Butterfly Effect

 

1.1

Monolog

Ruangan klub masih sangat sepi saat kami datang. Aku dan dia membuka pintu ruangan A1 itu dan melihat kesekelilingku. Sudah satu tahun aku masuk klub aneh ini. Ketuanya cuman satu, guru pembimbing juga satu, dan anggotanya juga satu.

Eh, kamu bilang aku adalah ketua?

Ah, aku tentu saja hanya anggota. Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik pada apa yang dikerjakan oleh klub ini sih. Tapi, karena peraturan sekolah yang mengharuskan siswanya paling tidak memilih satu ekskul, membuatku harus ikut klub yang paling tidak aktif dan sangat pasif ini.

Eh, kamu penasaran, klub apa ini? Menarik?

Tidak, tidak. Aku harap kamu tidak terlalu berekspektasi pada klub ini. Klub ini benar-benar membosankan. Yah, meskipun begitu, jika kamu menanyakan kepadaku, klub apa yang tidak membosankan, pasti akan kujawab semuanya membosankan.

Oh, maaf. Aku memperlihatkan sisi pesimisku. Ah, malunya....

Oke, bisa kita ulang lagi pertanyaannya?

Namaku?

Oh iya, maafkan aku. Jika kita ingin memulai percakapan antar sesama orang asing, harusnya yang pertama kali dibicarakan adalah nama kan.

Ya, ya. Nama. Nama sangat penting bagi manusia. Nama itu seperti identitas. Pikirkan saja, jika 5 miliar manusia di bumi ini tidak punya nama. Ah, jadi aku harus memanggil mereka apa ya? Jika teman sekelasku yang bernama Roni tidak bernama Roni, maka aku akan memanggilnya apa? Oh, aku tahu. Bagaimana jika aku panggil berdasarkan karakteristik mereka saja. Seperti Roni tadi, maka aku bisa memanggilnya ‘Bodoh’ atau ‘Bodoh’ dan ‘Bodoh’. Tapi, kosakata bahasa Indonesia sangat sedikit. Aku tidak akan bisa menamai 5 miliar manusia di dunia ini dengan bahasa Indonesia saja.

Tidak. Tidak. Jika aku berpikir tidak bisa, maka tidak akan bisa. Aku harus berkata bisa, dan pasti akan bisa.

Btw, kamu bosan ya? Aku juga. Kapten lama banget datangnya. Btw, Kapten adalah Ketua. Intinya, aku memanggilnya Kapten karena dia adalah Ketua.

Kenapa aku memanggilnya Kapten? Tentu saja, karena dia adalah Ketua. Nama sebenarnya adalah—

Nama Kapten adalah, ah, aku lupa. Bayangkan saja, ada lima miliar nama di bumi ini. Bagaimana aku bisa mengingatnya? Yah, aku memanggilnya Kapten. Jadi, kamu bebas saja sih sebenarnya memanggil dia siapa.

Oh, namaku?  Aku lupa. Singkat saja, namaku adalah—

>.<

1.2

“You meet Tawa, and alive? How absurd!!” Captain said.

Aku membuka pintu ruangan klub dan melihat dua orang siswa yang asyik berbicara.

Tidak, aku tidak bisa bilang ini adalah pembicaraan.

Anak laki-laki yang kukenal yang sedang berbicara panjang lebar sedang mengeluarkan unek-uneknya tentang nama. Dia adalah Tawa Rararrara. Panggil saja dia Tawa. Seperti biasa, dia mengoceh terus menerus setiap aku bertemu dengannya.

Sedangkan, satu orang lagi tidak kukenal. Dia berjenis kelamin perempuan, dan jika dilihat dari dasinya dia adalah anak baru.

Oh, anggota baru?

“Ah, Kapten. Ini ada anak baru loh. Aku sudah memberikan dia penjelasan tentang klub ini loh. Namanya, e, namanya, ehm, aku lupa. Tunggu, lima miliar nama ada di kepalaku dan—”

Dia berteriak seperti orang gila.

“Salam kenal. Nama saya adalah Mari. Saya tertarik dengan klub ini, Ketua. Bisakah saya masuk sebagai anggota juga?”

