[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

“Jadi, adikmu akan kesini?” tanya Ferrum saat melihat Ai berkali-kali menatap ke luar jendela, seperti mencari orang lain.

“Ya. Ia cemas dengan adanya penyerangan di kota, dan ia mencari dimana diriku. Jadi aku mengajaknya kesini. Tidak masalah kan?”

Ferrum termenung sesaat kemudian menggumam. “Tsuki tidak mengatakan soal jumlah yang harus diselamatkan, kurasa tidak apa-apa.”

“Tsuki?”

“Oh, bukan apa-apa. Tidak ada masalah kok, kalau adikmu mau kesini.”

Ferrum bergerak dan mengintip dari jendela. Ia tercekat ketika melihat seorang gadis berdiri di depan markas bersama seekor anjing. Bukan keadaan itu yang membuat Ferrum tercekat, tapi perasaan saat anjing itu menatap dirinya yang mengintip di jendela yang membuat Ferrum tidak enak.

“Apa adikmu memiliki rambut yang panjang dari kamu?” tanya Ferrum tanpa melepaskan pandangannya dari anjing hitam yang berada di luar sana.

“Ya, mengapa kau bertanya?”

“Aku melihatnya berdiri di depan gedung ini, tapi apakah kau punya anjing?”

Ai menatap kebingungan. “Anjing? Tidak.”

“Anak itu membawa anjing hitam.”

Ai baru saja akan membuka pintu, dan Ferrum segera menghalanginya.

“Kau tidak boleh pergi.”

“Apa kau gila, adikku di luar sana.”

“Tapi tetap tidak boleh. Bahaya!”

 

*

 

Di luar sana, seorang gadis—Mia—menunggu dengan agak tidak sabar kehadiran Ai yang memintanya untuk datang ke Rabbit’s Hutch. Kini ia sudah tiba namun tidak ada seorangpun yang membuka pintunya.

“HALO!!” Mia sekali lagi mengetuk pintu markas tersebut, tanpa mengetahui terjadi perdebatan di dalamnya.

“Ai! Apa kau di dalam?”

Mia mendengar sayup-sayup dua orang berdebat di dalam gedung.

“Ai, apa kau tidak apa-apa? Aku kemari karena—KYAAA!”

Mia tercekat. Sebuah tangan baru saja merangkul lehernya dan menariknya menjauh dari pintu. Di ujung dagunya, sebilah pedang terhunus. Bergerak sedikit saja, ia akan kehilangan dagunya.

“HEI BRENGSEK! KELUARLAH! ATAU GADIS INI AKAN TERLUKA!!”

Sosok anjing hitam yang datang bersama Mia berubah menjadi pemuda kuno yang mengenakan jubah, dan kini tengah menghunuskan pedang di hadapan gadis yang tidak bersalah.

 

*

 

“MIA!” Ai memaksa untuk membuka pintu markas. Ia panik setelah mendengar jeritan adiknya dan ancaman seorang pemuda.

“Tunggu! Kau tidak bisa gegabah. Pemuda yang mengejarmu juga ada di luar sana.”

“Apa kau gila?! Adikku sedang dalam bahaya dan aku akan menolongnya!!”

“Apa kau ingin mati?! Dia tidak akan melakukan apa-apa. Percaya padaku, itu hanya gertakan.”

Ai kembali terdiam. Ia ingin menolong Mia, namun jika ia harus mati karena menolong sang adik, untuk apa ia mengorbankan diri?

Akhirnya dengan wajah muram, Ai memutuskan mendengarkan ucapan Ferrum untuk tidak keluar gedung.

Sementara itu, di luar sana, Edward mencoba mengontrol emosi dan kesabarannya. Ia masih menunggu pintu gedung itu dibuka. Sedikit menyesal ia tidak membawa setoples darah seperti yang biasa ia lakukan. Kali ini persiapannya kurang matang karena ketiduran dan terburu-buru.

