Dream of Miniature Garden

 

 

 

Panggung dramatisasiku menaikkan layarnya.

Sorotan lampu mulai terasa oleh kulitku.

Kemudian, tepuk tangan penonton terdengar menggema mengawali drama cintaku.

Dan disinilah aku, berdiri di taman yang paling indah di dunia ini.

=_=

“Hey, kita mau kemana?” tanyaku kepadanya.

“Sebentar lagi. Ayo, kamu sudah janji akan menemaniku kan.”

Dia menolehkan wajahnya yang cantik kepadaku. Mendengar jawabannya, aku langsung diam dan mengikutinya dari belakang. Dia berjalan mendahuluiku melewati semak-semak belukar yang sepertinya sering dilalui oleh seseorang.

“Kelihatannya, kamu sering datang ke tempat yang akan kita tuju ya?” tanyaku mencoba untuk menghidupkan suasana.

“Darimana kamu tahu?”

“Semak belukar disekitar hutan ini tumbuh dengan liar dan tinggi. Namun, hanya di jalan yang kita lalui tidak ada sedikitpun rumput yang tumbuh. Artinya, jalan ini sering dilalui kan?”

“Hee...”

“Tempat itu, tempat rahasia kamu ya?”

“Hmm, yep. Bisa dibilang begitu sih.”

“Trus kenapa aku harus iku—”

 

“Kita sudah sampai,” dia membalikkan badannya dan tersenyum kepadaku dibalik syal merahnya.

>.<

Padang hijau.

Padang hijau terhampar sangat luas sejauh mataku memandang. Dilatarbelakangi oleh langit biru tanpa awan, membuat padang nan hijau itu terlihat seperti pemandangan di negeri wonderland. Dua benda yang kelihatan mencolok disana hanyalah sebuah rumah yang berdiri di atas bukit itu dan sebuah pohon besar yang rindang tumbuh disebelahnya.

“Ini beneran di bumi?”

Aku tidak percaya masih ada tempat di bumi ini yang memiliki tanah lapang seluas mata memandang.

“Hm. Ini adalah surga.”

“Apa?”

“Kalau kamu tidak percaya ini di bumi, maka anggap saja ini surga.”

“Itu lebih tidak masuk akal lagi,” aku menanggapi perkataannya.

Dia malah tertawa dengan halus mendengar jawabanku. Dia kemudian berjalan dengan suasana riang menuju ke rumah itu. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa lagi, mengikutinya dari belakang.

“Hei, rumah siapa itu?” tanyaku.

“Rumahku.”

“Eh?”

“Itu rumahku. Itu pohonku. Ini tamanku.”

“Jadi, ini semua properti milik kamu? Aku tidak tahu kamu adalah orang kaya?” tanyaku.

“Hm. Lebih tepatnya, ini adalah warisan dari orangtuaku. Mereka dulunya tinggal disini bersamaku.”

“Dulunya?”

“Sekarang mereka udah tidak ada.”

“Oh, maaf.”

“Tidak masalah.”

“Tapi, melihat dari letak geografis tempat ini. Aku rasa orangtua kamu ingin hidup damai disini, tanpa diganggu oleh seorang manusiapun. Dan aku yakin, tidak banyak orang datang ke tempat ini.”

“Yep. Kamu adalah orang pertama.”

“Aku?”

“Yep. Kenapa?”

“Tidak. Aku merasa aneh saja. Seperti merasakan rasa bangga atau sejenis itu.”

 

Kami berjalan sambil mengobrol, hingga rumah yang kulihat tadi semakin membesar, dan membesar. Rumah itu berdinding kayu dan terlihat sangat sederhana. Rumah itu, ya, aku bisa merasakannya. Kehangatan dan rasa berkumpul dalam satu keluarga di rumah itu. Entahkenapa, aku merasa bernostalgia akan perasaan ini.

“Hei. Apakah aku pernah berkunjung kesini?” aku menanyakan kepadanya.

“Hm. Sudah kubilang kan. Kamu orang pertama yang menemukan tempat tersembunyi ini. Jadi, mungkin aja kamu pernah kesini atau mungkin juga tidak.”

“.....”

“Aku tidak bisa mengajakmu masuk ke rumahku. Kamu bisa duduk di bawah pohon itu saja. Aku masuk ke dalam dulu untuk menghidangkan teh. Tunggu ya?”

