Malam Akhir

Malam Akhir

oleh Firdausi Riskiviawinanda

 

Sudah cukup larut. Aku memandangi hamburan cahaya dari atas bukit kota tempat aku tinggal sembari bersandar pada Tiger yang diparkir begitu saja mendekati tebing. Hembusan angin malam kadang-kadang menyapa, mengajak rambut yang kuurai menari di atas udara. Mataku kadang beralih dari hamburan cahaya kota menuju pada laki-laki yang sedang berdiri di dekat tebing sembari memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana chino pensil yang ia kenakan. Kadang-kadang bahunya mengerut ketika angin kembali menyapa  lagi.

Ia yang mengajakku pergi berdua malam ini ke sini. Sudah cukup lama kami saling tidak bertemu. Mungkin terakhir kali aku melihatnya tiga bulan yang lalu, ketika aku mengajaknya bertemu. Tempat kuliah kami  memang berbeda. Itu sebabnya aku senang ketika ia mengajakku bertemu malam  ini. Aku merindukannya, sungguh.

Sekali lagi hembusan angin malam permisi lewat, menyentuh pipiku. Kali ini aku mulai meerasa kedinginan hingga tak sadar mengerutkan bahu, menjaga suhu tubuh agar tidak pergi. Sebuah jaket kulit kemudian tertaut di punggungku. Laki-laki itu berdiri di sampingku, menyandar pada Tiger miliknya. Poni shaggy-nya melambai-lambai menghiasi senyuman lembut yang tertaut di wajahnya.

“Dingin, ya, Re,” ujarnya setelah lama kami  hanya membenamkan diri dalam keheningan malam ini.

“Gitu, deh,” jawabku sekenanya, agak tidak sanggup menahan euforia ketika melihat senyumnya. “Tumben kau ngajak aku pergi. Bukannya sibuk sama kuliahmu?”

“Memangnya tidak boleh kalau aku kangen padamu?” ia masih menunjukkan senyum yang sama lalu melingkarkan lengannya di leherku. “Dingin...”

Seketika tangan itu mengalirkan kehangatan yang sampai pada hati yang cukup lama terasa gersang. Aku merindukan tangan itu. Kehangatan yang sama dan senyum menyegarkan yang sama.  Kelakarnya yang kadang-kadang keluar juga tidak pernah berubah. Tapi sorot matanya menerawang, seakan-akan jiwanya sedang berada di tempat lain. Sekelebat rasa cemas hinggap di punggungku. Aku menunduk, menjatuhkan mata pada tangan yang berkali-kali kukepal dan kulemaskan untuk menghilangkan rasa cemas itu, tanpa sadar membawa kembali pada kenangan-kenangan  dulu; bagaimana kami bertemu, bagaimana kemudian kami bisa bersama.

-o0o-

 

Aku kenal dengannya sudah lama, bisa dibilang akrab. Tapi keakraban itu hanya terjalin di jejaring sosial. Aku sama sekali tidak tahu sosoknya, hingga pada akhirnya setelah beberapa bulan berbicara lewat facebook, aku baru tahu kalau ia satu sekolah denganku. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, mencari teman ke sana kemari. Aku lebih senang membenamkan diri di balik selimut dalam kamar, mengutak-atik website pribadi, atau membaca buku, atau kadang meneruskan hobi yang tak didukung bakat; menulis. Makanya, aku  sama sekali tak tahu bahwa ia satu sekolah denganku padahal sudah cukup lama aku sekolah di sana.

Namanya Sean. Agak sedikit apatis, tapi cukup punya teman yang banyak. Yang kutau beberapa siswi pernah jadi penggemarnya. Dia bukan tipe laki-laki tampan. Tapi wajahnya manis dengan kulit putih susu dan mata agak sipit meski ia pernah bilang padaku bahwa ia sama sekali tidak punya darah oriental. Badannya agak tinggi tapi tidak terlalu semampai untuk ukuran laki-laki. Tapi tidak sedikit penggemarnya itu beralih menjadi tidak suka padanya. Yah... mungkin beralih hanya sekedar mengagumi wajah manisnya saja sebab pada dasarnya sifatnya yang suka menolak siapa yang datang dan sikap acuh tak acuhnya membuat orang sering kesal padanya.

