[Round 2] Tobari Hideya - C4 : Coward’s Combat Cheat Codes

C4 : Coward’s Combat Cheat Codes

Before The Battle – Game Startup

Notice : You may omit this part.

(Skipping the intro would not hinder the actual game progress)

<Sound : All Audio On>

“—tidak ada! Dia tidak ada di mana-mana!”

 

Pagi itu oase antar-realm dikejutkan dengan sebuah teriakan cemas dari satu-satunya wanita yang tersisa di tempat itu – Rexanne. Suara yang menggantikan ketiadaan ayam jantan berkokok untuk menandakan fajar telah menyingsing.

“Tidak ada...ke mana dia menghilang?”

Rexanne begitu cemas sehingga tidak menyadari sesosok pria sudah menguntitnya dengan riang sejak ia mulai mencari-cari ‘sesuatu yang hilang’ pagi ini. Melihat sang wanita berbalut pakaian serba putih itu tak kunjung berhenti mencari, agaknya si pria menjadi penasaran dan akhirnya menampakkan diri.

“Hai cantik~,” sapa Luke si hidung belang dengan senyuman menghibur. “Pagi-pagi kok cemberut? Sayang lho, padahal hari kan baru dimulai. Ayo kita mulai dengan senyuman supaya pagi ini cerah seperti mentari.”

Kata-kata Luke ternyata tidak cukup mempan untuk menepis kecemasan Rexanne saat ini. Namun demikian, kelihatannya Luke berhasil menarik perhatian sang wanita berambut coklat muda untuk menghampiri dirinya dan bertanya,

“Apakah kau melihat Stellia?”

Luke berpikir sejenak.

“Stellia? Stellia.. Aha, Stellia yang itu, ya? Ooh, Stel-lia. Gadis cilik, lincah nian~.”

“Tolong berhenti menyanyi kalau maksudmu menghiburku karena aku tidak terhibur dan serius di sini. Jadi, kau tidak melihatnya?”

Luke menggeleng pelan tanda tak tahu.

“Ke mana hilangnya dia...,” Rexanne terus bertanya dengan nada iba. “Gadis malang.. Dia sudah dipaksa ikut pertarungan barbar seperti ini, dan sekarang dia menghilang begitu saja... Bahkan kabin yang menjadi kamarnya juga ikut menghilang.”

“Kabinnya juga menghilang? Jadi dia benar-benar menghilang begitu saja?”

“Makanya aku khawatir! Ditambah lagi...kalau dia tidak ada, maka aku menjadi satu-satunya perempuan di antara kumpulan laki-laki tak senonoh seperti kalian semua...”

“Ah, jadi dia menghilang ya...,” Luke tidak menghiraukan kalimat terakhir Rexanne dan menerawang ke angkasa. “Sayang, padahal gadis seperti dia pasti akan jadi cantik sekali dalam 10 tahun ke depan.”

“Pedofil!”

Rexanne menampar pipi Luke, membuat pria berambut ikal itu terjengkal ke tanah.

“Tidak bisakah orang sepertimu menanggapi situasi seperti ini dengan serius? Apa semua laki-laki yang kutemui harus sebodoh ini bahkan di pagi hari?”

“Uh.. Aku kan bicara prospek masa depan..,” ujar Luke lemah, masih dengan senyum terulas di bibir. “Kalau kita bicara fakta masa kini, tentu saja kamu lebih cantik.”

“Ap—“

“Jadi jangan cemburu dong, cantik~.”

Wajah Rexanne seketika merona memerah, entah karena naik pitam digombali terus (tsun) atau karena terpesona dengan gombalan Luke (dere).

“A—Siapa yang cemburu!? La-lagipula siapa yang peduli dengan pendapatmu? Dan berhenti memanggilku dengan sebutan ‘cantik, cantik’ seperti itu!!”

Ucapan itu diiringi dengan tendangan Rexanne yang mendarat tepat di wajah Luke, menghapus senyuman sekaligus kesadaran sang pria penggoda tersebut.

 

Selain Edward dan Hideya yang tidak punya kemampuan mendengar untuk dibangunkan oleh pekik suara Rexanne pagi ini, nyaris semua mahluk yang menghuni kabin-kabin oase sudah terbangun saat matahari berangkat ke peraduannya di tengah langit. Salah satu dari mahluk tersebut adalah Altem, yang sejak terbangun tanpa sengaja mendapati polah tingkah dua muda-mudi yang di matanya kelihatan bertengkar hanya karena kasus anak hilang.

“Dalam pertarungan untuk bertahan hidup seperti ini...naif sekali kalau mereka mencemaskan hilangnya satu jiwa yang tidak kompeten,” gumam Altem dari ujung hutan di kejauhan. “Mereka pasti mahluk yang terlalu lama terbuai oleh kedamaian sampai sebegitu cemasnya hanya karena rasa kehilangan.”

“Hai mahluk, sesungguhnya bila kamu berphallus maka hendaknya kamu mengerti kecemasan mereka.”

