akero, Stellia, Luke, dan Rieke telah membuat Dee celaka.

F4rend menatap Dee dengan sendu. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang begitu dalam. Diulurkannya tangannya untuk mengusap kepala gadis kecil itu dengan pelan. Tangannya gemetar. Ia mengatupkan rahang kuat-kuat. Rasa nyeri itu semakin menjadi. Ia benar-benar tidak ingin Dee menderita lebih dari ini.

"Dee ...," lirih F4rend.

Suara besi berjatuhan mengejutkan F4rend. Ia menoleh dan mendapati Fivi berdiri mematung dengan wajah pucat di sana. Tak jauh darinya, sebuah nampan dan jarum akupuntur berserakan di lantai.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya?!"

"Eh ...?"

Fivi bergegas menghampiri Dee dengan panik. F4rend sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya mengusap kepala gadis kecil itu tadi, sama sekali tidak melakukan hal yang aneh.

F4rend memperhatikan Fivi yang tengah menancapkan beberapa jarum akupuntur di tubuh Dee dengan serius. Napas Dee terdengar semakin berat, peluh membasahi wajahnya yang semakin pucat. Alisnya mengernyit seolah ia sedang merasakan sakit yang luar biasa. Saat itu, sebuah firasat buruk menyergap dada F4rend.

"Apa yang terjadi?" Tanya F4rend khawatir. Lama F4rend menunggu jawaban, namun gadis itu tetap diam, serius dengan apa yang sedang dilakukannya. Keringat dingin menetes dari kening gadis berkacamata hitam itu, giginya bergemeletuk, ia terlihat berusaha keras, begitu serius, ... dan nyaris putus asa.

"Kat4kan P4daku ap4 y4n9
Terj4d1!?" Raung F4rend sambil mencengkram kerah rompi Fivi.

"Diamlah dan biarkan aku mengurusnya!" Balas Fivi seraya menepis tangan F4rend. Ia pun mulai mengecek suhu tubuh Dee, detak jantung dan napasnya.

"Kalau kau ingin gadis kecil ini selamat, sebaiknya keluarlah, duduk yang manis dan jangan mengacau," ujar Fivi pelan.

F4rend hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Kau harus bisa menyembuhkannya."

"Aku sedang berusaha, F4rend. Meskipun aku tidak yakin tapi ... aku harap kau mau mempercayakan gadis kecil ini padaku. Saat ini kondisinya benar-benar sekarat. Bahkan kemungkinannya untuk selamat hanya--"

"Kau harus menyembuhkannya!!" Tegas F4rend. "Atau aku akan membunuhmu!"

Fivi tersenyum kecut. "Meskipun kemampuanku tidak sehebat gadis kecil ini, tapi kau bisa percaya padaku."

* * *

"ALVAN! NATALIA! CEPAT KEMARI! AKU BUTUH BANTUAN!!"

F4rend tidak bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Ia hanya bisa berdiri dengan gelisah di depan pintu, diawasi oleh Limbo dan Fia. Ia mencoba menggosok giginya terus-terusan menggunakan siwak kesayangannya, namun pikirannya terus saja melayang, memikirkan gadis kecil yang sedang sekarat di dalam sana, hingga ia tak sadar bahwa giginya sudah berwarna merah karena darah.

"Om F4rend, tenanglah ...," ujar Fia, meskipun sebenarnya ia juga khawatir. Bagaimana tidak, Dee si peri ceria itu sudah seperti adik baginya. Ia begitu terkejut saat F4rend membawa pulang Dee ke Manor dalam keadaan kritis. F4rend tampak benar-benar kacau, seperti saat ini. Dee yang selalu bisa menenangkan F4rend, kini dalam kondisi sekarat. Mereka cuma bisa berharap pada kemampuan akupuntur Fivi.

Alvan tiba-tiba membuka pintu kamar, ia tampak panik. Sekujur tangannya penuh darah. Buru-buru Alvan meninggalkan tempat itu entah menuju ke mana. Melihat hal itu tentu saja kekhawatiran F4rend bertambah.

Pintu yang tidak tertutup rapat memberikan celah bagi F4rend untuk mengetahui apa yang terjadi pada Dee.

Betapa terkejutnya ia melihat gadis kecil itu meronta-ronta dalam pelukan Natalia. Mulut gadis kecil itu berkali-kali memuntahkan darah segar. Dan yang paling aneh adalah sayap dan gelang warna-warninya yang perlahan berubah warna menjadi abu-abu seiring semakin pucat dan lemasnya gadis itu.

"DEE!!"

Limbo dan Fia dengan sigap menahan F4rend yang hendak masuk ke ruangan itu.

"JANGAN SAKITI DEE!!"

Alvan kembali dengan membawa beberapa pisau kecil dan perban serta mangkuk berisi air hangat. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun. Hanya berlalu melewati F4rend, Limbo, dan Fia kemudian memasuki kamar dan tak lupa mengunci pintunya.

F4rend tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya bisa berdiri mematung sambil menatap pintu di depannya dengan tatapan kosong.

