[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

Basement. Saat ini…

 

Bunyi benturan dua buah besi terdengar nyaring saat Edward mengayunkan pedangnya ke arah Ai.

Tidak, bukan Ai yang ia tusuk, melainkan sebuah perisai yang cukup besar—dari kepala hingga pinggang.

Edward melompat mundur dengan tatapan bingung. Kenapa ada perisai disini?

“Siapa kamu?!”

“Aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya.”

Perlahan perisai itu bergeser dan menampilkan sosok wajah seorang pemuda.

“KAU!”

Edward membenci pemuda yang berada di balik perisai tersebut. Bagaimana tidak, ini sudah kali ketiga pemuda tersebut menghalangi dirinya menyelesaikan pertarungannya sendiri. Pertama, saat melawan Belle di Petronas, kedua saat melawan Akero di Dungeon, dan ini, saat Edward ingin membunuh targetnya dengan segera, tiba-tiba saja pengganggu muncul.

“Kukira kau sudah mati di tangan gadis itu. Tapi sepertinya harapanku terlalu tinggi.”

Pemuda di balik perisai yang tidak lain adalah Ferrum hanya menyeringai meremehkan.

“A-anu..” Ai—yang sedari tadi berada di belakang Ferrum memberanikan diri menepuk pemuda berambut gelap tersebut.

“Ah!”

Ferrum menoleh ke arah si penepuk. Ia baru sadar bahwa dirinya tidak sendirian. Ia berada disini sekarang karena sedang melindungi seseorang.

“Kau.. siapa?” bisik Ai. “Apa kau mengenalnya?”

Mata Ferrum mengikuti lirikan gadis itu. Ya, tentu saja yang ia maksud adalah Edward, seorang penyihir tuli yang kini memandang sinis pada dua sosok yang menyembunyikan wajah di balik perisai.

“Dia—”

“HEY! KALIAN JANGAN PENGECUT BEGITU!”

Edward menembakkan api dengan sengaja ke perisai yang dipegang oleh Ferrum. Edward melakukannya hanya untuk pengalih perhatian, untuk menciptakan rasa takut pada targetnya.

“Hati-hati. Dia penyihir.” Ferrum mempehatikan Edward.

“Apa? Penyihir? Apa kau juga sama denganya?”

“Tidak, aku bukan— AKH!!”

Sebuah sensasi panas dirasakan oleh Ferrum di lutut kanannya. Celana belelnya terbakar karena api yang dilempar oleh Edward. Secepat kilat Ferrum memadamkan api sebelum merembet dan membuat kakinya hilang sebelah.

“Kau.. Kau tidak apa-apa?” tanya Ai panik.

Ferrum mulai berpikir menyelamatkan gadis di hadapannya ini merupakan prioritas utama sebelum menghabisi Edward. Ia harus membawa sang gadis pergi dari tempat ini.

“Aku tidak apa-apa. Kau, larilah.” Ferrum menahan sakit di kakinya. Meskipun tidak terlalu parah, namun rasa terbakar itu ada.

“Kau… siapa sebenarnya dirimu? Mengapa kau mebnolongku?”

Ferrum menatap Ai tidak percaya. Bagaimana mungkin gadis di hadapannya ini bisa dengan santai mewawancarainya? Ferrum menghela napas.

“KYA!!” Ai memekik saat api baru saja melewati area sebelah kepalanya.

“Jangan meremehkanku dengan saling berbagi kemesraan seperti itu! Memuakkan!!” Edward menarik lengannya kebelakang, bersiap melontarkan bola api, namun Ferrum yang menyadari hal itu segera meletakkan tangannya ke atas lantai dan barikade besi setinggi 2,5 meter berdiri melindungi keduanya.

“Akan kujelaskan padamu nanti, sekarang larilah.”

“Baiklah. Kemana aku harus lari?”

Ferrum mengatur napasnya yang sedikit memburu. “Kau lari saja ke tembok itu, kau akan selamat.”

“Hah?! Bagaimana mungkin? Apa kau sama dengannya? Ingin membunuhku?” Ai berdiri dan protes.

Ferrum menepuk dahinya. “Larilah sementara aku akan menahannya disini. Kau ingin hidup, bukan? Kita tidak ada waktu untuk berdebat. Sekarang larilah ke tembok itu dan kau akan selamat.”

Sementara itu Edward terus berusaha menghancurkan barikade besi yang dipasang oleh Ferrum.

“Kurang ajar.” Edward merutuk melihat besi itu hanya meleleh sedikit terkena belasan lemparan dari api biru di tangan kanannya.

Ferrum mendorong Ai ke tembok tempatnya bersandar hingga gadis itu keluar dari basement, dan baru saja ia akan menyusul gadis yang diselamatkannya, sebuah tangan menekan tengkuknya dan menghantamkan kepalanya ke lantai basement.

“Tebak, siapa yang di belakangmu, pengganggu?”

“Kh—bagaimana kau bisa menembus barikadeku?”

“Tak akan kubiarkan kau menggangguku lagi, pemuda sial.” Edward menekan kepala Ferrum ke lantai sembari memproses pengeluaran api untuk membakar habis dari dalam pemuda Heroes ini.

“Aku… tidak.. akan… mati…” Ferrum sedikit kepayahan menyerap besi yang ada di sekelilingnya karena tenggorokannya terasa sakit saat bergesekan dengan lantai. Akhirnya, dengan menahan rasa panas yang semakin terasa di dalam tubuhnya, Ferrum berhasil mematerialisasi sebuah pipa besi berujung runcing.

“Matilah ka—AAAAAAAKH!!!”

Edward melepaskan pegangannya pada Ferrum saat sebuah pipa menancap di kaki kanannya. Kesempatan ini, tentu saja tidak disia-siakan Ferrum, agak terseok ia berlari menembus dinding basement  dan berguling di atas rerumputan.

“Ah.. Kau tidak apa-apa?” Ai—yang semula duduk di sebelah air mancur—berlari menghampiri Ferrum yang berguling memegang tengkuknya.

“Tidak apa-apa. Kita harus lari sekarang. Sebelum penyihir itu mengejar kita.” Ferrum berdiri dan menggamit tangan Ai kemudian berlari ke luar taman.

“A-anu…”

“Kita tidak ada waktu berdebat sekarang. Percayalah padaku!” Ferrum sudah tidak menoleh.

“Kalau boleh tahu kita akan kemana?”

Rabbit’s Hutch. Markas para Heroes.”

Ai menatap takjub dan membiarkan Ferrum menggandengnya sambil berlari.

                                                                  

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...