“Eh, tidak, tidak. Aku adalah anggota. Anggota cuman boleh satu. Ketua satu, Anggota satu. Itu merupakan kesetimbangan dan Azas Le Chatelier di alam ini. Jika kamu masuk, maka kesetimbangan itu hancur. Artinya, artinya, anggota ada dua. Dan—” Tawa mengalihkan pembicaraan.

Ah, dia berbicara lagi.

“Apa benar kamu ingin masuk klub ini?” tanyaku kepadanya sambil melirik ke arah Tawa.

Jika aku deskripsikan, dia adalah cewek yang cantik. Berpostur tegap dan kelihatannya pintar. Aku bisa melihat dia pasti akan bersinar di klub atletik, atau diklub-klub lainnya. Tapi, kenapa dia malah datang ke tempat ini?

“Iya. Saat saya pertama kali masuk sekolah ini, pameran Ketua sangat memukau. Itu, itu benar-benar hebat. Saya kagum.”

Oh, jadi dia benar-benar melihat pameran itu ya?

“Tapi, beneran nggak apa-apa? Disini ada orang gila sih sebenarnya.”

“Oh, kakak ini? Dia dari tadi ngoceh nggak jelas melulu. Tapi, saya tidak terganggu kok. Asal kita bisa mengumpulkan kupu-kupu saja.”

“Kupu-kupu? Ada apa dengan kupu-kupu? Tidak, tidak. Apa kita akan menjadi kupu-kupu? Persahabatan kita akan jadi seperti kupu-kupu? Dari kepompong jadi kupu-kupu? Ah, ya,ya. Kupu-kupu sangat cantik. Sesuatu yang dari kepompong yang tidak ada harganya, menjadi kupu-kupu yang indah. Ah, aku tahu. Aku tahu. Kupu-kupu juga di mitologi Yunani juga digambarkan sebagai jiwa, arwah, dan soul  manusia yang telah mati. Cupid juga berasal dari kupu-kupu kan? Terus ada apa dengan kupu-kupu? Jangan-jangan kita akan jadi kupu-kupu malam?”

“Tawa, apa kamu lupa? Ini adalah klub pencinta kupu-kupu dan tolong diam sebentar. Dan jika Mari benar-benar suka dengan kupu-kupu juga, dan tidak seperti makhluk aneh ini, aku menerimamu sebagai anggota juga, maaf, sebagai wakil ketua.”

Aku mengoreksi perkataanku, saat melihat Tawa akan menangis saat kesetimbangan kimia  di klub ini hancur hanya karena punya dua orang anggota. Dia kelihatannya tidak cukup bodoh untuk menyimpulkan bahwa sekarang klub ini punya satu orang Ketua, satu orang Wakil Ketua, satu orang Anggota, dan satu orang Pembimbing.

>.<

1.3

Mari dan Kupu-Kupu

Klub itu bernama Butterfly Effect. Aku pertama kali mengetahuinya saat pameran rekruit klub yang diadakan saat aku masuk SMA ini. Pameran yang diadakan oleh Butterfly Effect saat itu adalah menampilkan foto berbagai jenis kupu-kupu indah yang tidak pernah kulihat.

Tapi, bukan itu alasanku masuk klub ini.

Alasan sebenarnya aku masuk klub ini hanya satu yaitu agenda dari klub ini. Di pameran kemarin, Ketua menuliskan dengan lebar-lebar agenda jurnal perjalanan mereka yaitu berpetualang mencari kupu-kupu di gunung Asahi yang berada diluar kota itu.

Gunung Asahi.

Gunung itu menyimpan kenangan pahit bagiku. Tepatnya, satu tahun yang lalu, aku dan ibuku pergi ke gunung itu untuk berlibur. Kami akhirnya mencapai puncak gunung itu, dan berkemah disana. Ibuku adalah seorang pencinta alam sejak kuliah, sehingga dia tidak begitu takut untuk pergi sendirian tanpa laki-laki disampingnya. Namun, di pagi harinya, aku menemukan bahwa ibuku sudah menghilang. Beliau tidak ditemukan di daerah perkemahan, dan polisi pun turun tangan untuk menyelesaikan kasus ini. Namun, di akhir pencarian, tidak ditemukan satu jejak pun tentang keberadaan ibuku, dan kasus inipun menghilang dimakan waktu.

