Temanku Siggih

Kulihat ia memandangi ponselnya, lama sekali. Alis tebal ulat bulunya berkerut-kerut. Teh hangat-kuku di mejanya tidak disentuh sama sekali, padahal ia bilang teh di warung makan ini kalau kelamaan dibiarkan, rasanya tidak nyamleng. Penasaran, kucolek bahunya. “Napa, Nggih?”

Siggih tergagap, menekan tombol ‘back’ dan menatapku. Kulihat matanya tidak fokus, tapi toh dipaksanya juga memasukkan ponsel itu ke dalam saku. Lalu, dihirupnya teh panas tadi. “Anu, twitter.”

"Twitter?" Aku mencomot sepotong gorengan talas di meja.

"Ya, twitter."

Sesaat ia ragu, tapi lalu ia ingat kami teman baik dan akan selalu begitu. Telah tiga lebaran berselang kami batal bertemu dan ini adalah saat yang sakral menurutku. Singgih biasanya selalu bercerita tentang apa saja kepadaku, sejak masa sekolah. Mencuri sandal ustad. Mencuri rambutan di kebun ustad. Menggodai Maemunah anak ustad. Ya, kami memang benci sekali pada ustad dulu.

"Gaya ya kau sekarang, twitteran sampai lupa lagi nongkrong sama teman. Hahaha." selorohku.

Singgih menghela napas setelah menyeruput tehnya rakus-rakus. Sepercik-dua menetes di kerah bajunya yang bagus. “Kau tahu kan kerjaanku apa sekarang.” katanya.

"Human resources-sesuatu?" jawabku, dan kurasakan alisku naik.

"Ya, bisa kau katakan begitu. Belakangan ini aku dibuat gundah oleh seseorang." Mukanya memang nampak kalut begitu.

Kupandangi gorengan talas dan pisang, ibu warung mengelap meja dengan serbet berwarna kusam. Aku, entah mengapa, langsung memikirkan hal-hal buruk.

"Dikejar penagih hutang, kau?"

"Hah. Gak."

Oh, bagus. “Pacar?”

Ia mendadak kemalu-maluan, lalu menyeruput tehnya lagi. “…belum jadi, sih.”

"Nah, gebetan!" Aku sumringah. Singgih, Singgih temanku yang menemukan cinta di usia keduapuluhempat. "Cantik? Lancar gak? Anak mana?"

Singgih menatapku, entah mengapa dengan tatapan yang tampak tak enak. Temanku ini bertubuh gemuk, bulat, kulitnya hitam. Namun ia kaya. Betul, kaya. Di antara semua lulusan SMP 86 tempat kami sekolah dulu, terhitung ia paling sukses. Kuduga ini karena dahinya menonjol dan potongan tubuhnya lebih panjang di torso daripada kaki. Orang Jawa bilang, inilah ciri-ciri orang cerdas dan mulia.

Namun, orang mulia itu bisa gundah juga. Karena wanita.

Singgih memutar duduknya dan menghadapku. Ia menggaruk kupingnya yang tidak gatal, dan kuduga, ia akan memulai ceritanya. Cerita yang menggemparkan seharusnya, karena gadis yang ditaksir orang mulia ini haruslah bukan wanita yang biasa-biasa.

"Dia…" Siggih menoleh ke sana-kemari, kemana saja selain menatapku. "Ia janda, Yan."

Suara geledek.

Tidak, aku tidak seterkejut itu. Tapi memang betul tiba-tiba terdengar geledek, lalu hujan pun turun deras-deras. Orang-orang yang tadinya lalai memasukkan motor mereka ke parking area buru-buru keluar. Simbok warung misuh-misuh mengomel; katanya tadi cuaca cerah, dan katanya lagi, cuciannya jadi basah.

Aku hanya terdiam khidmat dan mengambil pisang goreng kedua. Semakin dingin, semakin mudah aku dibuat lapar.

"Tapi kau perjaka, Nggih, dan kata nabi, perjaka bagusnya dengan perawan juga. Tapi baiklah kalau kau senang begini. Janda ini umurnya berapa? Lakinya kemana?"

"Empat puluh dua, Yan," Semakin ia bercerita, agaknya ia semakin malu. "Lakinya dicerai, ketahuan kawin sama pembantunya sendiri yang masih seksi."

Waduh, sinetron.

"Jadi, janda ini sudah tidak seksi?" Kupikir air mukaku nampak ngeri.

"Masih seksi sih, di fotonya."

"Fotonya? Belum ketemu langsung?"

"Belum, Yan," Lalu, suaranya melirih. "Kita ketemu di twitter."

Aku mengerjapkan mata, mengibaskan tangan, mengusir lalat lewat.

"Jadi kau mau bilang, ini… cyberlove, begitu?"

"Ya. Dibilang begitu tidak salah, sih." Kata Singgih kalem.

"Nggih, serius ini."

"Lah iya, serius." Ia mengerjap polos bak anak kecil.