Aku tidak tahu fakta yang sebenarnya tentang dirinya. Tapi melalui chat di facebook, kupikir dia tidak seperti itu. Omongannya memang kadang tidak masuk akal; berbicara tentang mitologi dan semacamnya. Tapi aku suka, sebab sedikit banyak aku juga senang berfantasi tentang hal-hal gaib mitologi. Candaannya cukup membuatku terhibur. Kurasa pada dasarnya ia orang baik yang hangat. Dan kadang-kadang ia senang berbicara tentang cinta, tentang orang yang ia pikirkan, meminta nasihatku, dan  bicara banyak hal lainnya.

Dua tahun kemudian ketika aku duduk di kelas 3 SMA, salah satu teman baikku memperkenalkan kekasihnya. Aku cukup terkejut, karena yang berdiri di sampingnya adalah Sean. Aku sama sekali tak pernah bicara sekali pun dengannya. Seandainya pun bertemu, kami saling menghindari tatapan mata, berpura-pura saling tak mengenal. Jadi ketika kami dipertemukan tiba-tiba, ada kecanggungan yang merambat di punggungku. Kurasa ia juga merasa begitu. Tapi pada akhirnya ia tersenyum  ringan.

“Baru kali ini kita bicara langsung, ya,” ujarnya. Masih sedikit kurasakan kecanggungan dari cara bicaranya, tapi ia berusaha keras untuk mencairkan suasana.

“Eh?” temanku itu bergumam tak mengerti.

“Aku sudah lama kenal dengannya. Berkat nasihatnya, aku bisa jadian denganmu, lho,” Sean berkata ditimpali cengirannya.

“Eh, benar begitu, Re?”

“Yaa... begitulah. Siapa sangka cewek yang dia bicarakan sambil nangis minta pendapatku itu kau,” ujarku melirik Sean ingin menggodanya.

“Aku nggak pernah nangis sampai segitunya minta pendapatmu, tau!” sanggahnya. Ada semu merah di wajahnya waktu itu.

Emot-mu bilang begitu,” aku membalas sanggahannya dengan senyum kemenangan.

Saat itu kecanggungan sudah melebur dengan udara hangat keakraban yang kami jalin dari jejaring sosial. Viesta, temanku itu, melerai pertengaran kecil itu dengan senyum  kebahagiaan.

-o0o-

 

Hubunganku dengan Sean tak pernah berubah setelahnya. Mungin memang lebih akrab sebab selain melalui jejaring sosial,  secara langsung pun kami sering bertemu. Tentu saja ada Vie di antara kami. Beberapa bulan setelahnya, Sean mulai sering mengajakku bertemu tanpa ada Vie. Bukan kencan, tentu saja. Ia hanya bercerita tentang keluh kesahnya dan aku hanya dijadikan tempat sampah hatinya. Mungkin bisa dibilang ia menganggapku teman laki-laki-nya. Padahal untuk ukuran cewek tomboy, aku tidak termasuk di dalamnya.

“Vie marah lagi denganku,” matanya menerawang pada kaleng minuman soda yang ia putar-putar tanpa alasan.

“Kau bikin masalah apalagi?” aku meletakkan siku untuk menopang dagu pada meja rumah makan tempat kami bertemu.

“Nggak tau. Dia marah  terus ngomong, cari tahu sendiri saja sana kesalahanmu, bodoh!” Sean mengikuti persis gaya Vie ketika marah, membuatku tak bisa menahan tawa. “Cewek memang suka begitu, ya. Aku nggak tahu salahku, makanya aku nanya, kan.”

“Kayak  gitu, kan, biar kamu bisa instropeksi diri.”

“Aku lelah sama kemarahannya yang nggak ada dasarnya begitu. Aku capek nanggapinnya.”

“Tapi kau cinta dia, kan?”

“Sangat...” sebuah senyum tulus yang pasrah terkembang dari bibirnya, membuat hatiku cukup terenyuh.

Aku cukup sadar bahwa prasaanku kepadanya sudah mulai berubah. Ada bibit yang ia tanamkan tanpa sengaja dalam hatiku. Ada angin kelembutan yang ia tiupkan melalui celah di hatiku. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya di dekatku, membuatku ingin memonopolinya. Hanya saja aku juga cukup punya kesadaran bahwa  hatinya telah dimiliki orang lain. Setidaknya aku hanya ingin ia tetap bergantung padaku.