“...?”

Altem menolehkan kepala besarnya menuju arah sumber suara, dan mendapati sesosok mahluk kecil yang entah sejak kapan tengah melangkah-langkah kecil dengan rambut-rambut(?)nya.

“Kukira siapa...ternyata hanya mahluk tak jelas sepertimu,” gerutu Altem. “Sedang apa kau di sini?”

Mahluk tak jelas yang dikenal sebagai Si Tuas I tidak serta-merta menjawab Altem, namun semakin mendekat dan kembali berkata,

“Sesungguhnya tanpa rahim wanita, maka tidak akan ada artinya phallus ada di dunia. Maka dari itu sayangilah wanita sebagaimana kamu menyayangi phallusmu sendiri.”

“...aku benar-benar tidak mengerti, tapi kalau maksudmu mereka cuma khawatir akan ketiadaan betina dari jenis mereka, maka aku tetap merasa itu adalah kekhawatiran tak beralasan. Selama kita bertarung, selama itu pula kita belum berada dalam masa damai – dan tidak ada alasan untuk melangsungkan keturunan kalau kita belum mencapai situasi aman bagi generasi berikutnya.”

Sebenarnya Altem ingin menyudahi pembicaraan ini, akan tetapi ternyata Tuas kembali membalas,

“Dan bila didatangkan padamu cobaan berupa peperangan, maka tanamkanlah dalam hatimu bahwa setiap kematian akan diiringi dengan kelahiran. Dan tidak akan ada kelahiran manusia di muka bumi tanpa adanya phallus bagi kaum laki-laki.”

Altem menghela napas, walau mungkin bagi orang normal helaan napas itu terdengar seperti sebuah geraman.

“...kau tahu, aku merasa pembicaraan kita tidak berkesinambungan.”

“Tidak ada hal di dunia ini melainkan sebuah takdir yang digariskan. Tidak pula apapun yang digariskan di dunia ini adalah sebuah kesia-siaan—“

Untuk kalimat Tuas yang terakhir ini, Altem sedikit tertegun dan baru merasa kalau ada secercah kebijaksanaan dalam kata-kata sang mahluk kecil.

“Kau..”

“—karenanya jangan sia-siakan phallusmu selama jiwa masih di raga, selama wanita masih di depan mata.”

“......”

Altem sedikit menyesal sudah percaya kalau mahluk di sebelahnya ini lawan bicara yang baik, meski hanya sesaat.

 

Lepas dari daerah kabin dan hutan yang merupakan lingkar tengah oase, tampaklah Haruo Damon yang tengah membasuh mukanya. Meski Blackz dengan baik hati (?) telah menyediakan kamar mandi di setiap kabin, Haruo merasa air danau jauh lebih segar dari air keran.

Bicara tentang air keran, ke mana sebenarnya keran dan pipa air di kamar mandi itu tersambung?

“....”

Ah, memikirkan sesuatu yang tidak relevan seperti ini bukan seperti Haruo. Maka ia biarkan pikiran itu sekedar menjadi angin lalu.

Usai membasuh mukanya, Haruo kemudian meminum air danau tersebut. Danau itu begitu jernih, hingga Haruo bisa melihat betapa beningnya dasar dari danau tersebut, yang semakin ia perhatikan dengan seksama seperti berubah warna menjadi semakin hitam.

“.....?”

Tunggu, hitam?

Mendadak Haruo mengambil langkah mundur ketika menyadari warna hitam yang ia lihat bukanlah dasar danau, melainkan—

“—Blackz?!”

Sesosok mahluk yang berbentuk seperti siluet manusia namun sama sekali bukan manusia dengan hitam sebagai satu-satunya warna tubuhnya muncul dari air seperti buaya naik ke tepian. Sebuah proses yang menjijikkan bagi Haruo, melihat Blackz seolah-olah terbentuk dari gumpalan-gumpalan hitam yang awalnya merupakan air danau.

“Selamat pagi, Haruo Damon,” sapa Blackz tanpa mengindahkan Haruo yang sedang memuntahkan isi mulutnya. “Kulihat hampir seluruh prajurit [Heretic]-ku sudah siap menyongsong hari ini. Bagus, sekarang aku tinggal memanggil Xia dan Link untuk....sebentar, ada apa denganmu? Kau sakit perut?”

Haruo dengan gusar menunjuk ke arah Blackz seraya berseru,

“Kau! Kenapa kau muncul dari air danau!? Memangnya kau roh penunggu danau, hah!?”

Blackz menyunggingkan seringai putihnya sambil mengangkat kedua tangannya.

“Ketahuilah kalau jabatanku di luar peranku sebagai ketua kubu [Heretic] adalah ‘Tukang Air’!” ujarnya bangga. “Selama masih berurusan dengan air, aku bisa berhubungan dengan apapun, dan berkuasa atas air seperti apapun yang kumau. Jadi, tidak aneh kalau aku muncul dari danau oase ini, karena danau inilah pusat air terbesar di tempat ini.”