Aku tahu, sudah satu tahun cerita itu terjadi. Harapan agar ibuku masih hidup tentu saja makin mengecil dan mengecil. Namun, aku tidak bisa berpangku tangan seperti ini. Karena itulah, aku mencoba untuk sekali lagi mendaki gunung itu. Dan sekarang aku tidak akan mengulangi kesalahan ibuku lagi. Aku membawa pria-pria yang kelihatannya kuat.

Dan, paling tidak, jika memang ibuku mati, aku harus tahu siapa yang membunuhnya.

>.<

2.1

Plot Twist:  Actually, Tawa is Murderer.

“Ehm, Mari-san. Sini sebentar.”

Ketua memanggil Mari saat rapat perencanaan menuju gunung Asahi telah selesai.

“Ada apa Ketua?”

“Bisa bicara dua mata?”

“Disini?”

“Ya.”
“Ada apa?”

“Saya hanya memberikan nasehat saja sih sebenarnya. Kamu tahu Tawa?”

“Kakak yang tadi?”

“Ya. Jangan dekat-dekat dengannya.”

“Kenapa? Saya masih bisa mentolerir sih ocehannya.”

“Bukan itu. Dia, ehm, apa ya, dia itu aneh.”

“Aneh? Aneh gimana?”

“Aku tidak bisa menjelaskan lebih dalam lagi. Tapi, jika kamu ingin selamat, jangan terlalu dekat-dekat dengannya. Mengerti?”

“.....Haa.”

>< 

“Sensei, jika kamu merokok terus, nanti bisa kanker loh. Hm, hm, rokok ya. Rokok benar-benar sangat berbahaya bagi paru-paru. Sensei tahu, dia mengandung nikotin, gas karbonmonoksida, dan unsur-unsur yang berbahaya lainnya. Saya sih tidak masalah sensei mati, tapi tolong jangan mati karena rokok. Aku trauma banget dengan yang namanya rokok. Kakakku mati karena rokok, ibuku juga, ayahku juga, dan adik-adik tersayangku juga. Aku harus balas dendam dengan rokok. Ya, jauhi rokok. . .”

“Ah, Tawa kah? Ada apa? Jangan berbohong tentang keluargamu dan tolong bicara dengan normal.”

Di atas atap sekolah, terdapat seorang guru yang sedang merokok dan murid SMA yang bernama Tawa.

“Sensei adalah guru pembimbing klub Butterfly Effect kan? Ini adalah agenda di bulan ini yaitu mengunjugi gunung Asahi. Dan juga satu lagi, ada anggota baru yang masuk ke klub sebagai wakil ketua,” Tawa melemparkan dokumen yang berisi perencanaan itu kepada gurunya.

“He!! Tahun kemarin juga kalian pergi ke gunung Asahi kan? Kenapa sekarang pergi kesana lagi? Nggak bosan?”

“Gunung Asahi itu merupakan gunung yang sangat lebat. Dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang dan udaranya juga segar. Aku tidak tertarik dengan kupu-kupu, tapi berjalan diantara kerumunan pepohonan seperti tarzan sangat nyaman bagiku. Hm, hm, tarzan kah? Tarzan sangat hebat. Dia bisa bergelantungan seperti itu. Kenapa aku tidak bisa? Tapi dia bodoh. Aku tidak bodoh. Jadi, aku tidak bisa jadi tarzan ya? Ya, ya. Sensei apa kamu tahu tentang tarzan?”

“Sudah kubilang, hentikan gaya bicara anehmu itu. Disini tidak ada siapapun. Jadi, kamu tidak perlu khawatir rahasiamu bakalan terungkap.”

“Aku juga lelah dengan gaya bicara ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Yah, btw, ada yang ingin kutanyakan kepada Sensei.”

“Apa?”

“Sensei tahukan rahasiaku.”

“Tentu saja.”

“Yah, sebenarnya aku memiliki mata yang lebih spesial dari manusia kebanyakan lainnya. Itu terjadi setahun yang lalu. Saat kita menaiki gunung Asahi. Entah bagaimana, aku bisa melihat aura yang dipancarkan oleh seseorang.”

“Kamu mau menjelaskan semuanya kepadaku? Aku sudah tahu itu.”