“Selingkuh saja, deh, sana. Daripada capek mikirin Vie,” aku mengatakannya setengah bercanda dengan tawa khasku.

“Denganmu?”

“Boleh, deh,” kupikir ia bercanda, jadi ku-iya-kan dengan ringan. Tapi kusadari tatapan matanya tajam menembus diriku. Lalu sebuah senyum yang sulit kuartikan terpampang di wajahnya.

“Aku juga nggak keberatan, sih, kalau itu kau. Biar kuanggap kau pacar keduaku, deh,” bicaranya terdengar bercanda dengan kekehannya.

“Nggak masalah buatku, sih. ‘Toh aku juga lagi senggang. Anggap saja aku kekasihmu kalau kau lagi galau gara-gara Vie, ya,” aku membalas senyumannya itu tanpa niat ada keseriusan yang terucap dari bibirku.

-o0o-

 

Kupikir semua pembicaraan tentang perselingkuhan itu hanya candaan di antara kami. Tapi setelah itu Sean lebih sering memintaku bertemu tanpa ada pembicaraan tentang Vie di  antara kami. Sampai pada akhirnya bergandengan tangan dan saling mengecup bibir adalah hal yang sangat wajar ketika kami bertemu. Memang tidak ada kepastian tentang hubungan kami. Apakah memang aku dijadikan  objek untuknya melakukan affair atau ini hanya keisengannya semata. Aku tidak peduli. Meski kadang keragu-raguan merayapi, tapi kebahagiaan yang mengalir terus menumbuhkan bibit yang ia tanam tanpa bisa mati oleh parasit keraguan itu.

Kami kemudian lulus dari bangku sekolah. Sean dan Vie masih saling menjalin hubungan meski sedikit terlihat hambar di mataku. Sean dan aku memilih perguruan tinggi di kota ini meski berbeda universitas. Sedang Vie mengambil kuliah di negeri orang, Sidney, Australia. Kesepian hati Sean membuatnya semakin sering menjadikanku sebagai objek pengganti Vie. Ia terus memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Tapi tak sekali pun ia menyatakan cinta padaku. Aku tidak peduli, asal ia terus berada di sampingku.

Hingga pada akhirnya ada suatu waktu ketika Sean datang padaku dengan tatapan hampa. Seakan-akan ada beban yang begitu berat yang ia tanggung, membuat punggungnya terlihat kuyu. Ketika aku memanggilnya, tak ada reaksi yang ia ucapkan. Ia terus berjalan kearahku, kemudian meletakkan dahinya di bahuku. Aku membawanya duduk di sofa dan menunggunya berbicara. Setelah cukup lama kami diam dalam keheningan, pada akhirnya ia mulai membuka mulut.

“Re, aku... aku putus dengan Vie.”

Rasanya aku ingin berteriak kegirangan pada saat itu. Tapi senyum Sean yang amat sangat dipaksakan itu membuatku ragu untuk merasakan euforia yang mengalir dalam tubuhku. Ada suatu kontradiksi yang membuat jantungku terasa nyeri saat berdetak.

“Kenapa kalian putus?” aku berusaha bertanya tanpa nada gembira.

“Aku yang memutuskan dia,” ujarnya lirih membuatku berseru kaget. “Aku nggak sanggup, Re. Aku capek dengan hubungan kami. Aku capek dengan sikap Vie yang semakin lama semakin cuek padaku. Makanya kupikir kami butuh jarak, hingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami,” ia mengeluarkan semua emosinya dengan nada tinggi saat bicara. “Tapi pada akhirnya... aku yang merasa sakit begini,” Sean merenggut rambutnya. Ia membenamkan wajahnya. Aku tahu setetes air mata telah jatuh di pipinya.

Yang bisa kulakukan hanya membawa Sean yang rapuh itu ke dalam dekapanku. Hatiku hancur melihatnya tak berdaya. Hatiku nyeri melihat bahwa kenyataannya Sean amat sangat mencintai Vie. Aku padahal tahu bahwa sama sekali tak ada aku di antara dunia Sean dan Vie. Aku sudah tahu itu sejak lama, sejak kupikir memang mereka adalah pasangan yang serasi. Aku marah pada diriku yang tak bisa tegas terhadap perasaanku. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa pasrah pada bunga-bunga yang tak berhenti bermekaran di dalam hatiku. Hingga pada akhirnya kubiarkan duri-durinya terus membuat rasa nyeri yang tak pernah berakhir.

