[Round 3] Edward Kalashnikov - The Shaking Wind

Akero mengambil ancang-ancang agak jauh sebelum melempar sabitnya. Sabit kembar yang kini menyatu tersebut terlempar jauh ke belakang Edward tatkala Edward melesat ke arah Akero. Akero dapat melihat tangan Edward berselimut api sebelum pandangannya tertutup oleh telapak tangan sang penyihir tuli.

“Matilah kau! Terbakarlah di neraka!”

Edward mengerang, mengeluarkan kekuatannya untuk membakar Akero. Akero merasakan sekujur tubuhnya panas, mungkin topengnya akan meleleh karena panas api ini. Perlahan ia merasakan isi perutnya bergejolak, layaknya terlalu banyak tumpukan angin yang siap akan keluar. Apakah ini berarti darahnya telah mendidih perlahan?

Akero mengangkat tangannya, dan menggerakkannya cepat ke arah wajah Edward—meski ia tidak bisa melihat, namun ia tahu dimana helaan napas Edward berada—kemudian melukainya dengan cakar tersembunyi yang ia miliki.

“Tch!” Edward menjauhkan tangannya dari wajah Akero dan mengelus wajahnya sendiri. Sebuah luka cukup dalam menggores sepanjang pipi kiri Edward. Lagi-lagi ia harus menggunakan kekuatan regenerasinya untuk menghilangkan bekas luka itu, meski bagian dalam pipinya masih nyeri seperti perut dan kaki kirinya.

Edward menghela napas agak berat, ia merasa kerepotan dengan luka-luka simpel yang diberikan Akero padanya. Bukannya apa, namun kekuatan regenerasinya menyerap stamina dua kali lipat daripada menggunakan sihir apinya. Karena itu, meski luka tersebut akan sembuh, namun Edward tahu bahwa staminanya semakin lama semakin terkikis.

“KHH!!” Edward mengerang tertahan tatkala mata sabit perlahan membelah perutnya dari arah kanan.

Akero menghela napas.  Sabit yang dilemparnya tadi berputar cukup jauh sebelum akhirnya kembali dan berhasil membelah seorang Edward Kalashnikov.

“Da-darimana?”

Waktu berjalan terasa lambat bagi Edward, dan jika saja Rexanne tidak menariknya kemudian menghempaskannya ke area seberang lawan, mungkin saja ia AKAN BENAR-BENAR terbelah.

“Cih!” Akero mendengus kesal melihat Edward dan Rexanne yang berada di depan mereka. Diliriknya Ferrum yang sedikit babak belur dan ada luka tembak di kakinya, namun perasaannya tidak berubah. Kebencian terhadap Edward masih membuncah. Ia bahkan tidak bersusah payah menanyakan kondisi Ferrum saat ini.

Di seberang, Edward memandang Rexanne yang berdiri waspada menatap petarung dari faksi lawan.

“Jangan salah paham. Aku menarikmu karena bagaimanapun kau masih diperlukan. Kemenangan tim tidak akan teraih jika salah satu diantara kita mati, jadi jangan menganggap aku peduli padamu!”

Edward masih bisa membaca gerak bibir Rexanne, dan ia menanggapinya dengan senyuman. “Tch.. Kau kira aku akan mati semudah itu?!”

Rexanne menoleh ke arah Edward yang perlahan membuka jubahnya. Benar saja, tidak ada luka terbuka di perut pria yang baru saja hampir terbelah tersebut. Hanya kemeja putih dan rompi coklat serta jubahnya saja yang robek dan kotor karena darahnya yang merembes. Sekilas Edward tampak baik-baik saja, meski Rexanne tidak tahu bahwa Edward sudah mulai kepayahan dalam bernapas. Otot perutnya terasa sesak, bernapas susah, dan mungkin beberapa tulang rusuknya patah karena rasa sakit setiap menarik napas kian terasa.

“Huh…” Rexanne melesat maju dan melanjutkan pertarungannya dengan Ferrum.

Edward mencoba berdiri meski tertatih. Ia memungut jubahnya yang tergeletak di lantai dan mengambil satu toples darah—Ox—beserta dengan buku tua. Bergerak perlahan sembari menahan sakit, Edward mulai menggambar diagram di atas lantai.

Sementara itu, Akero sedang memikirkan cara bagaimana membunuh Edward. Menggunakan Theta  Controller adalah satu-satunya ide yang tidak mungkin. Untuk menggunakan kekuatan ini, dirinya harus duduk bersila, seperti bersemedi dan dirinya berada di tengah tornado mini yang—kemungkinan terburuk—justru bisa mengepung dan membakar dirinya jika Edward mengerahkan kekuatan api padanya.

