Unspoken Feeling

Siang itu cuaca sangat cerah. Awan yang menggumpal di atas sana bergerak seirama dengan angin. Di bawah langit yang indah itu, di sebuah taman yang teduh, beberapa anak kecil sedang asyik bermain. Mereka duduk tenang di atas rumput, dengan mata berbinar memperhatikan dua temannya yang berdiri berdampingan di depan mereka.

Gadis kecil yang terlihat cantik dengan memakai mahkota yang terbuat dari bunga itu berdiri di samping seorang anak laki-laki yang terlihat gagah memakai mahkota bunga yang sama. Di depan mereka berdiri seorang anak laki-laki lainnya.

“Ahem... tuan Ikeuchi, apakah anda bersedia untuk mencintai baik dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam keadaan susah maupun senang, wanita yang kini berada di samping anda?” tanya seorang anak laki-laki pada dua orang temannya yang berdiri berdampingan. Mereka sedang bermain sandiwara pernikahan.

 Anak laki-laki yang berperan menjadi pengantin pria itu tersenyum dan mengangguk mantap. “Bersedia!”

Kini pendeta kecil itu mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di hadapannya “Dan... bagaimana dengan anda, nona Misaki?”

Wajah Misaki bersemu merah. Dia melirik ke arah Ikeuchi yang sedang tersenyum ke arahnya yang membuat jantungnya berdebar semakin kencang tapi justru memberinya keberanian. Misaki menoleh kembali ke depan lalu mengangguk. “Bersedia.”

“Baik dengan begitu, kalian telah sah menjadi suami istri.”

Tepuk tangan dan sorak sorai meriah anak-anak kecil menyambut kalimat itu. Ikeuchi dan Misaki berbalik dan bergandengan tangan. Anak-anak kecil yang lain menyebarkan kelopak-kelopak bunga ke arah mereka. Semuanya tersenyum bahagia, puas dengan sandiwara pernikahan yang mereka mainkan.

“Ikeuchi dan Misaki cocok sekali!”

“Iya kalau sudah besar nanti kalian harus membuat upacara pernikahan sungguhan ya! Hehe,” ujar anak-anak kecil itu dengan polos.

Setelah puas bermain, mereka pun pulang ke rumah masing-masing kecuali  Ikeuchi dan Misaki. Langit biru yang cerah tadi kini telah berubah menjnadi jingga. Mereka berdua masih disana untuk menunggu matahari terbenam.

"Ikeuchi terimakasih," ujar Misaki tiba-tiba.

Ikeuchi menoleh ke arah Misaki. "Kenapa?"

"Karena telah mau menjadi pasanganku tadi. Hehe." Misaki tersenyum riang.

Ikeuchi membalikkan badannya menghadap Misaki dan memegang tangannya seraya tersenyum. "Jangan khawatir, aku akan selalu jadi pasangan Misaki!"

 

...

 

13 tahun kemudian...

“Tuan Ikeuchi, apakah anda bersedia untuk mencintai baik dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam keadaan susah maupun senang, wanita yang kini berada di samping anda?”

Ikeuchi menoleh kepada pengantin wanita di sampingnya dan tersenyum lembut. “Ya, saya bersedia.”

Pendeta kemudian mengalihkan perhatian pada sang pengantin wanita. Mengucapkan pertanyaan yang sama dan dijawab oleh jawaban yang sama pula. Setelah mendengar jawaban dari kedua pengantin, semua orang yang menyaksikan tersenyum. Sebuah janji telah terucap. Saat ini... dua orang telah disatukan.

“Mereka pasangan yang serasi ya,” ujar sebuah suara di sela suara sorak gembira orang-orang yang berada di sana.

“Iya,” jawab seorang gadis di sampingnya.

“Moment ini mengingatkanku pada suatu kenangan di masa lalu. Kau ingat? Saat itu kaulah yang menjadi pengantin wanitanya.”

