[Road to Round IV] Belle Rose - The Lost

 

 

Memorandum Rieke Wrinn

 

Bukan kebiasaanku menulis apa yang terjadi di secarik kertas dan pena, namun ada kejadian-kejadian yang kurasa harus direkam. Mungkin seperti Dewa Hermes yang mengirimkan pesan untuk orang lain, bedanya aku mengirim pesan untuk diriku sendiri.

Pertama-tama, panel yang kugunakan untuk mengamati Herotic-herotic itu sudah tidak bisa digunakan. Kotak-kotak panel berjumlah empat belas, namun ada satu kotak yang terlihat selalu gelap. Melalui kotak-kotak yang lain, aku tahu kotak panel yang terakhir itu adalah milik seorang wanita dengan dandanan menyeramkan.

Kubilang menyeramkan karena—selain make up dan busananya yang kelihatan selalu berlebihan—aku tahu dia adalah orang yang sama meski terlihat seperti ada banyak wanita yang terpantul di kotak panel. Secara harfiah, seharusnya aku yang mengawasi wanita itu, namun aku merasa kalau sebenarnya aku lah yang diawasi.

Dan dari kotak-kotak yang lain juga aku tahu kalau dia adalah pemilik manor, penguasa kaca dan cermin, dan bayangan yang terpantul di dalamnya. Sebenarnya wanita ini tidak bertingkah banyak, namun gelagatnya jadi tak wajar semenjak melewati portal terakhir kali.

Mungkin berhubungan dengan penyakit aneh yang walau sebentar, berdampak mengerikan bagi kami para wanita. Wajah-wajah kami berubah menjadi buruk, paling buruk dari apa yang bisa kupikirkan. Untungnya penyakit itu hanya berlangsung sebentar dan kukira itu hanya ilusi jika aku tidak bertanya Diane. Aduh, aku tak mau mengingat-ingat lagi betapa mengerikan wajahku ketika terkena penyakit itu. Terlalu menjijikkan!

Nah, pasca penyakit itu, si wanita ini berpolah aneh dan sepertinya berdampak pada seluruh manor. Banyak kaca-kaca pecah secara tiba-tiba tanpa penyebab yang masuk akal, juga perabotan yang kebanyakan terbuat dari kaca hancur lebur. Suara pecahan itu terdengar seperti ledakan-ledakan, dan sekejap kemudian, manor sudah dipenuhi pecahan beling.

Beberapa Herotic menyaksikan kejadian itu, beberapa tidak peduli, beberapa langsung lari. Sebagian yang tinggal mengawasi sebuah ruangan dengan pintu tertutup dimana terdengar raungan dan teriakan-teriakan yang membuat bulu kuduk merinding. Lalu terdengar tawa-tawa ganjil, mulanya terkekeh-kekeh seperti orang sinting yang larut dalam delusi, namun tawanya semakin lama semakin liar mirip orang kesetanan.

Aku hanya bisa mengamati sebentar karena tiba-tiba kotak panel tidak menampilkan apa pun. Gelap, gelap, gelap. Lalu tercipta retakan, aku sangat panik dan mencoba mengotak-atiknya dengan kekuatanku. Percuma. Aku tersentak ketika ada yang menyentuh bahuku dari belakang.

Kukira itu Betti atau Diane. Ternyata bukan. Sentuhannya di bahuku membuat tubuhku terbujur kaku dan tangan-tanganku jadi sedingin es. Bahkan aku sempat lupa bagaimana caranya bernapas.

Wanita itu berdiri di depanku. Dari dekat, aku benar-benar tahu kalau wanita ini sangat menyeramkan dan tatapan matanya hanya dimiliki iblis. Kulitnya sepucat kapur dan ada retakan-retakan menghiasi wajahnya. Aku berani bersumpah melihat daging merah menyembul di kulitnya yang terbuka.

‘Anak manis’ Wanita itu berkata, ‘Apa kau sedang bergembira? Apa kau senang menonton kami seperti melihat badut di pasar malam?’

Aku melirik ke bawah, dan mendapati sebelah tangannya berlumuran darah.

‘Aku sedang bergembira’ kata wanita itu membisiki telingaku, ‘Setiap orang yang kubunuh membuatku ingin melompat saking senangnya.’

Mendengar kata ‘bunuh’, aku semakin waspada dengan wanita ini. Namun tubuhku tetap tidak mau bergerak. Mataku terbelalak dan pupil mataku mengarah tidak keruan. Ketika titik-titik air mulai menetes di jemari tangan kananku, saat itulah Betti dan Diane datang.

“Woohoo~~! Si Lampir Amelia ninggalin guanya demi mengunjungi gubuk kita yang kecil ini. Aduh, senangnyaa~~” Betti yang pertama kali bicara.

Diane yang tetap dingin dan tenang menghembuskan asap cerutu dari bibir merah seksinya, tatapan matanya yang tegas seakan memerintah untuk bicara.

Wanita yang kuketahui bernama Amelia ini melingkari tangan dinginnya ke bahuku, “Ah, ini dia malaikat-malaikat yang diutus dari neraka. Tidakkah kalian bisa memberi salam yang lebih baik dan lebih beretika untuk menemuiku? Kalian tahu kan dengan siapa kalian menghadap?”

