Keledai

Kau tahu keledai?

Hewan yang minta ampun bodohnya ini, terjatuh pada lubang yang sama tiga kali. Ya, tiga kali! Meski akhirnya tak ada yang pernah bercerita hewan itu selamat atau tidak pada kali yang ketiga, tapi cukuplah kisah itu memberikan kesan, betapa suram hidupnya.

Tapi kisah yang akan kuceritakan ini, akan memberitahumu bahwa manusia terkadang sama bodohnya dengan keledai, bahkan meski ia seorang putri! Kesulitan muncul karena jika keledai bisa kau perintah, teriaki bahkan kau cambuki agar tak salah jalan, kau tak bisa melakukan itu pada seorang putri, atau balasannya adalah mati.

Aletheia, adalah putri satu-satunya Raja Arthur dan Ratu Anabella. Saat itu Sebastian, berusia lima belas. Sebastian sudah tak beribu bapa, sehingga sejak umur sepuluh, ia tinggal di kompleks istana, membersihkan kandang kuda.

Karena Kepala Kandang sering melihatnya saat ia menyikat kuda-kuda mereka dengan bersemangat, akhirnya Kepala Kandang mengajarinya menunggang kuda. Dengan semangat yang sama, ditambah sudah terjalin percaya antara Sebastian dan kuda-kudanya, dengan cepat Sebastian menjadi penunggang kuda yang handal. Iapun sering dipercaya melatih berkud untuk keluarga raja, termasuk Aletheia.

Umurnya masih sepuluh tahun, tapi sudah nampak kecantikannya. Ia mewarisi kecantikan Ratu Anabella, dan kecerdasan Raja Arthur. Awalnya Sebastian memperlakukannya seperti kristal yang indah dan rapuh, sehingga tak boleh pecah. Namun Aletheia sendiri cukup bisa menjaga dirinya, dan ia tahu betul akan hal itu, sehingga berulang kali ia melanggar aturan yang Sebastian tetapkan. Ia pernah memacu kudanya keluar istana, padahal belum diperbolehkan. Ia pernah mengeluarkan kuda favoritnya sendirian, yang menyebabkan penjaga kuda kelabakan. Berkat semua kebandelan dan kenekatannya, singkat waktu ia sudah menguasai pelajarannya, dan diperbolehkan berjalan-jalan keluar istana, tentu dengan pengawalan Sebastian.

Akan halnya Sebastian, sebenarnya ia hanya dua tahun melatih Aletheia. Karena Kepala Pengawal telah memperhatikan anak muda yang tegap, dengan tubuh menjulang, dan nampak bersemangat itu. Sebastian diperintahkan untuk pindah ke divisi pengamanan, dan ia berlatih keras untuk dapat menjadi seorang ksatria. Umurnya tiga puluh, ketika ia diangkat menjadi pengawal raja.

Tak banyak kesempatan bagi Sebastian untuk melihat Aletheia. Namun jika kesempatan itu datang, ia akan terdiam beberapa lama, menikmati kecantikan yang terpancar dari gadis tersebut. Aletheia kini berubah menjadi seorang wanita rupawan, dengan tubuh ramping dan kulit bersinar. Mereka bilang itulah kecantikan khas bangsawan. Bagi Sebastian, itulah kecantikan khas Aletheia. Satu-satunya dalam dunia Sebastian.

Bukan hanya Sebastian yang mengaguminya. Para pangeran kerajaan tetangga juga berpikiran sama. Maka mulailah Raja Arthur menerima berbagai kunjungan, yang berniat segera melamar Aletheia menjadi anggota kerajaan mereka. Ada pula para bangsawan, yang merasa dengan menikahi Aletheia, kedudukan mereka akan sejajar.

Kembali ke soal keledai, kelemahan Aletheia adalah, ia belum belajar, bahwa apa yang ia lihat bukanlah yang sebenarnya.