Dia tersenyum lagi dan membalikkan badannya.

“Ah, tidak perlu repot-rep—”

Dia sudah menghilang dan masuk ke dalam rumahnya.

Kenapa dia tidak mengijinkan aku masuk?

Namun, duduk di bawah pohon yang rindang juga bukan pilihan yang buruk sih.

Sejak kecil aku suka sekali bermain, memanjat dan tidur di bawah pohon.

Ya, aku ingat. Pohon itu besar, sebesar pohon ini.

Di pohon itu aku mengukir namaku dan temanku.

Ya, seperti ini. Seperti di pohon ini.

Namaku dan namanya.

Eh?

Pohon ini?

Aku ingat. Ini adalah pohon tempat dulu aku bermain sejak kecil.

 

“Hei. Kenapa kamu melamun?” Dia menepuk bahuku.

Aku melihatnya.

Dia masih memakai seragam sekolah berwarna hitam dan rok selutut yang dipadani dengan syal merah di lehernya. Aku tersenyum kepadanya, sambil mencoba untuk fokus lagi.

 “Aku ingat aku pernah main disini. Di pohon ini. Kamu tahu itu kan?”

“Hmm.”

Dia hanya tersenyum lagi sambil menuangkan teh ke gelas. Melihat tingkahnya, aku duduk sambil menyandar di batang pohon itu. Batangnya sangat besar dan daunnya yang rindang membuat aku mengantuk.

“Kamu masih belum ingat ya?”

Dia membuka percakapan setelah menyodorkan tehnya kepadaku.

“Emangnya aku lupa apa?”

“Ah. Kamu tidak ingat ya. Janji 10 tahun yang lalu.”

Dia menggenggam tangan kananku dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

>.<

Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.

Tiba-tiba aku tersadar di kamarku, sambil memegang sebuah album foto masa kecilku. Aku melihat ke jendela dan malam sudah memunculkan dirinya.

Aku melihat lagi kearah album masa kecilku. Di foto itu terlihat seorang anak kecil yang berlumpur dan kotor setelah selesai bermain entah dimana.

Ah, aku ingat.

Ya, aku dulunya adalah anak yang nakal sekali.

Pernah sekali, aku lari dari rumah dan tersesat ke hutan. Di hutan itu.....

Eh, di hutan itu aku—

 

“Hei, aku akan mati. Karena aku akan mati, bisakah kamu mengabulkan permintaan terakhirku?”

Aku mengingat kembali percakapannya siang tadi.

“Eh? Kamu akan mati? Bercanda kan?”

“Tidak. Aku serius. Lihat ini.”

Dia menunjukkan kepadaku beberapa macam tablet yang ada ditangannya. Dia memakan semuanya, dan kemudian meminum air yang berada ditangannya.

“Tablet ini adalah obat dari penyakitku. Namun, kamu tahu. Obat apapun jika dikonsumsi terus menerus, efeknya akan semakin menghilang. Aku tidak punya waktu lagi. Jadi, kutanyakan lagi, apakah kamu ingin mengabulkan permintaan terakhirku?”

“Apa?”

“Permintaan terakhirku adalah janjimu 10 tahun yang lalu. Itu saja.”

 

Namun, aku tidak bisa mengingat apapun. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku juga baru pertama kalinya datang ke tempat itu, pikirku sambil membolak-balik album fotoku lagi.

Eh?

Ini. Foto ini.

Tiba-tiba, otakku seperti dirangsang oleh sesuatu hal diluar kepalaku. Ingatanku sejak kecil saat bersamanya, saat masa-masa bahagia itu. Kenapa aku melupakannya?

Bodoh.

Aku mengulang kata yang diucapkan oleh gadis itu saat aku mengatakan aku sudah lupa akan janji 10 tahun itu.

>.<

Malam semakin tinggi. Gelapnya tabir diiringi oleh alunan cahaya bintang menerangi jalanku menuju tempat itu. Aku mengayuhkan sepedaku dengan keras melewati jalanan yang mulai sepi oleh kendaraan bermotor.

Dinginnya malam semakin menusuk kulitku. Setelah tiba di hutan yang bersemak belukar itu, aku meninggalkan sepedaku, dan segera berlari menuju tempat itu.

