User Agreement

 

 

 

Sekolah, 16.00 WIB

 

Bias matahari sore terpancar dan terpantul di jendela kelas saat murid-murid telah pulang. Yang tersisa di kelas itu hanyalah aku dan Kakuu yang telah menyelesaikan tugas presentasi kelompok yang diberikan oleh guru. Setelah tugas tersebut selesai, Kakuu melihat jam tangannya dan mulai membuka tas gendongnya.

 

Dia mengeluarkan tablet dari tasnya, dan kelihatannya mulai browsing entah mencari apa.

 

Aku yang tidak mempunyai pekerjaan apapun setelah tugas selesai, melompat dan duduk di pinggiran jendela sambil menatap tabletnya.

 

“Hei, jika kamu bawa tablet, kenapa tidak dipakai dari tadi saja? Bukannya, tugas ini akan cepat selesai jika dicari langsung di internet?” aku bertanya kepadanya dengan datar, tanpa rasa kesal.

 

“Mungkin iya,” dia menjawab. “Namun, jika kita mengutip di internet, maka kita harus mencantumkan sumbernya kan? Jika tidak mencantumkan sumbernya, maka itu dibilang plagiat. Aku sih tidak ingin repot saja harus mencantumkan sumbernya. Selain itu.........”

 

Dia hening sejenak.

 

“Selain itu, apa?”

 

“Selain itu, aku ingin bersama kamu lebih lama. Jika tugas ini cepat selesai, maka kita akan cepat berpisah kan, aku tidak mau itu.”

 

Uwah, aku berkata dalam hati.

 

“Oi, hentikan itu. Jijik tahu. Aku laki-laki, kamu laki-laki. Dan ini bukan BL story.”

 

Dia tersenyum. Tersenyum bercanda.

 

“Tentu saja, aku bercanda. Kamu orangnya terlalu percaya sama orang deh. Omong-omong, apa kamu udah tahu berita ini?”

 

Dia meletakkan tabletnya di mejaku. Di layar tablet itu, aku bisa melihat website klub koran sekolah yang bergerak dalam hal rumor-rumor terkenal. Nama klub koran itu adalah Sunday Nestpaper.

 

“Oh, dulunya, kamu masuk klub ini kan, Kakuu? Kenapa kamu keluar?”

 

“Ah, iya. Aku keluar karena klub itu terkesan gila. Aku sudah mulai merasakannya saat pertama kali masuk kesana, namun aku tahan perasaan itu. Namun, setelah kejadian aneh hilangnya kak Kaka, Senior makin kelihatan gila, dan aku segera keluar saja. Mengenyampingkan hal itu, baca ini.”

 

Aku melihat sebuah berita headline yang ditulis dengan huruf besar, tebal dan berfont enambelas itu.

 

‘12 ORANG SISWA MATI AKIBAT KECELAKAAN BUS SAAT  TUR KELAS.’

 

“12 orang mati saat tur kelas? Apa ini? Bukannya ada 14 siswa yang ikut tur kelas?”

 

“Ah iya. Iya. Tapi, bukan itu yang aku tunjuk. Yang ini,” dia menunjuk ke sebuah berita yang lebih kecil dan kurang menarik.

 

‘KUTUKAN APEL PUTRI PUTIH SALJU’

 

“Apa ini? Bisa jelaskan? Aku terlalu malas untuk membaca berita ini.”

 

“Pemalas. Baiklah, karena aku baik maka kukabulkan permintaan itu. Pertama.....”

 

Kakuu menceritakan kepadaku semua hal terkait berita itu. Kutukan apel putri putih salju adalah suatu fenomena yang saat ini sedang terjadi di sekolahku. Tiga orang murid sudah menjadi korban. Mereka ditemukan tertidur dan tidak bisa dibangunkan. Segala cara telah dilakukan dan tidak ada hasilnya. Fenomena ini mirip sekali dengan kisah putri putih salju (Ref: Snow White) dari buku dongeng Grimm Bersaudara. Dan karena itulah, maka kejadian ini disebut Kutukan Apel Putri Putih Salju.

 

“Tapi, kalau cuman mereka tertidur terus, bukannya bukti yang mendukung terlalu sedikit?”

