[Road to Round 4] Edward Kalashnikov - Goodbye Luke

Luke membuka pintu kamar Rexanne dengan tergesa. Ia melihat gadis itu masih memejamkan mata. Diberanikannya diri untuk duduk dan menggenggam tangan Rexanne.

Hangat.

Tidak ada tanda Rexanne akan meninggal. Luke merasa bodoh. Jangan-jangan Edward menipunya.

“Nghh…”

Lenguhan pelan yang keluar dari bibir Rexanne mengalihkan perhatian Luke. Dengan tetap menggenggam tangan itu, Luke memperhatikan wajah Rexanne yang mulai gelisah. Perlahan, Rexanne membuka matanya.

“Hai, Rex…”

Butuh waktu agak lama bagi Rexanne untuk mencerna penglihatan dan pendengarannya. Ia masih belum bisa mengindahkan Luke meski pemuda itu telah memanggilnya. Luke bersabar sampai Rexanne bisa sadar sepenuhnya—itu harapannya sebelum ia merasakan sesuatu yang sakit terasa mencengkram jantungnya.

Apa?

Luke hampir tidak percaya dengan apa yang ia rasakan. Dengan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Rexanne, Luke bertahan mengatasi rasa sakit yang semakin mencengkram dadanya.

“Aww. Aw..” Rexanne mengaduh saat ia merasakan sebuah genggaman kuat ada di tangan kirinya “Hey, Luke. Sedang ap—Hei, Lepaskan aku!!”

Luke terkekeh menahan sakitnya, ia menoleh ke arah Rexanne yang sudah berekspresi seperti biasa.

“Aku..hh… senang…kh… ka…u sudah..hh… sad..ar..hh..”

Rexanne melihat ada sesuatu yang tidak beres pada Luke. Napasnya terdengar memburu, tangannya terasa dingin, suaranya seperti terputus dan wajah pemuda itu berkeringat dengan hebat.

“Hei, ka-kau tidak apa-apa, Luke?”

Luke tidak menjawab ucapan Rexanne. Ia justru mendekatkan wajah ke wajah gadis yang kini terlihat panik tersebut. Rexanne merasa jantungnya akan berhenti saat wajah Luke terlalu dekat dengannya. Ia tidak tahu wajahnya semerah apa saat Luke dengan sengaja menghentikan gerakan dengan posisi bibir mereka hampir bersentuhan. Rexanne melihat bibir pemuda itu sempat tersenyum sebelum akhirnya ia merasakan sebuah kecupan hangat di keningnya.

“Luke apa yang kamu—”

“Tetaplah hidup, Rexanne.” Luke berbisik sembari berusaha menahan rasa sakit yang terasa semakin hebat.

“Aku mencium bau kematian. Ada yang mati disini. Bau manusia mati.”

Ucapan Edward membuat Luke sadar. Bukan bau Rexanne yang dicium oleh Edward, melainkan dirinya. Perlahan ia melepaskan genggaman tangannya pada Rexanne. Sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan Rexanne dengan kebingungan seperti ini, namun ia lebih tidak ingin Rexanne melihatnya mati.

“Hey, Luke!”

Luke tidak mengindahkan Rexanne dan terus berlari ke kamarnya, menguncinya agar tidak ada yang bisa masuk. Rexanne tidak tinggal diam, ia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari pelan menuju kamar Luke. Tak jarang Rexanne terjatuh karena keseimbangan tubuhnya masih belum sempurna.

“LUKE! LUKE! BUKA! BUKA!”

Gadis itu terus menggedor pintu kamar Luke yang terkunci rapat. Tidak ada jawaban apapun dari dalam, dan gadis itu tidak mau menyerah.

“LUKE! KELUARLAH! LUKE!”

Haruo dan Altem—yang mendengar keributan ini—memandang Rexanne dengan heran. Tidak biasanya gadis itu memaksa Luke sampai seperti ini.

“Hey, Rexanne, ada apa?” tanya Haruo.

Rexanne menoleh pada pemuda berjaket gelap tersebut. “Tolonglah, Luke ada di dalam. Ia sangat aneh, tolong dobrak pintunya!”

Haruo tidak mengerti apa yang terjadi dengan Rexanne hingga sampai seperti itu, namun gadis yang kini menatapnya nanar dengan air mata tergenang di pelupuk matanya jelas memiliki alasan yang mendalam. Haruo menoleh pada Altem.

“Altem, maukah kau menolong—”

Tanpa perlu melanjutkan ucapannya, Haruo sudah melihat Altem bergerak, mengerahkan kekuatannya untuk mendobrak pintu itu. Bunyi debuman terdengar cukup nyaring, dan Rexanne segera menghambur ke dalam saat melihat kamar itu terbuka.