Menggunakan Tropical Wind sebenarnya bisa langsung menghempaskan Edward menabrak dinding arena yang tidak terlihat dan menjatuhkannya ke atas anak panah vektor, namun kekuatan ini terlalu banyak menguras cakra dan belum tentu bisa membunuh Edward.

Akero berpikir bagaimana jika ia menggunakan Hell Tornado pada tempat sempit seperti ini. Atas kuasanya terhadap angin, Akero mungkin bisa membuat angin itu tidak menyerang dirinya, namun ia tidak bisa menjamin keselamatan Ferrum yang—mungkin—akan ikut tersedot dan tercabik.

Akero mendengus tidak peduli. Toh dirinya sudah pernah membunuh teman sendiri, jadi jika Ferrum terbunuh saat ini sudah bukan hal baru lagi. Menyerang brutal seperti saat dirinya melawan Haruo juga bisa menjadi pilihan, namun melihat kekuatan regenerasi Edward, Akero sadar tempat ini tidak meminimalisasi sihir.

Edward berdiri di atas salah satu dari lima diagram yang ia gambar. Dikenakannya lagi jubahnya dan disembunyikan bukunya. Edward mencoba mengingat mantra yang ia baca sekilas dan yang ia dengar dari dalam mimpinya.

“Agapi̱té Kýrie …”

Akero memisahkan kedua sabitnya yang masih bersatu. Meletakkan di hadapannya, bersiap menggunakan Hell Tornado.

“Ríchnoume to kakó ston kósmo… Gia séna tha parousiásei éna aíma.”

Edward mematerialisasi sebuah pedang yang kini diselimuti api dan melemparnya pada sabit Akero.

“Kápste tous se stáchtes… Poté xekourastoún…”

TRANG. Pedang tersebut terhempas saat sabit mulai berputar pada porosnya dengan cepat. Api yang berada di pedang sempat menyentuh pusaran angin dan membakarnya.

“Méchri tró̱te ti̱ giortí̱… Éla se ména”

Parah. Ini parah.

Ferrum dan Rexanne yang berada cukup jauh dari pusaran angin-api mencari pegangan karena tubuh mereka terasa seperti ditarik ke pusaran tersebut. Rexanne menancapkan ekornya pada lantai, sementara Ferrum menancapkan pedang Edward yang terhempas ke arahnya. Beruntung saat ini tidak ada anak panah vektor yang melesat.

“Parakalo̱!!!”

Edward berteriak. Dirinya yang kini bertumpu pada kedua tangan dan kakinya di atas diagram perlahan terseret saat diagram darah tersebut menyala.

Edward tersenyum sombong dan membayangkan target yang akan dibakarnya hingga tidak bersisa. Tak lama kemudian ia menjentikkan jari.

BUM

Sebuah ledakan tercipta dari tengah pusaran. Angin itu berhenti menarik apapun di sekitarnya. Pemandangan ini jelas membuat Akero tidak senang. Ia berpikir untuk menggunakan Tropical Wind, saat Edward melesat ke arahnya dan menjentikkan jari di hadapannya.

“Jangan terkejut dulu, pertarungan kita belum selesai.”

Akero melebarkan pupil matanya saat ia merasakan panas di kakinya. Sebuah cahaya putih perlahan melumatnya dari bawah. Akero sudah tidak bisa berpikir apa-apa—bahkan untuk mengeluarkan anginnya, ia hanya bisa merasakan panas, dan sakit saat api putih itu menjalari tubuhnya.

“Sial!”

Edward tersenyum sebelum akhirnya tubuh Akero dibalut oleh api putih itu . Ia merebahkan dirinya ke atas lantai, tanpa menyadari sebuah anak panah bergerak di bawahnya dan melemparkannya. Edward menggerutu, berharap Blackz segera me-remove-nya dari arena.

Namun tidak ada yang terjadi pada dirinya meski Rexanne sedari tadi masih beradu metal dengan Ferrum. Edward mulai berpikir, apa karena dirinya berdua dan kedua musuh harus kalah terlebih dahulu baru ia bisa keluar dari arena? Ukh, ia benar-benar ingin istirahat. Pandangan Edward mulai memburam saat ia menatap kobaran api putih kebiruan yang menyelimuti Akero, kemudian ia berganti menatap Ferrum.

Seandainya saja ia masih memiliki stamina untuk menggunakan Forbidden magic yang ketiga kalinya pada Ferrum. Namun sayang, staminanya terkuras untuk meregenerasi hatinya yang ikut terkena sabetan sabit Akero tadi.