“Aura yang dipancarkan oleh seseorang itu berbentuk seperti kupu-kupu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Tentu saja, orang lain tidak bisa melihatnya. Jika auranya baik maka kupu-kupunya akan berwarna putih, dan jika auranya jahat maka kupu-kupunya akan berwarna hitam. Itu sangat keren, meskipun aku hanya menemukan sedikit sekali kegunaannya. Tapi, Sensei tahu apa yang barusan kulihat pagi ini?”

“Apa?”

“Anak baru itu. Dia tidak memancarkan aura hitam/putih, tapi melainkan emas. Aku heran. Aku sangat heran. Ya, aku benar-benar heran. Luar biasa heran. Dia sebenarnya siapa? Malaikat? Angel? Atau makhluk jadi-jadian?”

“Jadi, kamu ingin memakannya gitu?”

“Ah, iya iya. Satu lagi, aku bukan hanya bisa melihat, tapi juga bisa memakan kupu-kupu itu. Sudah kubilangkan diawal, bahwa dalam mitologi Yunani, kupu-kupu adalah bentuk soul dari manusia yang sudah mati. Aku pertamakalinya mencicipi saat seseorang yang kebetulan tertabrak truk di depanku, dan dari dalam tubuhnya keluar seekor kupu-kupu. Aku memakannya, dan itu sangat, sangat, sangat lezat sekali. Tidak ada satupun makanan yang melewati kelezatan kupu-kupu itu. Dan setelah aku memakan kupu-kupu itu, aku menerima ingatan, pengetahuan, dan kenangan dari orang yang mati itu. Luarbiasa kan? Aku bisa sangat jenius, jika aku memakan orang yang jenius.”

“Uwah. Panjangnya. Kenapa kamu harus ngejelasin sedetail itu? Aku juga sudah tahu. Jadi, kamu akan membunuhnya, murid baru itu. Hanya karena dia punya golden butterfly?”

“Iya. Masuk akal kan?”

“Jadi, apa maumu sekarang?”

“Tolong jangan ikut campur urusan ini. Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa membunuhnya jika Sensei ada didepanku.”

“Ah, mengerti. Kamu bebas melakukan apapun. Dan aku juga bebas melakukan apapun kan. Mengerti?”

“Mengerti. Terimakasih, Sensei. Oh, btw, besok kita kumpul di depan sekolah jam 06.00 untuk berangkat ke gunung Asahi.”

“Haiyo.”

>.<

2.2

Ceritapun akhirnya dimulai

 

Puncak Gunung Asahi, 00.00 WIB.

Perjalanan mereka mendaki gunung Asahi dari pagi hingga sore sangat melelahkan. Namun, semuanya berakhir tanpa kecelakaan yang berarti. Dan di atas puncak gunung Asahi inilah, mereka menyalakan api unggun, dan memulai acara klub.

Setelah acara selesai, tiba-tiba Mari mengajak Tawa untuk menemaninya melihat kupu-kupu. Katanya, dia ingin sendirian, namun, karena takut, jadi dia mengajak Tawa. Ketua kelihatan gelisah mendengar itu, namun Sensei menenangkannya dan mengajaknya mengobrol.

Setelah jauh dari perkemahan, Tawa langsung angkat bicara dengan bahasa yang normal.

“Kamu aneh juga ya. Gimana bisa melihat kupu-kupu di tengah gelapnya malam seperti ini?” tanyanya.

“Eh, kakak nggak bisa melihat kupu-kupu itu ya? Aku bisa.”

Mari bersinar dibawah gelapnya malam. Kupu-kupu yang bercahaya emas itu menyelimuti tubuhnya dan membuat pemandangan terasa absurd.

“Iya, aku bisa melihatnya,” Tawa dengan bodohnya mengiyakan karena indahnya pemandangan di pelupuk matanya.

“Kupu-kupu itu berwarna emas kan? Aku juga bisa melihatnya loh. Dari dalam diri kakak.”

“Eh?” Tawa mendadak keheranan. Jadi, dia bisa melihatnya juga ya, pikirnya.

“Kakak tahu, keluargaku adalah keluarga yang spesial. Entah dari keturunan apa, namun kami bisa melihat sesuatu diluar batas penglihatan manusia. Aura, roh, arwah manusia yang berbentuk kupu-kupu. Dan itu hanya kami yang bisa melihatnya. Dengan mata ini dan mata itu.”

“Haa...,”

Mari mulai mengoceh dan Tawa berpikir sebaiknya dia harus menggapai situasi dulu.

