Intellectual Rapist’s Catastrope

 

 

 

 “Ano, apa benar disini kelasnya kak Aika?” tanyaku dengan senyuman di wajah.

“Benar. Mau bicaranya dengannya ya? Dipanggil dulu ya?” jawab seorang kakak senior sambil membalikkan badannya ke dalam kelas. “Ai, ini ada cowok yang nyari kamu loh,” teriaknya sambil tersenyum genit.

Ah, aku pikir aku tahu apa yang dipikirkannya. Benar-benar cewek yang membosankan.

“Ada apa?”

Aku melihat seorang cewek yang menyahut itu berambut pirang panjang dengan wajah secantik bulan purnama. Aku mencoba memperhatikan matanya. Matanya memancarkan kepercayaan diri yang tinggi dan aura yang dipancarkannya, jika aku gambarkan dalam satu kata, mungkin, princess.

Cewek yang dipanggil namanya itu berjalan mendekatiku yang berdiri di depan kelasnya.

“Ada apa ya?” tanyanya dengan ramah sambil menebak-nebak siapa diriku.

“Namaku Kaka Raikiana. Kakak punya waktu sebentar saat sekolah usai? Aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan,” jawabku.

Dia terlihat menilai sosokku dan kemudian berkata, “Baiklah. Di belakang sekolah kan.”

“Iya. Terimakasih. Kalo gitu, sampai jumpa.”

Aku kemudian berjalan menjauhinya dan segera menyusun rencana.

>.<

Aku kembali ke tempat dudukku, saat Tiara dan Nana telah menungguku, untuk bertanya siapa cowok yang kutemui tadi.

“Ai, siapa tuh cowok tadi?” tanya temanku yang bernama Tiara.

“Ah. Namanya Kaka. Kamu kenal dia?”

“Kaka? Nggak tuh. Kayaknya anak kelas satu ya? Cie, cie. Udah berapa cowok yang telah jatuh cinta sama kamu?” tanyanya.

 

“Kaka? Tunggu, namanya siapa?” tanya temanku yang satu lagi. Namanya adalah Nana.

“Hm, dia bilang namanya Kaka Raikiana. Kamu kenal, Na?”

“Dia bahaya. Kamu pernah dengar Sunday Nestpaper?”

“Klub koran itu ya?”

“Iya, klub koran yang membongkar kasus uang suap yang diterima kepala sekolah bulan lalu.”

“Trus, kenapa?”

“Kamu tahu, yang membongkar kasus itu adalah Kaka sendiri.”

“Eh? Beneran?”

“Iya. Dia adalah pencari berita sensasi kayak gitu. Kalau kamu udah ditargetin dia, rahasia sebesar apapun pasti akan diungkapkan olehnya.”

“Hee... begitu? Jadi, dia mencoba mencari berita tentang diriku gitu?”

“Kelihatannya. Dari rumor yang kudengar sih, dia punya kedudukan yang tinggi di klub koran itu. Jika hanya berita kecil sih, dia nggak akan ngurusin hal tersebut. Tapi, jika dia sudah turun tangan seperti ini, ini akan jadi masalah besar bukan hanya bagi dirimu, tapi bagi seluruh sekolah juga.”

“Kenapa?”

“Karena seperti yang kudengar, dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita yang diinginkannya, kurang lebih seperti itu sih. Jadi, lebih baik kamu hindari kontak dengan dia mulai sekarang, jika tidak ingin hal buruk terjadi menimpamu.”

“Ah, oke. Aku bisa jaga diri kok. Lagian, nggak ada berita yang bisa diambil dari ku kok,” jawabku sambil mempertahankan senyumanku.

 

Ini mungkin jadi masalah yang gawat, pikirku.

>.<

Cerita ini dimulai saat aku sedang iseng-iseng browsing ke sebuah page di internet. Isi situsnya, jika aku tidak salah ingat, adalah hal-hal misterius yang terjadi di dunia ini. Seperti apa itu segitiga bermuda, apakah di dunia ini benar ada alien yang datang, dan sebagainya.

