Malam Sekolah

Sudah sebulan lebih Siska bersekolah di sekolah barunya. Dia sudah cukup bisa beradaptasi dengan baik, bahkan sudah mempunyai teman akrab yang selalu bersamanya setiap hari.

Suatu hari pada jam istirahat. Siska hendak pergi ke kantin bersama Sonya, teman barunya, tetapi di tengah jalan, Siska menyuruh temannya berangkat duluan karena dia hendak ke kamar kecil.

Entah kenapa saat masuk ke kamar kecil sekolah, tidak ada seorang pun di sana. Siska tidak peduli, dia langsung ke salah satu bilik dan melakukan panggilan alamnya. Setelah selesai, dia segera keluar dan mencuci tangannya. Saat dia melihat ke arah cermin di depannya, bilik yang ia gunakan tadi tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Siska langsung berbalik dan melihat bilik itu tertutup. Lalu dengan menoleh pelan ke arah cermin, dia menemukan bayangan bilik itu terbuka. Siska segera keluar tanpa mengeringkan tangannya.

Setelah kejadian itu, Siska bersekolah seperti biasa dan pulang. Dia memutuskan kejadian itu sebagai ilusi mata, bukan sesuatu yang berbau mistik.

Setelah makan malam, Siska merasa aneh. Dia seakan-akan harus kembali ke sekolah malam itu juga. Dan benar saja, saat dia ingin mengerjakan PR matematika yang harus di kumpulkan besok, bukunya ketinggalan.

Siska benar-benar yakin dirinya telah memasukkan buku matematikannya itu ke dalam tas, tetapi sekarang tidak ada. Dan kenapa pula dirinya merasa buku itu ada di bangkunya sekarang.

Setelah bersepeda beberapa blok, Siska sampai di depan gerbang sekolahnya. Sekolahnya tidak pernah dijaga seorang pun, karena tidak ada barang yang terlalu berharga di sana, kecuali ilmu yang pasti tidak bisa dicuri oleh maling, bahkan siswa-siswi sulit untuk mendapatkannya.

Siska membolak-balik kunci yang ia pinjam tadi dari pak Sholikin, Guru yang setiap hari bertugas mengunci sekolah dan menyalakan lampu saat malam. Guru Sholikin adalah ayah dari teman dekatnya, rumahnya paling dekat dengan sekolah, itu salah satu alasan kenapa guru itu mendapatkan kepercayaan untuk memegang kunci.

Siska segera membuka kunci gerbang karena tidak mau berlama-lama di situ. Dia sedikit lebih tenang saat melihat sekolahnya diterangi lampu-lampu, meski tidak terlalu terang seperti di siang hari, tetapi itu sudah cukup baginya.

Saat Siska sudah masuk, dia segera menutup gerbang dan berbalik. Saat itu, mendadak sekolah gelap gulita. Siska terkejut dan takut, dan segera mengeluarkan senter dari dalam jaketnya yang sudah disiapkan dari rumahnya. Lalu tiba-tiba, lampu-lampu itu menyala secara perlahan dari ujung kelas hingga berakhir di kantor guru. Siska lega dan segera berlari ke kelasnya, takut kalau lampu itu mati lagi.

Setelah tiba di depan pintu kelasnya, Siska segera mengambil kunci yang ia pinjam tadi. Setelah pintu terbuka, dia segera menuju ke bangkunya. Setengah jalan menuju bangkunya, dia berhenti karena lampu mati lagi. Sekelilinya gelap, hanya terlihat samar-samar karena cahaya bulan.

"Peduli amat!" ujar Siska dalam hati dan segera mengeluarkan senternya kembali. Dia segera menuju mejanya dan menemukan bukunya. Saat itu dia segera ingin pulang, tetapi pintu yang tidak di tutupnya tadi menghilang.

Siska benar-benar yakin sudut yang ia sorot dengan lampu senter itu adalah pintu yang baru saja ia lewati, tetapi sekarang, lewat lampu senter di tangannya, dia hanya melihat dinding putih. Siska segera menyorot sekelilingnya hingga berputar 180 derajat, tetapi yang ditemukannya hanya dinding putih tanpa pintu atau jendela, kecuali papan hitam yang berada disampingnya sekarang.

Siska mulai takut dan keringat dingin mulai muncul di kulitnya. Dia kembali menyorot papan hitam itu, lalu menyeret cahayanya ke arah kanan papan itu yang diketahuinya ada pintu di sana. Tetapi, sampai cahaya itu kembali lagi ke papan, dia hanya menemukan dinding putih tanpa adanya pintu atau pun jendela.

Siska sekarang mulai menyoroti sekelilingnya untuk memastikan bahwa ruangan yang dimasukinya adalah kelasnya. Ada bangku guru di dekat papan tulis dan deretan bangku serupa di depannya. Saat dia tiba dibangkunya sendiri, jantungnya berdetak lebih cepat karena terkejut. Ada seorang gadis berseragam sedang menduduki bangkunya dan gadis itu sedang menulis sesuatu.