“Kakak pernah melihat kupu-kupu kakak gak?”

“Nggak. Aku tidak bisa melihat dari sini, ataupun melalui cermin.”

“Emas. Kupu-kupunya berwarna emas. Sama denganku kan?”

“Jadi, maksudnya, kupu-kupu emas itu adalah aura yang dipancarkan oleh orang yang memiliki mata ini ya? Aku baru tahu dan aku sangat terkejut mendengar itu. Oh, iya. Meskipun terlambat, aku juga sangat terkejut mendengar dirimu juga memiliki mata yang sama denganku. Kita adalah pasangan kalau gitu.”

“Tolong diam sebentar kak. Aku sudah menanyakan kepada Ketua tentang tingkah laku kakak. Kakak jadi aneh setahun yang lalu kan saat mendaki gunung ini. Jadi, aku menarik kesimpulan, kakak mendapatkan mata itu setahun yang lalu kan di gunung ini? Iya, kan?”

“Ah, iya. Aku sudah lupa kenapa aku punya mata ini, tapi kelihatannya memang benar aku mendapatkannya dari gunung ini. Memangnya kenapa?”

“Itu mata ibuku. Tidak mungkin manusia normal tiba-tiba memiliki mata itu, tanpa mengambilnya dari keluargaku. Ibuku hilang setahun yang lalu, dan kamu mendapatkan mata itu setahun yang lalu. Apa itu kebetulan? Tolong jawab dengan jujur.”

“Eh, aku lupa.”

“Kamu kan yang membunuh ibuku? Mengaku saja.”

“Eh? Apa-apaan ini? Nuduh sembarangan. Memang benar sih aku ingin membunuh dirimu. Namun, aku tidak tahu menahu masalah ibumu. Ups, kelepasan. Haha.”

“Apa? Jadi, kamu ingin membunuhku juga. Dasar pembunuh.”

“Eh, bentar-bentar. Aku hanya bercanda. Kamu juga tidak punya bukti kan?”

“Bukti? Jika aku punya bagaimana? Kamu akan mengakui bahwa kamu telah membunuh ibuku? Nggak mungkin kan?”

“Tentu saja aku tidak akan mengakuinya. Karena aku tidak pernah membunuh ibumu. Ah, tapi, mungkin juga sih aku membunuhnya. Aku sering lupa orang yang kubunuh. Yah, seperti makanan aja. Masak aku harus menghafal tiap nama ikan yang kumakan. Mustahilkan?”

 

Hah, hah. Mari terlihat kehabisan nafas, mendengar ucapan Tawa. Dia tidak bisa menahan amarahnya lagi saat Tawa mulai tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi,

“Oh, rencananya aku akan membunuhmu malam ini saat semua orang sudah tidur lelap. Namun, sepertinya kamu tidak sabaran ya,” Tawa menyunggingkan senyumnya, tanpa memicingkan matanya.

Dia melihat Mari sudah memegang dua buah pisau berburu yang sangat besar. Kupu-kupu emas membuat pisau itu bersinar terang, dan terlihat seperti pedang laser. Jarak antara Tawa dan Mari kurang dari satu meter, dan saat Mari menebaskan pisau itu, Tawa mengelak, namun bahu kirinya sempat tergeser oleh pisau itu.

Tawa mengambil langkah mundur dan menjaga jarak dari Mari.

“Oi,oi. Ini bukan shounen battle manga kan. Kenapa kita harus berkelahi? Yah, aku juga tidak masalah sih. Kebetulan, aku mendapatkan bukti yang cukup. Sensei!!” Tawa berteriak kearah kirinya.

Tidak ada jawaban.

“Oh, aku rasa dia sudah mengambil foto diriku yang diserang oleh dirimu. Yah, jadi jika kamu mati, maka aku bisa mengatakan, bahwa aku saat itu mempertahankan diriku kan? Iya kan? Masak ada orang berusaha membunuhku, dan aku diam saja?”

Mari diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka bahwa guru pembimbingnya berkomplot dengan Tawa.

“Heh. Jika aku membunuh kalian bertiga, itu tidak akan jadi masalah kan.”

 

Plaaaak.
Tiba-tiba sebuah hantaman besar mengenai punggung kepalanya.

Ada apa ini?