“APA KALIAN TIDAK MENDENGARKU?! HEI, PENGGANGGU, DENGAR! JIKA KAU TIDAK MENGELUARKAN GADIS ITU, AKU AKAN MENCORENG GELAR KEPAHLAWANANMU!”

Edward menghunuskan pedangnya dan perlahan merobek rok yang dikenakan Mia hingga pahanya terlihat. Mia mengerang, karena ujung pedang itu terasa perih menggores pahanya.

Di dalam markas Heroes, Ai berjalan mondar-mandir memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Ia bukannya tidak mendengar ancaman Edward, namun Ferrum benar, ia tidak ingin mati konyol di luar sana.

“Baiklah, kalian tidak memberiku pilihan. Sayang sekali gadis manis, kamu harus ku korbankan…” desis Edward.

“Ap—tidak. Tidak. Jangan apa-apakan aku. TIDAK! TID—KYAA!! ARRGH!!”

“MIA!!” Habis sudah kesabaran Ai. Ia jelas tidak bisa tinggal diam mendengar Mia menjerit dan menangis.

“Hei, Ai!”

Ai sudah tidak mempedulikan Ferrum. Persetan jika ia harus mati konyol karena menyelamatkan Mia.

“Tunggu! Jangan sentuh di—Aaaah… Apa yang kau lakukan?!”

Edward menoleh pada sosok yang tiba-tiba keluar dari gedung yang disinyalir sebagai markas para Heroes.

“Akhirnya kau keluar juga. Sayangnya sudah terlambat!”

Dengan sunggingan penuh kemenangan Edward menatap Ai yang tercekat melihat Mia berlumuran darah di pahanya.

“MIA!!” Ai berlari dan memeluk adiknya.

“Ia tidak akan mati untuk saat ini. Aku hanya meminta sedikit darahnya untuk membuat ini,” sahut Edward memamerkan diagram sihirnya yang belum selesai. Ferrum yang sedari tadi waspada dan memikirkan cara bagaimana membunuh Edward tanpa melibatkan Ai maupun Mia.

“Kau kejam! Kau ingin membunuhku, kan?! Kenapa kau sakiti Mia?!” Ai berteriak.

Sementara itu Edward bersikap tidak peduli. Ia hanya fokus pada penyelesaian diagramnya sebelum membakar habis semua yang di hadapannya. Ferrum menyadari diagram itu, diagram yang pernah ia lihat sesaat sebelum Akero hangus tanpa sisa.

“Tak akan kubiarkan!!” Ferrum berlari dan menarik jubah Edward sebelum melempar pemuda itu menjauh dari diagram.

“Kurang ajar!!” Edward bangkit dan secepat kilat menghunuskan pedang ke Ferrum. Ferrum tak kehabisan akal. Ia mematerialisasi dua buah tongkat besi yang ditempelkannya pada lengan.

Lagi. Dua benda besi yang saling berbenturan mengeluarkan bunyi nyaring.

Edward tidak terima jika pertarungannya lagi-lagi diganggu oleh pemuda Heroes ini. Ia melemparkan pedangnya kemudian melontarkan api ke arah Ai yang sedang memeluk Mia yang pingsan.

“KYAA!!” Ai menjerit kaget karena api yang dilontarkan Edward berada terlalu dekat dengannya. Sebenarnya tembakan Edward meleset karena Ferrum segera menjatuhkan badan Edward dengan menubruknya.

“Jangan mengangguku!!!” Edward menggeram dan menendang perut Ferrum dengan lututnya.

“Aku tidak akan membiarkanmu membunuh. Kau yang seharusnya mati!!”

“Huh, menurutmu apa dia cukup berharga untuk diselamatkan?! Bahkan aku yakin ia tidak diingkan siapapun di dunia ini. Kau seharusnya melihat, bagaimana orang-orang memperlakukannya seperti sampah! Ia diasingkan. Jadi, sampah seperti itu, menurutmu masih harus diselamatkan?!” seru Edward yang segera membuat Ai terhenyak.