“Jorok!” seru Haruo dengan nada kesal. “Jadi kami minum dan mandi dengan air bekas badanmu yang penuh daki?”

Blackz mengacungkan salah satu tangan bulatnya, yang kemudian membentuk sebuah jari di ujung yang bergoyang-goyang.

“Ck-ck-ck. Pertama, tubuhku ini tidak menyimpan kotoran seperti kalian yang punya kulit berambut dengan minyak dan keringat. Kedua, aku sudah menyediakan kamar mandi dan kafe untuk kebutuhan harian kalian, jadi tidak ada yang meminta kalian minum dan mandi di danau. Dan ketiga...ah sudahlah, kalau ingin muntah lagi muntah saja dulu.”

Haruo merasa mulas dan lemas setelah isi perutnya dikuras, padahal ini baru pagi hari. Ternyata kemampuan serangan psikologis ketua kubu [Heretic] ini memang tidak bisa dianggap main-main...

“Kurasa sudah saatnya aku menjelaskan pertarungan kedua kalian nanti, karena itulah aku muncul di sini,” Blackz berlalu meninggalkan Haruo yang masih terkapar di pinggiran danau. “Dan karena kini giliranku menentukan apa yang kumau, aku ingin kalian semua menampilkan yang terbaik! Kita perlu briefing pagi!”

“Heh.. Hoh.. Beefing pagi? ...sarapan pagi ini...beef?” tanya Haruo memegangi perut kosongnya yang naik-turun.

“Beef? Oke, akan kupesankan agar Xia membuatkanmu apapun beef yang kau mau. Aku tidak ingin salah satu prajuritku tidak dalam kondisi prima di pertandingan nanti.”

 

Dua buah ketukan terdengar di dua buah pintu kabin. Kabin kayu yang menjadi kamar setiap anggota dari [Heretic] itu adalah bangunan yang tidak begitu luas, hanya cukup untuk memuat sebuah tempat tidur dengan sedikit ruang kosong di dalamnya dan sebuah kamar mandi. Dengan kata lain, tempat itu sebenarnya begitu sempit sehingga sebuah ketukan di pintu akan langsung terdengar begitu dekat oleh mereka yang sedang terbaring di kasurnya.

Sayangnya, kedua penghuni kabin-kabin tersebut sama-sama tuli, jadi tampaknya mereka tidak mendengar ketukan pintu yang tidak juga berhenti sejak tadi.

“Cuma mereka berdua yang belum ada di kafe untuk pengarahan dari Master Blackz,” ujar Xia San Loo – salah satu utusan Blackz yang tengah mengetuk kabin milik Tobari Hideya. Kelihatannya ia cukup sebal karena waktu mereka lama tersita hanya untuk membangunkan dua peserta ini.

Di sebuah kabin yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri, terlihatlah Link Arturo di depan kabin Edward Kalashnikov – dengan pembawaan yang lebih tenang daripada Xia. Kelihatannya ia mengerti kalau tidur sampai siang hari adalah kenikmatan tersendiri bagi seorang prajurit selepas pertarungan sengit.

Namun Xia tak mau menunggu lebih lama lagi, karena baginya perintah dari Blackz adalah absolut!

“Tobari Hideya! Dalam hitungan tiga, kalau kau tidak keluar juga, maka aku akan mendobrak pintu ini secara paksa!”

Untuk sesaat rasa buru-buru yang ada di kepalanya membuat Xia Loo bahkan lupa kalau orang bernama Tobari Hideya tidak akan bisa mendengar ultimatumnya.

“Link, lakukan juga pada pintu si Edward itu,” perintahnya penuh semangat. “Dalam aba-abaku, satu...dua...ti—“

“--!?”

Semuanya terjadi bagai kilasan film yang tak berhenti.

Adalah Xia Loo yang mengangkat kepalan tangannya dalam hitungan dua, dan meluncurkannya sekuat tenaga dalam hitungan tiga. Di saat yang sama sebelum hitungan ‘tiga’nya rampung, pintu terbuka, meski tidak sempurna.

Lalu pukulan yang sudah terlanjur dilancarkan sedemikian rupa di detik sebelumnya membanting pintu tersebut hingga meluncur ke ujung dinding di dalam kabin.

BRAKK!!

Pintu tersebut retak – kalau bukan patah menjadi dua, lalu terlepas dari engselnya, ikut menghempas seseorang yang membuka pintu barusan dan tak tahu apa-apa.

Sementara Xia Loo hanya menganga menyadari apa yang baru saja diperbuat olehnya.  

“Uwaaah.. Kelihatannya aku terlalu berlebihan.”

Pintu yang rusak itu akhirnya terbelah, memperlihatkan sosok lemah Tobari Hideya yang tersungkur di ujung sana.

“...ah, salahku, salahku,” ucap Xia dengan nada sedikit menyesal. “Link, bagaimana dengan yang di sana?”

