[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

Ai terus berlari di tengah suasana kota yang kacau. Ia tidak mengerti mengapa kota yang ia tinggali selama belasan tahun kini menjadi kacau seperti ada serangan makhluk angkasa luar.

“Mau kemana, kau? Jangan lari, Gadis Tengil!!”

Ai terus berlari tanpa menoleh ke belakangnya. Ia tahu ada seseorang yang meneriakinya.

“Permisi! Permisi!” Ai terus menerobos kerumunan warga kota yang berebut tempat pertama untuk melarikan diri.

Seorang Ibu muda—yang masih kelihatan belum matang—meninggalkan anaknya yang masih bayi di pinggir jalan dan berlari mencoba menerobos kerumunan. Ai terkesiap melihat tindakan Ibu muda tersebut. Hatinya bagai diiris sembilu tatkala mendengar bayi itu menangis. Beberapa orang melihat bayi tersebut dengan perasaan iba, namun tidak satupun yang berusaha menyelamatkan bayi itu. Ai mendekat ke arah sosok mungil itu. Ia tahu bagaimana rasanya ‘dibuang’ oleh orang tua sendiri, hanya saja—

“Gorilla. Ada gorilla lepas!!”

Suara orang-orang yang panik menyerukan bahwa seekor Gorilla besar lepas ke tengah kota membuat Ai sadar situasinya sendiri sekarang. Cukup lama ia berdiri dan tidak mempedulikan beberapa orang yang panik menabrak dirinya, pikirannya hanya menjadi kosong untuk beberapa saat.     

Hingga suara tangisan bayi itu tidak lagi terdengar.

Ai terkesiap, ia mendekati bayi yang kini bungkam karena terinjak—mungkin bahkan tertendang—itu dengan perasaan kacau. Seandainya saja ia memberanikan diri dan merelakan dirinya terdorong bahkan ditabrak para manusia yang sibuk mementingkan ego dan keselamatan sendiri demi sang bayi, mungkin ia dapat membuat dirinya berguna sejak dilahirkan 17 tahun yang lalu.

Ya, orang  tuanya  tidak pernah memujinya atau mengharagai karyanya atau menganggapnya berguna. Entah sudah berapa kali Ai ingin mengakhiri hidupnya, tapi ia sendiripun takut berpisah dengan dunia, lebih tepatnya takut pada kematian.

Akankah Tuhan menerimanya?

Saat Ai tersadar dari kecamuk pikirannya, bayi itu sudah tidak ada. Entah ikut tertendang bagai sebuah boneka atau dipungut dan dibuang ke suatu tempat, Ai juga tidak tahu. Ia kehilangan jejak mayat bayi itu sama seperti ia kehilangan fokus terhadap tindakannya, dan ia bingung mengapa orang-orang berlari.

Kenapa?

Apa yang terjadi dengan kota ini?

“Apa kau akhirnya memutuskan menyerah, Gadis Tengil?”

Ai tidak sadar jika seorang pemuda yang berjalan cepat ke arahnya tanpa memakai alas apapun dikakinya, mengenakan sebuah jubah usang dan penampilan layaknya orang kuno adalah orang yang akan menghabisi nyawanya.

Pemuda tersebut—Edward—tidak peduli jika dirinya ditabrak oleh beberapa orang yang melarikan diri. Entah apa yang diperbuat keempat Heretic lain hingga warga lari tunggang langgang dan berganti tempat persembunyian,  karena keempat Heretic selain Edward seperti mencari sesuatu diantara warga yang bersembunyi.

Edward tidak peduli. Ia sudah mendapatkan mangsanya saat pertama kali kesini. Edward tidak punya alasan untuk mengejar Ai. Ia hanya kebetulan melihatnya, lagipula ia tidak pernah memiliki alasan untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan sama halnya dengan menghanguskan sebuah desa.

Ai menoleh saat merasakan sebuah cengkraman keras pada bahu kanannya. Ia menoleh dan mendapati tatapan dingin seorang pemuda berjubah.

Lagi-lagi, ingatan Ai berputar saat ia coba mencerna wajah pemuda tersebut.

“A—aah…” Rasa panas menjalari tubuh gadis itu, dan secepat kilat ia menjauhkan diri dari tangan Edward.

Siapa pemuda itu?

Kenapa dirinya diincar?

