[Round 3] Edward Kalashnikov - The Shaking Wind

Edward, Hideya, Si Tuas I, Luke, Rexanne, Haruo, dan  Altem tiba di sebuah ruangan yang sama. Sebuah ruangan luas dengan lingkaran menyerupai kandang di bagian tengahnya.

“Lalu setelah ini, kita kemana?” tanya Rexanne.

“Hm…. Dimana aku bisa menemukan pria bernama Akero ini?” Edward menggaruk tengkuknya sembari membolak-balik kertas di tangannya. Tidak ada informasi lain selain nama lawannya. “Apa ada yang—”

Ucapan Edward terputus saat Haruo mencengkram kerah bajunya.

“Hey! Apa-apaan kau?!”

“Ulangi lagi! Siapa nama lawanmu?!”

“Kau ini kenapa sih?” Edward menepis tangan Haruo dari dirinya.

Haruo melengos. Ia merampas kertas yang dipegang oleh Edward dan menemukan nama Akero Kaoze disana.

“Bagaimana mungkin?!” Ia mulai mengacak kertas itu dengan kesal. Haruo yakin seratus persen bahwa dirinya telah membunuh Akero sebelum akhirnya jatuh menerobos skybridge menara Petronas.

Altem menepuk bahu Haruo, dan Haruo teringat sesuatu. Ya, seperti kata Blackz, peraturan berubah. Bisa jadi ketua faksi Heroes menyelamatkan Akero sebelum tubuhnya benar-benar menghantam tanah. Haruo sedikit menggeram, ia menggertakkan giginya dan mengembalikan kertas itu dengan kasar pada Edward.

“Kalahkan dia,” desisnya.

Edward memandang Haruo dengan bingung. Sejujurnya ia tersinggung karena tiba-tiba diserang seperti itu, dan jika Luke tidak segera bertindak, mungkin kedua pengendali api tersebut akan saling membakar satu sama lain. Edward menepuk jubahnya yang terlihat sangat kotor, ia coba meredam amarahnya. Haruo segera melupakan emosinya untuk Akero—untuk saat ini—dan berjalan bersama Altem menghampiri Hideya yang termangu melihat sebuah pintu.

“Pintu, hm?” Luke menggumam.

Hideya terus meraba  pintu itu, mencari cara untuk membukanya, namun sayang, ia tidak mendapatkan apapun disana.

“Bagaimana?” tanya Haruo—yang kini sudah jauh lebih tenang.

Hideya tidak mempedulikan Haruo dan menghela napas kecewa karena tidak menemukan cara untuk membuka pintu itu.

“Sepertinya tidak bisa.” Altem ikut menggumam. Haruo menghela napas.

“Halo… Halo… Selamat datang di Dungeon, Heretics.” Sebuah suara terdengar memenuhi ruangan.setiap orang—kecuali Hideya yang meraba pintu dan Edward yang meraba kamdang—memfokuskan pendengaran mereka pada suara yang wujudnya tidak terlihat.

“Siapa kamu? Tunjukkan dirimu!” Rexanne mengeluarkan Desert Eagle -nya.

“Oh maaf sudah tidak sopan. Kenalkan, namaku Deus, pembimbing serta pengawas kalian di Dungeon ini. Apa lagi yang kalian tunggu? Silakan lewat ke arena selanjutnya, karena di arena ini hanya ada dua orang yang boleh tinggal.”

“Jika kami bisa lewat, kami akan lewat daritadi.” Luke mengucap dengan nada malas.

“Oh, rupanya Yami tidak memberitahu kalian. Kalian tinggal menyebutkan nama lawan kalian di pintu, atau menunjukkan kertas yang kalian bawa. Dan jika lawan kalian bukan disini, kalian akan dipersilakan lewat.”

Satu persatu Heretic bergerak menuju pintu dan menunjukkan kertas mereka seperti sebuah pass dalam sebuah ujian. Altem yang pertama kali maju menyadari bahwa pintu mengecil, hanya seukuran lebar badan mereka, tidak memungkinkan untuk dua orang masuk secara bersama.

Altem, Haruo, Hideya, Luke, dan Tuas berhasil melewati pintu itu, namun saat Rexanne menunjukkan kertasnya dan menyebut nama Ferrum berkali-kali, pintu itu bukannya terbuka namun justru menghilang.

“Apa?!”

Edward menoleh ke arah Rexanne yang bertingkah aneh di samping tembok ruangan.

“Hey, kau sedang apa?” tegurnya. “Apa kau sedang menari?”

“Hey, orang bodoh! Apa kau tahu kita tidak bisa keluar dari sini?”

Edward tidak dapat membaca jelas gerakan bibir Rexanne yang cukup cepat apalagi gadis itu menggerakkan tangannya dan menunjuk ke arahnya.