 

“Tidak. Ada satu bukti lagi. Memang tidak dituliskan di koran ini. Di sisi setiap korban selalu ada satu apel merah yang tergeletak disampingnya.”

 

“Hee.....”

 

“Kalau begitu, gimana kalau kita mencoba untuk memecahkan misteri ini? Itu, seperti di cerita-cerita detektif. Kamu kan penggemar Sherlock Holmes.”

 

“Ah, tidak. Ini akan berakhir menjadi masalah, aku yakin. Selain itu, ini juga tidak ada untungnya bagiku.”

 

Aku melompat dari pinggiran jendela dan mendarat di atas mejaku. Setelah membersihkan debu hasil pijakanku, aku mengambil tas sangkungku dan berjalan keluar bersama Kakuu.

 

Di persimpangan jalan, aku dan Kakuu berpisah. Sebelum aku pergi, dia tersenyum lagi kepadaku. Sebuah senyuman yang menyiratkan, “Ini akan menjadi menarik.”

=_=

Rumah, 20.00 WIB

 

Aku tiba di rumah sekitar jam delapan malam dan disambut oleh dua petugas kepolisian yang segera menginterogasiku di ruang tamu. Sebagai anggota masyarakat yang baik, aku tentu saja menyambut mereka dengan ramah.

 

Ah, iya. Terlalu lebay. Bukan menginterogasiku, kami hanya berbincang-bincang masalah Kutukan Apel Beracun atau entah apa namanya itu. Polisi di depanku bernama Agie, dia cowok berambut hitam, memakai kemeja putih yang berantakan, matanya kelihatan belum tidur dua hari dua malam. Sedangkan yang satu polisi lagi adalah seorang cewek. Berkacamata hitam, terlihat dewasa, dan memakai rok hitam. Dia mengeluarkan smartphonenya dan kelihatannya mulai mencatat percakapan kami.

 

“Ee, Jati—,” Agie mencoba mengingat nama lengkapku, sambil meminta bantuan ke rekan cewek disampingnya.

 

“Jati cukup, Pak Agie,” dia terlihat mengerutkan dahinya saat aku memanggilnya Bapak. Mungkin karena dia berpikir dia masih terlihat muda untuk dipanggil Kakak.

 

“Ya,ya. Jati, kamu kenal 3 orang ini?” dia meletakkan foto tiga orang siswa yang kukenal sebagai  teman sekelasku.

 

“Iya, namanya, kalau tidak salah, siapa ya. Lupa.”

 

“Boboe, Teri, dan Kita. Keadaan mereka sekarang masih tertidur dan tidak bisa dibangunkan. Tiga orang ini secara mendadak dan bersamaan tertidur sejak lusa malam. Apa kamu tahu sesuatu tentang ini? Hal apapun, sekecil apapun.”

 

“Ehm, tidak ada. Aku memang sekelas dengan mereka, namun aku tidak pernah berhubungan dengan mereka. Nama mereka saja aku tidak ingat.”

 

“Apa benar kamu tidak ingat? Bagaimana kalau kamu berbohong?” cewek yang disamping Pak Agie itu mengangkat kepalanya, dan menatap tajam kepadaku. “Dari sumber yang kudapatkan, kamu sering bertemu dengan mereka, dan kembali dengan muka yang bengkak seperti dipukul.”

 

“Berkelahi, kah?”

 

“Oi, oi. Aku tersangka ya? Lucu sekali. Memang kuakui, aku punya dendam kepada mereka. Kami sering bermain pukul memukul di belakang sekolah. Tapi, aku tidak terlalu bodoh untuk membunuh mereka. Eh, maaf. Bukan membunuh ya. Menidurkan mereka?”

 

Aku melihat mereka mengerutkan dahi, tanda mereka makin mencurigaiku.

 

“Daripada mencurigaiku, lebih baik gunakan energi itu untuk mencari penyebab kejadian ini. Dilihat darimanapun, ini merupakan kutukan apel putri putih salju kan?” Aku seperti protagonis yang dituduh oleh minor karakter, yang akan berakhir dengan aku yang akan memecahkan kasus. “Bagaimana kalau Pak Agie mencium mereka? Itu seperti di cerita dongeng kan, putrinya bakalan bangun kalo pangerannya menciumnya?”