>.<

“Hey, kamu kenapa? Tersesat?” anak perempuan itu menyapaku.

Aku tidak bisa mengakui bahwa aku tersesat dan kabur dari rumah.

“Ayo, ke rumahku. Ibuku pasti senang.”

Dia menarik tanganku dan membawaku ke tempat itu.

Aku ingat.

Sejak itu, aku semakin sering datang ke rumahnya dan bermain di taman serta pohon itu.

Kami bahkan menamai tempat itu, dan berjanji akan—

>.<

“Ah, Ah, Ah, Ah, Ah.....”

Aku mencoba mengatur nafasku, saat melihat bayangannya yang tenggelam oleh lautan bintang di depan mataku.

Dia menyadari kedatanganku dan menyapa.

“Hey, kamu kenapa? Tersesat?”

 

>.<

 

“Aku suka kamu,” aku berteriak kepadanya ditemani oleh siluet pohon besar itu.

“Eh?”

“Aku suka, suka, suka, suka kamu,” aku semakin mendekatinya.

“Aku tahu itu. Tapi, itu perasaanmu kan.”

“Ya, ini perasaanku padamu. Saat ini. Bukan perasaanku yang dulu.”

“Aku tahu. Tapi, aku lebih menyukai dirimu yang dulu.”

“Aku yang dulu adalah aku yang sekarang, apa bedanya?”

“Aku tahu. Aku lebih menyukai dirimu yang dulu. Tapi, aku mencintai dirimu yang sekarang.”

“Hm. Aku tahu,” aku mencoba tersenyum.

“Jadi, bisakah kita—”

“Yup. Disini dan sekarang. Aku akan memenuhi janji 10 tahun lalu ku.”

>.<

Aku memegang dengan lembut tangan kanannya.

Dia mengikutiku dari belakang sambil tersenyum malu dibalik syalnya.

Aku membuka pintu rumah itu.

Untuk pertama kalinya.

 

Didalam rumah itu sudah berkumpul banyak orang yang setelah melihat kedatanganku berdiri dan bertepuk tangan dengan riuh.

Kami berdua berjalan di antara mereka menuju ke mimbar, dan di depan mimbar itu.

Kami bersumpah.

“Saya, maukah kamu menjadi istriku?”

“Yup. Dengan senang hati, Eric.”

 

Dan sumpah itupun ditutup dengan rangkaian bibir yang tersambung erat diwajahku. Aku merasakan sensasi bahwa dia masuk kedalam tubuhku. Menyatu bersamanya.

Aku mengangkat wajahku, dan melihatnya.

Wajahnya terlihat senang, dan matanya memancarkan kebahagiaan. Air matanya tetes demi tetes mengalir membasahi syal merahnya.

Aku menundukkan kepalaku, dan mencoba untuk mengatakan kalimat yang itu lagi.

“Saya, aku benar-benar ci—”

Dia terjatuh sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

Matanya yang berseri-seri semakin redup dan redup. Dan bibirnya yang hangat semakin dingin dan dingin.

Ya, dia telah meninggalkanku dan taman ini.

>.<

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer no_one
no_one at Dream of Miniature Garden (8 years 48 weeks ago)
70

Critanya bagus, tapi alurnya cepat ya, atau saya bacanya yang terlalu menggebu-gebu. hahaha^^

Writer Hael Elliyas
Hael Elliyas at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
80

ooke~ story'a mudah dipahami,
tp deliperinya cukup membingungkan utk dipahami, ,
apalagi pas lompat-lompat alur itu~
butuh konsentrasi lbh besar utk bisa masuk k dalamnya~
efek 10 tahun yg terlupa, lalu 10 tahun itu teringat kembalinya masih belum berasa WOWfactornya, master guruu~
#ampoooooniii saiaaaa~ (>ʃƪ<) (>ʃƪ<) (>ʃƪ<)
`
`
tp ini cerita ringan yg asiik~
`
(づ。◕‿‿◕。)づ
`
~ it's time to LEARN! it's time to EARN! ~

Writer kaochanisa
kaochanisa at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
70

hmmm.. mau izin sedikit berkomentar nih.. hehehe.. xp
dari segi cerita.. aku suka..
tapi cara penyampaiannya masih banyak yang membingungkan..
hehe..
oiya.. salam kenal yaaa..