Siska merasa dingin dan buku kuduknya meremang. Lalu gadis yang sedang duduk itu menatap dirinya dengan tersenyum. Wajah gadis yang cukup cantik itu perlahan-lahan berubah jadi pucat, kemudian berubah menjadi merah darah seakan-akan kulit luarnya terkelupas. Beberapa saat setelahnya, ada tetesan darah dari wajah gadis yang sudah tidak berkulit lagi itu. Setelah itu, Siska melihat dengan jelas daging merah di wajah gadis itu menipis hingga hanya tinggal tulang dengan sisa darah yang menempel di tulang putih itu. Wajah gadis yang sudah berubah jadi tenggkorak itu melihat Siska dengan mata kosongnya, benar-benar dengan mata kosong tanpa bola mata. Lalu mulut yang hanya terdiri dari gigi dan tulang itu bergerak menutup dan membuka, seakan tertawa.

Siska masih terkejut di tempatnya berdiri dengan mata terbelalak dan nafas terhenti. Keringat dingin sudah deras di kulitunya, bulu kuduknya sudah meremang dari tadi, dan sinar senternya bergetar karena terpengaru getaran tangannya.

Siska menelan ludah saat udara mulai kembali mengisi paru-parunya. Dirinya berusaha menjaga tubuhnya tetap berdiri di tempatnya, berusaha tidak lari dan berteriak, berusaha tidak merasa takut dan terancam. Tiba-tiba Siska hendak buang air kecil, tetapi kalau dia melakukannya sekarang, berarti dia akan ngompol di celana olahraganya.

Dengan rasa takut yang besar dan hasrat ingin buang air kecil itu, Siska masih tetap berdiri tetap tempatnya. Lalu perlahan-lahan, tengkorak gadis yang di sorot dengan sinar senternya berhenti memainkan mulutnya. Tengkoran itu diam, kemudian secara perlahan daging pada terkorak itu kembali hingga seperti semula. Bahkan sekarang, wajah gadis yang sedang duduk itu, terlihat lebih cantik. Gadis itu tersenyum ke arah Siska seakan merasa senang, lalu perlahan-lahan menghilang. Sejurus kemudian lampu menyala kembali.

Siska masih berdiri di tempatnya dengan menyorot bangkunya yang sudah kosong. Untuk beberapa saat dia terdiam seperti itu, seakan masih sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

Saat Siska sadar seutuhnya, dia berlari ke arah pintu yang sudah kembali terlihat oleh matanya. Hampir saja dia lupa menutup pintu dan menguncinya jika saja kunci itu tiba-tiba tidak jatuh dan mengeluarkan suara yang khas saat menyentuh lantai.

Setelah Siska mengunci kelasnya dengan tergesa-gesa, dia segera kembali berlari. Saat tiba di gerbang, tanpa menunggu lagi, Siska segera mengunci gerbang itu dan kabur dengan sepedanya.

Setelah sedikit jauh, Siska berhenti tepat di depan toko serba ada. Buku matematikanya sudah ringsek ditanganya, sedangkan senternya, tidak ada lagi bersamanya, entah jatuh dimana Siska tidak ingat. Dan sekarang yang ingin dilakukan Siska adalah pergi ke toko itu dan membeli minuman untuk membasahi tenggorokannya. Tetapi sebelum itu terjadi, Siska sudah tidak sadarkan diri.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Malam Sekolah (7 years 30 weeks ago)
70

horornya kurang kak. tp kl aku sendiri yg ngalamin kejadian kayak gitu..bakal ketakutan jg sih :v hhehe

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Malam Sekolah (7 years 31 weeks ago)
70

Kuraaaannnggg T.T horrornya juga gak kejawab, jadi ngerasa datar aja gitu, sorry ._.

Writer Shinichi
Shinichi at Malam Sekolah (7 years 31 weeks ago)
80

ini nggak dapet horornya :(
uummm... kurang lambat. dan saya malah pengen nulis ulang ini dengan versi saya sendiri. ahak hak hak.
kip nulis

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Malam Sekolah (7 years 31 weeks ago)

Maklum Paman, saya menemukan cerita ini di folder lama, bahkan saya lupa pernah menulis ini...karena saya malas untuk merevisi...saya kirim ke sini, menggantikan "tempat" yang eror karena doble posting...hehehe....btw di kemudian.com tak ada ya pilihan untuk menghapus posting?
Kalau Paman ingin membuat cerita ini dalam versi Paman, saya izinkan...dengan begitu saya juga bisa belajar bagaimana merevisi tulisan yang bagus....:)

Writer Shinichi
Shinichi at Malam Sekolah (7 years 31 weeks ago)

oooo!
cerita lama yg belum direvisi rupanya.
lain kali jangan begitu ya. itu tandanya malas #jitak
ahak hak hak.
double posting nggak bisa diapa2in selain isinya dikosongin, lalu disave.
begitulah. nggak ada member yg bisa menghapus postnya sendiri. itu kebijakan situs buat menyimpan arsip, kalau2 dibutuhkan untuk investigasi pelanggaran term. tuh, ribet jadinya. ahak hak hak. udah, nggak usah pusing :p

tulisan kamu itu, bagi saya pribadi, mampu merangsang (apa cobak) kemauan saya untuk komentar (yang asli dan jadinya cuap2). itu bersifat positif. ciyusan :D
dan, tujuan saya dengan niat menulis ulang cerpen kamu ini menurut selera saya sendiri adalah karena kebutuhan cuap2 saya itu, bukan bermaksud bilang saya bisa membuat yang lebih bagus dari ini. nggak ya. saya nggak bilang tulisan seseorang nggak bagus. bagus semua. tapi menstimulasi buat koment nggak? itu yg penting. ehehehehe.
ntar kalo udah jadi saya share. tapi nggak janji jugak siy :D
ahak hak hak
pokoknya kip nulis.