Misaki tersenyum kecil. “Tentu saja. Mana mungkin aku lupa pernikahan dengan pendeta yang culun seperti itu,” candanya seraya menyeringai pada pria di sampingnya, Tatsuya.

“Haih... kau ini masih saja bisa bercanda walaupun kau sebenarnya sangat ingin menangis.” Tatsuya menatap Misaki dalam.

Misaki menghentikan tawanya dan memalingkan wajah. “Siapa yang mau nangis?” tanyanya lirih.

“Tidak usah mengelak. Aku tahu kau mencintai Ikeuchi, sejak kecil dulu bahkan hingga saat ini. Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya perasaanmu yang sebenarnya? Mungkin ceritanya akan lain...”

“Tidak. Percuma saja. Sejak dulu Ikeuchi cuma menganggapku sebagai sahabatnya, teman dekatnya sejak kecil. Tidak lebih,” ujar Misaki seraya melihat ke arah Ikeuchi yang sedang tersenyum. Terlihat sangat bahagia bersama wanita yang kini telah  menjadi istrinya.

“Ikeuchi... sebenarnya dia juga mencintaimu.”

Misaki tertegun. “Maksudmu?”

“Dia juga sama seperti dirimu. Mencintai dalam diam. Dia pernah bercerita padaku tentang perasaannya padamu yang tidak bisa diungkapkannya itu. Dia bilang kebersamaan kalian lebih berharga daripada perasaan ingin memiliki itu sendiri. Mungkin karena takut kehilangan... jika jawabanmu nanti tidak sesuai harapan. Dia tidak pernah bilang.”

Tubuh Misaki terasa lemas setelah mendengarnya.

“Bodoh...” Misaki tersenyum pahit. Berusaha menahan air matanya yang sebenarnya sangat ingin tumpah keluar.

“Bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kau tidak pernah bilang padanya?”

Kali ini air mata Misaki benar-benar keluar. Dia berlari meninggalkan ruangan resepsi pernikahan menuju halaman di depannya.

“Misaki!” Tatsuya mengejarnya keluar.

“Aku... aku pikir aku sudah merelakannya. Tapi kenapa dadaku masih terasa sesak sekali?” Misaki terisak. Tangisan yang sejak tadi dia tahan kini menyembur keluar.

Tatsuya merengkuh Misaki ke dalam pelukannya. “Maafkan aku. Aku tidak memberitahukan hal yang sebenarnya padamu sejak awal. Selain karena Ikeuchi melarangku, aku juga tidak sanggup memberitahumu karena aku tahu setelah itu aku akan kecewa. Misaki... aku mencintaimu. Maafkan aku.”

Misaki melepaskan dirinya dari pelukan Tatsuya. Dia menghapus air matanya sendiri. “Tidak ada yang perlu disalahkan. Semuanya sudah terjadi dan mungkin ini memang takdir. Lagipula sekarang itu sudah menjadi kenangan. Aku yakin Ikeuchi sungguh-sungguh mencintai wanita yang berada di sampingnya sekarang.”

Misaki tersenyum saat mengingat ucapan Ikeuchi padanya bahwa hal yang membuatnya bahagia adalah kebahagiaan Misaki. Misaki harus bahagia agar Ikeuchi bahagia, dia tidak boleh terlihat sedih.

“Tatsuya... bantu aku menemukan kebahagiaanku sendiri seperti Ikeuchi.”

Tatsuya tersenyum lembut dan memeluk Misaki lagi. “Pasti.”

Di kejauhan, ada seseorang yang juga tersenyum melihat Misaki dan Tatsuya. Meski dadanya kadang masih terasa sakit, tapi dia senang memikirkan bahwa keputusannya yang dulu, membuat Misaki bahagia sekarang bersama orang yang dicintainya.

 

...

 

-misaki-

Aku memperhatikannya yang sedang tertawa riang bersama teman-temannya. Senyum itu... lagi-lagi membuat jantungku bergemuruh. Waktu berlalu cepat sekali. Aku merasa sepertinya baru kemarin kami memakai seragam TK yang sama, kini kami sudah memakai seragam SMA yang sama. Mungkin aku yang tidak terlalu memperhatikan waktu, terlalu menikmati kebersamaanku dengannya hingga tidak menyadari perubahan yang terjadi sedikit demi sedikit.