Dan aku semakin ngeri.

Aku gelisah di tempat. Tentu, adalah pilihan temanku kalaupun ia berbahagia menikah dengan ayam sirkus atau apapun, tapi aku merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai teman yang peduli. Kukeluarkan ponselku sendiri, lalu kuminta ia menyebut nama `gebetan`nya. Ia menyebutkan. Aku mencari. Ketemu.

Memang mukanya tidak buruk, tapi di mataku ia seperti pelacur. Aku memiliki ketidaksukaan tertentu pada perempuan yang mengoleskan terlalu banyak maskara dan memiliki baju dengan potongan terlalu rendah.

Ah, bicara prasangka!

"Dia bilang aku di hatinya, Yan," Dia bercerita lirih-lirih lagi. Suaranya nyaris-nyaris kalah dengan percakapan seru di meja sebelah—topik bola—dan anak simbok warung yang merengek minta dibelikan seragam pramuka. "Tapi kok masih mention-mention mesra sama mantan suaminya, ya."

Bisa kulihat itu. Tidak terlihat seperti orang yang sudah bercerai. Duh! Kulihat profile mantan suaminya, dan wuih, pria itu sekurang-kurangnya mirip dengan Jude Law! Singgih sama sekali bukan tandingannya, walau mungkin ia lebih kaya.

Nah ya, aku harus bilang apa.

Sok berkelakar, aku mendengus dan menepuk-nepuk bahunya lagi. “Cari lain, Nggih. Ikan di laut masih banyak.”

"Tapi cinta, Yan."

"Ya kalau gitu, pastikan."

"Dia bilang aku di hatinya…"

"Cangkem, cangkem. Maksudku, ketemu beneran lah. Dia tahu mukamu?"

"Tahu."

"Bagus. Tanya alamat, kopi darat."

"Dia gak mau kasih alamat."

"Lah, aneh. Paksa lah. Udah pernah tanya?"

"Dia bilang belum saatnya."

"Tanya lagi. Serius ini! Habis lebaran kan lagian, memulai lembaran baru. Yok dah, siapa tahu. Keluarin ponsel, buru, DM! Ketemu di mall, apa mana gitu lah."

Singgih memang pintar dan mulia, tapi di hadapanku, ia masihlah anak kecil yang malu-malu. Jemarinya bergetar ketika ia mengetikkan permintaan itu. Berkali-kali ia menatap mataku, seolah meminta penguatan. Terkirim, dan kami pun menunggu sambil memesan segelas teh lagi. Tak lama, ada suara ‘ding’ merdu dari ponselnya. Dibalas, sudah.

Ketika membacanya, ia nampak pucat.

"Yan…"

"Hm? Gimana?"

Suaranya seperti cicitan anak tikus. “Dia bilang kalau aku terus maksa dia begini, mending kita gak usah ngobrol lagi aja.”

"…."

"….."

Kulihat matanya jadi sedih. Sedih sekali. Membuatku teringat pada kucing di tengah hujan, pengemis di persimpangan. Pengemis cinta, kali ini. Aku membayar teh kami berdua, lalu menepuki bahunya lagi. “Sudah, cari yang lain.”

"Tapi sudah begini dua tahunan Yan, aku tidak tahu bagaimana lagi kalau aku harus kehilangannya…"

"Taek. dua tahunmu sebelum ada dia juga enak-enak aja, mikir lah."

"Dan aku sudah kirim uang sering-sering juga."

"U—apa?"

"Iya, uang. Uang bulanan. Lima ratus-sejutaan lah. Dikit kan."

"Rutin?"

"Tidak pernah telat." Dia nampak bangga.

Aku meringis. Kuguncang bahunya, lalu, kuusap pipinya. “Nggih.” Kutampar pelan, seperti kakak pada adiknya. Ia tercenung, aku tak peduli.

"Elu GUOBLOK. Parah. Jualan bawang aja sana." kusemburkan cemoohan itu di depan mukanya. Lalu, kubelikan gorengan talas dan teh lagi, ia, walau ia lebih kaya.




 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer celtic
celtic at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)

entah Siggih atau Singgih, yang pasti enak dibaca. "Namun, orang mulia itu bisa gundah juga. Karena wanita." femme fatale! :))

Writer Cyllachan
Cyllachan at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)
80

wkwkwk.. XD janda matre...

Writer chizzy
chizzy at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)
80

sukaaaaaaaa

Writer popupipipu
popupipipu at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)
90

ckck itu singgih kasian amat, kurang percaya diri kayaknya huahahaha

Writer hamdan15
hamdan15 at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)
70

#haha.
lucu bgt.
.
tapi, beneran ada orang kyk singgih kah di dunia ini?
.
tapi, kata pepatah sih, cinta itu buta ya?
.
btw, yan itu jahat juga yah? ngbiarin temannya terpuruk kyk gitu. #haha.
overall: good.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Temanku Siggih (9 years 5 weeks ago)
70

Siggih apa Singgih?