[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

Beberapa jam sebelumnya, di Oase.

 

“Jadi, apa kalian sudah siap?” Blackz melihat kelima peserta dari faksinya berdiri di hadapannya. Edward yang sedang mengunyah potongan tubuh seekor gorilla dari ‘kebun binatangnya’, Altem yang memandang benci pada Edward karena tahu bahwa jenisnya telah dimakan oleh manusia yang biasa ia bunuh, Rexanne yang memandang Blackz dengan matanya yang memerah karena terus menangis, Haruo yang menenangkan Rexanne dan Hideya yang tanpa ekspresi—sama seperti biasa.

“Seharusnya tidak kutanyakan.”

Blackz menggeleng dan membuka portal. Kelima peserta tersebut tidak membutuhkan aba-aba tambahan karena tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Ya, sama seperti sebelum-sebelumnya, jika portal dibuka maka mereka hanya perlu masuk ke dalamnya dan membiarkan diri mereka pergi ke dimensi yang mereka belum ketahui.

“Menangkan pertarungan ini,” sahut Blackz penuh keyakinan.

Hanya Haruo yang menanggapinya dengan anggukan, sebelum akhirnya portal tertutup dan mengirim mereka ke dunia yang dikorbankan menjadi arena pertarungan.

 

*

 

Kelima peserta membuka mata saat merasakan kaki mereka telah menapak aspal.

Tunggu—aspal?

Ya. Kali ini mereka mendarat di tengah sebuah jalan raya besar. Di tengah-tengah, dalam arti yang sebenarnya. Banyak kendaraan yang berhenti dengan mendadak, terdengar suara klakson dan disambut dengan teriakan panik.

“GORILLA ! ADA GORILLA LEPAS!”

Penduduk kota mulai berlari ke segala arah. Meninggalkan kendaraan mereka dan berlari menuju rumah atau sekedar mencari tempat perlindungan.

“Hei, monyet bodoh, apa yang kau lakukan dengan manusia itu hingga mereka berlari?” Edward merutuk melihat keramaian yang hanya tampak di matanya. Ia dan Hideya—tentu saja—tidak mendengar hiruk pikuk penduduk yang terkejut dengan kehadiran mereka berlima.

Bagaimana tidak? Siapapun pasti akan terkejut dan lari jika melihat kemunculan lima sosok dari langit yang tiba-tiba mendung, dan satu di antara kelima sosok yang mendarat di bumi itu adalah seekor Gorilla bungkuk setinggi dua meter.

Apakah ini serangan makhluk angkasa luar? Apakah sekarang dunia kiamat?

Edward menggerutu, keramaian hanya akan mempersulitnya membunuh seseorang yang akan menjadi targetnya. Sesekali Edward membuka catatan yang diberikan Hideya padanya saat ia bertanya tentang peraturan ronde empat yang tidak didengarnya karena ketiduran.

 

[ Temukan satu penduduk yang menjadi targetmu, bunuh dan kau menang]

 

Hanya itu yang berada di dalam kertas pemberian Hideya. Tidak ada syarat apapun, tidak ada nama lawan pertarungan kali ini.

“Sepertinya kali ini kita harus segera berpencar.” Rexanne mengeluarkan Double Desert Eagle-nya dengan waspada. “Agar kita bisa cepat keluar dari tempat ini.”

Haruo mengangguk, namun ada satu hal yang mengganjal pikirannya.

“Apa kita harus membunuh satu warga sipil disini? Maksudku meski Blackz mengatakan demikian tetap saja—”

“Lakukan saja apa yang menurutmu benar, Haruo.  Namun jangan sampai terjebak disini.” Rexanne melirik ke arah Haruo. “Jangan pedulikan Blackz.”

Altem mendengus kesal. Membunuh manusia, meskipun hal yang biasa terjadi di dunianya, tetap saja tidak dirasa benar oleh dirinya. Selama turnamen berlangsung, Altem menyadari bahwa hubungan dengan manusia bukanlah hal yang buruk—contohnya saja Haruo. Ya, Altem memiliki hubungan baik dengan manusia dari dunia E tersebut.

“Tapi kurasa jika kita membunuh target yang memang penjahat, tidak akan ada masalah. Misalnya penjahat yang dosanya membunuh orang lain..” Haruo menggumam.

“Lalu, dimana kau akan mencarinya? Penjara?” Rexanne melengos, mentertawakan pikiran nai Haruo.

Altem berdehem. “Lalu apa yang harus lakukan dengan lawan kita, maksudku Heroes yang disebut oleh Blackz?”

“Mungkin kita harus membunuh mereka jika mereka coba menghalangi kita?”

“…”

“Ah sudahlah.” Haruo menggaruk tengkuknya. “Sebaiknya kita selesaikan ini sekarang.”

Altem menghela napas. Tugasnya kali ini agak sedikit berat. Lawannya adalah seorang gadis cilik, dan ia merasa tidak ada—bukan, belum ada—alasan untuk membunuhnya.

Haruo memandang ke sekeliling, mencari seorang target. Hideya mengeluarkan kartu-kartunya, menyiapkan strategi. Rexanne sudah berlari mengejar targetnya.

“Ah, aku akan mencium siapapun yang sudah dekat dengan kematian.” Edward tertawa kemudian berlari.

“Mencium? Memangnya kau anjing?” tanya Haruo.

Edward sudah tidak mempedulikan Heretic yang masih diam di tempat. Langit yang mendung pekat membantunya berubah menjadi anjing Siberian hitam. Ya, selama tidak ada matahari dan keadaan langit sangat pekat layaknya malam, Edward bisa merubah dirinya menjadi salah satu hewan malam.

“Oh dia benar-benar anjing.” Haruo menggumam pelan dan memulai posisinya.

Tidak ada yang tahu bahwa Edward memiliki kekuatan lain karena pendengarannya diambil. Seperti yang sudah diketahui banyak orang, jika satu berkat diambil, maka Tuhan akan menggantinya dengan berkat yang lain. Sama seperti orang buta yang menjadi ahli dalam meraba, mendengar dan mencium. Atau orang bisu yang bisa melihat lebih jelas dari orang kebanyakan. Kekuatan mata Edward adalah berkat dari kecil, dan penciumannya adalah pengganti dari pendengarannya yang diambil.

Edward kembali menjadi manusia saat sudah berada dekat dengan targetnya, seorang gadis berdandan gothic ala punk dengan tank top, hot pants  dan sepasang boots hitam yang tinggi. Gadis itu baru akan bersembunyi saat Edward muncul di hadapannya dengan sebuah salam,

“Sekarang, matilah!”

Gadis yang tidak mengerti apa-apa itu terkejut sesaat kemudian refleks berlari. Siapa yang akan diam saja saat seseorang menghunuskan sebilah pedang di hadapannya?!

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...