Ah, iya, iya. Selagi kecil, kita pasti sering dibuat penasaran dengan hal-hal semacam itu kan. Aku tahu itu. Tentu saja aku tertarik dengan hal-hal seperti itu, namun ada satu artikel yang membuatku tertarik untuk membacanya daripada cerita supernatural yang kusebutkan diatas.

Aku mengeklik artikel itu, dan dari layar laptopku muncullah sebuah lukisan yang sangat indah.

Lukisan itu hanya punya satu objek central yaitu seorang cewek berumur 17 tahun, berambut pirang panjang terurai, bermata biru, yang memakai selembar kain usang. Ini mungkin akan terdengar sedikit porno, tapi pahanya sangat putih bersih dan lehernya luar biasa menawan.

Sementara mengagumi keelokan model dari lukisan itu, aku melihat latar belakang objek tersebut. Latar belakangnya, jika kubilang, luar biasa aneh. Bayangkan saja, ada cewek cantik yang dilatarbelakangi oleh langit biru luas dan sejumlah tumpukan mayat dibawahnya.

Pedang-pedang dan mayat yang menghiasi padang yang diinjak oleh cewek cantik itu tidak salah lagi adalah sebuah medan perang.

Pertanyaannya kenapa dia bisa berada di tempat yang seharusnya tidak diinjak olehnya? Tidak berpakaian lagi?

 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus merasuki otakku selama beberapa hari, hingga suatu hari aku memperlihatkan foto lukisan itu kepada senior klub koran.

“Senior, kamu tahu arti dibalik lukisan ini?” tanyaku.

“Hmm, dilihat dari tahun pembuatannya, ini merupakan lukisan yang sangat usang ya? Sekitar tahun 1890-an? Benar-benar lukisan yang indah.”

“Aku tidak minta senior untuk mengagumi keindahannya. Aku tanya, apa senior tahu apapun tentang lukisan ini?”

“Hmm, aku rasa tidak. Melihat lukisan tahun pertengahan bukan hobi bagiku, tapi jika kamu ingin tahu, kenapa tidak tanyakan saja kepada cewek ini.”

Senior melemparkan sebuah foto beserta data-data siswa kearahku. Aku menangkapnya, dan mengamati apa yang kutemukan disana.

Ada apa ini?

Haha, ini luar biasa.

Ini benar-benar misteri.

Aku mencoba mengucek mataku, dan melihat bahwa model yang berada dilukisan itu mirip dan sangat mirip dengan seseorang yang bersekolah di SMA ini. Ini merupakan hal yang mustahil, tentu saja. Sudah berselang lebih dari satu abad lukisan ini ada, namun modelnya masih tetap hidup. Jika dia bukan makhluk ‘bukan-manusia’ aku tidak akan percaya.

Haha, kenapa aku harus repot-repot mempermasalahkan segitiga bermuda, sementara misteri di depanku saja tidak bisa kuselesaikan?

Aku melihat foto itu lagi. Cewek itu berambut pirang panjang juga, bermata biru juga, dan berparas manis. Benar-benar mirip. Aku melihat namanya, dan disana tertulis Aika. Dia anak kelas dua, dan sepertinya aku tidak akan kekurangan bahan untuk berita minggu ini, pikirku.

 

Aku telah menunggunya selama dua jam di belakang sekolah. Ah, menyebalkan. Kenapa dia telat untuk datang? Atau dia sudah tahu identitasku dan tidak akan datang? Ah, aku terlalu bodoh. Kenapa aku langsung berhadapan dengannya, padahal aku bisa saja men-stalker nya terlebih dahulu?

Ah, ya sudahlah.

>.<

“Maaf membuatmu menunggu,” aku berlari mendekatinya, saat kulihat raut wajah jengkelnya yang menungguku.

“Tidak apa-apa,” dia menyahut rendah dan mengeluarkan handphone touch-screen dari sakunya.