“Kkkh….”

 

*

 

Rexanne mulai ngos-ngosan. Selongsong peluru yang berserakan di samping Ferrum dengan mudahnya berubah menjadi senjata saat pria itu menyentuhnya. Rexanne berpikir untuk menggunakan pedangnya yang terbuat dari kristal, namun ia tidak mau mendekati Ferrum sejak ia sadar bahwa Ferrum mampu menyerap semua zat yang mengandung besi—termasuk zat besi di dalam darahnya. Tidak, tidak, Rexanne tidak ingin anemia dengan cepat.

“Hey, gadis bodoh!” Edward berseru. “Apa lagi yang kau tunggu?! Habisi dia agar aku bisa keluar dari sini!”

Rexanne—sangat—tersinggung dipanggil bodoh oleh orang yang lebih bodoh darinya. Ia menurunkan Desert Eagle-nya dan menghampiri Edward yang masih tersungkur di lantai. Emosinya yang naik ke ubun-ubun membuat gadis itu tidak mengenal belas kasihan meski ia tahu Edward sudah hampir kehabisan stamina. Ia menendang Edward ke arah anak panah vektor yang bergerak dan membiarkan Edward terlempar.

“Siapa yang kau sebut bodoh, heh?!” Rexanne mengganti Desert Eagle dengan AS50.

Moncong AS50 yang berada di dahi Edward sama sekali tidak membuat penyihir tuli itu gentar. Ia hanya menginginkan satu hal : kembali ke Oase dan melakukan regenerasi penuh.

“Apa saja yang kau lakukan?! Kenapa lama sekali mengalahkan dia? Makanya aku tidak suka dengan wanita. Mereka terlalu lemah!!”

Rexanne memicingkan matanya, menarik pelatuk dan berpikir untuk meledakkan kepala Edward.

 

*

 

Ferrum terkesiap melihat kobaran api yang tadinya membungkus Akero menghilang. Menyisakan ketiadaan. Ya, tidak ada apapun yang diselimuti api itu, bahkan abu dari jasad Akero yang hangus. Tangan Ferrum bergetar. Lagi, di depan matanya seorang rekan telah terbunuh.

“Tak bisa dimaafkan! Kau tak bisa dimaafkan!!”

Ferrum mempererat genggamannya pada gagang pedang yang ia materialisasi dari Fe yang ia serap dan kemudian melesat ke arah Rexanne dan Edward yang sedang bersitegang.

“Kau jangan ikut campur!!” Rexanne menembakkan sebuah peluru yang tidak sempat dihindari oleh Ferrum, beruntunglah peluru tersebut meleset dan hanya menggores bahunya.

“Kalian seharusnya mati!!”

Rexanne mengalihkan pandangannya dari Edward ke Ferrum dan mengaktifkan mode beam-nya.

“Kubilang, kau jangan ikut campur!”

Satu tembakan beam dilancarkan oleh gadis seksi berambut panjang tersebut. Ferrum tidak menyangka dirinya akan terkena peluru AS50 versi beam yang mampu mencapai 2 km. Ferrum terseret sebelum akhirnya terhempas dengan tubuh berlubang.

“Kau tahu! Lama-lama kau membuatku muak!!” Rexanne mencengkram kerah Edward dan menariknya.

“Aku tidak sudi dipasangkan oleh gadis sepertimu. Lemah!”

“Jika bukan karena peraturan kemenangan tim, kau sudah kuhancurkan!! Tch. Seharusnya aku tidak menyelamatkanmu saat sabit Akero menusukmu!”

Satu pukulan tinju Rexanne mendarat mulus di pipi Edward. Pemuda tersebut berguling ke atas anak panah vektor yang mengelilingi mereka.

Tidak ada yang terjadi, Rexanne mengernyitkan alis.

“Hey, apa benda ini sudah mati?” Ia menghentak-hentakkan kaki di gambar anak panah vektor yang lain. “Tsk.”

“Wah, wah… Kalian berdua brutal sekali.”

Tiba-tiba suara Deus mulai terdengar melalui interkom.

“Brutal? Apa maksudmu?!”

“Hah? Kalian tidak menyadarinya? Heroes pilihan Tsuki…”

Rexanne melihat ke arah Akero dan Ferrum seharusnya berada. Ia terkesiap.