“Masih tidur seperti binatang nokturnal, dan tidak kelihatan akan bangun,” jawab Link di kabin sebelah. “Biar kubawa saja dia dan bangunkan dia di sana.”

“Tolong bawakan juga yang di sini,” pinta Xia lagi. “Aku harus minta maaf padanya nanti.”

 

Tobari Hideya tidak mengerti kenapa ia terbangun dengan balutan perban di ruangan yang bukan kamarnya, dengan semua orang berkumpul  di ruangan tersebut dan seorang gadis berpakaian khas etnis Cina terlihat meminta maaf padanya untuk sesuatu yang ia tidak mengerti kenapa. Apapun itu, kelihatannya sebentar lagi akan diadakan sebuah pertemuan selepas sarapan, dan Hideya entah kenapa mendapatkan pelayanan khusus dari si Cina dengan disuapi banyak sekali daging sapi.

Hideya melihat hanya ada enam orang selain dirinya yang ia kenali sebagai ‘peserta’. Ke mana orang kedelapan yang harusnya ada di sini?

Begitu semua selesai dengan sarapan mereka, orang-orang mulai membicarakan sesuatu, namun malang bagi Hideya, ia tidak bisa membaca gerakan bibir dan tidak pula mengerti apa yang mereka bicarakan. Belum lagi si Cina menyuruhnya berbaring di salah satu ujung ruangan, seolah mengeksklusi dirinya agar berada di luar lingkaran mereka yang tengah berdiskusi.

Hideya ingin mengeluarkan memonya untuk ikut ‘berbicara’, namun perban-perban yang melingkari tangannya sungguh menghalangi. Padahal rasanya yang sakit hanya sedikit di bagian punggung dan perut, itupun sudah tidak seberapa. Jadi untuk apa perban-perban sebanyak ini?

Merasa ditinggalkan sendirian, Hideya akhirnya memilih untuk memejamkan matanya kembali, sementara para [Heretic] memulai briefing tanpa dirinya.

 

“Stellia...dipulangkan?”

Rexanne adalah yang pertama mengangkat topik hilangnya salah satu anggota kubu [Heretic], dan jawaban dari Blackz ini sungguh tidak masuk akal baginya.

“Dipulangkan bagaimana maksudmu?” tanyanya sekali lagi. “Dan kenapa?”

Semua yang terduduk di meja makan menatap ke arah Blackz, tampak dengan santai memimpin apa yang ia sebut sebagai briefing pagi ini. Beberapa hal telah mereka diskusikan, dan Rexanne mengambil kesempatan ini untuk bertanya kejelasan nasib mereka yang ada di sini.

Blackz pun berdehem pelan dan menjawab.

“Aku dan Moon – atau Tsuki, begitulah para [Heroes] memanggil dia – punya suatu kesepakatan untuk mengadu prajurit kami dalam pertandingan berbentuk ronde,” jelas Blackz. “Dalam setiap ronde, akan ada satu dari prajurit kami yang kami pulangkan, begitu seterusnya hingga masing-masing dari kami tinggal memiliki satu orang peserta terkuat, dan menentukan siapa yang sebenarnya lebih hebat di antara kami!”

Nonsense,” sela Edward yang kini telah terbangun sepenuhnya. “Kamu ingin kami menjadi pionmu yang bisa dibuang begitu saja begitu sudah tidak lagi berguna bagimu? Apa untungnya juga bagi kami untuk bertarung terus seperti ini....selain pertumpahan darah...darah, membunuh....ya, ya, pertumpahan darah! Kedengarannya menarik!”

Entah bagaimana Edward yang mungkin awalnya hendak menentang kemudian menjadi setuju-setuju saja. Tidak ada yang berkomentar melihat gelagat aneh ini, namun Luke angkat bicara,

“Hmm, kalau dilihat lagi, ini seperti sebuah acara TV di mana setiap sesi pasti ada yang dieliminasi... Apa namanya, MasterChef? American Idol? Yah pokoknya seperti acara TV begitulah.”

“Yep, kau bisa menganggapnya demikian,” timpal Blackz.

“Berarti, kalau kami bisa selesai sampai akhir, akan ada hadiahnya ya? Uwaah, jangan-jangan ini sebenarnya reality show yang sedang disiarkan di mancanegara? Wuih, tidak kusangka! Pihak panitianya niat sekali bikin acara seperti ini!”

Tidak menghiraukan Luke yang ikut-ikutan melantur, Rexanne kembali bertanya,

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Atas dasar apa seseorang dipulangkan?”

Mendengar kata-kata Rexanne, semua mata kembali tertuju pada Blackz. Yang dipandangi tidak gugup, tapi justru memasang satu-satunya ekspresi yang bisa ia munculkan dalam wajah hitamnya – sebuah seringai lebar.