Tubuhnya sekarang sudah lebih tinggi melebihiku, suara nyaringnya yang dulu akrab di telingaku kini tergantikan dengan suara yang lebih berat. Dia sekarang telah tumbuh menjadi seorang cowok yang banyak dikagumi cewek. Di sekolah kami, dia termasuk populer. Sedangkan aku... sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya. Tapi perasaanku tidak bisa diajak berkerja sama. Kenapa aku bisa mencintainya? Sedangkan aku tidak pantas untuknya. Mungkin kau akan menganggapku lucu jika berharap dia akan menepati janjinya 13 tahun yang lalu padaku. Janji yang bahkan sebenarnya tidak bisa disebut janji. Hanya gurauan anak kecil yang kuingat dengan jelas sampai sekarang.

Aku terkejut dari lamunanku ketika menyadari bahwa kini dia berjalan ke arahku. Dengan cepat, aku mengalihkan pandanganku keluar jendela.

“Hoi Misaki, melamun mulu sih,” ujarnya seraya duduk di bangku di depanku dan menyentuh ujung hidungku dengan jarinya.

“Tidak, siapa yang melamun? Aku hanya sedang memandang langit tahu!” Aku menjulurkan lidah padanya.

“Eh itu sih sama saja. Haha pasti kau sedang melamun tentang pesta dansa tahunan nanti kan? Kau belum punya pasangan kan? Tenang saja, ada aku!” Ikeuchi tersenyum lebar seraya mengedipkan matanya.

Jantungku berdebar mendengar kalimatnya barusan. Menjadi pasangannya di malam pesta dansa nanti? Pesta dansa di sekolah yang hanya bisa kau rasakan sekali seumur hidup, karena diadakan setahun sekali hanya untuk siswa kelas tiga.

“Kenapa kau mengajakku? Banyak gadis cantik yang ingin pergi bersamamu kan?” tanyaku. Tidak langsung meng-iya-kan ajakannya.

Apakah ini hanya perasaanku saja? Aku melihat wajah Ikeuchi memerah. Apa aku boleh berharap lebih tentang alasan dia mengajakku?

“Ka... kau kan sahabatku. Tentu saja aku mengajakmu. Mana mungkin aku tega membiarkanmu tidak memiliki pasangan untuk acara nanti.”

Seketika hatiku terasa seperti ditusuk. Sakit sekali... tentu saja. Itulah alasannya. Tidak lain dan tidak bukan... hanyalah rasa kasihan. Pada sahabatnya yang mungkin tidak akan ada cowok lain yang memintanya menjadi pasangan. Menyedihkan.

“Siapa bilang aku tidak punya pasangan? Di pesta dansa nanti aku akan berpasangan dengan Tatsuya,” ucapku bohong.

“Benarkah? Kau... bisa batalkan itu dan pergi bersamaku kan?” Ikeuchi menatapku dalam. Aku sudah tidak tahan lagi. Jika memang aku tidak bisa memilikinya, jika memang dia hanya akan selalu menganggapku sebagai sahabatnya, tolong jangan perlakukan aku seperti ini, jangan tatap aku seperti itu.

“Kenapa aku harus membatalkannya? Dia mengajakku lebih dulu. Kau tidak perlu merasa kasihan dan mengajakku. Kau tidak usah khawatir. Tatsuya sangat baik. Mana mungkin aku menolaknya?” ujarku kemudian beranjak meninggalkan Ikeuchi.

Apa yang kulakukan? Apa yang kukatakan? Kenapa ucapan dan pikiranku tidak bersatu? Aku ingin... sangat ingin bersama Ikeuchi. Tapi ucapannya tadi telah menyadarkanku. Dia hanya menganggapku sahabatnya. Aku tidak mau menjadi beban untuknya. Akan aku kubur perasaan ini. Cinta tidak harus memiliki kan?