Apakah ia adalah malaikat kematian yang diutus Tuhan untuk menjemputnya?

Ai tidak mengerti semuanya.

Ai tidak mengerti mengapa cuaca Minggu siang yang cerah berubah mendung dan dari langit muncul empat manusia dan satu gorilla yang membuat kepanikan di dalam kota.

Ai tidak mengerti mengapa kegiatannya yang monoton harus berubah menjadi seperti ini?

Dan Ai tidak mengerti, kenapa orang-orang yang berlari ini kehilangan nurani.

Ai sudah tidak berani menoleh ke belakangnya. Mungkin kini ia sudah seperti yang lainnya, menghilangkan nurani demi menyelamatkan diri.

“Hahahaha! Larilah, larilah Gadis Tengil!” Edward melompat-lompat pelan dengan santai. Ia menikmati rasa takut dari mangsanya.

Ai berusaha tidak peduli ucapan Edward yang sayup-sayup terdengar karena jarak mereka cukup jauh sekarang, hanya satu hal yang ada di pikirannya,

“Tuhan, aku tidak ingin mati hari ini.”

 

*

 

 

Napas Ai tersengal. Ia sudah berlari dengan susah payah, bahkan ia merelakan kulit kakinya lecet karena bergesekan dengan aspal dan tidak jarang terinjak sepatu orang lain. Ya, sepatu boots-nya dilepas demi meningkatkan kemampuan berlarinya.

Ai tiba di depan gedung perkantoran yang digabung dengan pusat perbelanjaan, tepat sebelum ia melangkah masuk untuk bergabung dengan yang lainnya, pintu itu ditutup. Seolah sudah tidak ada tempat baginya.

Ai ingin menangis, bahkan untuk bersembunyi dari bahaya saja , dirinya tidak tergolong sebagai ‘orang-orang terpilih.’

Ai ingin menyerah. Ia akan menunggu pemuda berjubah tersebut mengambil nyawanya.

“Maafkan aku… Mia…”

Suaranya terdengar lirih dan getir. Ai hanya bersimpuh dengan tatapan orang yang iba dari dalam gedung. Mereka bukan tidak ingin menolong, melainkan takut akan lebih banyak lagi survivor yang akan masuk ke dalam gedung jika mereka menolong seorang gadis.

Edward berdiri sekitar 60 meter dari tempat Ai bersimpuh. Sebuah senyuman angkuh tersungging di bibirnya.

“Sudah puas berlarinya?”

Ai tidak menjawab. Ia hanya memeluk dirinya sendiri dengan gemetar.

“Baguslah. Jadi kau sadar kau tidak perlu merepotkanku lagi.” Edward berjalan maju sembari menghunus sebuah pedang yang ia keluarkan dari balik jubahnya.

Ai sudah tidak bisa mengucapkan apapun. Matanya perih, telinganya sakit, namun hatinya jauh lebih sakit karena mereka yang menontonnya hanya bisa mengucapkan iba tanpa sedikitpun berniat menolongnya.

“Aku… siap.. untuk—”

 

“Kakak…”

 

Ai—yang semula tertunduk—mengangkat kepalanya. Ya, hampir saja ia mengingkari janji pada adiknya dengan menyerahkan hidup pada pemuda gila yang tiba-tiba mengincarnya.

 

“Minggu nanti aku pulang. Ayo kita nonton film di bioskop. Sudah lama aku ingin nonton sama-sama kakak, seperti saat kita anak-anak dulu. Tunggu aku ya, Kak.”

 

Ai kembali menangis, namun perlahan ia berdiri dan bangkit meski kakinya gemetar. Edward menghentikan langkahnya saat melihat mangsanya kembali berdiri.

“Oh, kau minta perpanjangan waktu?”

Ai tidak menjawab apa-apa. Ia menatap Edward dengan air mata tergenang di pelupuk matanya, kemudian secepat kilat ia berlari ke arah pintu parkiran bawah tanah.

“E-eh?!”

Edward merasa tertipu. Dirinya merasa telah dipermainkan dan ditipu oleh bocah tengik bau kencur yang bahkan tinggal menunggu detik kematiannya. Tak mengambil waktu lebih lama, Edward berlari ke arah yang dituju oleh Ai.

 

*

 

Sebuah ruangan penuh dengan mobil mengingatkan Edward pada pertarungannya melawan Belle di sebuah tempat yang serupa. Ya, kali inipun dirinya telah masuk ke dalam tempat yang dikenal dengan nama basemen.