“Kalau diibaratkan dengan acara TV seperti kata Luke tadi, maka tentu saja mereka dengan rating terendah yang akan dipulangkan. Soal siapa yang memberi rating itu, kalian tidak perlu tahu – yang kalian perlu tahu hanyalah siapa lawan kalian, dan memberikan yang terbaik untuk menghadapi mereka di setiap kesempatan yang kami berikan! Tenang saja, aku menjanjikan keamanan dan kenyamanan selama kalian ada di sini, dan tentunya hadiah yang menunggu bagi mereka yang bertahan.”

Dan kembali seisi ruangan tenggelam dalam diam, mencerna perkataan Blackz.

“Penguasa,” ucap Altem tiba-tiba, “Kau ingin menjadi salah satunya?”

“Ng? Aku tidak perlu menjadi penguasa; aku sudah berkuasa atas kalian dan tempat ini, sebenarnya,” jawab Blackz enteng.

“Bermain peran seperti dewa, itukah yang kau inginkan?”

“Kuakui posisiku lebih tinggi dari kalian, tapi bukan—“

“Mahluk primitif dan pikiran primitif mereka,” sela Edward tiba-tiba. “Gumpalan hitam begini kau anggap bisa jadi dewa? Bah! Kau masih terjebak dalam pikiran sederhana rupanya.”

Edward kemudian menunjuk ke arah dadanya, dan dengan bangga berkata,

“Bertarunglah...untuk dirimu sendiri!”

“Oh, aku suka kalimat itu,” gumam Haruo yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pasif.

“Manusia, mahluk egois,” Altem mengalihkan pandangannya pada Edward. “Ingin ini dan itu, ikuti saja hawa nafsu. Kehancuran kalian yang terus seperti itu hanya tinggal menunggu waktu.”

“Oh? Jadi mahluk berbulu sepertimu ingin menguliahiku soal umat manusia padahal kau bukan salah satu dari manusia itu sendiri? Menarik.” Kali ini terdengar nada menantang dari kalimat Edward. “Mau mengajar dengan mulut atau dengan fisik? Ah, tentu fisik lebih cocok dengan mahluk yang punya lebih banyak otot daripada otak sepertimu – lagipula memintaku untuk membaca gerakan bibirmu yang lambat itu cuma membuatku lelah.”

“Jangan memintaku, manusia. Kebodohan sekalipun punya batas.”

Kini Edward dan Altem saling mengunci pandangan ke arah satu sama lain, membuat suasana di dalam ruang makan kafe itu menjadi semakin memanas.

“...tunggu, kenapa kelihatannya malah akan ada pertarungan baru di sini?” tanya Haruo tak yakin.

“Yak, stop di situ,” potong Blackz menaruh tangannya di antara Edward dan Altem. “Aku masih punya pesan-pesan sebelum kalian menuju pertandingan selanjutnya, jadi minta waktu kalian sedikit lagi~.”

Blackz kemudian menjentikkan jari, sebuah pertanda bagi Xia Loo dan Link Arturo untuk bersiaga bila ada yang berbuat apa-apa. Melihat hal ini, semuanya kelihatannya sadar kalau apa yang akan dijelaskan Blackz mungkin merupakan hal penting, jadi mereka kembali memusatkan perhatian mereka pada sosok hitam satu warna itu.

“Hmm, bagus. Dari tadi hanya Tuas yang tidak berbicara karena dia sudah tertanam di kursinya, dan Hideya karena dia memang tidak bisa bicara. Hahaha!” Blackz bertepuk tangan, membuat bingung seisi meja apa yang sedang dirayakannya. “Tapi aku suka kalian semua – dan kurasa kalian perlu tahu hal itu. Jadi, karena aku suka dengan kalian, ini kesempatanku untuk memberikan sesuatu yang akan memberi kalian keuntungan di pertandingan selanjutnya. Ta-da!”

Sebuah gulungan besar muncul entah dari mana, dan gulungan tersebut kemudian terulur keluar, memperlihatkan gambar dua buah menara kembar.

“Itu tempat bertarung kita?” tanya Haruo.

“Yep, senang kau menangkapnya dengan baik. Aku sengaja memilihkan tempat ini untuk kalian, plus setiap nomor di sini menentukan di mana kalian akan berada nantinya. Kalau ingin menolong petarung lain, kalian bisa saling bahu-membahu – aku juga tidak membuat peraturan aneh seperti tiang yang dibuat oleh Moon, jadi kalian cuma perlu membuat musuh menyerah, pingsan, atau mati.”

“Semua dalam satu tempat dan tanpa peraturan tambahan...,” gumam Edward. “Ya, ini memang terlihat lebih mudah dari sebelumnya.”

“Aku ingin tanya,” ujar Luke. “Serius tidak ada peraturan aneh-aneh lagi, seperti dilarang menghancurkan menara, misalnya?”

Beberapa pasang mata melihat ke arah Luke, kelihatannya tidak mengira Luke tipe yang peduli dengan detil seperti itu.

“Kukuku, jeli juga kau,” puji Blackz riang. “Memang tidak ada peraturan tambahan berupa ketentuan arena atau syarat menang...tapi!”