“Ternyata, kamu punya reputasi yang buruk juga ya, di sekolah ini,” aku mulai memancing pembicaraan.

“Heee, kakak membuatku menunggu selama dua jam untuk mengumpulkan informasi tentang aku ya? Padahal, aku bisa jawab dengan jujur sebanyak apapun loh pertanyaannya.”

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku lagi sambil menguraikan rambut panjangku.

“Ini, tentang lukisan ini. Apa kakak tahu apapun tentang lukisan ini?” tanyanya.

Aku melihat foto lukisan yang diberikannya kepadaku. Arwahku seolah keluar dari ragaku, saat aku melihat foto itu. Itu benar-benar seseorang yang mirip denganku, tidak, itu benar-benar aku.

Aku memandang kearahnya, dan mencoba mengintimidasi lagi setelah mengetahui situasi yang sedang terjadi.

“Kamu tahu, jika kamu mempertanyakan hal ini, kamu akan mati loh,” kataku.

“Hee.... aku malah jadi makin penasaran. Jadi, bisa kakak jawab dengan jujur pertanyaanku? Berbohong tidak akan menyelesaikan masalah loh? Bagaimana jika aku kelepasan dan menyebarkan foto-foto dan informasi tentang kakak keseluruh sekolah dan internet? Bakalan rame kayaknya.”

“Baiklah. Apa yang kamu ingin ketahui?” aku mencoba mengulur-ulur waktu.

“Siapa ini?” dia menunjuk model yang berambut pirang itu.

“Namanya adalah Evangeline.”

“Kenapa dia mirip dengan kakak, kalau gitu?”

“Karena dia adalah aku. Evangeline itu adalah nama keduapuluh-enamku, dan Aika ini adalah nama yang ke, coba kuingat, keseributujuhratus-anku...”

“Ah, jadi kakak adalah makhluk immortal gitu? Yang nggak bisa mati ya? Fiuh, luar biasa. Luaaar biasaa...,” dia berteriak seperti orang gila.

“Hmm, jadi kamu sudah tahukan semua—”

“Eits, belum. Tentu saja belum. Aku tentu belum puas hanya dengan informasi selevel ini. Jadi, kakak adalah makhluk apa? Vamp—”

Jbleeeeeeeek.

Dia berlumuran darah saat aku mengisyaratkan operasi dimulai.

Sejumlah 15 orang cowok yang bermata merah keluar dari bayang-bayang pohon maupun semak-semak, sambil melemparkan berbagai jenis pisau kearahnya. Puluhan pisau melayang dan menghujam badannya layaknya badai.

Bruak.

Badannya ambruk ke tanah. Aku mencoba melihat keadaannya. Satu buah pisau mengenai matanya, pisau yang lain mengenai hidungnya, dan yang pisau lainnya mengenai jantungnya.

Dia pasti sudah mati, pikirku sambil meninggalkan tempat itu.

“Bereskan mayatnya,” perintahku pada servant ku.

>.<

Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku rasa aku telah mati. Ya, aku sudah memprediksikan ini. Lebih tepatnya, aku yang merancang rencana ini.

Aku sudah punya firasat bahwa dia bukan makhluk normal, dan pemikirannya juga bukan manusia normal.

Aku, tentu saja, tidak punya kemungkinan menang satu persenpun. Jadi, mencoba untuk mencari-cari informasi dari belakangnya juga tidak akan berguna.

Hal yang hanya bisa kulakukan hanyalah berkonfrontasi kepadanya dari depan.

Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku ingin tahu segalanya yang terjadi. Siapa dia? Kenapa dia ada dilukisan itu? Kenapa dia tetap muda? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Aku ingin mengetahui itu semua. Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi setelah aku mengetahui rahasia itu. Aku tidak peduli apa yang terjadi dengan sekolah ini saat aku mengetahui dia adalah makhluk sejenis vampir, dan dari awal, aku juga tidak peduli dia akan mengambil nyawaku.