“LUKE!”

Luke terbaring di sebelah tempat tidurnya, tangannya mencengkram dada, dan tangannya membiru. Rexanne menepuk wajah pemuda berambut ikal tersebut, berharap ia akan bangun dengan lelucon konyolnya, membuatnya marah dan tersipu, apapun. Ia tidak ingin melihat Luke seperti ini.

Dingin.

Tubuh Rexanne gemetaran saat menyentuh wajah pemuda itu. Ia sudah tidak peduli lagi, ia memeluk pemuda itu di pangkuannya dan menangis. Rexanne mungkin tidak ada perasaan khusus pada Luke, tapi ia tahu Luke yang menemaninya saat ia membuka mata. Genggaman tangan Luke masih terasa di tangan kirinya. Dan ia benci jika melihat Luke seperti ini.

“Serangan jantung.” Haruo berbisik.

Altem hanya mendengus mengiyakan. Melihat Rexanne saat ini mengingatkan pada dirinya yang dulu berusaha membangkitkan gadis mungil yang menanam Rolatei bersamanya.

“Rexanne, sudahlah.” Xia—yang sejak kapan berada di sana—menyentuh pundak Rexanne dan mengajaknya pergi namun Rexanne menepis sentuhan itu. Altem dan Haruo yang melihat kehadiran Xia secara reflek menoleh ke arah pintu. Benar saja, Link dan Blackz berdiri disana.

“Kalian silakan kembali ke kamar masing-masing, kami akan mengurus jasad Luke.” Link mengucap datar.

“Rexie, ayo..” Haruo menggamit tangan Rexanne yang masih belum mau beranjak dari tempat ia duduk. “Rex, biarkan Luke tenang.”

Cukup lama Rexanne terdiam, hingga akhirnya ia pasrah dan menuruti ajakan Haruo untuk pergi dari sana. Dadanya terasa sakit dan perasaannya hancur—entahlah, ia hanya tidak rela Luke pergi dengan cara seperti ini.

Melihat Haruo, Altem dan Rexanne meninggalkan kamar Luke, Link dan Blackz masuk untuk melihat jasad Luke lebih dekat.

“Menyedihkan.” Link bergumam.

“Ya. Berat rasanya kehilangan dia. Tapi dengan ini sudah dipastikan siapa yang akan lanjut ke babak selanjutnya.”

Xia mengangguk mendengar ucapan Blackz. Link meletakkan tubuh itu ke atas tempat tidur.

“Salinan ini harus dihancurkan.”

Tanpa disadari ketiganya, di ambang pintu berdiri seorang pemuda dengan pakaian nyentrik, sebuah headphone di telinga dan sebuah google besar yang melindungi matanya, sedang memperhatikan bagaimana sebuah salinan menghilang.

 

***

Read previous post:  
25
points
(5666 words) posted by dismyname 7 years 11 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Battle of Realms | HxH
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Karena bukan Round...
titip poin

thank you bang

80

huwaaaa.... selamat tinggal kakakk, nti kalo mati suri adik tirimu ini bkal nyamperin dirimu di alam baka Q_Q/ #ehh
.
wee kak Dee gabung2in canon dari peserta lain O.o
.
ditunggu battlenya lawan abang Ferrum ~*w*)~
btw sy punya firasat kita bakal ketemu lgi niy mdah2an ketemu lagi ='w'=

hwhhwhwhwhw.. battlenya aja haw haw gini. Main kuda-kudaan
:v
.
Aneh ya kalau saya gabung-gabungin canon?

wkwkk apa pula itu haw haw XD
ayyeeyy, battle ceria brsama abang Ferrum \' 3 ')/ #dessh
.
ndak aneh si kak, cma kalo kta kak Ivan konsisten aja www
takutnya dunia BOR jadi saling bertabrakan *widih bahasa sy kyak yg ngerti konsep dunia bor aja XDD #plakk
.
asal ndak rancu aja (disini sy kaget Rexie yg di versi r3 Ed ndak knpa2 mendadak sekarat) ya bisa diakalin si brhubung sy jg suka gbung2in canon 'w')d *digantung

loh, saya ndak jelasin di sini ya?
Si Rexie emang dilihat sama Ed gapapa awalnya.
.
Ini deh.

.
"namun yang Edward tahu gadis itu berlari di depannya saat dirinya mengistirahatkan kakinya yang—secara tak sengaja—tertusuk tombak kawannya sendiri, Haruo."
.
Ini kan R3 nya Edward soal Rexie. Yang diliat sama Edward si Rexanne emang ga kenapa2 awalnya, tapi entah apa yang terjadi di depan si gadis malah luka2

nah, itu maksud sya ! >w<)7

Bebas kok...

Mau gabungin canon, mau Canon sendiri.