“...tapi?”

“Ada 3 hal yang perlu kalian tahu. Pertama, serangan apapun yang sifatnya supranatural, efeknya akan diminimalisir. Kedua, serangan fisik biasa akan berefek biasa. Dan ketiga, serangan apapun yang mengandalkan teknologi akan memiliki efek berlipat ganda.”

Hening sejenak.

Beberapa kelihatannya ingin beranjak untuk protes dengan wajah yang seolah bertanya ‘di mana letak keuntungannya!?’, namun Blackz kemudian kembali menepuk kedua tangannya.

“Dan dengan demikian, briefing hari ini selesai~! Selamat berjuang, semuanya!”

 

Mendadak ketujuh peserta dari kubu [Heretic] diselimuti oleh kegelapan, dan seketika itu pula mereka menghilang dari area kafe di oase.

 

“Ah!”

“Hm? Ada apa, Xia?”

“Maafkan aku, Master... Aku lupa memintamu untuk menyembuhkannya karena terlalu malu mengakui kesalahanku. Uh, biar kususul dia ke sana!”

“Oi, tunggu tunggu. Dia siapa yang kau maksud?”

“Master tidak sadar? Tobari Hideya sejak pembicaraan tadi tidak mengikuti sama sekali, dan dia saat ini masih dibalut perban setelah tak sengaja kupukul tadi.”

“......”

“......”

“Link, sebagai pemimpin, aku bisa kehilangan muka kalau melakukan intervensi di tengah-tengah pertarungan yang sudah kusetujui begini, kan?”

“Kenapa bertanya padaku? Akui saja kalau bahkan entitas sepertimu bisa lengah sewaktu-waktu, sampai lupa dengan bawahanmu sendiri.”

“...ah, tapi aku yakin dia baik-baik saja. Rating-nya kan paling tinggi sejak serangan dua superbeing lalu!”

“Yah, untuk menghibur dirimu sendiri, anggap saja begitu.”

“Master! Kesalahan ini akan kutebus suatu saat nanti!”

 

Xia Loo tidak tahu kalau Hideya tidak terluka separah yang ia kira, dan justru bangun dengan keadaan bugar karena mendapat waktu tidur ekstra, meski kebingungan sejenak karena lagi-lagi ia sudah berpindah tempat saat membuka mata dan dengan susah payah membuka balutan perban-perban di tubuhnya seorang diri.

Setidaknya, cukuplah bagi Hideya untuk sekedar tahu kalau [permainan] yang baru sudah dimulai.

 

Read previous post:  
Read next post:  
90

Caranya Hideya menghadapi Mahesa sih oke (+2). Cara matinya Mahesa juga lumayan oke (meski kurang sadis menurut selera saya)(+1).
.
Tapi ... tokoh-tokoh figurannya di part 4,5,6,7 mengganggu banget -___-. (-1)
.
Karena itu ... (+2) saja.

Wahahahahaha, makin ke sini Hideya makin dicerca. Ternyata cerita penuh rencana dan panjang 14k sekalipun ga luput dari +2 ya
.
Terlepas dari nilainya, saya lebih super kecewa karena bang Manik nganggep semua Heretic itu figuran. Pertama, jelas-jelas dibilang kalau match 3 itu berpengaruh ke 4 match lainnya, jadi dalam hal ini kemunculan mereka selain Hideya - Mahesa itu signifikan. Kedua, saya udah munculin mereka bahkan dari awal cerita, dan sama sekali ga masuki mereka sebagai sekedar pemanis karena bakal pengaruh juga ke cerita Hideya selanjutnya. Terakhir, kalau mereka figuran saya ga akan repot-repot nyisihin porsi cerita buat mereka dan ngeluarin setiap karakter, padahal keberadaan mereka diperluin buat nunjukin akhir cerita yang ada di visi Hideya.
.
Yah, kun fayakun deh~

Gimana ya?

Mereka itu kayak cuma numpang lewat sekejap saja

terus ganti

terus ganti

pas di part 1 bener mereka kayak team

tapi di part-part selanjutnya?

Kayak cuma Luke yang menonjol

smtr Altem dan Ferrum kayak cuma nampang sekilas

Kalau yang ronde 1 saya mah kasih +4 Sam

*Sayang ga sempet baca waktu itu*

Ah ya, ini udah dibicarain di chat tadi, faktor kesalahannya emang saya (dan kekom yang nginx), wkwkwk

