Lagu Pertama

    Jika aku bisa memberi tahumu rasa ini, pasti akan menyenangkan.

                Perasaan yang aku punyai sekarang ini.
                Apakah biru? Merah? Putih? Betapa buramnya.
                Jika aku bisa mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini, apakah akan hebat?
 
                Lagi-lagi gadis itu, gadis dengan rambut sepinggang itu selalu berdiri di sana, menatap gedung kota sambil menyanyikan lagi yang sama. Hm…lagu apa itu? sepertinya aku pernah mendengarnya. Entah kenapa dia selalu menyendiri di sisi utara ruang santai pasien yang ada di atas atap rumah sakit ini.
                Mungkin ini adalah tempat paling nyaman di rumah sakit. Aman dari bau obat-obatan dan ditanami berbagai pohon rindang. Aku membawa kursi roda yang membelenggu gerakanku dua minggu ini mendekatinya. Kedua kakiku tidak bisa digerakkan sejak kecelakaan itu. aku tak terlalu perduli pada nama penyeakit yang membuatku seperti ini, toh…hidupku tak ada gunanya lagi.
                Aku akhirnya sampai di sebelah gadis itu.
                “Suara yang indah,” kataku setulus hati.
                Gadis itu tampak tak terkejut.
                “Terima kasih,” balasnya, “kau tahu? Menyanyi selalu membuatku merasa lebih baik. menghilangkan tangis menciptakan tawa.”
                “Tapi apakah itu tawa yang sejati?” tanyaku, “bagiku, tak ada lagi yang bisa ditertawakan di dunia ini saat kita kehilangan semua impian kita.”
                Apalagi buat pemain sepak bola sepertiku. Sehebat apapun kemampuanku, tanpa kedua kakiku aku Cuma cowok cacat tak berguna.
                “setiap manusia punya kemampuan untuk berjuang,” gadis itu tersenyum, “kau dengar berita itu? Idol muda seumuranku yang tiba-tiba menghilang dari dunia hiburan?”
                Aku mengangguk. Berita itu sudah menghiasi berita televis dan majalah selama berminggu-minggu.
                “Shirayuki, bukan?” tanyaku, “aku tak banyak tahu tentang dunia idol, tapi teman-temanku banyak yang membicarakannya.”
                “Penyanyi berbakat menghilang dari panggung,” gadis itu tertawa, “itu adalah aku.”
                “Eh?” aku menatap gadis itu terkejut.
 
                Cukup sudah wajah sedih karena kita berterngkar kemarin
                Karena aku tak ingin memperlihatkannya pada orang lain
                Esok, kita akan mengulang semuanya.
                Aku akan menyanyi dengan hatiku yang putih dan bersih.
 
                Terjadi kesunyian saat ia menyelesaikan nyanyiannya. Aku menelan ludah dan dalam hati memuji suaranya. Suara terindah yang pernah kudengar.
                “maka dari itu kau harus tetap berjuang untuk sehat kembali,” gadis itu tersenyum, “Senpai.”
                “kenapa kau memanggilku senpai?”
                “kau lebih senior dariku di rumah sakit,” ia kemudian mendorong kursi rodaku membawaku berkeliling taman di lantai atas.                         
                “tapi aku tak punya kaki untuk bermain bola,” kataku, “kecelakaan keparat itu merenggut semuanya!”
                “Semuanya?” gadis itu mencubit pipiku, “kau masih punya kedua tanganmu, masih punya suaramu, masih punya kelima indramu dan kau masih punya pikiranmu. Kau masih lebih baik dari seseorang yang terbaring koma selama dua minggu.”
                “tapi apa lagi yang bisa kuperjuangkan?” saat itu kami masuk ke dalam lift dan gadis itu tak menjawab lagi.
                #
                Kalau aku bisa menambahkan warna dalam perasaan ini
                Akankah ini akan menjadi mimpi yang indah?
                Esok datang, dalam kanvas yang baru
                Masa depanku akan penuh warna.
               