“Hey, gadis, katakan padaku. Apa kau tahu cara keluar dari sini?”

“Kemana saja kau dari tadi, penyihir kaku?!”

“Hey!” Edward mungkin tidak menangkap apa yang diucapkan Rexanne, namun ia masih bisa menangkap jelas bahwa Rexanne menjulukinya penyihir kaku.

Baru saja Edward akan melayangkan tinju pada Rexanne, kandang di tengah ruangan menghilang, berganti dengan lingkaran panah yang tergambar di lantai dan sesosok pemuda berdiri di dalam lingkaran panah tersebut.

“Ah, akhirnya kandang itu hilang juga.”

Rexanne dan Edward memandang ke arah pemuda yang sedang meregangkan badannya. Dilihat lebih teliti, pemuda itu tidak sendiri. Di sebelahnya ada sebuah tornado kecil dengan dua scythe yang melayang-layang di dekatnya.

Rexanne dan Edward masuk ke dalam lingkaran panah itu dengan penasaran.

“Apakah salah satu dari kalian ada yang bernama Ferrum?”

“Ah—” Ferrum mengangkat tangannya, namun sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimatnya, suara dari interkom kembali terdengar.

“Selamat datang di Kandang Vector, para petarung. Nikmati waktu kalian disini. Sekali kandang ini aktif, kalian tidak bisa keluar. Jadi, kalahkan lawan kalian dan menangkan pertarungan ini. Selamat bertarung!!” Deus terkekeh. “Oh ya, sebelum aku lupa. Vector Cage, activated.”

“?!!”

Sekilas Rexanne dan Edward merasakan tekanan yang cukup kuat di samping mereka, namun karena tidak ada yang berubah, mereka coba untuk tidak mempedulikan.

“Apa kau yang bernama Ferrum?” Rexanne mengulangi pertanyaannya.

Pemuda di samping angin topan tersebut melihat Rexanne dengan seksama. “Kau… Rexanne?”

“Iya, aku Rexanne.”  Gadis tersebut berkacak pinggang. “Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya tidak menyangka aku akan melawan seorang wanita.”

Rexanne sedikit tersinggung. Apakah perbedaan gender akan membuat lawannya tidak bertarung maksimal? Apakah lawannya akan mengasihaninya karena dia perempuan? Oke, Rexanne akan sangat tidak suka—bahkan mungkin marah—jika itu benar terjadi.

“Hey, kenapa kau disini, gadis?” tanya Edward sembari menunjuk Rexanne dengan tombaknya.

Rexanne mengernyitkan alis.

“Akero milikku. Kau pergi saja jauh-jauh!”

“Dia Ferrum, dan dia lawanku!” Rexanne menunjuk ke arah Ferrum dengan Desert Eagle -nya.

“Apa maksudmu?! Sudah jelas disini tertulis bahwa lawanku adalah Akero Kaoze!” Edward berseru tidak kalah nyaring.

Rexanne menunjukkan kertasnya yang bertuliskan Ferrum.

“Sekarang katakana padaku, gadis, dimana Akero Kaoze kalau begitu?”

Ditanya begitupun Rexanne agaknya kesusahan dalam menjawab, namun begitu ia sedikit curiga dengan tornado kecil di samping Ferrum. Dugaannya ada seseorang yang berada di balik angin tersebut. Tanpa banyak bicara, Rexanne melemparkan tombak ke arah angin tersebut dan sabit kembar bergerak, menghalau tombak tersebut mencapai target yang dituju si pelempar.

“Oh, jadi lawanku angin? Menggelikan?” Edward mencemooh.

Ferrum berjingkat sejenak tatkala tombak itu jatuh di hadapannya dan mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring, mengingat ruangan seluas ini benar-benar tertutup.

“Sekarang kau mengerti kan?” desis Rexanne—yang sama sekali tidak diperhatikan Edward.

“KAAAK!!”

Seekor gagak yang bertengger di bahu seorang pria bertopeng berbunyi. Pria yang tadinya duduk bersila kini berdiri dengan malas. Sejujurnya ia merasa marah karena meditasinya terganggu, tapi di lain hal ia sadar dengan kondisinya saat ini. Ya, lagi-lagi ia berada di arena pertarungan yang tidak ia inginkan. Ia sudah malas bertarung di turnamen ini, namun sepertinya ketua faksi Heroes tidak mengizinkannya.

Edward dan Rexanne mundur satu langkah, dalam posisi waspada mengawasi gerakan Akero yang perlahan berdiri. Burung gagak di bahunya mengepak-kepakkan sayap.

“Ah, maaf… Apa kami mengganggu meditasimu?” Ferrum bergidik melihat rekannya yang terkenal pendiam tersebut.