Sekian jam berlalu, F4rend masih berdiri di depan kamar memandang lurus pada sosok yang tengah tertidur berbalut perban.

"Dia cukup beruntung. Aku sampai harus memotong sayap kanannya yang terbakar dan mempercepat regenerasi pada sayapnya. Sayap gadis itu benar-benar sensitif. Bisa dibilang di sanalah kelemahan fatalnya," ujar Fivi yang berdiri di samping F4rend. "Kita hanya bisa berharap pada racun pemulihan yang ada pada diri gadis kecil itu. Aku tidak bisa bilang kita sudah bisa tenang, bisa saja setelah ini kondisinya malah semakin buruk."

Meskipun tidak melihatnya, tapi Fivi tahu wajah laki-laki di sampingnya menegang.

"...tapi untukmu, mungkin kau bisa tenang. Aku percaya gadis kecil itu lebih kuat dari yang kita bayangkan. Kau juga pasti tahu itu."

F4rend belum bisa tenang. Tapi setidaknya ada satu hal yang harus dia lakukan.

"Terima kasih, nona Felicita."

Fivi mendengus. "Aku tidak melakukan ini dengan gratis, tuan munafik. Jadi, kau mau membayarku dengan apa?"

F4rend yang sejak tadi terus menatap Dee yang sedang tertidur segera berujar, "Tubuhku. Saya akan membayar anda dengan tubuh ini."

Fivi tertawa geli. "Aku bukan wanita seperti itu. Dan aku yakin kau juga bukan tipe pria murahan seperti Limbo brengsek itu."

F4rend menoleh pada Fivi, menatap wanita itu dengan serius. "Mulai sekarang nyawa saya ada di tangan anda."

Fivi tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai.

"Mata dibalas dengan mata, ya? Sungguh naif," komentarnya kemudian berlalu meninggalkan F4rend yang kembali menatap Dee dalam diam.

Tidak lama kemudian mata peri kecil itu terbuka perlahan. Sosok yang pertama ia lihat adalah seorang pria dengan rambut berantakan yang menutupi wajah kanannya dan mengenakan tuxedo hitam. Bibir mungilnya tersenyum lemah.

"Tuan Ksatria ..."

Mata F4rend terbuka lebar. Bergegas ia menghampiri gadis kecil yang tengah terbaring di atas dipan itu.

"Dee baik-baik saja, kan?"

Pertanyaan yang sungguh bodoh untuk dilontarkan, pikir F4rend.

"Maaf membuat Tuan Ksatria khawatir ...," ujar Dee lemah. "Oh iya, tadi Dee mimpi indah sekali. Dee, Tuan Ksatria, dan yang lainnya sedang berlibur di tempat asal Dee, Negeri Cahaya. Kita semua bersantai di lapangan rumput yang dikelilingi pohon. Ada pelangi, kupu-kupu, ..."

F4rend termenung. Mimpi itu sama seperti mimpi yang dilihatnya.

"...Dee mau pulang."

Kalimat akhir itu membuat F4rend menatap Dee. "Dee mau pulang ke tempat Ratu Flo ... Dee ingin menemui Ratu Flo. Dee rindu pada Ratu Flo ..."

"Anda lebih menginginkan Ratu Flo dibanding saya?"

Pertanyaan itu membuat Dee sadar akan kesalahannya. "Tidak, maksud Dee bukan seperti itu ..."

"Kita semua yang ada di sini tidak punya tempat untuk pulang," ujar F4rend dingin.

Dee menatap cemas pada F4rend yang sepertinya kesal karena ucapan Dee tadi.

"Itu tidak benar, Tuan Ksatria! Kita semua punya tempat untuk pulang!"

"Kita hanya salinan. Bukan yang asli."

"Mirror Manor adalah rumah kita!!"

Napas Dee tersengal-sengal mengucapkan itu. Ia kesal, benar-benar kesal.

"Itu benar, tempat ini adalah rumah kita ..."

Dee tercengang, baru menyadari bahwa F4rend tersenyum saat mengatakan itu.

"Dee tidak perlu pergi ke tempat Ratu Flo, karena di sinilah rumah Dee, bukan Negeri Cahaya."

Dee tampak ingin menangis mendengar hal itu. Entah ia harus senang atau sedih akan kenyataan itu. Sungguh ironis.

* * *

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yanuar
yanuar at [X Herotics] Dee Mau Pulang (8 years 22 weeks ago)
100

yuhu

Writer Rendi
Rendi at [X Herotics] Dee Mau Pulang (8 years 22 weeks ago)
80

sabda Authonya F4rend:
"Galau! Maka galaulah F4rend!"
.
waoo F4rend ngancem orang! Serem >,<

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at [X Herotics] Dee Mau Pulang (8 years 22 weeks ago)
80

Jadi, di sinilah rumah kita? Apa kita akan tinggal di sini selamanya? Mampukah Mirror Manor tetap bertahan?

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at [X Herotics] Dee Mau Pulang (8 years 22 weeks ago)
100

F4rend galau!
:v

Btw, itu si petani buta dah lama gak liat baru nongol lagi
:D