                Gadis itu berdiri di tempat yang sama keesokan harinya dan menyanyikan lagu yang sama. Itu adalah lagu Shirayuki –gadis itu- yang paling pertama.
 
                Yang paling aku inginkan, adalah satu yang kamu selalu berikan.
                Hanya satu lagu  untuk kunyanyikan
                Kemarin akan di lukis lagi
                Suara yang penuh warna
 
                Aku meneruskan lagunya. Aku tersenyum, ternyata adikku adalah penggemar Shirayuki dan aku diam-diam mencuri Ipodnya untuk mendengarkannya dan menghapalkan liriknya.
                “Suara yang bagus, senpai!” puji gadis itu.
                “tolong jangan panggil aku senpai,” balasku sambil membawa kursi rodaku ke arah gadis itu, “namaku Fujiishima Kuujo.”
                “Fujiishima-san,” gadis itu membungkukkan badannya, “namaku Asuna Motomiya, salam kenal.”
                “tidak Yuki di namamu?” aku terkejut namun gadis itu hanya menanggapi dengan tawa kecil.
                “Itu nama panggung. Tak ada yang tahu nama asliku kecuali beberapa orang dekat.”
                Aku mengangguk paham. Kami berdiam lama sekali sampai akhirnya aku memecah keheningan.
                “jadi kenapa kau ada di rumah sakit?” tanyaku.
                “Ra~Ha~Si~A!” kata Asuna sambil tersenyum jahil, “saat aku masuk rumah sakit ini aku sudah berencana mundur. Jadi kalaupun aku mati tak akan ada masalah buatku.”
                “Hei! Jangan bicara soal kematian,” kataku marah, “bukti bahwa kau ada di sini adalah petunjuk dari sang pencipta bahwa kau masih punya kesempatan untuk hidup!”
                Gadis itu kembali mendorong kursi rodaku menuju lift. Aku menatap wajahnya yang ada di belakangku. Wajah sedih dan kesepian.
                “terima kasih, Senpai. Kau memberiku alasan untuk hidup,” katanya, “ayo berjanji. Setelah kita berdua sama-sama sembuh maukah kau menemaniku jalan-jalan?”
                “Dengan kursi roda?” tanyaku.
                “Aku tak keberatan mendorong kursi rodamu berkeliling jepang,” ia mencubit pipiku lagi.
                “baiklah, kalau begitu kita harus sama-sama sembuh.”
                Dan itu adalah kalimat terakhirku padanya hari itu.
                #
                Malam itu di hari yang sama. Aku meminjam Ipod adikku dan lagi-lagi mendengarkan suara Shirayuki alias Asuna Motomiya. Suaranya benar-benar bagus, ada kebahagian dan semangat setiap dia menyanyikannya. Tapi kenapa di rumah sakit ini, suaranya mengandung kesedihan?
                “Ne…Airi,” aku melepas headset dan menatap adikku yang sedang mengupas apel, “kau tahu kenapa Shirayuki mengundurkan diri?”
                “aku dengar sih karena dia tidak tahan dengan perlakuan Fan,” Airi memberikan apel hasil kupasannya padaku, “kenapa kak? Kakak jatuh cinta ya sama lagunya?”
                Aku hanya tertawa kecil.
                “dia ada di rumah sakit ini, kan?” aku mengkonfirmasi.
