[Round 4] Edward Kalashnikov - Ironical Life

“Kau masih bisa berdiri?!” tanya Edward saat melihat Ferrum mencoba bangkit dan menghampiri besi pondasi jembatan.  Pemuda itu menutup matanya seolah mengkonsentrasikan sesuatu sembari meletakkan tangan pada pondasi tersebut.

“HEI!! Jangan mengacuhkanku!!” Edward mengeluarkan tombak dan berlari ke arah Ferrum.

Ferrum bukan tidak peduli, namun ia sedang berkonsentrasi mematerialisasi sesuatu dari semua unsur besi yang ia temukan hari ini.

“HEYYAAAH!!” Edward menusukkan mata tombak pada punggung Ferrum, namun sebelum punggung itu berlubang, Ferrum berbalik dan menghajar Edward dengan tongkat besinya.

Edward tersungkur dan berguling  di atas tanah dengan kontur pasir yang cukup padat.

“Kau tidak bisa membiarkanku sendirian ya?” Ferrum menerjang Edward sekali lagi. Menekan organ vital Edward dengan lututnya hingga penyihir tersebut berteriak. Tangan kirinya menekan dada bidang Edward, menyerap zat besi dari tubuh penyihir tersebut dan mematerialisasikannya menjadi pasak besi yang ditancapkan ke tanah oleh tangan kanannya.

Ferrum ingin mengunci gerakan Edward, dan itu yang sedang dilakukannya. Edward menggelinjang, mencoba melepaskan diri dari Ferrum, namun ia merasakan sesuatu sedang disedot dari dalam tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan padaku, bajingan?!”

Ferrum tidak menjawab apa-apa dan Edward sudah kehilangan kesabarannya. Dengan susah payah, ia menembakkan sebuah api dari telunjuk tangannya dan mengenai bahu Ferrum.

“AKH!” Kali ini giliran Ferrum tersungkur dan menggulingkan diri di pasir untuk memadamkan api. “Sial…”

Ferrum melihat kulitnya memerah dan terkelupas karena  serangan Edward, dan tidak hanya itu, jaketnya juga berlubang. Ferrum melihat posisi Edward yang sebagian  pergerakan tubuhnya terkunci oleh pasak besi yang ia tanam. Butuh beberapa waktu untuk melepaskan diri dari pasak-pasak besi itu.

Dengan cepat Ferrum berlari dan mengambil tombak milik Edward. Ia harus segera membunuh penyihir yang kini tidak bisa apa-apa itu. Kebenciannya pada Edward sudah mencapai puncak, mengorbankan manusia hanya untuk kesenangan pribadi adalah hal yang dibenci Ferrum.

Ferrum bersiap menancapkan tombak ituy di dada Edward, namun dengan sigap pula Edward mematerialisasi tombak lain di tangan kanannya dan menghalau mata tombak yang dipegang Ferrum. Kepayahan Edward menggerakkan tombak yang dipegangnya karena pasak besi ditancapkan tepat di bawah ketiak dan di atas lengannya.

Namun ia tidak kehabisan akal, dirinya mungkin belum bisa bergerak bebas, namun kakinya masih bisa menendang kaki pria yang coba membunuhnuya.

“Ukh!” Ferrum tersungkur ketika pertahanan pada sendi lututnya dilumpuhkan oleh satu tendangan dari arah belakang.

Ferrum melihat Edward masih bersusah payah melepas satu persatu pasak yang ditanam dirinya. Kesempatan ini digunakan Ferrum untuk menjauh perlahan, berlindung di balik barikade besi yang muncul karena kekuatannya, dan mematerialiasasi sesuatu untuk melawan sang penyihir. Sesuatu yang tidak mudah disayat oleh apapun.

Ferrum berkonsentrasi menyerap unsur besi sekali lagi, dan kali ini ia membuat perlindungan untuk dirinya. Hampir seluruh tubuhnya ditutup oleh besi, kecuali bagian muka, sendi lutut dan sendi bahunya.

“ARGH! Brengsek! Kau membuatku kesusahan dengan ini semua!!” seru Edward mencabut pasak terakhir yang mengunci tubuhnya.

“Oh, kau bisa melepaskan diri dari itu?” tanya Ferrum dengan nada sok.