Pangeran pertama, tampan dan kaya. Ia menawarkan sebuah danau yang indah, sebagai milik mereka berdua. Aletheia senang sekali, ia dapat berkuda di sekelilingnya. Namun pria tampan memang rentan godaan. Sang pangeran terlihat keluar dari rumah bordil di ujung desa, pada malam nahas itu. Nahas, karena saat itu purnama dan ada orang menabraknya, sehingga terlihatlah wajahnya. Berita itu tersebar, dan Raja Arthur mendengarnya. Begitu marah dirinya, sehingga Raja melarang pangeran tersebut memasuki wilayah kerajaan mereka lagi.

Lalu ada calon kedua, seorang bangsawan. Cukup sopan, mempesona dan terpelajar. Aletheia banyak mendapat wawasan darinya, dan terbuai dengan kata-katanya yang memabukkan. Lagi-lagi gagal, karena sebuah surat kaleng sampai ke Kepala Pengawal, disampaikan ke Perdana Menteri, yang menyebabkan mereka menggrebek kastil si bangsawan. Terbongkarlah rencana makar. Dokumen-dokumen tersebut mengantar si bangsawan pada pemenggalan.

Calon ketiga, baru saja dipulangkan paksa oleh Raja Arthur. Seorang pangeran juga, bergaya flamboyan dan halus budi bahasanya. Ia pandai main musik, punya banyak teman, dan emasnya dimana-mana, katanya. Karena ketika tanpa sengaja seorang pelayan menumpahkan minuman ke hadiah ulang tahun yang dibawanya untuk Aletheia, sepeti perhiasan emas itu mengeluarkan kepulan asap ungu, dan kemudian warnanya berubah menjadi hitam. Raja Arthur marah besar dengan penipuan itu. Memang sang pangeran punya tambang emas di beberapa tempat, tapi semua sudah tutup, dan pangeran berpikir ia harus mencari sumber pendapatan lain. Tanpa segan Raja Arthur memulangkan calon mantu yang gagal itu.

Bagaimana dengan Aletheia?

Itulah yang kukatakan sebelumnya, ia merasa bagai keledai. Hari ini usianya sudah dua puluh tahun, sudah tiga kali berusaha menjalin hubungan, tiga kali juga semuanya kandas, bahkan saat belum berjalan. Ia berpikir, tak adakah pangeran di dunia ini yang tulus mencintainya, menginginkannya untuk jadi istri mereka, bukan sekedar mantu bapanya.

Maka malam itu, saat semua tertidur, Aletheia memacu kudanya keluar gerbang. Kedua pengawal di depan tak terbangun, akibat minuman keras yang mereka dapat diam-diam dari dapur. Namun Sebastian yang akan memasukkan kudanya ke kandang, melihatnya. Iapun segera mengejar sang putri, yang ia hapal benar akan menuju kemana.

Ada satu tempat yang ditunjukkannya pada Aletheia kecil, sebagai hadiah kalau ia menyerap pelajaran berkudanya dengan baik. Sungai kecil dengan bunga dan kupu-kupu sebagai penghiasnya, menjadi tempat favorit Aletheia. Sampai dewasa, ia juga suka kesana, menikmati kesendiriannya. Sebenarnya, ia tidak benar-benar sendiri, karena Sebastian kadang lebih dulu datang kesana. Ia akan cepat bersembunyi agar Aletheia tak pernah tahu, ada yang mengamatinya diam-diam.

Pelan Sebastian turun dari kudanya. Ditambatkannya agak jauh, dan perlahan ia berjalan menuju tepi sungai. Pedangnya sudah siaga, khawatir sang putri menghadapi bahaya.

Namun tidak juga. Dalam kegelapan malam, dengan bintang menghiasi angkasa, Aletheia tersedu di bawahnya. Rambutnya yang panjang terjuntai ke samping, menyembunyikan wajahnya yang cantik. Ia bersimpuh di batu besar, tempatnya biasa bersantai dari keramaian.

‘Tuan Putri,’ tegur Sebastian pelan.

