[Round 3] Edward Kalashnikov - The Shaking Wind

Semua peserta berkumpul di ruang serba guna—atau lebih tepatnya, hampir semua peserta karena sosok Edward Kalashnikov masih belum terlihat. Blackz memandang ke arah enam peserta dan tersenyum.

“Seperti yang kalian tahu ronde ketiga telah dimulai. Kali ini ada perubahan peraturan.”

Wajah para peserta—selain Hideya dan Tuas—berubah. Mereka tidak percaya apa yang mereka dengar. Apa-apaan? Perubahan peraturan? Disaat begini?

“Apa maksudmu perubahan peraturan?” tanya Rexanne.

Blackz menjentikkan jari dan sebuah layar muncul di dinding yang berada di belakang ketua faksi Heretic tersebut.

“Ini adalah tempat kalian bertarung nanti. Sebuah Dungeon.

Sebuah denah yang menggambarkan empat ruangan berbeda ditunjuk oleh Blackz.

“Arena pertama adalah Vector Cage, lalu Pillar Block Maze, Narrow Way dan yang terakhir… Insanity room. Aku tidak bisa mengatakan bagaimana bentuk dan keadaan lokasi kalian karena kalian bisa merasakannya sendiri saat tiba di sana.”

“Lalu, apanya yang berubah?” Altem menatap layar dengan seksama. “Apakah ada syarat-syarat aneh lagi?”

Blackz tertawa. “Syarat aneh? Hm, bisa dibilang iya, bisa juga tidak. Beruntung bagi kalian, sihir dan serangan jarak jauh dapat digunakan. Tidak ada nulifikasi, tidak ada minimalisasi sihir, tidak ada tiang nyawa yang harus kalian jaga..”

Sejenak wajah keempat peserta sumringah. Hideya membaca bibir Blackz dan merasa sedikit lega, tidak ada batasan dalam pertarungan ini. Akan tetapi, ia merasa akan ada sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Sebuah perasaan yang sedikit membuat dadanya sesak, apakah ini pertanda buruk?

“Tapi….”

Satu kata yang sangat ingin didengar siapapun setelah berita baik disampaikan. Semua peserta kembali memandang Blackz dengan waspada, memasang telinga baik-baik, dan sebelum Blackz mengucapkan lanjutan dari ‘tapi’ sebuah lenguhan terdengar.

“Huh? Kenapa ada suara sapi di tengah Oase begini?” tanya Luke.

“Oh, mungkin itu Edward…” Blackz bergumam. Ia bukannya tidak tahu dengan hobi Edward yang seenaknya meletakkan kandang berisi hewan-hewan besar di Oase. Ia hanya tidak mempedulikan.

Link dapat mendengar ucapan Blackz, dan ketika nama Edward disebut, Link langsung teringat kejadian tadi malam, saat ia melihat di depan matanya Edward menggigit seekor tikus besar dan memakan layaknya ayam goreng yang baru saja matang. Mendadak, perut Link terasa bergejolak, keringat dingin mengucur di keningnya Mungkin ia akan muntah.

“Hey, kau tak apa-apa, Link?” Xia Loo menghampiri Link yang berwajah pucat.

“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja, Blackz.”

Blackz menghela napas sejenak dan mengembalikan perhatiannya pada peserta.

“Tapi, di pertarungan ini kalian tidak hanya bertarung melawan musuh yang memang sudah disiapkan untuk kalian, namun kalian juga harus memenangkan tujuan utama. Di daerah sini, ada sebuah titik yang akan menjadi tujuan akhir kalian. Kalian semua harus menang, dan sentuhlah titik tersebut.”

Semua memandang ke arena empat yang ditunjuk oleh Blackz.

“Jadi kita menang sebagai tim? Apakah semua Heroes harus dibunuh?” tanya Haruo.

“Hm…” Blackz mengelus dagunya. “Moon tidak mengatakan apapun soal itu, namun yang jelas kalian tidak bisa keluar dari arena jika kalian tidak membunuh lawan utama kalian.”

Luke mendengus tertawa. “Hmph, benar-benar merepotkan.”

“Bagaimana? Apa ada yang masih belum mengerti?”

“Siapa yang akan kita lawan?” Altem mengangkat telapak tangannya.

“Oh iya, aku hampir lupa. Xia, tolong daftar lawan mereka.”

“Baik, Master.” Xia Loo mengangguk dan meninggalkan Link yang masih menenangkan diri. Tidak terburu waktu, Xia Loo membagikan selembar kertas berisi satu kalimat—tepatnya sebuah nama—pada masing-masing peserta. Hanya sebuah nama, dan tidak ada keterangan apapun di dalamnya.

“Tidak ada informasi di arena mana kita akan bertarung?” Rexanne membalik-balik kertas bertuliskan Ferrum.

“Ah, kalian akan mengetahuinya jika tiba disana.”