 

...

 

-ikeuchi-

“Hoi Ikeuchi, pesta dansa tahunan nanti, kau akan berpasangan dengan siapa?”

“Ah tidak usah tanya dia. Ikeuchi sih nanti pasti akan mendapatkan gadis cantik sebagai pasangan dengan mudahnya,”

“Hei itu masih rahasia. Haha,” jawabku pada teman-teman sekelas yang bertanya perihal pesta dansa nanti.

Jantungku berdebar setiap kali ingat siapa gadis yang nanti akan kuajak. Dia bukan gadis biasa, dia adalah sahabatku sejak kecil juga merupakan gadis yang sangat kucintai.

Mataku mencari sosok Misaki lalu menemukannya sedang duduk di bangkunya. Pandangan kami bertemu, seketika dia mengalihkan tatapannya keluar jendela. Aku menghembuskan napas, kadang sikapnya membuatku tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku. Misaki entah kenapa... kadang seperti ingin menghindar dariku.

Aku bangkit dari dudukku dan menghampiri Misaki yang duduk di dekat jendela. Aku duduk di bangku depannya dan menyentuh hidungnya yang mancung. Hal yang selalu kulakukan ketika dia sedang melamun.

“Hoi Misaki, melamun mulu sih,”

Dia terkejut. “Tidak, siapa yang melamun? Aku hanya sedang memandang langit tahu!” serunya kemudian menjulurkan lidahnya ke arahku.

Aku berusaha menyusun kalimat untuk memintanya menjadi pasanganku. “Eh itu sih sama saja. Haha pasti kau sedang melamun tentang pesta dansa tahunan nanti kan? Kau belum punya pasangan kan? Tenang saja, ada aku!” Aku harap wajahku tidak terlihat seperti kepiting rebus saat mengatakannya.

“Kenapa kau mengajakku? Banyak gadis cantik yang ingin pergi bersamamu kan?” Dia balik bertanya. Pertanyaan yang belum siap kujawab. Entah mengapa itu membuyarkan susunan kata yang aku pikirkan sejak tadi.

“Ka... kau kan sahabatku. Tentu saja aku mengajakmu. Mana mungkin aku tega membiarkanmu tidak memiliki pasangan untuk acara nanti.” Aku tahu aku telah mengatakan hal yang bodoh.

Misaki tertegun. Rasanya ingin sekali kutarik ucapanku yang tadi. “Siapa bilang aku tidak punya pasangan? Di pesta dansa nanti aku akan berpasangan dengan Tatsuya.”

Pernahkah kau merasa kalah bahkan sebelum kau bertanding?

“Benarkah? Kau... bisa batalkan dan pergi bersamaku kan?” Misaki... tolong beri aku kesempatan agar aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu nanti.

“Kenapa aku harus membatalkannya? Dia mengajakku lebih dulu. Kau tidak perlu merasa kasihan dan mengajakku. Kau tidak usah khawatir. Tatsuya sangat baik. Mana mungkin aku menolaknya?” Misaki berdiri dari kursinya dan beranjak pergi setelah mengatakan itu.

Aku menatap punggungnya saat dia berjalan keluar kelas. Apakah aku telah menyakiti hatinya? Tapi hei... hatiku juga sakit. Kenapa aku sangat bodoh? Kenapa aku tadi mengatakan hal bodoh? Kenapa aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padanya? Misaki... sebenarnya aku sangat ingin kau menjadi pasanganku untuk pesta dansa nanti. Tapi mungkin kau lebih ingin pergi bersama Tatsuya.

Dia yang kadang terlihat seperti ingin menjauh, sekarang terasa seperti benar-benar menjauh. Pada detik ini aku menyadari satu hal. Bahwa hal terpenting melebihi apapun di dunia ini adalah bersama dengannya. Jika perasaan yang disebut cinta ini nantinya malah membuatnya menjauh, lebih baik tidak usah kuungkapkan. Asalkan aku bisa terus bersamanya... walaupun cuma sahabat, aku adalah orang terdekat yang akan selalu memastikan dia bahagia.