Mari terkejut setengah mati dan ambruk ke tanah. Pisau berburu yang dipegangnya lepas dari genggamannya. Dia melihat darahnya mulai mengalir dari tengkuknya dan menggenang kemana-mana. Dia mencoba menoleh kebelakang, dan melihat Ketua yang berdiri gemetaran dibelakangnya sambil memegang bat baseball yang kelihatannya keras sekali.

Mari mencoba untuk bangkit, namun rasa pusing dikepalanya makin hebat. Dia mulai kehilangan kesadarannya. Dan kegelapanpun mulai menyapunya.

>.<

3

Epilog

 

“Hei, dia mati ya?”  

“Kelihatannya. Sensei, bisa kamu bereskan mayatnya? Bikin dia menghilang ditelan bumi sama seperti ibunya,” Ketua terlihat gemetaran melihat mayat Mari berada di kakinya, dan memalingkan wajahnya kearah guru pembimbingnya.

“Ah, satu lagi ya. Kamu suka ngebunuh perempuan tiap tahun ya. Kemarin ibunya, sekarang anaknya. Apa kamu gila?” Sensei menyahut sambil menatap Ketua.

“Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa membiarkan dia membeberkan bahwa aku telah membunuh ibunya kan.”

“Hahaha. Kapten keren banget. Jadi, Kapten yang membunuh ibunya ya? Jika aku membunuh ibunya, maka aku tentunya ingat telah memakan golden butterfly ini. Jadi, tentu saja bukan aku pelakunya. Ah, aku terkejut, benar-benar terkejut.”

Tawa sangat kegirangan, saat seekor kupu-kupu berwarna emas keluar dari tubuh Mari. Dia menangkap kupu-kupu itu, dan perlahan-lahan melahapnya.

“Itu karena setahun yang lalu kamu kecelakaan kan di gunung ini. Matamu entah bagaimana menjadi buta. Aku tentu saja panik setengah mati. Sensei mengatakan kepadaku hanya ada satu cara agar penglihatanmu kembali. Aku harus mengambil sepasang mata dari salah satu manusia. Tentu saja, di gunung belantara ini tidak ada satu orang manusiapun kecuali kita. Itulah yang kupikirkan, namun malam itu entah bagaimana, aku bertemu dengan ibu itu dan membunuhnya. Aku sangat ketakutan. Apa aku berbuat hal yang keji, padahal aku hanya berusaha menolong temanku.”

“Oh, aku jadi ingat peristiwa itu. Sensei, kamu makhluk apa sih? Bagaimana bisa kamu menanamkan mata ibu itu kepadaku. Mustahil banget. Sensei dewa ya?”

Guru itu diam saja mendengar perkataan tidak sopan muridnya. Dia melangkah mendekati mayat Mari dan menoleh kearah Ketua.

“Bagaimana, apakah kamu ingin mata ini juga?” dia bertanya kepada Ketua.

Pass. Menjadi manusia normal adalah impianku setelah kejadian ini. Aku tidak ingin berakhir menjadi makhluk aneh seperti Tawa.”

“Ah, aku rasa kamu benar juga. Maaf atas perkataanku tadi. Tapi, jika kamu berubah pikiran, bilang saja kepadaku.”

 

Akhirnya, perjalanan mereka mendaki gunung dan menangkap kupu-kupu pun berakhir dengan sukses. Sukses bagi Tawa yang telah menangkap dan memakan golden butterfly yang sangat langka. Mayat Mari tidak pernah ditemukan, dan rumornya hanya beredar sekitar satu minggu saja. Sensei benar-benar melenyapkan eksistensinya dari bumi ini. Tawa sangat kagum kepadanya. Dan diakhir cerita, Tawa berdoa semoga agenda perjalanan mereka tahun depan juga menyenangkan dan dia bisa menangkap kupu-kupu lagi.

“Sudah kubilangkan. Kesetimbangan kimia itu berlangsung di lingkungan kita. Azas Le Chatelier itu sangat memegang peran penting. Satu ketua, satu anggota, dan satu guru pembimbing. Jika ada unsur baru yang tiba-tiba masuk dan mengganggu jalannya reaksi, bakalan susah juga kan. Jadi, sebaiknya kamu hati-hati jika masuk ke lingkungan yang baru. Apakah kamu mampu bereaksi dengan reaktan lainnya, atau hanya menjadi senyawa kompleks itu sangat penting. Ah, aku mulai mengatakan hal yang bodoh. Selamat tinggal.”