Aletheia berdiri dengan terkejut. Setelah ia mengenali jubah pengawal Sebastian, lalu wajah Sebastian yang sudah dikenalnya, ia kembali tenang.

‘Sebaiknya jangan disini pada malam hari, Tuan Putri. Bahaya. Mari saya kawal kembali ke istana.’ Sebastian berkata dengan tenang namun tegas.

Aletheia menatap Sebastian dengan putus asa. Ia tak bisa cerita ke siapa-siapa, bahwa ia sedih sekali malam ini. Apalah Sebastian, bahkan ceritanya pun mungkin tak menarik bagi pengawalnya itu.

‘Atau, jika Putri keberatan untuk pergi, ijinkan saya menemani.’

Aletheia terdiam. Ia sendiri tak tahu keputusan apa yang harus ia berikan. Namun Sebastian telah melangkah ke tepi sungai, mengamat-amati keadaan sekeliling. Matanya berusaha menangkap gerakan apapun yang mencurigakan, selain dari hewan-hewan malam.

Aletheia kembali bersimpuh di bebatuan. Matanya masih memandang sedih permukaan sungai yang berwarna kelam.

‘Kau pernah merasa sendiri?’ katanya memulai pembicaraan.

‘Sering, Tuan Putri. Saya yatim piatu. Tapi biasanya saya selalu mengingatkan diri saya, bahwa saya punya keluarga baru. Keluarga saya adalah para pegawai istana, yang menganggap saya sebagai anak mereka. Kini saya punya banyak orang tua.’

Aletheia tersenyum mendengarnya.

‘Syukurlah kalau begitu. Tidak ada yang jahat padamu?’ Ia berucap sendu.

Sebastian kini mendekati Aletheia. Ia duduk di batu yang bersebrangan dengannya. Sejak dewasa, belum pernah ia sedekat ini dengan tuan putrinya. Harum bunga seakan sudah merasuki indra penciuman Sebastian.

‘Yang jahat? Pasti ada Tuan Putri. Tinggal bagaimana kita menghadapinya, belajar, dan bertekad tidak jatuh lagi,’ ucap Sebastian tenang.

‘Maksudnya?’ Mata Aletheia terbuka lebar. Momen yang Sebastian sungguh sangat suka.

‘Semua itu bisa dipelajari. Karakter manusia, meski tertutup oleh penampilan, akan terlihat pelan-pelan. Itulah pentingya belajar, dan hati-hati. Agar berikutnya ketika seseorang datang, kita sudah paham bagaimana harus bereaksi,’ jelas Sebastian panjang lebar.

Aletheia tertawa. Tawanya terdengar merdu bagi Sebastian.

‘Kau pelajari itu di kamp pelatihan?’ tanya Aletheia ceria.

Sebastian menggeleng. ‘Dari hidup, Tuan Putri. Kehidupan telah mengajarkan saya banyak hal, dan itu yang membuat saya masih mampu bertahan.’

Aletheia terdiam. ‘Apakah ada…sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku, Sebastian?’

Sebastian sebenarnya ingin, begitu ingin, mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam. Tapi ia tahu, ia tak bisa mengacaukan langkah-langkah yang ia telah susun.

‘Maaf atas kelancangan saya, Tuan Putri. Namun tak usah sedih atau takut melangkah lagi. Kelak, akan ada jodoh Tuan Putri yang mencintai Tuan Putri apa adanya, rela melakukan apa saja, dan kebahagiaan Tuan Putri adalah tujuan utamanya.’ Sebastian merasa sedikit lega setelah ia ungkapkan itu.

Sebaliknya Aletheia, terserang keraguan yang sama. ‘Apa…ada pria seperti itu?’

‘Pasti ada Tuan Putri. Hanya, mungkin ia bukanlah pangeran ataupun bangsawan seperti biasanya.’ Sebenarnya Sebastian ingin menambahkan – mungkin saja ia seorang pengawal – namun diurungkannya. Belum saatnya untuk membuka kedoknya.