 

“Hehe, kamu benar-benar ingin tahu segalanya ya? Rahasia orang lain, rahasia dunia ini, dan rahasia-rahasia lainnya,” kata seniorku.

“Karena hal itu menarik, kan? Bisa mengetahui rahasianya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain itu, benar-benar menarik. Siapa sebenarnya mereka, apa yang mereka sembunyikan, dan hal-hal semacam itu.”

“Kamu tahukan, apa akibatnya jika kamu mengetahui hal-hal seperti itu? Di dunia ini ada banyak hal yang lebih baik tidak diketahui.”

“Hah, Haha. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi kepadaku atau kepada dunia setelah aku mengetahui itu. Esensinya hanyalah, aku harus tahu itu. Kalau aku tidak mengetahui hal itu, aku akan mati penasaran. Jadi, lebih baik, aku mati tidak dengan penasaran, kan?”

“Kamu, mungkin adalah‘Intellectual Rapist’ .”

“Julukan apa itu? Aku tidak mengerti.”

“Aku juga. Kalau begitu, ini merupakan salam perpisahan kalau begitu ya? Selamat tinggal, semoga kamu mencapai kebenaran yang ingin kamu kejar.”

“Terimakasih, senior. Aku pergi dulu. Dan tolong, rekam segala kejadian yang terjadi di belakang sekolah saat aku bertemu dengannya ya? Itu akan jadi barang bukti yang hebat. Aku pasti akan gemetaran kalau melihatnya.”

“Hah, serahkan padaku. Akan kuambil gambar sejelas mungkin.”

“Kalau begitu, goodbye.”

>.<

 

 


 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
30

cerita awalnya udah bikin penasaran.

80

satu kata untuk kaka : kepo.
hhaha malah mendatangkan musibah -.-

70

kayaknya sih ceritanya menarik, maksudnya, fenomena aneh tentang cewek pirang itu. cuman ya agak bingung juga... seolah yang diungkapkan di sini baru permulaan aja, misterinya belum terkuak (ya ya ya ada hal yang lebih baik tidak diketahui). sekiranya bakal memuaskan kalau cerita ini diperpanjang lagi utk menjelaskan misteri tentang cewek itu, karakter Kaka juga digali lagi. dan saya membayangkan cerita ini dl kepala saya antara realistic atau manganime style, tapi kayaknya cenderung yang kedua ya. perpindahan pov-nya juga membingungkan, sama2 orang kesatu, dan gayanya terasa sama shg mesti sambil mikir2, ini yang lagi jadi narator siapa ya. begitulah. moga berkenan. maafkan kalo daya tangkap saya kurang hehe -_-V

Writer hamdan15
hamdan15 at Intellectual Rapist’s Catastrope (8 years 12 weeks ago)

ok, makasih atas sarannya kk. emang susah juga sih klo ngga dimention ini yang bicara siapa...
.
haha, ada hal2 didunia ini yg lbh baik tidak diketahui..>.<

80

Kirain si Rapist akan mati begitu saja, tapi twist di endingnya cukup memberi impact. Trik lama, tapi tak terduga.

Writer hamdan15
hamdan15 at Intellectual Rapist’s Catastrope (8 years 12 weeks ago)

haha, memang bingung gimana cara mengakhirinya ....>.<

Writer hewan
hewan at Intellectual Rapist’s Catastrope (8 years 12 weeks ago)
80

Well, perpindahan sudut pandangnya lebi bagus daripada yang kemarin. Mungkin karena fokus di POV 1 saja, saya rasa.
--
Komentar saya selanjutnya adalah tentang judulnya yang terlalu "Bombastis". Catastrope-nya itu loh ... serasa kurang tepat saja.
--
Dan, segitu saja nasib si Intellectual Rapist itu? Ternyata dia tidak begitu intelek, hahaha. Rasa ingin tahu tinggi, tapi tak dibarengi dengan "kekuatan".
--
Ayo tulis lagi~