[Round 2] Nolan C. Fambrough - Fast Response

Seperti apa sensasi berpindah dimensi? Nolan mungkin akan mengatakan, tak ada sensasi apa-apa, semuanya terjadi begitu saja, seperti ketika kita memejamkan mata di dalam kamar, dan begitu membukanya mendadak sudah berada di tempat lain lagi. Seperti itulah rasanya. Panik? Mungkin. Tapi tidak bagi Nolan saat ini karena dia sudah mengalaminya berkali-kali. Dari IRSS Chekov yang hancur lebur ke IRSS Chekov yang bersih seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dari IRSS Chekov ke Homuhara Gakuen di Fuyuki City dan kemudian kembali lagi ke IRSS Chekov. Hingga yang terakhir ini, dari IRSS Chekov ke Petronas Tower di Malaysia dan kemudian, dia kembali lagi ke IRSS Chekov. Ya, berbeda dari sebelumnya, dia kembali paling awal.

“Ka, kamu sudah kembali?” tanya Tsuki, bahkan dari nadanya menggambarkan kalau dirinya tidak percaya. Dia menduga ada kerusakan sistem (lagi), alasan itu pun boleh, karena masih sangat sulit baginya membayangkan Nolan berhasil mengalahkan lawannya di Petronas dalam waktu singkat.

“Er, sejujurnya aku juga kaget, memangnya berapa lama aku di sana?”

“Lima menit,” kata Tsuki masih terperangah, “dan itu rekor tercepat hingga sejauh ini. Sebelumnya rekor dipegang Ferrum.”

“Kamu mencatat rekor?”

“Ah, tidak, anggap saja itu bagian dari kegiatan isengku dalam mengisi waktu luang sementara aku mengawasi kalian dari sini.”

Nolan mengangkat alisnya dan membetulkan posisi kacamatanya. Kondisi Nolan sama sekali tidak berubah dari sebelumnya. Tak ada bentuk luka, goresan, atau pun memar terkena sesuatu. Tidak ada. Dia terlihat sangat sehat, dengan t-shirt coklat mudanya dan celana jeans hitam yang dikenakannya. Begitu juga ransel dan kacamatanya. Tak ada tambahan retak di lensanya. Kecuali tangan kanan Nolan yang menggenggam pisau besar yang terbuat dari besi hitam, yang kini berhiaskan bercak putih aneh.

“Kamu mau menceritakannya? Apa yang terjadi di Petronas Tower?” tanya Tsuki. Sementara Clive datang membawakan minuman segar untuk Nolan.

“Terima kasih, Clive,” senyum Nolan sebelum kembali berbalik menatap Tsuki. Clive tersenyum riang dan kemudian pergi meninggalkan ruangan. “Soal Petronas Tower…”

“Ya? Siapa lawanmu? Siapa yang diutus Blackz untuk melawanmu?”

“Lawan yang sama dengan Ferrum,” jawab Nolan singkat.

“Tuas? Kamu melawan Tuas?”

“Ya, begitulah. Terima kasih kepada Ferrum yang sudah menjelaskan secara gamblang segala hal tentang Tuas. Aku bisa mengerti situasi dan cirri-ciri keberadaannya, kemudian mengalahkan dia dengan satu serangan.”

“Sa, satu serangan?” Tsuki membelalak. “Bagaimana bisa? Bukankah Ferrum mengatakan kalau Tuas adalah lawan yang mengerikan? Lawan yang sulit ditaklukan?”

“Kurasa tidak sepenuhnya begitu,” sanggah Nolan. “Ada beberapa cerita Ferrum yang sepertinya berbeda dari kenyataannya. Atau bisa saja, karena Tuas sempat dikalahkan Ferrum, kondisinya jadi tidak prima.”

Tsuki menatap Nolan dalam diam, tampak tertarik sekali mendengarkan cerita itu.

“Kamu mentransferku ke dalam lift di lantai tujuh puluh yang sedang bergerak turun,” jelas Nolan. “Itu mungkin sebuah keberuntungan.”

“Blackz mengira di ruang sempit seperti itu, kamu bisa dibinasakan Tuas dengan mudah, karena tak ada ruangan yang cukup bagimu untuk bergerak atau lari dari sana,” gumam Tsuki.

“Lagi-lagi aku harus mengatakan kalau itu adalah keberuntungan,” kata Nolan. “Saat aku menemukan Tuas di dalam lift, dia membuatku teringat pada, Phallus dwiressi.”

Pha—apa?”

“Itu nama latin untuk sejenis jamur yang bentuknya seperti, maaf, alat kelamin laki-laki. Aku pernah secara tak sengaja membacanya di Wikipedia. Walau katanya di Inggris memang banyak tumbuh, tapi aku belum pernah melihat bentuk aslinya secara langsung.”

“Ah, ya, baiklah… Lalu? Bagaimana kamu mengalahkannya?”

“Sederhana. Dengan ini,” kata Nolan sambil mengangkat pisau besi yang digenggamnya. “Aku memotongnya, cairan kental berwarna putih ini keluar dari batangnya yang terpotong. Kurasa semacam getah.”

“Jadi, dia mati?”

“Dia terbelah dua, jadi kemungkinan sudah mati, walau aku tidak yakin, karena biasanya selama akar masih bertahan, jamur akan bisa kembali bertumbuh.”