 

...

 

-cherryblossom:)-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer retata
retata at Unspoken Feeling (7 years 37 weeks ago)

sedih,,!

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 37 weeks ago)

makasih udah mampir ^^

Writer kaochanisa
kaochanisa at Unspoken Feeling (8 years 2 weeks ago)
80

udah bagus sih sa_chan.. tapi memang ada beberapa kata yang kurang pas..
btw, kemampuan menulis kamu makin meningkat ya..
ganbatte! tingkatin lagi kemampuannya..

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 50 weeks ago)

iyow sankyuu kao-chan ^o^

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Unspoken Feeling (8 years 2 weeks ago)
70

Kayak nonton dorama hehehe... Cuman versi singkatnya >_<
Duh, sering kayak gitu ya. Coba kita bisa tahu bagaimana sebenarnya perasaan satu sama lain, masalah pun terpecah. Tapi mungkin di situlah seninya berhubungan, menebak-nebak perasaan yang terpendam. Kalau akhirnya bisa terungkap, alangkah indahnya. Tapi walaupun ga terungkap, tapi tetap bisa tahu sama tahu, rasa2nya indah juga. *Ngelantur apa sih kamu day?

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 50 weeks ago)

huah udah lama gabuka kekom..baru bales komen sekarang >_<
hhehe iya bener banget kak dayeuh ;) makasih udah komen+mampir yak hhehe. masih inget kan ? :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Unspoken Feeling (7 years 50 weeks ago)

tentu saja masih :) ayoo kita ramaikan kekom lagi :D

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 48 weeks ago)

ayo..belakangan ini sepi banget ya kak kayaknya :\

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Unspoken Feeling (7 years 48 weeks ago)

Bangeuuud...! Entah apa ada situs selain Kekom yang lebih memadai utk berbagi? Padahal sayang kayaknya ada beberapa pendatang baru juga nih.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 48 weeks ago)

huah aku sendiri jg udah jarang buka sekarang krn bbrp hal :( tp tenang aja kak aku ttep setia disini kok hhehe..kangen jg sih sama kekom. entah kenapa lebih suka situs ini dibanding situs penulis lainnya >.<

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Unspoken Feeling (7 years 48 weeks ago)

Wah emang situs penulis lainnya itu apa aja? *Males nyari2 sendiri haha...

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 47 weeks ago)

yang aku tau sih ada wattpad kak. coba aja..tp kl itu mah aku jarang buka sih hhehe :b

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Unspoken Feeling (8 years 2 weeks ago)
80

Bagus, tapi ada beberapa kata yang sedikit aneh waktu dibaca. Aku tunggu kelanjutannya~ ^^

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (8 years 2 weeks ago)

hhehe makasih. tp ini gaada lanjutannya ao-chan :3

Writer bayonet
bayonet at Unspoken Feeling (8 years 4 weeks ago)
80

misaki.. lain kali kalo suka ama cowok, langsung peluk! cium! beres kan. hehe :D

bagus ceritanya. kena perasaan. kok lagi2 cerita sedih sih? kk cherry senengnya ma cerita sedih mulu

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (7 years 48 weeks ago)

yah gabisa gitu jg kak hhaha

knp ya ? entahlah..yg terpikirkan kisah sedih mulu >.<"

hhehe makasih udah mampir ;)

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Unspoken Feeling (8 years 4 weeks ago)
70

masih ada kalimat2 gak efektif kak, yg terlalu panjang tanpa jeda juga agak merusak suasana baca.
betewe kalo emang kakak kurang tahu pernikahan di gereja, riset dong. cerpen yg baik tetap butuh riset lho :D

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Unspoken Feeling (8 years 3 weeks ago)

udah aku riset sih..tp cuma yg cara ngomongnya aja sedikit hhehe >_

ok lain kali aku akan coba utk lebih teliti :D

makasih udah mampir kk ;)