-o0o-

 

Sejak itu hubunganku dengan Sean tak pernah berubah. Kehadirannya dalam kehidupanku adalah hal yang biasa. Ia sudah menjadi bagian dari hidupku meski tak satu pun dari kami mengatakan cinta atau pun suka. Aku tahu Sean mencintai Vie hampir melebihi hidupnya. Tapi sikapnya yang memperlakukan aku layaknya kekasih itu sama sekali tak pernah berubah. Bahkan semenjak itu tak sekali pun Sean menyebut-nyebut nama  Vie. Aku pun tak punya niat untuk menggali lagi kenangannya bersama teman baikku itu.

Aku tahu kau cinta pada Sean dan ia memperlakukanmu sebagai kekasihnya. Tapi apa kau nggak merasa kalau dia masih sayang pada Vie? Apa nggak sebaiknya kau hentikan hal itu?

Seorang sahabatku pernah menasihatiku begitu. Tapi kubilang, mungkin memang begitu. Tapi kurasa pada akhirnya Sean bisa melupakannya dan berpaling padaku.

Naif memang. Tapi setiap kali aku melihat tatapannya yang begitu lembut padaku, setiap melihat senyumannya yang tulus padaku... kurasa bukan hanya delusiku. Kurasa memang pada akhirnya Sean melihatku sebagai wanita yang diinginkannya. Kurasa memang pada akhirnya begitu. Tapi pada akhirnya keragu-raguan oleh logika sering muncul menghancurkan harapanku, menyadarkan kenaifanku.

Aku semakin menggenggamkan tanganku, berusaha mempertahankan kekuatan hatiku yang mulai lemah. Tubuhku agak gemetar, membuat Sean yang masih merangkulku sedikit terusik.

“Re, kau nggak apa-apa?” ia bertanya khawatir, membuyarkan lamunanku.

“Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa,” jawabku, setengahnya meyakinkan diri sendiri.

“Begitu...”

Aku mencuri pandang pada Sean. Matanya masih tak bosan memandangi  kerlap-kerlip lampu kota dinaungi langit yang masih terlihat kemerahan akibat polusinya. Tapi di sana kulihat terselip kekosongan, sebuah keresahan yang mengusik hatinya. Jantungku mulai terasa nyeri kembali ketika ia memompa darah ke seluruh tubuh. Aku yakin ada yang salah padanya. Firasatku buruk. Tapi penasaran membuatku tak bisa membungkam mulutku.

“Kau kenapa, Sean? Ada yang kau pikirkan?”

Ia menoleh padaku agak terkejut. Lalu ia menghela napas dan memberiku sebuah senyum ambigu yang sedikit menyiratkan kesedihan. Lengan yang ia rangkulkan di bahuku ia lepaskan, kemudian kembali mengambil posisi berdiri di depanku, di tepi tebing. Punggungnya terlihat jauh seakan-akan ia akan pergi meninggalkanku. Sekali lagi ketukan keras di dadaku membuatku sulit mengambil oksigen.

“Vie...” ia lama menggantungkan kalimatnya. Sudah lama aku tidak mendengar nama wanita itu terucap dari bibirnya. “Kemarin aku bertemu dengannya. Dia baru pulang dari Sidney seminggu yang lalu. Nggak ada yang berubah darinya, Re. ...Nggak. Dia berubah. Dia makin cantik di mataku,” sebuah senyum penuh kerinduan yang ia tampakkan menyayat hatiku.

“Terus?” aku berusaha bertanya tanpa mengikuti naluri kecemburuanku, berusaha bertanya dengan nada yang tak terdengar ketus.

“Aku bisa lihat dari matanya kalau dia masih punya perasaan padaku. Aku juga nggak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku... masih sayang pada Vie.”

Kalimatnya seperti hantaman keras yang berusaha membuatku tak sanggup berdiri lagi. Tapi aku masih bisa berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan diri.