 

Agie melirik kepada rekannya, dan rekannya membalas dengan anggukan. Itu terlihat semacam kode yang sering muncul di drama detektif yang terlihat sangat bodoh.

 

Candaanku tidak direspon.

 

“Baiklah. Itu saja dulu untuk hari ini. Terimakasih.”

 

Agie dan cewek itu segera berdiri dan meninggalkan rumahku.

 

=_=

 

Aku segera menelepon Paman Haze setelah dua orang polisi itu pergi. Dia merupakan ilmuwan genius yang saat ini sedang bekerja pada project Kota Pelabuhan. Itu yang kudengar. Dia berkacamata, sering memakai jas lab dan sering tersenyum dibalik kacamatanya. Biasanya, aku tidak ingin berhubungan dengannya, tapi karena keadaan yang memaksa seperti ini, maka aku tidak punya pilihan lain.

 

“Ah, ah, ah. Bukannya ini keponakan tersayangku. Apa kabar, Jati?” Dia terdengar hyper saat aku menelponnya terakhir kalinya juga.

 

“Aku ingin informasi. Paman tahu segalanya kan?” aku berkata dengan singkat.

 

“Ah, ah, tentu saja. Apa yang tidak bisa kulakukan untuk keponakan tersayangku. Apa yang ingin kamu ketahui?”

 

“Itu, tentang Kasus Kutukan Apel Putri Putih Salju.”

 

“Oh, tentu saja. Itu merupakan kasus yang menarik. Sekelompok ilmuwan lain telah diutus untuk menyelidiki fenomena aneh itu. Jadi, aku tentu saja tahu data-datanya. Pengen tahu?”

 

“Sampaikan dengan sesingkat-singkatnya saja, Paman.”

 

“Baiklah. Kamu tetap pemalas seperti biasanya ya? Baiklah, langsung kepada masalahnya saja. Yang mengakibatkan mereka tertidur itu adalah sebuah free software.”

 

“Free software? Maksudnya?”

 

“Aku kirimkan programnya, tapi jangan diinstal dulu. Kamu tidak mau makan apel beracun kan?”

 

Aku membuka laptopku, dan log in ke emailku. Di inboxku, satu buah email baru saja masuk. Aku membukanya, dan mendownloadnya, sambil mendengarkan intruksi lebih lanjut dari Paman Haze.

 

“Paman, udah kudownload nih. Jadi, apa yang harus kulakukan?” aku tidak ingin berpikir dan menunggu kalimat dari pamanku saja.

 

“Apa yang harus kamu lakukan saat menginstal program?” tanyanya.

 

Ah, ini lagi. Kenapa tidak langsung saja bilang inti masalahnya apa. Kenapa harus dengan pertanyaan menjawab pertanyaan. Tapi, karena ingin mendapatkan informasi yang berharga dari paman, akhirnya aku mengikuti permainannya saja.

 

“Ehm, tinggal next, next, i agree, next, dan finish. Apa yang susah?”

 

“Nah, karena itulah ketiga orang itu tertidur seperti putri putih salju.”

 

“Eh, apa maksudnya?”

 

“Coba klik next, hingga User Agreementnya.”

 

User Agreement atau sering disebut User Licensed Agreement adalah sebuah persetujuan dari pihak user kepada perusahaan pembuat program, bahwa dia telah setuju dengan apapun, poin apapun yang tertulis di User Agreement itu.

 

Karena bahasanya yang berat, membosankan, dan sangat panjang, maka aku sangat malas untuk membacanya, dan langsung saja mengklik I Agree. Dan masalah ini terjadi karena kecerobohan ini.

 

Aku mengamati dan membaca poin-poin perjanjian di User Agreement itu dengan sedetil mungkin. Dan di poin keseratusdelapanbelas akhirnya kutemukan penyebabnya.

 

Poin 118: Pengguna software ini setuju untuk memakan Apel Beracun Putri Putih Salju

 

Sebuah kalimat yang sangat jelas dan singkat, namun memiliki akibat yang dasyat. Tapi, apa hanya dengan satu buah kalimat ini, orang akan terkena kutukan putri salju?

 

“Ah, itu yang menjadi masalahnya. Mungkin saja kalimat itu tidak ada hubungannya atau mungkin ada hubungannya. Yah, tapi itu bukan urusanku sih. Aku saja lagi sibuk ngurus kota nggak jelas ini. Oh, bosku manggil nih. Bye, bye.”