“Maksudmu….”

“Ya. Heroes sudah menunggu disana.” Blackz terkekeh.

“Sial.. Ternyata tidak hanya merepotkan.” Luke menanggapi ucapan Blackz dengan sindiran pada bibirnya yang tersungging.

“Terima kasih atas pujiannya, Luke.” Blackz balas menanggapi ucapan Luke. “Sekarang, bersiaplah. Aku akan mengirimkan kalian ke arena tempat kalian seharusnya berada saat ini. Kalahkan para Heroes itu dan bawalah kemenangan untuk faksi ini.”

Para peserta sudah mempersiapkan diri mereka dengan matang tatkala Hideya masih melihat keadaan. Ia tidak hanya penasaran pada kertas yang cuma bertuliskan Albiero Immanuel Keith di tangannya, tetapi juga pada selembar kertas yang dipengang oleh Xia Loo. Jika semua peserta sudah mendapatkan kertasnya, mengapa masih ada satu di tangan Xia Loo? Hideya menoleh ke arah Tuas, dan makhluk mungil itu sedang menatap kertas yang berada di depannya. Satu kemungkinan, kertas itu milik Edward. Akan tetapi, bukankah ia membuktikan sendiri bahwa Edward sudah tidak bernyawa?

“Master, bagaimana?” Xia Loo berbisik sembari menunjukkan kertas bertuliskan Akero Kaoze pada Blackz.

“Dia akan datang. Mungkin setelah aku kirimkan orang-orang ini ke arena.”

“Baiklah kalau begitu.”

Kilatan cahaya muncul dari lantai tempat para peserta berpijak. Seperti yang sudah-sudah, ini adalah proses awal sebelum teleportasi dimulai.

“Yo semuanya, aku terlambat.”

Edward muncul di pintu, dengan darah yang terciprat dari leher hingga pahanya, dan jubahnya ikut menjadi korban. Bau anyir khas darah Ox perlahan menguar di ruangan tersebut. Hideya membenarkan letak google-nya, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana mungkin orang yang ia deteksi telah meninggal dua malam lalu kini berdiri dengan santainya di pintu bangunan.

“Akhirnya kau datang juga.” Xia menyerahkan selembar kertas pada Edward dan Edward menerima sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Jadi ini lawanku…?” Edward menggumam dan berdiri di samping Hideya, di dalam barisan.

“Baiklah. Semua peserta sudah lengkap. Selamat bertarung.”

Blackz mengangkat tangannya, bersiap mentransfer para peserta sebelum akhirnya diinterupsi oleh Rexanne.

“Hey, hey, tunggu, apa maksudnya ini?”

“Apa?” Blackz menaikkan sebelah alisnya yang tidak terlihat. Oke, bahkan matanya juga tidak terlihat.

“Kenapa Stellia pulang dan Edward masih disini? Bukankah seharusnya ada seseorang lagi yang pulang?”

“Sudah kukatakan, peraturan berubah. Bersiaplah akan kejutan selanjutnya.”

Blackz tidak menunda gerakannya, dan sebelum ada interupsi lanjutan, pria hitam itu memberangkatkan tujuh peserta dari faksinya ke tempat yang disediakan oleh Moon.

 

*

 

“Hey, Blackz, mengapa kau tidak mengatakannya pada mereka?” Link menghirup napas lega. Entah sudah berapa menit berlalu sejak dadanya terasa sesak akibat bau anyir yang dibawa Edward, padahal sebelumnya tidak begini.

“Hey Link, sudah enakan?” tanya Blackz terkekeh.

“Jangan mengalihkan pertanyaanku. Kenapa kau tidak mengatakannya pada mereka?” Link memegang kepalanya dan berjalan mendekati Blackz yang kini duduk di sofa.

“Huh, soal apa?”

“Kalau mereka tidak wajib mengalahkan semua Heroes dan hanya fokus pada lawan utama mereka. Bukankah Moon yang mengatakan seperti itu?”

“Kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Moon?”

Link mendengus. “ Mana mungkin. Pembicaraan kalian terdengar jelas kok. Tanpa berniat mencuri dengar, aku sudah mendengarnya sendiri. Jadi, apa ada alasan lain?”

“Aku hanya ingin melihat, apakah mereka bisa bekerja sama satu sama lain.”

“Apakah itu penting?”

“Demi mendapatkan realitas emas, ya, kurasa itu cukup penting. Memperkuat faksi dan mengalahkan Moon juga sama pentingnya.”

“Oke, aku mengerti. Lalu, kenapa kau juga tidak mengatakannya pada mereka, soal itu…”

“Soal apa lagi?”

Xia menatap Link dalam-dalam. Sebenarnya ia juga ingin menanyakan hal yang—mungkin—akan Link tanyakan.

“Bahwa setelah pertarungan ketiga ini… Dua orang akan ‘dipulangkan’.” Link mengecilkan volum suaranya, memperdalam intonasi.

