[Road to Round IV] Belle Rose - The Lost

 

Buku Harian Ezebelle Rosetta

 

Memasuki bulan Oktober, aku tidak bisa merasakan sejuknya angin musim gugur atau perubahan warna-warni pohon mapel. Atau mencari jamur, memanen apel, dan mengukir labu untuk Halloween. Akar Pinus selalu ramai oleh festival tahunan itu, Ayah sering bercerita tentang kisah-kisah seram untuk anak-anak namun banyak juga remaja serta dewasa yang datang padanya. Aku penasaran, apakah kisahku ini suatu saat akan diceritakan juga dan terngiang sampai terbawa mimpi.

Mimpi, mimpi buruk. Aku harap ini semua hanya mimpi yang teramat buruk atau khayalanku karena kepenatan dengan dunia nyata. Semuanya bermula sejak aku terbangun di kamar mayat karena ‘kecelakaan’ yang melibatkan Sandra dan kawan-kawannya. Kemudian Manor Amelia dan meninggalnya Ivy. Lalu permainan maut yang kejam ini. Kuharap semuanya hanya mimpi dan suatu saat aku terbangun.

Aku sudah menceritakan tentang Ferrum di buku ini: satu-satunya alasan kenapa aku masih duduk di sini sambil berselimut dan mengisi buku harian dalam kenistaan. Aku belum berani menemuinya, apa yang harus kukatakan padanya dengan wujud seperti ini? Bahkan melihat tanganku yang keluar dari selimut saja membuatku jijik sendiri.

Kemudian, lagi-lagi bajuku rusak. Pelayan bernomor yang kuminta untuk mengambilkan pakaian lain belum juga datang. Aku tidak mau memakai gaun putih pemberian Eldric jadinya untuk sementara aku membalut tubuh mengerikan ini dengan selimut. Sementara ini, hanya pelayan-pelayan yang sudah melihat wajahku—karena tidak memiliki mata, kupikir mereka tidak akan takut padaku dan nyatanya memang begitu.

Nolan belum juga terbangun. Kue stroberi permintaan maaf yang kubuatkan untuknya sebelum berangkat ke dungeon, masih utuh di meja samping tempat tidurnya. Aku meletakkan bunga anyelir berwarna merah jambu di sela jemarinya, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal.

Seandainya aku bisa mengendalikan emosiku waktu itu.

Apa yang dikatakan Ferrum jika dia tahu kalau Nolan terbunuh gara-gara aku?

Mungkin Altem benar, aku memang perempuan bodoh.

 

 

Seekor burung berbulu eboni memekik di bingkai jendela kamar. Dia tidak menyahut ketika kuajak berbicara: dia hanya burung biasa. Ketika aku keluar kamar dan mencoba menangkapnya, burung itu terbang di koridor kapal. Aku mengejarnya, namun secara tak wajar dia berdiam di kamar Nolan sembari berkaok dengan suara serak.

Perasaanku tidak enak. Aku mengetuk pintu kamar itu, tidak ada jawaban, aku membukanya perlahan.

Burung hitam itu terbang masuk mendahuluiku, bertengger di sandaran ranjang di mana temanku masih terlelap. Melihat wajahnya yang pucat dan layu, aku semakin merasa bersalah. Aku duduk di kursi dekat ranjangnya, memperhatikan Nolan dalam kebisuan. Kuharap mata biru itu bisa kembali membuka dan bibirnya mengulas senyum ceria seperti biasa.

Beberapa saat kemudian Clive Hangeru datang tanpa mengetuk pintu. Masih mengenakan topi lancip dan senyuman centil yang senantiasa menghias wajah mungil menggemaskan itu.

“Selamat siang, Nona,” sapa Clive, aku hanya membalas dengan lirikan mata. “Siang-siang begini memakai jubah, apa tidak gerah?”

Aku menghela napas. “Kau mencoba mengejekku?”

Sekali lagi dia mengembangkan senyum semanis gulali, namun kata-katanya lebih pahit dari biji arang. “Itu adalah hukuman untukmu, Papa bilang kau tidak boleh dilenyapkan dulu karena masih berharga untuk kemenangan tim. Padahal kalau tidak macam-macam, bisa saja kami memberikan hadiah untukmu, yah semacam penghargaan.”

“Jadi, berapa harga untuk sebuah salinan?” Aku membalas tanpa meliriknya, dan sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku. Nada suaranya meninggi.

“Sudah kubilang jangan macam-macam! Dan jangan sebut-sebut soal salinan itu lagi!”

“Baik, Lady,” aku menurut saja. Tidak ada gunanya berdebat dengan gadis kecil yang super manja pada ayah yang memang bisa bertindak semaunya.

Kemudian kami menatap Nolan yang masih terbaring tak berdaya. Sebuah kain yang cukup tebal melilit lehernya, mungkin untuk menutupi luka yang kubuat. Tanpa sadar aku menumbuhkan bunga iris di salah satu sisi ranjangnya.