“Keluar kamu, Gadis Tengil!”

Edward menyimpan pedangnya dan menembakkan api ke arah roda-roda mobil yang sedang diparkir. Suara alarm mobil terdengar bersahutan dan memekakkan telinga, namun Edward tidak peduli, ia terus menyusuri area basemen yang besarnya lebih dari basemen Petronas.

“Jangan coba bersembunyi, Gadis Tengil. Aku bisa mendengar ketakutanmu!”

Edward terus melangkahkan kakinya dan melihat space di antara satu mobil dengan yang lainnya. Tidak, Ai tidak ada disana.

Ai menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan agar suara napasnya yang ketakutan tidak terdengar oleh Edward. Ia bahkan menahan jeritan tiap kali mendengar langkah Edward yang sedikit menyeret semakin dekat dengan dirinya.

“Ayolah, aku malas bermain petak umpet seperti ini.”

Ai masih berusaha bernapas di tempat persembunyiannya. Degup jantungnya terdengar kian keras dan jika ia bisa mengeluarkan jantungnya, ia bersumpah akan melakukannya untuk membuatnya diam.

Ai mencoba merenungkan hidupnya dan sedikit melupakan ketakutan ini. Dirinya bimbang. Antara ingin mengakhiri penderitaan mental karena diabaikan atau tetap menjaga hidup karena ia masih memiliki Mia dan kedua orang tuanya? Terkadang dirinya berharap setiap manusia diberi tiga pilhan, bukan terbatas dua.

“Hhh…” Edward menghela napasnya. “Sepertinya tak ada cara lain.”

Ai terkesiap. Ia sedikit terkejut mendengar Edward berbicara seperti itu.  Apa lagi yang akan dilakukan pemuda itu padanya? Ia sudah melihat Edward mengeluarkan pedang, dan kali in apa? Apakah sebuah meriam?

“Ah, aku menemukanmu…”

Ai menahan napas saat ia melihat kaki Edward ada  di dekatnya. Dalam hati Ai terus berdoa agar Edward tidak menyadari keberadaannya.

“Ketem—eh, tidak ada?”

Edward mendecak dan berbalik karena tidak menemukan sosok apapun diantara dua buah mobil yang ia yakini sebagai persembunyian Ai.  Ai yang bisa melihat pergerakan kaki Edward hanya bisa  bernapas lega saat kaki itu berbalik dan seperti akan menjauh—atau dia kira seperti itu.

“?!”

Kaki Edward bukannya menjauh, namun malah berhenti menghadap mobil yang menjadi tempat persembunyiannya.

Sekali lagi Ai berdoa, memohon pada Tuhan agar Edward tidak menemukannya.

“Aha!”

Ai terkesiap.

Tuhan tidak menolongnya.

Apakah Tuhan juga membencinya hingga mengirimkan cobaan seperti ini?

Kembali lagi air mata yang ia simpan tergenang di pelupuk matanya saat mobil yang dijadikan tempat persembunyiannya diangkat oleh si pemuda gila. Edward menyeringai melihat ketakutan di wajah Ai.

“Kau sudah tidak bisa lari lagi.”

Ai masih belum mau mati disini. Ia takut Tuhan akan melemparkannya ke neraka karena ia tahu Tuhan membencinya saat ini. Ia tidak ingin mati sebelum ia memenuhi janjinya pada Mia. Ai berbalik dan lari layaknya seekor tikus yang kabur setelah tutup perangkap dibuka.

“He-hei!”

Edward merasa dua kali telah dikecoh oleh seorang gadis yang akan ia bunuh.

“BRENGSEK!”

Edward menggulingkan mobil yang diangkatnya hingga mengeluarkan bunyi berdebum yang disertai dengan bunyi alarm kemudian berlari mengejar gadis yang membuatnya kesal.

“KYA!” Ai terkesiap melihat tembok di hadapannya, dan dibelakangnya sudah ada Edward. Ia sudah tidak bisa lari lagi.

“Akhirnya, kau tidak bisa kemana-mana.”

Ai menyandarkan dirinya pada tembok dan menatap pasrah pada Edward yang berlari dengan pedang terhunus di tangannya.

Ai memejamkan mata.

Selamat tinggal, Mia…

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...