                “Iya, aku beberapa kali lewat ruangannya,” kata adikku, “banyak sekali wartawan di depannya, pihak rumah sakit bahkan kerepotan mengurusi kerumunan itu.”
                “Sakit apa dia?” tanyaku lagi.
                “aku tak terlalu jelas sih,” adikku merebut Ipodnya dariku, “kepalanya terbentur benda keras. Gosip bilang ada idol lain yang iri dan memukul kepalanya dengan pemukul baseball. Sekarang dia koma.”
                “sebentar, sebentar! Koma?” aku menatap adikku tak percaya, “kau serius?”
                “kenapa kak? Kau seperti barusan melihat hantu?” Airi menatapku dengan rasa penasaran.
                “Airi! Bawa aku ke kamar Shirayuki!” kataku cepat.
                “Kakak kenapa mendadak jadi fansnya?” Airi memukul kepalaku pelan, “walaupun kau Fansnya, kau tak boleh mengganggu artis yang sedang istirahat.”
                “aku temannya,” kataku, “dua hari ini aku ngobrol dengannya! Sekarang cepat bantu aku duduk di kursi roda keparat itu dan bawa aku ke ruangan Shirayuki!”
                “Ha! Seriusan?” Airi menatapku tak percaya.
                “kau pikir kenapa lagi kakakmu yang penggemar olahraga dan tak tahu apa-apa soal entertainment mendadak tertarik pada kehidupan seorang penyanyi!” kataku cepat.
                “hantu?”
                “Tidak ada waktu untuk penjelasan, adikku yang manis!” aku mulai memasang wajah kesal.
                Akhirnya Airi membantuku dan membawaku ke ruangan Shirayuki. Seperti yang dia bilang, ruangannya dikepung oleh wartawan dari berbagai media. Aku menghembuskan nafas. Apa yang harus aku lakukan?
                “bagaimana kak?” tanya Airi.
                “Airi, aku akan ke sana sendirian,” jawabku.
                “eh? Moo~Tidak adil ah, masa Cuma kakak?” Airi protes.
                “akan aku sampaikan salamku padanya,” kataku.
                “ehe~” gadis itu hanya tertawa kecil.
                Aku kemudian memacu kursi rodaku ke depan kamarnya. Beberapa wartawan menatapku aneh namun aku mengacuhkan mereka. Saat aku hendak mengetuk pintunya seorang dokter menepuk pundakku.
                “apa yang kau lakukan di sini, Fujishima-san?” tanya sang dokter.
                Aku kemudian memberi isyarat agar sang dokter menundukkan kepalanya. Kemudian aku berbisik.
                “aku tak bisa menjelaskannya, tapi aku ingin bertmu dengan Asuna Motomiya.”
                Dokter itu tampak terkejut.
                “kau bukan stalker, kan?” tanya sang dokter.
                “apakah aku bisa menjadi stalker tanpa kedua kakiku?” aku menatap sang dokter kesal.
                Kemudian kami berdua masuk ke dalam ruangan VIP itu. diruangan yang nyaman itu, aku melihat gadis itu. gadis yang sama yang menyanyi setiap pagi di atas atap rumah sakit. Jadi kenapa ia ada di sini?
                “Harusnya kondisinya sudah stabil, tapi kesadarannya belum kembali juga,” kata sang dokter, “yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa.”
 