Edward menoleh ke arah Ferrum, dan alangkah terkejutnya ia melihat penampilan Ferrum yang berubah. Ia sangat familiar dengan penampilan itu.

“Huh, manusia kaleng.”

Ferrum berdiri dengan pedang terhunus di tangannya. Edward tidak mau kalah, sama seperti Ferrum ia juga mengeluarkan pedangnya. Pertarungan satu lawan satu antara dua bilah pedang akhirnya dimulai.

 

*

 

Bunyi dua bilah pedang yang saiing berbenturan memecah keheningan di tengah siang cukup pekat ini. Edward dan Ferrum masih belum kehilangan semangat dan stamina menghadapi satu sama lain. Edward menyerang Ferrum dengan api dan ayunan pedang, dan beruntung bagi Ferrum, ‘pakaian zirah’nya sama sekali tidak menghalanginya bergerak untuk menebas Edward maupun menghindari serangan apinya.  Dan satu lagi keuntungan Ferrum, Edward belum menyelesaikan diagramnya sehingga penyihir itu tidak bisa menggunakan sihir terlarangnya.

Pertarungan ini tidak akan ada habisnya karena kedua belah pihak belum ada yang merasa kelelahan dan regenerasi tubuh Edward berfungsi dengan baik meski tubuhnya beberapa kali terkena sabetan pedang dari Ferrum.

“Kenapa?” tanya Ferrum saat wajah mereka saling berhadapan ketika pedang mereka beradu. “Kenapa kau mengincar gadis yang tidak berdosa seperti dia?”

“Bukan urusanmu, bodoh.”

“Apa kau tidak merasakan sesuatu jika adikmu dikejar oleh seseorang yang membunuhnya? Bayangkanlah adikmu yang berada di posisi Ai sekarang.”

Adik?

“Melody…” Edward bergumam mengingat bagaimana dulu Melody disiksa, dan bersamaan dengan itu Edward merasakan sesuatu seperti mencelos di dalam hatinya. Seperti perasaan lega, ringan, dan membuat lemas.

Satu tusukan di paha membuat Edward terjatuh. Kakinya tidak sekuat sebelumnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun kakinya seperti tidak mau berdiri.

“Aku belum kalah!” Edward mengerang dan kembali menyerang Ferrum dengan memaksakan persendiannya untuk berdiri.

Ferrum dengan mudah mempertahankan dirinya dari serangan Edward. Namun saat pandangan mereka bertemu, Edward menanyakan sesuatu padanya.

“Mengapa kau menyelamatkan manusia? Apa karena tugasmu sebagai Heroes?”

Ferrum mengayunkan pedangnya ke arah perut kanan Edward. “Aku tidak mengerti kenapa manusia saling membunuh, tapi bagiku menolong seseorang tidak membutuhkan alasan, bukan?”

Edward kembali mengayunkan pedangnya dan kali ini ia menambahkan api biru hingga membuat pedang itu terbakar hebat. Edward tahu energinya terkuras saat ini, padahal sebelumnya tidak, dan ia memaksakan diri mengeluarkan kekuatannya.

“Huh, apa kau menganggap dirimu Heroes, setelah membiarkan seseorang terluka karena keegoisanmu?” Edward mengayunkan pedang itu ke arah lengan Ferrum yang terlindungi lempengan besi.

Sesuatu yang aneh dirasakan Ferrum. Ia merasa semua kekuatannya lepas dan meninggalkannya begitu saja. Lututnya lemas, dan serangan dari Edward tidak mampu dihindarinya dengan baik meski serangan itu tidak terlalu kuat. Ferrum terjatuh, dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Edward.

Benarkah dirinya pantas disebut pahlawan? Ferrum merasa tiba-tiba dadanya terasa dicengkeram oleh sebuah kekuatan tidak terlihat. Keraguan pada hatinya sedikit membuatnya lemah.

“Kau tahu, pertarungan ini tidak akan habisnya.”

Ferrum tidak mengatakan apapun, namun ia setuju dengan Edward kali ini. Perlahan ia bangkit, sementara Edward mengambil ancang-ancang.

“Kau tahu apiku bahkan tidak akan melelehkan besimu dalam sekejap, namun jangan khawatir. Aku akan mengakhirinya sesegera mungkin.” Edward mengeluarkan dua buah tabung kecil di masing-masing tangannya.