Akero tidak menjawab. Ia melirik sinis pada Ferrum kemudian menatap Rexanne dan Edward yang berada di seberangnya. Edward merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah ada yang menekan perasaannya.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  

hah? aku blum komen Zuko ternyata wew :p

btw, Ed udah keliatan jahatnya, apalagi pake korban2 darah gini. tapi yg rentan adalah gimana cara ngbikin kemampuan api Ed beda dari Haruo. dan utk teknik,mgkn Mas Dee masi harus asah lg gimana nulis intensitas adegan, kapan terkesan sedih,jorok,serem, dramatis, dsb. krn adegan tarung lawan Akero menurutku malah gak seseru adegan tengkar Ed sama Rexie, wkwkw

+3 dolo

apaan Zuko? XDDD
.
makasih banyak pak po... saya akan belajar lagi.
.
ᕦ(ò_óˇ)ᕤ

90

Ed ternyata baik...ed versiku kayanya kasar banget....wkwkkwkwkkwkwk

di cerita Dee Ed mati, di cerita saya malah rexie yg mati...wkwkkwkwkkwkkwkwk

saya suka ceritanya....berantem ama rexie kayanya masih agak segan2 gitu...wkwkkwkwkwkkw
#gapenting

+4

........... baru baca komen ini, sepertinya kita emang sehatri #eh

dia bakal pertahankan orang yang bisa dia manfaatkan... macamAltem, Hideya gt

80

Wuaaa Akeronya dibakar sampe lenyap...
.
Ferrumnya mati ketembak...
.
Jahat, semua orang gemar membunuh!!!
.
#duak
.
Sudah saatnya kalian bertobat nak... >.<
.
+3
.
Maap saya lagi bingung mau komen apa... Kasi nilai aja yah... orz

Lol.
itu udah baik si ed ngulur waktu :v
.
Thanks udah mau mampir

Eddie, ayo kita ketemu sekali lagi dan main siapa yg paling banyak mati~! >w<)d #plakk
.
sy suka hubungan Edward Akero sama2 pmbunuh :o
seakan mereka ditakdirkan utk bertemu (?)
tp sjak kpan Akero peduli sma org lain >.<
suka jg Ed sma Rexie awkwk sma2 pemarah
.
kocak yg pas Deus jadi resepsionis www
.
minusnya, tapi ini sgt IMO, ceritanya berasa komikal.. dn jujur sy rada risih sma SFX (bunyi gagak trmasuk >w<) dan bunyi2an macem 'tsk', 'tch', 'khh'
slain bingung bacanya, kekuatan narasi sharusnya bisa menjelaskan bunyi2 spt itu jd lebi manteb
.
misalnya gini,
Akero meludahi lantai di depan muka sang lawan. Tidak perlu sopan-santun untuk orang yang telah menghina dan merendahkan jati dirinya.
.
ya, itu menurut sy aja si >w< #plakk
.
konsepnya bagus sbnernya, tp imo lg eksekusinya krg greget >.<
+3 dlu ya kak

Kalau ketemu Eddie, Belle akan dianuin.
www
.
He? emang si Akero ada peduli orang lain ya? #malah ndak sadar
.
Iya sih, sebenarnya itu beberapa SFX agak ganggu juga, cuma karena nulisnya kebut jadi mau ndak mau pake sfx.
.
Thank u sarannya <3
Dan makasih lagi udah mau mampir ^_^
.
Ditunggu Belle-nya.
Saya beneran mesti belajar bikin Ending yang greget

80

“Akero milikku. Kau pergi saja jauh-jauh!”
#cieilee Ed x Akero >__< #kemplank!
`
“Apa maksudmu?! Sudah jelas disini tertuli bahwa lawanku adalah Akero Kaoze!”
#tertuli~
`
maka orang tersebut akan terlempar kea rah anak panah tersebut menunjuk.
%sekedar spasi sii%
`
page 4
Edward benci menunggu, oleh akrena itu ia berinisiatid maju terlebih dahulu.
%karena %inisiatif
`
beginilah efek dr special move~
nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian, , >__<
#ampuuniii~
kecuali ada syarat khusus yg lbh greget buat digunakan yg memojokan user buat pakai diakhir-akhir, ,
`
titip +3
`
Haiyhooo~ ternyata Rexanne baik hati XD

Thank you udah mau komen :3 dan koreksi tipo..
Sudah saya edit yang tipo.
.
Menanggapi komen
"nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian"
.
.
Dulu saya udah ada ngomong soal ini. Kekuatan Edward ini sebenarnya ngabisin waktu kurang dari 5 menit kalau dia pake Forbidden level, tapi..... karena author lebay dan sok dramatis, jadi dipanjangin #disampluk
.
Thank u.. Thank u..
.
Dia ngga baik, dia Tsundere