=The End=

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bayonet
bayonet at Butterfly Effect (9 years 2 weeks ago)
70

aduh panjang bgt kk. ane jadi kesel sendiri baca dialog si Tawa. tak mau lihat dia lagi. haha

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 2 weeks ago)

wkwk.
kenapa malah dibenci gini ya tawanya? haha.
padahal ane bikinnya supaya dia keliatan keren gitu.
.
jadi, inversion effect...

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Butterfly Effect (9 years 2 weeks ago)
90

Konsepnya asik nih, berliku-liku penuh tikungan, dan akhirnya semua orang pembunuh. >.< Khas kk hamdan! (y)
.
Setuju ma Hewan, penggunaan pov 3 di bagian belakang menghilangkan pesona gonta-ganti pov yang disusun di awal.
.
Tapi saya ga ngerti, kenapa Tawa harus pura-pura gila untuk nutupin kalo dia punya kekuatan khusus. Kurasa sih ga ada korelasi antara dua hal itu, dan klo pun Tawa ga pura2 gila ga bakala ada yang tahu juga klo dia punya mata sakti.
.
Sama, twistnya oke, tapi kurang natural, jadi berkesan Deus ex Machina. Di awal Tawa minta sensei nya jangan ngalangin dia, tapi di akhir Sensei malah kerja sama ama dia. Jadi kontradiktif. Imo harusnya di awal dialog Tawa dan Sensei dibuat lebih misterius.
.
Trus Sensei kenapa diceritakan mengalihkan Ketua klo akhirnya ngebantu Tawa. Ketuanya juga kenapa memperingati Mari terhadap Tawa padahal ujung2nya dia bunuh Mari. Rasanya ga ada hubungan sebab akibat yang logis aja dan dipasang sekedar pengen bikin pembaca terperangah karena twistnya.
.
Sama Sensei nya, saya suka ma senseinya, keren~ Cuman karena penjelasan tentang dia minim, dia jadi kayak Deus Ex Machina yang dateng sekedar untuk kemudahan plot tokoh utama.

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 2 weeks ago)

haha, memang benar kk, ane nulisnya ngga mikir dulu sih akhirnya gimana, jadi terkesan ngga konsistensi bagian awal dan akhirnya....
.
dan alasan-alasan-alasan lainnya nggak terjelaskan.....>.<
.
makasih atas sarannya kk....

Writer Dedalu
Dedalu at Butterfly Effect (9 years 3 weeks ago)
80

“Kamu kan yang membunuh ibuku? Mengaku saja.”

“Eh? Apa-apaan ini? Nuduh sembarangan. Memang benar sih aku ingin membunuh dirimu. Namun, aku tidak tahu menahu masalah ibumu. Ups, kelepasan. Haha.”

“Apa? Jadi, kamu ingin membunuhku juga. Dasar pembunuh.”

Demi roh agung honolulu, saya suka konsepnya, Tawa yang cerewet, gonta-ganti POV, tiga bagian di awal itu favorit saya. Tapi, nambahin kata kak ann di bawah, mungkin perlu ada penjelasan barang satu paragraf mengenai latar belakang kekuatan mistis itu, soalnya sulit diterima oleh akal sehat. Overall, ini unik, tapi menurut saya agak kelepasan di akhir-akhir. (y) Salam kenal kk~~

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 3 weeks ago)

makasih kk atas sarannya.
memang benar sih, kelihatannya faktor kekuatan tawa hnya side story aja disini. jadi, nggak terlalu dilihatin.
thanks udh mampir kk, salam kenal juga...

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Butterfly Effect (9 years 3 weeks ago)
100

Sulit bagiku untuk memahami cerita ini. .