 

“Sean. Selama ini aku penasaran, kau anggap aku ini apa? Temanmu? Pacarmu? Selingkuhanmu? Atau bahkan hanya selingan selama hatimu terasa sepi?” aku bertanya. Mungkin sedikit terdengar dingin. Tapi kububuhkan senyu tulus di akhir kalimat itu. “Aku... jujur saja, aku serius cinta padamu.”

Sean sempat terdiam dengan wajah shock. Tapi pada akhirnya kekakuan wajahnya memudar tergantikan oleh senyum simpul dengan buku-buku di antara alisnya yang cukup tebal. Ia kembali memunggungiku, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Sekali pun aku nggak pernah menganggapmu selingan. Kau berharga bagiku, Re,” ujarnya kemudian kembali berbalik memandangku. “Aku cinta padamu. Tapi aku juga tak bisa melepaskan diriku dari Vie. Sekali pun hatiku terbagi dua, ruangan untuk Vie lebih besar dibandingkan milikmu, Re. Makanya kuputuskan untuk kembali pada Vie. Aku sudah nggak sanggup untuk menyakitimu lebih dari ini. Maaf, Re,” buku-buku antar alisnya semakin dalam.

Aku tahu ia berat untuk mengatakan hal itu meski hatiku pun hampir tak mampu menelan bulat-bulat kalimat darinya. Rasanya ingin muntah, mengeluarkan semua kesedihan dan rasa sakit akibat duri yang telah menjadi racun. Bunga-bunga itu tetap bersikeras menumbuhkan cabangnya meski tanah tempat ia tumbuh selama ini hanyalah ilusi semata.

Aku berusaha tetap tenang, sebisanya membendung air mata yang ingin meledak. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menatap Sean dengan senyum yang kuharap tak terlihat terlalu dipaksakan.

“Sudah cukup. Aku sudah puas mendengar pernyataanmu. Setidaknya aku nggak dianggap cuma selingan bagimu. Aku senang mendengar perasaanmu. Sejak awal aku tahu kalau separuh napasmu adalah milik Vie, Sean. Aku hanya berusaha meyakinkan diri kalau napas itu bisa kucuri dari Vie. Pada akhirnya aku tetap kalah. Aku terlalu naif.”

“Maaf, Re...”

“Nggak. Nggak perlu minta maaf. Anggap saja pernyataanku itu nggak pernah ada. Aku nggak mau merusak persahabatan kita, Sean. Kita tetap bisa berteman seperti biasa, kan? Ya, Sean?” setengahnya aku benar-benar memohon padanya. Ia sempat terdiam kesulitan. Tapi pada akhirnya ia tersenyum pasrah.

“Ya sudahlah kalau kau maunya begitu.”

“Sudah larut dan udara juga semakin dingin. Antarkan aku pulang, ya. Untuk terakhir kalinya malam ini, antarkan aku sebagai kekasih-mu.”

Sean hanya mengangguk. Ia kemudian menunggangi Tiger kesayangannya. Aku duduk di belakangnya. Tanganku erat merangkul pinggangnya.

Ini yang terakhir. Malam ini yang terakhir. Punggung kecil yang bidang yang terasa hangat, pinggang dengan bidang perut yang terasa kencang, aroma parfum khas miliknya, malam ini adalah waktu terakhirku untuk memiliki semua itu.

Angin begitu kencang menerpa wajahku, membawa air mata yang pada akhirnya tak bisa berhenti berderai. Punggung Sean basah, kurasa ia sadar bahwa aku menangis. Tapi ia diam saja. Aku pun diam saja. Kami berpura-pura tak tahu apa pun. Dalam diam dengan desiran angin malam ini, kuharap angin itu bisa membawa pergi serta perasaan sakit ini, sama seperti ia menyapu pergi air mata dari pipi yang terasa lembab.

-o0o-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sariindriani
sariindriani at Malam Akhir (7 years 39 weeks ago)
30

kasian re.. TT

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Malam Akhir (7 years 50 weeks ago)
80

Conflictnya terasa nyata. Ada lanjutannya?
>.<

Writer ahmadsaktia
ahmadsaktia at Malam Akhir (7 years 50 weeks ago)
90

Wah, bagus ceritanya. Ada gak kelanjutannya??