 

Paman Haze menutup teleponnya.

 

Aku dalam keadaan terdesak. Tidak akan butuh waktu lama bagi polisi untuk menemukan satu kalimat itu dari komputer korban. Jika mereka menemukannya, maka aku akan menjadi tersangka utama, sepertinya. Sehingga, aku harus lebih satu langkah daripada mereka untuk menemukan pelakunya.

 

Tiba-tiba, teleponku berdering lagi. Dari Paman Haze lagi.

 

“Ah, aku lupa bilang satu bukti lagi. Disamping korban terdapat satu buah apel yang tergeletak. Dan bukti ini hanya polisi saja yang tahu. Dah itu saja, bye lagi.”

 

Aku menutup lagi teleponku sambil memejamkan mataku.

 

Apel, Putri Salju, Tiga siswa itu, dan Kakuu.

 

Sepertinya, ini adalah cerita misteri yang gagal.

 

=_=

 

Sekolah, 09.00 WIB

 

Aku mengajak Kakuu untuk makan di atap sekolah. Tentu saja, aku tidak mengajaknya untuk makan di atas atap sekolah, namun untuk mengungkapkan siapa pelaku dari cerita ini. Ah, aku makin terlihat seperti seorang protagonis.

 

“Kakuu, aku sudah berhasil mengungkapkan semua misteri tentang Kutukan Apel Beracun itu.”

 

“Oh, tidak disangka-sangka. Kamu hebat juga ya?”

 

“Kamu pelakunya kan?”

 

Dia terkejut setengah mati saat aku menunjuknya. Wajahnya pucat pasi dan seluruh tubuhnya gemetaran. Kemudian, dia jatuh terduduk di lantai, dan entah kenapa, air matanya jatuh deras hingga tidak bisa kutahan.

 

“Hei, hei. Ada apa ini? Hei,” aku tidak menyangka efek yang ditimbulkan oleh kalimat klise detektif benar-benar mengerikan.

 

“Aku minta maaf. Minta maaf. Maaf. Maaf. Aku mengaku salah. Aku yang melakukan semuanya,” Kakuu benar-benar terlihat menyesal.

 

“Kenapa kamu melakukan ini?” aku bertanya kepadanya meskipun aku sudah tahu jawabannya.

 

“Itu sudah jelas kan. Karena kamu adalah temanku. Kamu sering dipukulin sama mereka kan? Aku tahu itu. Aku tidak bisa menahan perasaan ingin membalas dendam ini kepada mereka. Karena mereka telah menyakiti sahabat sejatiku.”

 

Uwah, jika dalam situasi normal, aku pasti sudah muntah mendengar kalimat memalukan itu. Tapi, ini adalah situasi yang serius, jadi aku paham akan perasaannya.

 

“Yah, aku juga tidak akan melaporkan kamu ke polisi kok. Tenang saja. Jadi, demi aku ya? Terimakasih.”

 

Aku tersenyum kepadanya dan mengusap air mata dari pipinya.

 

“Tapi, bagaimana kamu bisa membuat kutukan itu berjalan? Apakah hanya dengan satu kalimat itu saja, orang bisa tertidur selamanya?” aku meneruskan pembicaraan.

 

“Ah, itu adalah hal yang normal kok. Kamu tahu, di sekolah kita ini ada vampir, ada pembunuh, ada manusia yang bisa melihat aura kupu-kupu. Jika dibandingkan dengan kemampuanku yang bisa merubah dongeng menjadi nyata, itu adalah hal yang lumrah.”

 

“Heee......,” aku terkejut mendengar pengakuannya.

 

Ada vampir di sekolahku. Dan ada orang yang bisa melihat aura kupu-kupu. Tidak masuk akal sekali.

 

“Baiklah, aku percaya. Sini kubantu berdiri.”

 

Aku mengulurkan tanganku, disaat aku menyadari ada sesuatu yang berada di tangan Kakuu juga.

 

Itu adalah tablet yang dibawanya kemarin. Di layar tablet itu terlihat User Agreement yang menjadi penyebab masalah dari semua ini.