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
80

beda sma k Hewan, sy justru suka dgn pov 1 yg gnti2 shg bisa tau isi pikiran karakternya yg unik2
.
dan... ukh, aku keganggu dgn judul spoiler 2.1 =.=
seharusnya itu diungkapin aja di cerita / dialog imo. tpi entah ya, sy ngerasa tensi nya di cerita kurang.
.
kyak yg pas diketahui knyataan klo ketua yg mbunuh ibunya.. kok rasanya gitu aja.. dialog nya krg cetarrr *^*
.
dan... sy sebel ketika ad yg ndak jelas.. #plakk
sebenernya Tawa ini siapa?? oh, bukan, Tawa ini apa??
Mari dan keluarganya itu jg apa?? apa tujuan klub itu?? apa yg mereka dpt stlah pakek mata dan makan kupu2 itu?? apa ini klub pembunuh??
Ketuanya kukira jg krg berperan ehh >,<
.
pas yg rumor hilangnya Mari, seharusnya Tawa dkk ditanya2in dongg. setidaknya kasi penjelasan gimana hilangnya Mari menurut ketua, spy plotnya ndak trasa ganjil imo.
.
semuanya trlalu 'gini lho, terus gini.'
dan sy bacanya jg 'oooohh, gitu doang?' #plakk
.
tapi scr keseluruhan saya suka konsepnya. saya suka kupu-kupu, saya jg suka org sakit jiwa (suka bgt awkwk, kok curcol)
pas yg Tawa bicara byk, sy lgsg kebayang sel di rsj
.
dah, sprtinya it aj yg mo sy smpaikan (?)
maap kalo cerewet, kip nulis >w<)7

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

Makasih kk ann. saya juga suka karakter yg gila, kyknya.
kasihan juga, ngebayanginnya di rsj gitu.
.
klo tentang penjelasan kenapa, dan kenapa itu sih, ane mau udh punya gambarannya, tapi klo dimasukin cerpennya makin banyak. ini aja udha 3000 kata....
.
dan soal judul itu, kyknya benar. ane kenapa nulis spoiler juga ya? dijudul lagi?.
.
dan tentang ketuanya, mungkin penggambarannya yg kurang, sehingga gak terlalu cetar.
.
btw, makasih udh baca kk...

Writer hewan
hewan at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
70

Bingung ingin komentar apa. Bagian 1.1 sampai 1.3 menggunakan sudut pandang 'aku' dengan tiga karakter berbeda. Tetapi bagian selanjutnya tidak digunakan lagi, berganti ke penceritaan dengan sudut pandang orang ketiga.
--
Pertanyaannya, perlukah?
Apa pentingnya pencampuran semua sudut pandang itu dibandingkan dengan fokus pada satu sudut pandang saja? Sekalipun 'aku'nya berganti orang, menurut saya itu bukan masalah.
Ketika masuk sudut pandang orang ketiga, seolah-olah pesona dari narasi di awal-awal menghilang begitu saja, bagi saya.
--
Btw, cukup menarik sebenarnya. Saya senang membaca sesuatu yang agak beda.
--
Salam kenal :D

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

salam kenal kk.
sebelumnya, makasih banyak atas sarannya.
.
sebenarnya, sudut pandang aku itu hanya saya pakai diprolog untuk mendeskripsikan pelakunya saja.
.
karena jika dipake di bagian konflik juga, bakalan sangat merepotkan, dan susah bgt. jadi, aku hanya make yg POV3 aja.
.
makasih.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
80

uniiik :D
dan aku suka.
dah, gitu aja.
selamat tinggal. (?)

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

tidak jangan pergi ...
makasih kk...

Writer Dem Aileen
Dem Aileen at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
60

Bosan. Openingnya terlalu cerewet dan gak jelas. Kehilangan minat untuk lanjut baca deh! Dan lagi; Aku dan
dia membuka pintu ruangan A1 itu dan melihat kesekelilingku.
.

Aku dan dia = kami. Kalau di awal ada aku dan dia, harusnya di akhir jadi disekeliling kami kan?
.
Ah, sudahlah. Saya gak baca sampai habis #pletak
.
Benih yang Ingin Kembali Tumbuh

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

yap, benar kk, itu salah.
.
dan masalah terlalu gak jelas di bgian awal, emang benar sih.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
80

wah tawanya cerewet bgt -_- hhaha idenya kreatif. kk hamdan suka bgt bikin cerita beginian yak wkwk

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

haha, iya.
saya suka bgt nulis kyk gini.
temanya aja dipaksain kyk gini...

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Butterfly Effect (9 years 3 weeks ago)

tau nih..katanya mau nulis romance :v hhaha

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)
80

hmm :'')

Writer hamdan15
hamdan15 at Butterfly Effect (9 years 4 weeks ago)

hmm?