***

Read previous post:  
Read next post:  

hah? aku blum komen Zuko ternyata wew :p

btw, Ed udah keliatan jahatnya, apalagi pake korban2 darah gini. tapi yg rentan adalah gimana cara ngbikin kemampuan api Ed beda dari Haruo. dan utk teknik,mgkn Mas Dee masi harus asah lg gimana nulis intensitas adegan, kapan terkesan sedih,jorok,serem, dramatis, dsb. krn adegan tarung lawan Akero menurutku malah gak seseru adegan tengkar Ed sama Rexie, wkwkw

+3 dolo

apaan Zuko? XDDD
.
makasih banyak pak po... saya akan belajar lagi.
.
ᕦ(ò_óˇ)ᕤ

90

Ed ternyata baik...ed versiku kayanya kasar banget....wkwkkwkwkkwkwk

di cerita Dee Ed mati, di cerita saya malah rexie yg mati...wkwkkwkwkkwkkwkwk

saya suka ceritanya....berantem ama rexie kayanya masih agak segan2 gitu...wkwkkwkwkwkkw
#gapenting

+4

........... baru baca komen ini, sepertinya kita emang sehatri #eh

dia bakal pertahankan orang yang bisa dia manfaatkan... macamAltem, Hideya gt

80

Wuaaa Akeronya dibakar sampe lenyap...
.
Ferrumnya mati ketembak...
.
Jahat, semua orang gemar membunuh!!!
.
#duak
.
Sudah saatnya kalian bertobat nak... >.<
.
+3
.
Maap saya lagi bingung mau komen apa... Kasi nilai aja yah... orz

Lol.
itu udah baik si ed ngulur waktu :v
.
Thanks udah mau mampir

Eddie, ayo kita ketemu sekali lagi dan main siapa yg paling banyak mati~! >w<)d #plakk
.
sy suka hubungan Edward Akero sama2 pmbunuh :o
seakan mereka ditakdirkan utk bertemu (?)
tp sjak kpan Akero peduli sma org lain >.<
suka jg Ed sma Rexie awkwk sma2 pemarah
.
kocak yg pas Deus jadi resepsionis www
.
minusnya, tapi ini sgt IMO, ceritanya berasa komikal.. dn jujur sy rada risih sma SFX (bunyi gagak trmasuk >w<) dan bunyi2an macem 'tsk', 'tch', 'khh'
slain bingung bacanya, kekuatan narasi sharusnya bisa menjelaskan bunyi2 spt itu jd lebi manteb
.
misalnya gini,
Akero meludahi lantai di depan muka sang lawan. Tidak perlu sopan-santun untuk orang yang telah menghina dan merendahkan jati dirinya.
.
ya, itu menurut sy aja si >w< #plakk
.
konsepnya bagus sbnernya, tp imo lg eksekusinya krg greget >.<
+3 dlu ya kak

Kalau ketemu Eddie, Belle akan dianuin.
www
.
He? emang si Akero ada peduli orang lain ya? #malah ndak sadar
.
Iya sih, sebenarnya itu beberapa SFX agak ganggu juga, cuma karena nulisnya kebut jadi mau ndak mau pake sfx.
.
Thank u sarannya <3
Dan makasih lagi udah mau mampir ^_^
.
Ditunggu Belle-nya.
Saya beneran mesti belajar bikin Ending yang greget

80

“Akero milikku. Kau pergi saja jauh-jauh!”
#cieilee Ed x Akero >__< #kemplank!
`
“Apa maksudmu?! Sudah jelas disini tertuli bahwa lawanku adalah Akero Kaoze!”
#tertuli~
`
maka orang tersebut akan terlempar kea rah anak panah tersebut menunjuk.
%sekedar spasi sii%
`
page 4
Edward benci menunggu, oleh akrena itu ia berinisiatid maju terlebih dahulu.
%karena %inisiatif
`
beginilah efek dr special move~
nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian, , >__<
#ampuuniii~
kecuali ada syarat khusus yg lbh greget buat digunakan yg memojokan user buat pakai diakhir-akhir, ,
`
titip +3
`
Haiyhooo~ ternyata Rexanne baik hati XD

Thank you udah mau komen :3 dan koreksi tipo..
Sudah saya edit yang tipo.
.
Menanggapi komen
"nguras tenaga tp efektif dan bikin diriku berpikir mengapa tidak dipakai saat awal saja sekalian"
.
.
Dulu saya udah ada ngomong soal ini. Kekuatan Edward ini sebenarnya ngabisin waktu kurang dari 5 menit kalau dia pake Forbidden level, tapi..... karena author lebay dan sok dramatis, jadi dipanjangin #disampluk
.
Thank u.. Thank u..
.
Dia ngga baik, dia Tsundere