buseet, tegaaa /=A=)"/

80

sori, gw nyaris ga bisa baca ini ampe akhir. bagi gw ini terlalu dragging dan kebanyakan muter. tapi plotnya bagus kok. secara struktural ada tensi tapi...
.
umm... i dunno, i don't sense any conflict di sini. battlenya terlalu berat sebelah di Heretic. dan bagi gw, itu bukan battle yang menyenangkan untuk dibaca.
.
Tapi either way, strateginya bagus. jalinanya keliatan mulus kok. walau gw sempet bingung aja apa si Tuas juga ada dalam lift ato ga. at least kalo ada, itu bisa bikin double suicide, apalagi ruang begitu pasti si Tuas juga bisa keinjek.
.
pemaknaan lu soal menaranya menarik :3
.
gw agak bingung di bagian soal self-destruct sih... ga ada alarm atau apa ya? yang bilang kalo akan ada self destruct? asumsi aja sih, seharusnya kalo dah masalah safety harus ditekenin. + kalo ada self destruct biasanya ada kunci keamananya dan SOP keamanan internasional bilang minimal yang pegang kunci 2-3 orang supaya ga ada abuse power. kalo cma byar-pet sih gw masih fine tapi kalo whole explosion... mmm :3
.
and you said explosion? ^^; ni gedung keknya dari awal dah ga layak berdiri nih wkkwkwkwk kecuali kalo mereka mang maw bikin ni menara sebagai korban ditabrak pesawat -dan bikin konstipasi teloris (ok, itu bukan candaan yang layak)
.
so, nilai-nya +3

Dragging dan kebanyakan muter, ya... Kalau saya mau justifikasi, ini udah ada dari statement Hideya yang bilang pengen manjangin permainan sejak dia make [The Devil]. Sementara kalau soal berat sebelah ke [Heretic], karena emang dari awal ini semua cerita tentang [Heretic] as a whole. Tapi sekali lagi, orang emang mandangnya beda-beda - saya selalu punya ekspektasi kalau pasti ada aja poin yang bikin ada orang yang ga enjoyable baca cerita saya di tiap pertandingan, jadi bagus kalau ada yang nunjukin apakah poin itu
.
Udah saya duga Rendi termasuk orang yang mempermasalahkan persoalan teknis - di mana buat saya itu sebenernya bukan sesuatu yang perlu didalemin seserius itu karena ini super-fiktif. Yah, ini pembelaan lemah sih, tapi sama halnya kayak saya ga gitu peduli sama deskripsi - sesuatu yang buat saya 'asal sampai, cukup'. Entah ini kebiasaan buruk atau bukan

yah, it's ok kok. berarti emang pada dasarnya aja gw yang ga bisa gitu grip char si Hideya. cuma masalah chemistry brarti :) and, you don't have to defend it anyway. mgkn sih gw tetep akan menilai miring sampai Hideya reach my heart #plak
.
well, gw rasa sih pasti ada juga beberapa yang nanyain masalah teknis :3 tapi IMO selama ini bisa dinikmati maka biasanya yang lemah bakal ketutup kok. Sayangnya gw aja yang lagi ga bisa nikmatin makanya jadi ngomentarin hal teknis.

Hideya taktisi yg hebat. Tulisannya enak dan ngalir bgt buat dibaca tp ko aku ngrasa 3 kartu itu tlalu gak efisien ya, apa gak bisa pake the star ama the devil aja. Meski the tower sbg penghormatan, tp rasanya boros gmn gt. Oiya dan blm ada aspek lain dari karakter Hideya, kesannya mirip R1 dmn manfaatkan setting dan kartu utk nipu, main2, menang. +3

Haha, Hideya emang ga pernah mikirin efisiensi. Liat aja, kartunya udah nyaris setengah dari jumlah awal padahal ini baru ronde 2.
.
Akhirnya ada yang bilang juga. Saya sadar kok kalau dari prelim dan dua ronde ini saya sama sekali belum nunjukin 'siapa' itu Hideya - karena fokus saya lebih ke sekedar nunjukin general impression dan kapabilitas Hideya doang di 3 pertandingan ini.
Hopefully soal 'karakter' dari Hideya bakal saya mulai munculin dari ronde selanjutnya.
.
Oh, kalau soal main-main...itu emang udah kepribadiannya, yang nganggep semua ini ga lebih dari permainan. Jadi ya tendensinya emang main" terus tiap pertandingan XD #plak

100

Wogh, dibanding Round 1 ini kerasa lebih ringan dan efektif, jadi bacanya juga ga kerasa tahu-tahu selesai.
.
Wooo, seru banget nih, strateginya hideya keren, trus ngelibatin pertarungan-pertarungan yang lainnya juga oke banget. Klo kata pww mah, kemenangan heretic semuanya uda diwakilkan sama battle ini. #plak
.
Paling klo secara pribadi sih saya kurang suka ma karakter licik macam hideya ato luke gitu. >.< Cuman yah itu selera pribadi, tapi eksekusi hideya di sini uda keren banget.
.
Btw, apa maksudnya itu ending hideya harus dibikin unimpressive? Itu beneran ngeles doang ato apa??? Karena menurut saya sih ending hideya di sini berkesan keren.
.
+4