Writer hamdan15
hamdan15 at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

salam kenal kk nisa,
.
memang banyk hal2 yg belum terjelaskan sih sbnarnya.
.
mkasih udh mampir.

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
70

ceritanya kk Hamdan minusnya
- semua terjadi serba kebetulan,serba mudah
>> kayak tiba2 sepuluh tahun kemudian mereka bertemu
- emosinya kurang, bneran brasa datar bgt bacanya ><
>> ini pov 1 lho, harusnya lebi gmpg ngutarain perasaan wkwk
nurutku harus sedikit diulas, gimana perasaan si cowok ttg ingatannya yg ilang, terus gimana perasaannya pas nemu si cewek setelah bertahun2 ?? (eh, mereka smpt kepisah gak si??)
.
plusnya, ceritanya selalu berpotensi jadi epic!!! >,<

Writer hamdan15
hamdan15 at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

Yep, ane setuju.
sebenarnya, ane merasa kesulitan bgt mengungkapkan perasaannya aku. kyk nggak alami gt.
.
dan memang bnyk hal yg nggak terjelaskan dicerita ini.
.
thanks atas kritiknya kk, pengen lebih baik lagi nulisnya. #haha.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
2550

“Saya, maukah kamu menjadi istriku?”

“Yup. Dengan senang hati, Eric.”

Jawaban Saya terkesan kurang serius (pilihan kata yang dipakai, maksudnya).

Selain itu masih ada "di" kata depan yang ditulis bersambung dg kata berikutnya (maaf saya selalu merhatiin ini di setiap tulisan yang saya baca wahahaha).

Terus, untuk penulisan angka itu sebetulnya ada aturannya, kapan ditulis dengan huruf dan kapan ditulis dg angka (dl cerita ini ada angka "10" yang cukup banyak diulang). Yah, kalau mau tengok pedoman EYD sih.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
70

asik ikutan jg. komennya di twh kk :D

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
70

ending-nya berasa "jleb" tanpa muncratan darah kk x___x
*analogi yg sadis -..-*
didramatisasi lagi dong biar lebih greget wkwk

Writer hamdan15
hamdan15 at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

wah, di dramatisasi lagi ya?
hm...
.
eric: tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak...........
saya: euk. (pura-pura tergeletak tk bernyawa)
.
apa ini cukup kk?

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

ditambahi efek bumi gonjang ganjing langit kelap kelip sekalian kk, trus nanti kameranya zoom in zoom out :3

Writer hamdan15
hamdan15 at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

#hahaha.
.
cdarrrrrrr.
"Aku rasa, aku harus mati sekarang, eric."
"iya, cepetan. Lampu, mana lampu. BGM nyalain."

Jdarrr...
drussss..drusss.... -bunyi air banjir-
krek krek....

Plup.

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)
70

Astaga-- minggu kali ini sepertinya bad ending semua..
D:
Kenapa harus ada yang mati sih!?
#plak!

Haduh, agak bingung tapi. Itu orang-orang yang merayakan pernikahan sebenarnya udah nunggu di sana sejak lama?

Jadi agak bingung juga karena agak menabrak logika.

--edit
Point : ***

The plus : Ceritanya manis
The minus : Alurnya agak cepat, juga ada beberapa kejanggalan / plothole (udah dijelasin di atas)

Writer hamdan15
hamdan15 at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

makasih kk leon.
.
sebenarnya, itu adalah ilusi atau bayangan aja.
.
tapi kan, ane nyeritain dari POV 1, sudut pandangnya aku.
jdi, apa yg aku lihat, apa yang aku rasakan, apa yg aku bayangkan, itu yang tergambarkan.
.
jadi, dia itu mengkhayal bahwa ada banyak org menyambutnya kyk dipesta pernikahan.
.
ane nggak nyebut itu cuman ilusi di cerita, karena aneh kalau aku nya.
kalau ane pake POV 3, yg artinya observer dari luar, baru ketahuan itu adalah ilusi dari si aku aja.
.
yah, ane nggak tahu juga sih bener atau nggak theory ini. soalnya ane adop dari knox yg genrenya misteri.

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Dream of Miniature Garden (8 years 50 weeks ago)

waduh, lumayan kompleks juga ya...
._.
.