                Jika aku bisa memberi tahumu rasa ini, pasti akan menyenangkan.
                Perasaan yang aku punyai sekarang ini.
                Apakah biru? Merah? Putih? Betapa buramnya.
                Jika aku bisa mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini, apakah akan hebat?
               
                Aku mulai menyanyikan lagu itu. lagu pertama Shirayuki. Bangunlah, kataku dalam hati, dengarlah suaraku dan bangunlah.
 
                Sekaang, meskipun cinta ini tak terbalas. Tak bisa menyentuhmu
                Aku akan menyanyi dengan nyaman, bukankah itu hebat?
               
                Jika aku bisa mencampur banyak warna, akankah ini sempurna?
                Warna yang ideal
                Apakah merah? Biru? Putih? Betapa buramnya.
                Sampai aku mencapaimu, selalu dimanapun
                Aku ingin mengejarmu.
 
                “Suara yang bagus, senpai.”
                Aku tertegun. Sang dokter juga terkejut. Ia kemudian mendekatinya dan melepaskan alat bantu pernafasan di mulutnya. Anehnya ia tampak sangat sehat, seperti hanya baru bangun dari tidurnya.
                “Tunggu di sini sebentar,” sang dokter menatapku, “jaga dia baik-baik.”
                Dan sang dokter melesat keluar.
                Aku membawa kursi rodanya mendekati ranjang dan kemudian tersenyum padanya.
                “sudah kubilang, kan? Jangan panggil aku senpai,” kataku sambil membelai rambutnya.
                “tapi kau lebih tua dariku,” balasnya, “terima kasih, senpai.”
                “jadi yang menyanyi di atap setiap pagi itu juga kau?” tanyaku.
                “saat aku tidur di sini,” gadi itu menatap pintu ruangan, “aku bisa melihat tempat lain, berjalan-jalan di sekeliling rumah sakit ini, melihat apa yang sebelumnya tak kulihat dan kemudian tersesat.”
                “pengalaman di luar tubuh, eh?” aku terkejut.
                Aku pernah membacanya di sebuah novel. Pengalaman yang sangat berbahaya.
                “kemudian aku mendengar suaramu dan sekarang seperti yang kau lihat, aku disini,” ia tersenyum padaku, “sekarang giliranmu untuk sembuh.”
                Ah….iya, kami berdua berjanji akan sembuh dan kemudian jalan-jalan keliling jepang dengan dia mendorong kursi rodaku. Aku tertawa dalam hati. Aku tak boleh merepotkannya, jadi kenapa aku tidak berjuang saja mendapatkan kembali kakiku?
                Malam itu aku memperkuat tekatku.
#
                “Wartawan sialaaaan~”
                Aku berlari keluar dari studio tempat Shirayuki alias Asuna Motomiya menyelesaikan album terakhirnya. Di belakang kami, wartawan mengejar kami seakan kami mangsa para macan. Asuna ada di punggungku.
                2 bulan setelah kejadian di rumah sakit, aku membuatkannya beberapa lagu dan ayah Asuna –sekaligus manajernya- memutuskan bahwa lagu-laguku akan menjadi album terakhirnya. Namun sedikit masalah terjadi, kali ini Asuna yang tak bisa berjalan.
                Aku tak bisa mengikuti penjelasan rumit sang dokter tentang hubungan kepala dengan kaki. Yang jelas kakinya sekarang tak bisa digerakkan. Sebagai gantinya, ia menggunakan kursi roda. Tapi tentu saja kursi roda tidaklah berguna jika dipakai untuk menghindari kejaran wartawan.
                “bagaimana kursi rodaku?” tanya Asuna panik.
                “Aku akan mengambilkannya nanti.”
                Aku berberlok di sebuah gang kecil dan kemudian masuk ke pintu belakang perpustakaan. Aku menarik nafas karena kelelahan. Perpustakaan ini sudah menjadi tempat nongkrongku sebelum aku masuk rumah sakit, kakak pertamaku adalah pemilik perpustakaan ini dan hari ini aku memintanya membuka pintu belakang khusus untuk hari ini.
                Setelah aku masuk, kami disambut gunungan buku yang tertata rapi di rak-rak tinggi.
                “Mau kemana kita?” tanya Asuna penasaran.
                “Ini kejutan,” kataku.
                Aku membawa Asuna ke lantai paling atas. Membuka pintu teras dan kemudian sampai di lantai teratas gedung ini. gedung perpustakaan ini memang tak terlalu tinggi, tapi kami bisa melihat sampai 4 blok jauhnya.
                Aku meletakkan Asuna di bangku yang ada dan kemudian duduk di sebelahnya.
 
                Jika aku bisa memberi tahumu perasaan ini, bukankah akan manis?
                Perasaan yang aku miliki sekarang
                Apakah merah? Biru? Putih? Betapa buramnya.
                Jika aku akan mencintaimu
                Lebih besar dari siapapun di dunia ini, bukankah akan hebat?
 
                Sekarang, meskipun perasaan ini tak terbalas, meskipun tak menjadi nyata
                Aku ingin laguku mencapaimu.
                Suatu hari, meski akhir akan datang
                Kita akan bersenang-senang.
                Kukatakan Colorful X Melody
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vety tiara fatriani
vety tiara fatriani at Lagu Pertama (8 years 2 weeks ago)

ceritanya bagus... :D

Writer Wynfrith
Wynfrith at Lagu Pertama (8 years 2 weeks ago)
90

Thumbs up <3 like it...

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Lagu Pertama (8 years 2 weeks ago)
100

Ada lanjutannya tidak??
^^