“Karena salahmu dia tidak bisa ikut putaran kemarin, tubuhnya masih lemah. Kami berusaha menyambung kepalanya yang terpenggal, namun tetap saja dia tidak bisa bertarung. Lemah. Le~mah!”

Aku terdiam karena ucapannya. “Mungkin ini semua memang salahku, aku sangat menyesal.”

“Tapi,” sesaat kemudian aku menyadari sesuatu. “Kau bisa sembuh dari kutukan Nuntak.”

Clive mengerutkan alisnya, kemudian tersenyum lagi. Sepertinya makhluk mungil ini memang diprogram untuk tersenyum dalam segala situasi. “Papa bisa menangis kalau melihat wajahku tidak imut lagi.”

Kini aku menatapnya heran, “Kau bisa sembuh dari kutukan yang menyerap hal-hal abstrak. Kau mempunyai kekuatan yang setara dewa.”

“Begitulah,” dia tampak senang.

“Kau bukannya tidak bisa menyembuhkan Nolan,” aku tidak percaya berkata seperti ini, “tapi, kau memang tidak berusaha menyembuhkannya!”

Si gadis cilik berambut biru menyeringai. Tidak ada penyesalan apa pun yang terbesit di wajahnya, betapa kejam raut yang ditunjukkan iblis kecil ini. Tanpa sadar aku meremas kain mantel yang kugunakan.

“Disembuhkan pun percuma,” katanya. “Kata Papa, soal salinan harus dirahasiakan. Nolan adalah salah satu yang berbahaya karena kemampuannya memotivasi orang lain, kami tidak ingin ada pemberontakan karena ini, dan tebak, siapa yang membocorkan soal salinan pada Nolan?”

Aku menatapnya penuh kebencian.

“Tapi, yah, dia lemah. Bisa-bisanya terpenggal karena gadis depresi yang mencoba bunuh diri. Tapi, kalau itu maumu, baiklah. Aku akan membuat dia siuman beberapa jam lagi, tapi jangan menyesal ya kalau misalnya dia dilenyapkan di depan matamu.”

Mata kebiruan Clive bersinar bengis, bibir mungilnya membentuk lengkungan seolah jurang terjal penuh batu. Betapa berbahaya dan mematikannya wajah kecil itu… Tuhan, tolong bantu aku untuk meredamkan emosi ini. Setelah berkata begitu, Clive Hangeru berlari keluar kamar. Aku hanya menghela napas berat.

Oh, Nolan. Cepatlah sadar.

“Bel, Belle?”

Aku tercekat mendengar suara laki-laki yang tak asing memanggilku. Aduh, apa yang harus kulakukan? A-aku belum siap menemuinya…

“Belle? Ternyata kau di sini, aku melihat Clive keluar ruangan dan..”

Dia terdiam beberapa saat, sepertinya melihat Nolan yang terbaring tak berdaya. Kemudian dia mengajakku berbicara, tentang kondisi Nolan dan bagaimana pertarungan lalu. Bibirku gemetar tiap kali ingin membalas ucapannya, jadinya aku bungkam dan hanya menjawab beberapa kata. Aku menyembunyikan wajah darinya di balik kain tebal selimut yang kubawa dari kamar. Tanganku sedikit tersingkap ketika mengeratkan mantel, dan di saat itulah aku takut.

Lantas aku berlari meninggalkan ketakutan itu. Aku tahu kalau aku sangat keterlaluan, berbuat jahat pada Ferrum setelah apa yang dia lakukan padaku. Tanpa laki-laki itu, aku pun kehilangan lentera jiwa. Jalan-jalan yang kulalui semakin gelap dan aku semakin buta. Menjauh dari Ferrum membuat hatiku sangat sakit dan menderita, namun aku tidak sanggup berada di dekatnya dengan wujud seperti ini. Wujud seorang pendosa yang telah kotor di mata Tuhan. Dan semakin aku menjauhi Ferrum, semakin aku mendekati kegelapan.

Lalu aku teringat dengan perkataan Clive.

Aku akan membuat dia siuman beberapa jam lagi, tapi jangan menyesal ya kalau misalnya dia dilenyapkan di depan matamu.

Aku menulis ditemani burung gagak yang ikut ke kamarku. Dia berkaok pelan, namun sesaat lalu dia mendadak berhenti seraya menatapku dengan matanya yang hitam.

Beberapa saat setelah kuperhatikan….

 

Gagak itu tiba-tiba hilang dan lenyap menjadi serpihan-serpihan kecil.

 

 

Read previous post:  
38
points
(8518 words) posted by Ann Raruine 6 years 41 weeks ago
76
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | thriller | Battle of Realms | Cinta | dark fantasy | HxH
Read next post:  

x.x suram... ga rieke, ga Nolan, nasibnya suram...

kesuraman terlalu suram utk disimpan sndiri, kesuraman harus disebar :'D

100

hmm, hmm, nolan pake tongkat...

ehh, gk mesti diikutin kak.. ini sy cma nabrakin (?) sma pnya kakak :'D