“Tapi, kamu kembali ke sini, itu artinya—“ gumam Tsuki.

“Mati. Ya, atau mungkin pingsan? Aku tak tahu,” kata Nolan melanjutkan.

“Brilian, Nolan… brilian… mengingat sepertinya Ferrum amat kesulitan mengalahkannya,” kata Tsuki sambil menghela napas. “Oh, ya, kapan kamu menyadari kehadiran Tuas?”

“Bagian itu, persis seperti yang dikatakan Ferrum,” jelas Nolan, “Tuas bisa bicara. Dan gaya bicaranya memang benar-benar sombong.”

Nolan menyandarkan dirinya ke sandaran kursi di belakangnya dan melanjutkan ceritanya.

“Setelah dia bicara, mendadak kabut hitam menyeruak di dalam lift. Aku tahu itu pasti untuk memperlambatku menemukan keberadaannya. Terlebih di lantai enam puluh delapan, mendadak segerombolan laki-laki, mungkin karyawan lembur, masuk ke dalam lift. Itu membuatku makin sulit menemukan dirinya.”

“Bagaimana caramu menemukannya?”

“Saat salah seorang karyawan berkata, ‘rasanya aku menginjak sesuatu, menjijikan!’ saat itu dia mengangkat sepatunya, dan ada bercak putih lengket di telapak sepatunya. Dengan cepat aku menyuruhnya menyingkir dari tempatnya berdiri. Aku meraba-raba areal di sekitar situ, dan kutemukan Tuas. Aku menggenggamnya erat, sekejap kemudian kabut hitam menghilang.”

“Kabut hitam itu tidak membuat orang-orang di sana merasa curiga?”

“Entah, kurasa hanya aku yang bisa melihatnya. Kurasa dia memang mengeluarkan kabut agar aku tak bisa menemukannya. Tapi sayang, dia hanya jamur. Dia tidak secerdas cara bicaranya. Aku menggenggamnya erat dan kemudian dia melemas. Saat itulah, aku menebasnya dengan pisau ini. Setelah itu, aku sudah berada di sini lagi.”

Tsuki terdiam. Seolah masih meragukan kisah Nolan.

“Lalu bagaimana perasaanmu? Setelah membunuhnya?”

“Er, biasa saja. Hei, aku kan hanya membunuh sebatang jamur. Aku bahkan masih merasa aneh, kenapa jamur yang bisa bicara begitu bisa berada di kubu Heretic. Blackz ini, aku semakin penasaran padanya. Dia kadang… terkesan bodoh di dalam bayanganku.”

“Ya, baiklah! Pokoknya selamat atas keberhasilanmu, Nolan. Kita akan menanti yang lain. Semoga mereka semua bisa kembali dengan selamat,” kata Tsuki sambil beranjak dari tempatnya. Tampak sekali dia tidak ingin mendengar lebih jauh pendapat Nolan mengenai Blackz, saingannya.

Nolan menghela napasnya dan menyeruput minuman di dalam gelas. Setelah dia berhasil menghabiskan seluruh isi gelas tersebut, dia pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menelusuri lorong, per4gi menuju kamar dan beristirahat di sana. Berharap kabar baik tersampaikan padanya ketika dia terbangun nanti.

TO BE CONTINUED…

Read previous post:  
132
points
(14675 words) posted by field.cat 8 years 18 weeks ago
82.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Battle of Realms | heroes | HxH | Nolan's Canon
Read next post:  
80

Di sini Nolannya straight, to the point. Entah gimana saya suka Nolan yang ini, wokwokwok. Lebih blak-blakan.
.
+3

90

nyahahahha~
komentarnya papah guru Ivan waktu d Prelim, dipake di sini~
nyahahhaaha (σ`▽´)-σ
ringkas tp deliperi kenapa tuas malah milih kabur sdkt kurang epic, ,
ini mantav!
titip +3~
`
#ampooooniii saia, guruuuuu
(>ʃƪ<) (>ʃƪ<) (>ʃƪ<)
`
Hero go!
(づ。◕‿‿◕。)づ
`
~ it's time to LEARN! it's time to EARN! ~

70

+3.
.
terlalu cepat ngebunuhnya...

70

Nyahahaha, kalo dipikir-pikir. Sebenarnya ngalahin si Tuas emang cukup sederhana ya. Cabut saja dia dari tempat menclok :D
+3

It's not about the plot, it's not about the battle, it's about what should have been done to kill that thing...

+4 :)

60

A thumb-up for not walking out of the match
.
+2

80

.w.)
asiknya yg berada di posisi satu >w<)7
.
+2

80

better than nothing.
Iya, ini cerita semacam flash fiction yang FLASH.
buru-buru. Alurnya kurang terasa, tapi selamat buat spiritnya.
.
+2

wah ternyata Mas Glen yg ktnya WO punya sprint akhir juga. tapi krn kesannya buru2, jd struggle, alur, feel atau ciri khasnya emg kerasa kurang greget. walopun aku gaktau jg sengaruh apa keterburu2an ini utk peringkat Nolan yg dr awal udah juara 1 kubu hero. maap bgt krn kukasih +2 Mas Glen :(