Sepertinya Aletheia agak tercerahkan hatinya. Ia mengajak pulang Sebastian, yang dengan patuh mempersiapkan kuda sang putri, menaiki kudanya sendiri, dan mengikutinya dari belakang.

Di bawah panduan bintang, Sebastian merasa riang. Semua langkahnya telah memberikan hasil yang dinantinya dengan sabar. Mencari kelemahan calon suami Aletheia, mengintai dan menyamar. Berikutnya adalah bermain peran. Sebagai rakyat yang lewat depan rumah bordil, sebagai penulis surat kaleng yang menggagalkan kudeta, menjadi pengembara yang mendatangi dukun untuk meminta ramuan yang bisa menguji emas, dan menjadi pelayan di pesta ulang tahun sang putri.

Kali ini, semoga keledai tak jatuh lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Keledai (8 years 46 weeks ago)
80

Pas tiba pd akhir paragraf ada sesuatu yg bikin kaget, haha keren2 :-D

Writer indyfindme
indyfindme at Keledai (8 years 46 weeks ago)

Halo Cakil, makasih atas komen dan votenya, smg terhibur ya :)

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Keledai (8 years 49 weeks ago)
90

Mengesampingkan judul yang misift dan mungkin beberapa kata yang tidak tepat, astaga, ini bagus banget. Love it! Hantamannya ada di akhir paragraf, sangat bagus.

/rates

Writer indyfindme
indyfindme at Keledai (8 years 47 weeks ago)

Mmh, makasih yah sastrasempoa. Iya ini baru belajar, jd mohon masukannya biar tambah ok. Ma'acih :)

Writer Dem Aileen
Dem Aileen at Keledai (8 years 49 weeks ago)
60

Aku benar² benci dengan kutip satu yang mengurung dialog seperti yg kamu bikin. Berasa melanggar EYD menurutku. Dan kurasa, kisah sang Putri itu belum bisa di sejajarkan dengan kisah si keledai. Sama sekali berbeda.
.
Dem Aileen

Writer indyfindme
indyfindme at Keledai (8 years 47 weeks ago)

:) Dem Aileen, makasih atas komennya. Utk kutip satu, Krn sy sengaja melakukannya, ngga ada yg bs sy lakukan selain menerima segala protes yg masuk. Mengenai keledai, euh itu analogi atas perilaku bodoh sang putri, saking gemesnya si sebas.

anyway, makasih ya :)

Writer Wynfrith
Wynfrith at Keledai (8 years 49 weeks ago)
90

I don't know what to say, nice story... Thumbs up

Writer indyfindme
indyfindme at Keledai (8 years 47 weeks ago)

Ehm, makasih yah Wynfrith :)

Writer man Atek
man Atek at Keledai (8 years 49 weeks ago)
100

Tapi kisah yang akan kuceritakan ini, dst ...
Siapakah tokoh dalam cerpen ini ? Bisa dikatakan tidak ada tokoh di dalam cerpen ini, kecuali hanya tokoh "ku" sebagai si pennyampai cerita. Tidak ada narasi sepanjang kalimat-kalimat cerpen yang bisa di telaah untuk mencari jawab siapakah tokoh "ku" ini kecuali dengan tafsir bahwa tokoh "ku" adalah si penulis itu sendiri. Gaya tulisan seperti ini lebih dekat pada buku harian yang ditulis dalam bentuk cerpen, dari pada cerpen itu sendiri. Karena belum bisa memisahkan antara cerpen yang disampaikan dengan diri penulis. Disarankan agar ditambah dikit tentang narasi deskripsi siapa si aku sebagai pencerita. gimana ?

Writer indyfindme
indyfindme at Keledai (8 years 47 weeks ago)

Wah, makasih Man Atek atas sarannya. Ehm, iya sih, ini penulisnya lg berlagak jd narator. Jd sebaiknya penulisnya memposisikan diri sbg karakter dlm cerita ya? Terus terang sy terinspirasi gaya AS Laksana saat bercerita. Nanti sy coba cari contohnya ya, biar bs diperbaiki. Makasih bangeet :)