 

“Selamat tinggal,” ucapnya sambil memajukan tablet tersebut ke tanganku. Dalam hitungan persekian detik, aku mengeklik tombol ‘I Agree’  itu.

 

Tiba-tiba, sebuah nenek sihir muncul dari belakangku, dan memberikanku sebuah apel merah. Aku tidak bisa menahan rasa ingin memakan apel itu, sehingga aku menggigitnya dengan rasa lapar. Dan dalam satu gigitan itupun, aku tertidur lelap, selamanya.

 

=_=

 

Sekolah, 09.00 WIB ( orang ketiga )

 

“Heh, apanya yang sahabat? Hanya dengan kata-kata manis seperti itu saja, dia sudah percaya kepadaku. Dasar bodoh.”

 

“Jadi, kamu membereskannya langsung?”

 

Terdengar sebuah suara dari belakang Kakuu. Dia menoleh, dan melihat Senior dari klub koran Sunday Nestpaper itu muncul di belakangnya.

 

“Iya. Awalnya, aku ingin menjebaknya sebagai pelaku dari kasus ini, namun karena dia terlalu pintar, atau bisa kubilang terlalu bodoh, jadi aku pakai rencana B saja.”

 

“Kenapa kamu melakukan ini?”

 

“Karena aku terlalu cemburu padanya. Dia sangat pintar, tapi malas. Tanpa bekerja keras, dia bisa mendapatkan apapun. Aku cemburu dengan hal itu. Karena itu, aku mendekatinya, dan ingin membuat hidupnya menderita, ah, tapi aku malah membunuhnya. Aku benci dengan orang yang beruntung.”

 

“Ah, kamu mengatakannya. Dan aku juga jadi tahu kamu adalah pelakunya. Apa aku harus menuliskannya di koran ya?” Senior itu mencoba menggodanya.

 

“Senior tidak akan melakukan itu kan. Sama halnya dengan kasus hilangnya Kak Kaka, Senior tidak menuliskan pelakunya adalah Vampir kan?”

 

“Tentu saja. Karena aku masih ingin hidup. Haha. Kalau begitu, selamat tinggal.”

 

-the End-

 

 

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nawang07
nawang07 at User Agreement (7 years 32 weeks ago)
50

nice, lanjut ya .. Saya tunggu

Writer pandusaksono
pandusaksono at User Agreement (7 years 43 weeks ago)
70

kalo dilanjutin rasanya seru nih. 1 sekolah penuh mahkluk-mahkluk fantasi.

Peacee........

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at User Agreement (8 years 2 weeks ago)
70

Absurd sih. Latarnya juga enggak jelas di mana... Tapi kocak XD Lalu kupikir di situlah nikmatnya, hiburannya... Ga terkekang utk bikin cerita serealistis mungkin. Melainkan menyimpangkannya ke mana2. Comot sana, comot sini. Dg gaya yang lempeng pula. malah mungkin asal. Jadi inget sama Olenka-nya Budi Darma (udah baca?). Salut!
.
Dari segi penulisan... ada banyak yang masih mengganjal sih hehe. Aturannya bisa dicari sendiri lah ya. Satu aja nih, contoh:
.
Dia mengeluarkan tablet dari tasnya, dan kelihatannya mulai browsing entah mencari apa.
.
"browsing" itu bukannya sepadan dg "mencari"? Kalimat ini jadi terasa ga efisien--boros. Tapi kalau konteksnya dipahami sebagai bahasa cakap saja yaa bisa dipahami sih.
.
Semoga berkenan. Maaf kalau ada yang salah :)
.
NB: Cerita ini juga mengandung pesan layanan masyarakat utk membaca User Agreement seteliti2nya ya hahaha. Sip... ^^b