Wkwkwk, seneng ngeliat kamu lancar ngebacanya~
.
Yah, mau gimana... Heretic kalau ada yang licik-licik dikit wajar lah..
.
Ng, ini mungkin beda" buat setiap orang, tapi saya sendiri nganggep selalu nutup kemenangan Hideya dengan 'gitu aja', dan ini efeknya bisa beda" di tiap orang. kayak komentar Ann di bawah, ada yang jadi 'oooh'-nya telat, ada juga yang mungkin ngerasa endingnya ngebunuh keseluruhan ceritanya kayak pas prelim...
.
Hm, tapi untuk saat ini ga usah dipusingin dan nikmati saja ceritanya~

2550

LEDAKAN!!!
.
hohoo, saya suka ini, karakterisasinya oke bgt.. semua karakter berasa jdi pnya nya kak Sam, woggh ajari saya guru m(_ _)m
.
sy jg suka bgt filosofinya ttg menara, habis itu tombol meledak wkwk terus Hideya yg ada di ruang pengamat sama kak Sam yg nyeritain smua pertarungan itu kece bgt XD berasa ada kerja sma kak Sam sma Hideya (???)
.
terus... Mahesa nya dibully.. kartu The Devil emg mengerikan... sy suka scene unyuw liciknya Hide pas jabat tangan wkwk
.
minusnya saya berasa kaget pas di page 6... kaget pas nemuin kalimat semua hero hancur... entah sayanya yg mungkin gak beres, tapi rasanya bahasa santai nya kak Sam (?) masih kebawa smp kmatian para hero jg jadi berasa sesuatu yg santai (???)
.
terus saya jg kaget pas di scene terakhir.. tapi setelah ngerti apa maksudnya itu keren!
.
kalo kata kak Hell Warrior, ur ending kill the story.. kalo kata kak Sun, endingnya kurang greget... konsepnya keren, tapi saya gak berasa 'WUOOOGGH' sambil nahan napas (?) malah jadi bengong dulu sambil 'hah??!' terus 'ooohh' terus 'wow' #apapulaini
kak Sam emg niat bkin ending yg trsembunyi smbil pembacanya nebak2 mgkin ya??
.
oke selesailah saya meracau
karena 3.5 gak ada, jadi +4 deh~!

Ampuni saya yang cuma bisa konsep dan ga punya teknik penulisan bagus orz
.
Walau sejujurnya, pulling the same feel for ending three times in a row is quite a feat, if I may say for myself. Jadi kalau kamu ngerasa kemenangan Hideya unimpressive, berarti saya berhasil sekali lagi~ #ngeles
.
Kematian hero berasa sesuatu yang santi...nah, kalo yang ini baru pasti emang minusnya saya. Trims udah nunjukin poin itu. Berarti emang kurang penekanan di sana, ya... Noted deh buat kalo ada rencana bikin scene beginian lagi.

100

oke kak sam.
ada tipo, tapi ga jadi soal.
.
mula-mula saya kasih 0.
.
+1 karena bahasa kak sam yang masih asik saya baca. saya enjoy aja, dan bahkan ga sadar kalau ini 14K (kata pak po)
.
+1 memasuki pertarungan, saya suka taktik hideya nutupin cctv pake permen karet dan ngerusak pikiran mahesa yang masih labil.
.
+1 Jokenya cukup menghibur, dan saya suka.
.
-1 di p4, karena terlalu banyak scene saya jadi pusing bacanya. akhirnya saya maksain nyerna, dan syukur terbantu sama bahasanya.
.
-1 sedikit kecewa di akhir p3, ada tulisan hideya sudah menang. dan karena masih bingung, saya cuma "hah? gini doang?" terus diganti ke pertarungan-pertarungan lain yang bikin si hideya udah berhenti berperan (?)
.
+1 romance belle x edward.
.
+1 pemahaman karakter untuk semua entrant keren <3 dan saya suka scene Altem ft Edward vs Ferrum x Belle. ternyata beanstalk yang dimaksud kemaren itu pohon kacang kapri (polong) :v
.
+1 penjelasan kemenangan Hideya yang sesungguhnya. SAYA NGGA BINGUNG LAGI. (y)
.
.
.
.
Jadi totalnya...
+4

Nanti" kalau ada lagi tunjukin typonya dong biar bisa saya edit~ #maunya
.
-1 aaah ini emang ga terbantahkan dan tak terhindarkan juga... kalau kamu bingung, ya berarti salah saya karena emang mau ga mau di part itu harus banyak scene yang muncul. syukur" terbantu sama gaya bahasanya
.
-1 pas saya baca lagi, rasanya emang inappropriate, jadi saya ilangin aja deh :P

ada, cuma 1 kata kok. "Sudah" kah apa gt.. sekitar halaman 6-7, nantideh ronde 3 KALAU ada typo
.
santai kok bang
.
.
akakaka.. dihilangin :p
yak, semoga ngebantu deh <3

100

top! speechless dah,, no comment saya~
(づ。◕‿‿◕。)づ

raataaa~ heronya rataa (╥﹏╥)

Keruntuhan Heroes bersamaan dengan runtuhnya menara~!