“Cuiiihhh!!!” Saking jijiknya, Betti mengubah penampilan dan wajahnya jadi maskulin sementara tubuhnya bagian bawah sangat feminim.

“Tugas kami adalah menanti kembang api puncak turnamen ini sekaligus mengawasi kubu X dan pengkhianat di dalamnya. Jika kau mulai bertindak seenaknya dan melenceng dari tujuan, maka kami akan bertindak,” ujar Diane.

Amelia menutup bibirnya dengan jemari lantas tertawa kecil. “Oh anak-anak sayang, sungguh menyedihkan garis-garis takdir yang terukir di bawah kulit kalian. Jadi jika kubunuh gadis kecil ini,” dia mengeratkan cengkeramannya di pundakku, “kalian akan menggunakan tangan kalian yang kotor untuk menghentikanku?”

“Kurang lebih begitu,” Diane menajamkan pandangannya.

“Sungguh pikiran rendah yang dimiliki makhluk-makhluk hina.” Amelia melepaskan cengkeramannya, lantas menatapku dan tersenyum. Senyum ganjil yang membuat merinding. “Aku tidak akan membunuhnya kalau begitu, kalian duduk saja dengan tenang sambil menikmati cerutu atau berpesta gulali. Sebagai gantinya, aku ingin memberi hadiah untuk gadis manis ini.”

Tangannya merogoh sesuatu di balik lipitan gaun hitamnya. Gerakan tangannya lambat dan sepertinya dia memang melebih-lebihkannya hingga terkesan dramatis. Sebuah kalung leher bertahtakan permata delima, dengan manik-manik berkilau yang menjuntai pendek dan saling berikatan. Sangat indah, karena aku pun menyukai batu-batu mulia.

“Sebuah hadiah istimewa untuk anak manis,” kata Amelia sambil bersenandung.

“Ih, apaan tuh? Kelihatannya berlian imitasi, beli dimana Mpir? Nyolong ya? Atau jangan-jangan kamu pasangin bom di kalungnya?” Betti tampak curiga.

Amelia memutar-putar kalung leher itu di kedua tangannya, “Tidak. Ini hanya kalung biasa, kalian boleh memeriksanya nanti. Kalau kalian mau, aku akan menghadiahkannya juga untuk kalian, tapi jangan harap mendapat sebagus milik anak ini.” Wanita itu mulai memasangkan kalung itu di leherku dengan sebelah tangannya yang berlumuran darah. Aku diam saja, kupikir bertindak gegabah akan merugikan diri sendiri.

“Dih! Siapa yang butuh kalung murahan! Kalung kayak gitu di pasar juga buanyaak, gak perlu ngemis-ngemis Nenek Lampir buat kalung imitasi! Astaganagaa!”

Amelia hanya tersenyum kecil, kemudian membalikkan badannya dan beranjak meninggalkan kami. Namun, mendadak Diane menikam punggungnya dari belakang. Aku dan Betti sama-sama terperangah. Amelia membuka lebar kedua mata dan mulutnya.

“Jangan coba-coba menipu kami,” bisik Diane ketus. “Atau kau ingin membagi ginjal korban-korbanmu untuk menantang kami?”

Darah mengucur dari lubang yang dibuat Diane, namun Amelia sama sekali tidak tampak kesakitan. Malahan wanita itu menyeringai.

“Aku—oh, bukan, kita—tidak membutuhkan orang-orang lemah. Tidak ada bedanya jika orang lemah mati sekarang atau besok. Besok, ya besok, mungkin kau yang menggunakan tangan kotor itu seperti yang kaulakukan terhadapku saat ini,” ujar si wanita berwajah retak, “Diane. Betti.”

“Tentang kalung itu,” Amelia melanjutkan, “itu benar-benar murni hadiah. Ada manor yang harus kubereskan, dan kuharap kalian lebih sopan lagi untuk menemuiku selanjutnya. Selamat tinggal, angels.

Setelah itu tubuh Amelia benar-benar ambruk. Luka dari lubang yang dibuat Diane terus mengucurkan darah, tubuhnya memancarkan bau busuk yang makin lama makin kuat. Bau mayat yang merindukan untuk dikubur, mual aku dibuatnya. Betti terus mengomel, katanya Amelia benar-benar menyusahkan karena meninggalkan sampah di tempat kami.

Tapi kemudian, di kotak-kotak panel yang memantulkan bayangan, aku bisa melihat seorang wanita asing yang tersenyum manis. Sejak itu kotak panel tidak bisa lagi digunakan, sepertinya aku harus meminta Betti atau Diane untuk mencarikan yang baru.

Ngomong-ngomong, aku menulis ini sambil sesekali meraba kalung permata pemberian Amelia. Mungkin ini memang berbahaya, tapi aku menyukainya.

 

 

 

Read previous post:  
38
points
(8518 words) posted by Ann Raruine 6 years 41 weeks ago
76
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | thriller | Battle of Realms | Cinta | dark fantasy | HxH
Read next post:  

x.x suram... ga rieke, ga Nolan, nasibnya suram...

kesuraman terlalu suram utk disimpan sndiri, kesuraman harus disebar :'D

100

hmm, hmm, nolan pake tongkat...

ehh, gk mesti diikutin kak.. ini sy cma nabrakin (?) sma pnya kakak :'D