[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

Rabbit’s Hutch

 

Ferrum menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa. Ia cukup lelah berlari sejauh berpuluh-puluh—mungkin beratus-ratus—meter sembari menggandeng seorang gadis. Hampir Ferrum melupakan gadis itu jika saja sang gadis tidak bertanya padanya.

“Apa kau tidak apa-apa?”

“Ah!” Ferrum mengangkat kepalanya. “Ya, aku baik-baik saja. Kau tidak apa?”

Ai mengangguk.

Sejenak, keduanya terdiam. Ai masih sangat asing dengan tempat ia berada sekarang. Meski di ruangan tersebut banyak ornamen lucu, namun ia sangat gemetaran sangat ini. Sesekali ia melihat Ferrum dengan tatapan waspada. Bukannya tidak tahu berterima kasih, namun dirinya adalah wanita, sedangkan Ferrum adalah pria. Berduaan di tempat yang tidak ia tahu ini—

“Hei, kenalkan. Namaku Ferrum.” Ferrum mulai mengulurkan tangannya di hadapan Ai yang menekuk lututnya.

“Ai.” Ai membalas tangan itu malu-malu. “Te-terima kasih sudah menolongku.”

“Sudah seharusnya. Lagipula jika ada seseorang yang kesusahan, harus ditolong kan?” Ferrum terlihat lebih santai.

“Ya, kurasa kau benar.”

“Kalau kau tidak keberatan, maukah kau bercerita apa yang terjadi?” tanya Ferrum.

Ai menelan ludahnya dengan gugup.  “Aku… tidak tahu harus memulai darimana. Yang kutahu, langit tiba-tiba gelap, dan beberapa makhluk turun dari langit, salah satu dari mereka adalah seekor gorilla, lalu kemudian—”

“…Altem,” gumam Ferrum.

“Huh?”

“Tidak. Tidak apa-apa. Lanjutkan saja.”

“…Lalu seorang pemuda mengejarku. Lebih tepatnya menghunuskan pedang ke arahku.”

“Menghunuskan pedang?” Lagi-lagi Ferrum menginterupsi.

“Huh?”

“Maafkan aku. Itu hanya refleks, kau bisa melanjutkan lagi.”

“Ya, aku tidak tahu apa masalahnya. Aku tidak pernah merasa mengenalnya, ataupun bermasalah dengannya. Aku tidak mengerti apa-apa..” Sesekali Ai memainkan ujung bajunya untuk menghilangkan rasa gugup.

“Apa ada hal lain?”

Ai menggeleng. “Tidak. Aku rasa hanya itu. Terakhir yang kuingat, aku ada di parkiran bawah tanah dan kau menolongku. Um…”

Ferrum menatap Ai lekat-lekat. Ia tahu gadis ini belum selesai bicara.

“Apa.. apa kau mengenal pemuda yang mengejarku tadi?”

Ferrum mengangguk. “Aku sudah—setidaknya—tiga kali bertemu dengan dia. Tidak di tempat ini, di tempat lain. Bahkan bukan hanya dia, melainkan juga kumpulan makhluk yang kau lihat turun dari langit, termasuk gorilla itu. Ia bernama Altem, dan seingatku ia tidak terlalu jahat.”

“Tidak terlalu jahat?”

“Err—entahlah. Hanya saja aku tidak merasa seperti itu. Hanya saja, entahlah. Setiap orang berbeda sih. “ Ferrum mengangkat bahunya. “Sebaiknya kau tetap disini. Aku akan menghabisi penyihir tuli itu.”

“Ah, sebelum aku lupa. Kau mengatakan itu lagi. Pemuda tadi… penyihir?”

Ferrum mengangguk.

“Kau…juga?”

“Hah? Tidak. Tidak. Aku bukan penyihir. Aku seorang metalurgis.”

“Metal—apa?”

“Metalurgis. Aku bisa menyerap unsur Fe dalam besi kemudian menciptakannya menjadi alat besi yang baru. Seperti yang kau lihat tadi aku bisa membuat perisai, terkadang aku bisa membuat tombak, pedang, benda-benda besi semacam itulah.”

“Lalu kau bisa menembus tembok?”

“Tidak.”

“Tapi, tadi kau—”

Ferrum tidak bisa memberitahukan semuanya. Memberitahukan bahwa mereka adalah salinan yang sedang mengikuti turnamen yang diselenggarakan Blackz dan Moon. Ia sudah mengatakan bahwa dirinya bukan berasal dari dunia lain, bukan dari dunia ini.

“Oh tadi…” Ferrum berdehem sejenak sembari berpikir untuk memberikan alasan yang masuk akal. “Ingat gorilla yang kusebutkan tadi?”

Ai mengangguk.

“Aku melihatnya berjalan di area kafe dan membuat orang takut. Kemudian aku mendengar seseorang berteriak dan saat aku berlari menghampiri asal suara, tiba-tiba saja aku bisa menembus tembok kafe dan berakhir di basement itu.”

“Dengan perisai?”

Ferrum mulai menyadari bahwa Ai suka mewawancara orang lain meski waktunya kurang tepat. Namun menolong seseorang tidak perlu memilih kan?

“Aku sudah menyiapkan prisai sebelum menembus tembok itu, Ai. Buat berjaga-jaga.” Ia menerawang sebentar kemudian bergumam,

“Lagipula lawanku sepertinya kali ini dia.”

Ai menggoyang-goyangkan kakinya santai. “Apa kau sudah lama melakukan hal seperti ini?”

“Melakukan apa?”

“Menolong orang seperti ini. Apa kau sengaja berkeliling dunia untuk menolong orang-orang?”

“Hm… Lebih tepatnya sih keliling dunia untuk membasmi kejahatan.”

“Kejahatan? Para makhluk yang muncul tiba-tiba seperti gorilla dan kawan-kawannya, maksudmu?”

Ferrum tertawa pelan. “Kurang lebih begitu. Biasanya dimana ada mereka, ada kami, yang akan menghentikan mereka.”

“Kalian seperti ditakdir—”

Sebuah nada menginterupsi pembicaraan mereka berdua. Ai yang menyadari bahwa nada tersebut berasal dari ponselnya langsung mengambil dan meminta ijin untuk menjawab panggilan yang berasal dari adiknya, Mia.

Ferrum mempersilakan gadis itu menggunakan waktunya untuk bicara secara privasi sementara dirinya mengintip dari jendela markas, melihat situasi di luar, kalau-kalau sosok Edward mulai berlalu lalang di depan Rabbit’s Hutch.

Ferrum memicingkan mata. Mungkin kali ini ia HARUS benar-benar menghabisi Edward. Ia memang tidak suka dengan pertumpahan darah, namun untuk kasus ini, sumber kejahatan harus dihilangkan.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...