Tabung? Ferrum berpikir bahwa sebuah senjata tajam akan dikeluarkan Edward saat ini. Tapi ini.. tabung dengan cairan di dalamnya?

“Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku menembus barikade besimu bukan?”

Ferrum mendapat sebuah firasat tidak mengenakkan dari pertanyaan itu.

“Aku hanya meneteskan beberapa tetes dari cairan di tabung ini, dan aku dapat menembusnya.”

Benar dugaannya.

Ferrum berpikir harus menghindari serangan cairan itu. Ia akan tamat jika sampai lebur hanya karena 1 tabung kecil yang diyakini sebagai asam.

“Selamat tinggal, pengacau!!”

Edward mengejar Ferrum yang berlari menghindar dan melemparkan keempat tabung kecil itu tepat ke arahnya. Ferrum bisa menghindar dari tabung pertama, namun tidak dengan tiga tabung lainnya. Tepat saat tabung tersebut pecah ketika berbenturan dengan zirah besinya, Ferrum terbeliak.

 

*

 

Sebuah ledakan cukup besar terjadi di bawah jembatan. Tubuh Ferrum hancur tidak bersisa. Edward kelelahan. Mengeluarkan kekuatan sihir dibawah stamina yang kurang dan berlari bukanlah hal yang mudah. Namun apa yang ia lakukan sekarang seharusnya ia lakukan sejak awal ia berhasil melubangi barikade Ferrum di basement.

Namun Edward menyadari sesuatu. Ia menyadari bahwa tugasnya belum selesai.

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

seperti yang sebelumnya~ hhoho
SoL nya mantap, , tp sebab battle'a jd rancu
gegara ada dialog, , "bunuh siapa aja kan bisa, udah beres~"
`
Ferrumnya suruh iket aja si Ai biar ndak kabur~
hhohoho~
#ampoooniii saia guruuuu~
#sungkem!
`
`
titipi +3 di mari untuk pengincaran Ai

80

Iya nih Dee. Tokoh utamanya beneran kayak si Ai, dan Ed jadi kayak villain yang kebetulan aja ini ceritanya bad end #plak
.
Tapi seperti biasa emang dari awal enak dibaca. Soal cerita ya kebebasan penulis lah~
.
+3

Eh beneran ini si Ai yang terasa jadi tokoh utama?
.
Yey,I did it~
.
X3
.
Makasih banyak Kak Sam udah mau mampir

70

Wah si Edward emang kejam, salah satu yg penjahat beneran nih dari Heretik. Utk flashback dan bahan cerita Mia dan Ai, kuliat Mas Dee udah jago nih bikin slice of life. Cuma aja porsi tarungnya Edward ngelawan Ferrum, apakah itu deskripsi jurus, atau emosinya, atau aliran alasan entah kenapa jadi kurang ditonjolkan atau ketutup dibanding ceritanya sang target itu sendiri. Jadi titip +3 dolo hehe

Makasih udah mau mampir plus kasih nilainya pak po...
:D
.
Seperti yang saya katakan di chatroom. Kali ini, saya lebih nonjolin si Target daripada Ferrum. Dan ya, memang itu yang saya lakukan.
.
I have no regret actually. :3

70

Izin komentar...
.
Saya suka bagian awalnya yang penjelasan tentang Ai, begitu mengalir dan mudah diresapi. Ceritanya tegang sampe Edward mau nebas cewek itu.
.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. #plak
.
Dialog Ai dengan Ferrum itu agak ganjil rasanya, trus cewek itu jadi berasa nyantai sampe debat segala padahal beberapa detik sebelumnya uda deg-degan sampe tak bisa berkata-kata.
.
Hmm, sekarang waktunya menulis.

namanya juga cewek galau. Mau mati aja mikir-mikir.
.
Gimana ngga tenang kalau si cewek udah geer Ferrum bakal nolong dia?
.
Sana nulis :v

50

Yo'i...

wups maap dobel

80

hiks, Edward kamu memang gk manusiawi.. membunuh tanpa penyesalan sama sekali... :'(
.
+4

"Kan manusia ngga nguna. buat apa disesali?"
.
Thanks ya ann, udah mau mampir...