“A---a---aku… aku… aku bukan sampah…”

Memori perlakuan orang tua dan sekitar terhadap dirinya memenuhi kepala Ai.

Pantaskah ia hidup.

Adakah yang mau menyelamatkannya?

“Aa---a…” Ai memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia bersimpuh dan dadanya terasa sesak. Mungkin ia seharusnya mati. Sesekali ia memandang Mia, dan melihat betapa mengenaskan Mia sekarang. Paha Mia berdarah karena sabetan pedang Edward, dan itu karena dia yang tidak segera keluar Rabbit’s Hutch.

“Mia.. Mia.. Maafkan aku, Mia…”

Ferrum menyadari sesuatu berubah. Ia seperti melihat aura gelap dari tubuh Ai.

“Ai, dengarlah! Akan ada orang yang menolongmu! Jika kau berkata pada mereka, niscaya mereka akan menolongmu!” seru Ferrum lantang.

Ai kembali terkesiap. Ya, Ferrum benar, selama ini ia tidak pernah mengutarakan ingin meminta tolong pada orang lain.

“Kau terlalu banyak bicara!!” Edward menghempas tubuh Ferrum dan segera menghampiri Ai untuk membakarnya.

“Kau tidak akan kemana-mana, penyihir tuli!!” Ferrum kembali bangkit dan menghajar tubuh Edward dengan tongkat besinya. Menjauh dari depan Rabbit’s Hutch dan dengan satu pukulan telak di ulu hatinya, Edward terhempas cukup jauh. Dan sebelum Edward berdiri, Ferrum mencengkram kerah jubah penyihir itu kemudian menantangnya.

“Langkahi dulu mayatku jika kau ingin menghabisi gadis itu.”

Edward tidak kehabisan akal, ia mencekik leher Ferrum dan meludahi wajah pemuda yang cukup tampan itu.

“Kau menantangku? Kuterima! Dan rasakan kematianmu!!” Edward mendelik dan mempererat cengkramannya pada leher Ferrum. Ia ingin segera mungkin membakar pemuda itu.

“Ti..dak ka..li i..ni.” Ferrum memukul selangkangan Edward dengan kepalan tangannya. Ia hampir kehabisan napas dan tubuhnya mulai terasa panas, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

“GRAAAH!!!” Edward mengerang hebat. Ia tidak tahu apa kejantanannya ikut remuk atau tidak setelah terkena pukulan dari kepalan Ferrum yang terlindungi oleh knuckle.

Ferrum berlari sejauh mungkin karena ia tahu Edward akan cukup bodoh untuk mengejarnya daripada langsung membunuh Ai.

“Brengsek! Brengsek! Jangan kira kau akan selamat, bajingan!!” Edward berlari terseok menahan selangkangannya yang sakit.  Ia tidak sabar menunggu regenerasi organ vitalnya selesai.

Kali ini dugaan Ferrum tepat. Edward justru mengejarnya daripada membunuh targetnya.

“GRAH!!” Edward mengeluarkan apinya dan terus melontarkannya pada Ferrum yang masih berlari. Dengan lincah Ferrum berhasil menghindari api-api yang diarahkan Edward ke arah kakinya.

Namun sayang, satu lontaran api yang dilemparkan Edward mengenai betis belakangnya. Ferrum terguling.

“Hah! Akhirnya kau tidak bisa lari lagi.” Edward berkata dengan sok meski selangkangannya masih terasa nyeri.

Ferrum melihat ke arah langit pekat di atasnya dan melihat ke sekeliling

“Ahahaha…” Ferrum tertawa melihat sebuah jembatan besi membentang indah tak jauh dari atas kepalanya. Sebuah harta karun untuk sumber kekuatannya dalam jumlah banyak. Jika terus begini, kemenangan sudah dipastikan.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...