Writer hamdan15
hamdan15 at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

ah, haha, makasih kk.
.
cerita nggak jelasku ini malah dicari2 poin bagusnya. makasih bgt.
.
kalimat efektif nya? hm, hm. bakalan digarisbawahi lagi kykny.
.
olenka? blum pernah baca kyknya. coba browsing ke internet deh. :lalala:

red_rackham at User Agreement (8 years 2 weeks ago)
40

Hyouka reference :3
.
*cough*
.
Oke. Pertama saia mo komen soal alur yang rasanya kok datar. Bahkan waktu masuk ke klimaks, rasanya biasa saja. Tidak kerasa tegang atau semacamnya. Trus soal penamaan karakternya yang terkesan asal-nama (atau emang asal?). Kemudian seperti yang telah disinggung2 sebelumnya, pengungkapan klo di sekolah MC ada macem2 makhluk non-human itu benar-benar dipaksakan. Soalnya dari awal tidak ada petunjuk soal itu. Lanjut ke kutukan yang rasanya janggal sekali (menurut saia). Oke, idenya bagus bikin kutukan yg diselipin ke user agreement (ini fresh-idea loh, menurut saia). Cuma eksekusi kutukan itu aneh banget. Kenapa harus nongol nenek sihir yang ngasih apel? Kenapa ga bikin si korban ngidam berat makan apel (tp klo makan langsung tidur) setelah klik 'I agree'?
.
Anyway, maaf kalau cabe saia kelewat pedas.
Jangan lupa untuk keep on writing (O___<)b

Writer Wynfrith
Wynfrith at User Agreement (8 years 2 weeks ago)
70

idenya menarik :D tapi... Sepertinya ada yg kurang... pas bacanya, kayak agak flat gimana gitu... but the story is still nice... keep writing kk...

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at User Agreement (8 years 2 weeks ago)
80

wah baru baca nih. walopun terkesan dipaksakan tentang hubungan cerita ini dgn yg lainnya tapi keren kak bisa punya ide ttg bermacam2 mahluk fantasi gini :D buat novel aja ;p hhoho

Writer hamdan15
hamdan15 at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

haha, makasih kk cerry.
.
minggu ini ikut gak?

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

ngga dulu kayaknya kak :(

kk hamdan kayaknya ga pernah absen ya di twh :p

Writer hamdan15
hamdan15 at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

ngga ada kerjaan aja >.<
haha.

Writer nereid
nereid at User Agreement (8 years 2 weeks ago)
60

jujur aja sih... feelnya ga kerasa,di bagian drama atau pemecahan kasus, pengungkapan kejahatan, sampe endingnya, bener-bener ga nyampe ke pembaca....atau setidaknya saya. Berasa "Oh,gitu aja?" or something like that...
.
Bener sih, berasa kek Oreki versus kawannya...lopa saya namanya yg cowok itu, cuman kalau boleh bilang, monolog atau pov 1 oreki ebih bagus ketimbang ini...yah, saya cukup jahat juga membandingkan ini *maaf
.
Idenya cukup menarik, walau saya ga terlalu suka dengan mereka yang isi sekolahnya bermacam" makhluk fantasi...sangat berasa "Haaahhhhh" setelah hal itu dijabarkan.Seakan terlalu dipaksakan.
.
Hehee, maaf terlalu panjang dan isinya cabe semua,karena kalau mau saya beri gula ke bahasa kamu, ga terlalu bagus juga entah kenapa buat kali ini..
.
Keep writting~

Writer hamdan15
hamdan15 at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

ah, makasih kk.
.
ini memang pail bgt deh.
.
plotnya terkesan kosong, aku akui itu.
.
masalah makhluk fantasi itu, sebnarnya ini cerita dari certa yang ada disekolah itu, sih. tpi, memang kesbar entah kemana ceritanya.
.
btw, sifat oreki itu, haha, iya ya. aku malah nggak kepikiran itu pas nulis, tapi entah kenapa setelah dibaca lagi memang mirip bgt.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at User Agreement (8 years 3 weeks ago)
80

Menarik, dari user agreement jadi cerpen kek begini xD
tapi kenapa tokoh "aku" yg ngingetin saya ke Oreki Houtarou itu harus mati..... T_T
Reaksi waktu si Kakuu dituduh itu rasanya kurang natural, Kak. Dan saya gak ngerti kenapa si "aku" ngeklik I Agree padahal dia tahu itu bahaya o.o
apakah dipaksa? atau secara gak sadar? o.o

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

kl yg aku tangkep sih si kakuu itu yg nyodorin tuh tablet ke tangan si 'aku' jdnya kepencet .-.

Writer hamdan15
hamdan15 at User Agreement (8 years 2 weeks ago)

yap, itu yg pengn kuceritkan, tapi kyknya kurang narasinya. jadi, kurng tertangkap.