“Hmp..” Blackz tersenyum sesaat. “Biarlah menjadi kejutan. Yang jelas jika saatnya tiba, salinan itu harus kita hancurkan.”

 

***

Read previous post:  
Read next post:  

hah? aku blum komen Zuko ternyata wew :p

btw, Ed udah keliatan jahatnya, apalagi pake korban2 darah gini. tapi yg rentan adalah gimana cara ngbikin kemampuan api Ed beda dari Haruo. dan utk teknik,mgkn Mas Dee masi harus asah lg gimana nulis intensitas adegan, kapan terkesan sedih,jorok,serem, dramatis, dsb. krn adegan tarung lawan Akero menurutku malah gak seseru adegan tengkar Ed sama Rexie, wkwkw

+3 dolo

apaan Zuko? XDDD
.
makasih banyak pak po... saya akan belajar lagi.
.
ᕦ(ò_óˇ)ᕤ

90

Ed ternyata baik...ed versiku kayanya kasar banget....wkwkkwkwkkwkwk

di cerita Dee Ed mati, di cerita saya malah rexie yg mati...wkwkkwkwkkwkkwkwk

saya suka ceritanya....berantem ama rexie kayanya masih agak segan2 gitu...wkwkkwkwkwkkw
#gapenting

+4

........... baru baca komen ini, sepertinya kita emang sehatri #eh

dia bakal pertahankan orang yang bisa dia manfaatkan... macamAltem, Hideya gt

80

Wuaaa Akeronya dibakar sampe lenyap...
.
Ferrumnya mati ketembak...
.
Jahat, semua orang gemar membunuh!!!
.
#duak
.
Sudah saatnya kalian bertobat nak... >.<
.
+3
.
Maap saya lagi bingung mau komen apa... Kasi nilai aja yah... orz

Lol.
itu udah baik si ed ngulur waktu :v
.
Thanks udah mau mampir

Eddie, ayo kita ketemu sekali lagi dan main siapa yg paling banyak mati~! >w<)d #plakk
.
sy suka hubungan Edward Akero sama2 pmbunuh :o
seakan mereka ditakdirkan utk bertemu (?)
tp sjak kpan Akero peduli sma org lain >.<
suka jg Ed sma Rexie awkwk sma2 pemarah
.
kocak yg pas Deus jadi resepsionis www
.
minusnya, tapi ini sgt IMO, ceritanya berasa komikal.. dn jujur sy rada risih sma SFX (bunyi gagak trmasuk >w<) dan bunyi2an macem 'tsk', 'tch', 'khh'
slain bingung bacanya, kekuatan narasi sharusnya bisa menjelaskan bunyi2 spt itu jd lebi manteb
.
misalnya gini,
Akero meludahi lantai di depan muka sang lawan. Tidak perlu sopan-santun untuk orang yang telah menghina dan merendahkan jati dirinya.
.
ya, itu menurut sy aja si >w< #plakk
.
konsepnya bagus sbnernya, tp imo lg eksekusinya krg greget >.<
+3 dlu ya kak

Kalau ketemu Eddie, Belle akan dianuin.
www
.
He? emang si Akero ada peduli orang lain ya? #malah ndak sadar
.
Iya sih, sebenarnya itu beberapa SFX agak ganggu juga, cuma karena nulisnya kebut jadi mau ndak mau pake sfx.
.
Thank u sarannya <3
Dan makasih lagi udah mau mampir ^_^
.
Ditunggu Belle-nya.
Saya beneran mesti belajar bikin Ending yang greget

80

“Akero milikku. Kau pergi saja jauh-jauh!”
#cieilee Ed x Akero >__< #kemplank!
`
“Apa maksudmu?! Sudah jelas disini tertuli bahwa lawanku adalah Akero Kaoze!”
#tertuli~
`
maka orang tersebut akan terlempar kea rah anak panah tersebut menunjuk.
%sekedar spasi sii%
`
page 4
Edward benci menunggu, oleh akrena itu ia berinisiatid maju terlebih dahulu.
%karena %inisiatif
`
beginilah efek dr special move~
nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian, , >__<
#ampuuniii~
kecuali ada syarat khusus yg lbh greget buat digunakan yg memojokan user buat pakai diakhir-akhir, ,
`
titip +3
`
Haiyhooo~ ternyata Rexanne baik hati XD

Thank you udah mau komen :3 dan koreksi tipo..
Sudah saya edit yang tipo.
.
Menanggapi komen
"nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian"
.
.
Dulu saya udah ada ngomong soal ini. Kekuatan Edward ini sebenarnya ngabisin waktu kurang dari 5 menit kalau dia pake Forbidden level, tapi..... karena author lebay dan sok dramatis, jadi dipanjangin #disampluk
.
Thank u.. Thank u..
.
Dia ngga baik, dia Tsundere