[X Herotics] R1 Felicita Verrall (vs Hideya)

Felicita berdecak kesal.

Saat setan-setan cermin itu memindahkannya dari Mirror Manor ke tempat ini, hal pertama yang menyambutnya adalah kabut pagi dengan dingin yang ekstrim. Hal itu lantas membuat tubuhnya menggigil dan bersin berkali-kali. Bahkan karena efek dingin tersebut, navigasi di kepalanya sampai rusak dan nyaris salah arah masuk ke dalam hutan.

Cukup lama Felicita berdiam diri seraya saling menggosokkan telapak tangannya satu sama lain sambil mengira-ngira posisinya saat ini.

...seandainya getaran langkah kaki samar itu tidak menarik perhatiannya.

Felicita menoleh, berusaha memusatkan perhatiannya pada getaran samar tersebut. Teringat akan nama seseorang membuat Felicita melupakan dingin yang menderanya untuk sesaat. Ia mengabaikan langkah-langkah semangat yang terasa dari dalam hutan dan mulai berjalan sambil berfokus untuk menemukan bangunan yang sepertinya tidak begitu jauh dari tempatnya berada.

Berjalan selama beberapa saat, hembusan angin yang terhalang memberi petunjuk bagi Felicita mengenai kurang lebih seberapa besar bangunan khas Eropa ini. Mengapa Felicita bisa tahu? Tentu saja karena saat ini ia sedang meletakkan telapak tangannya pada dinding bangunan tersebut dan dalam sekejab peta struktur bangunan tersebut tergambar di pikirannya. Bahkan secara samar-samar ia bisa mengetahui letak tiap perabotan dan dua pasang kaki yang sedang kebingungan.

...huh?

Felicita mengernyit. Ia datang ke tempat ini untuk bertemu Tobari Hideya, tapi di antara dua makhluk yang sedang berada di dalam kastil tersebut, ia tidak bisa memastikan yang mana Tobari Hideya. Terlebih kastil ini merupakan bangunan yang cukup luas, akan sulit memastikan jika hanya menebak-nebak saja.

Dan Felicita baru sadar ia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Tobari Hideya maupun Ezabelle Rosetta yang katanya lawan Tobari Hideya kali ini, kecuali informasi bahwa Tobari Hideya adalah yang 'terkuat' di Heretic saat ini dan Ezabelle Rosetta adalah 'anak' Amelia sang tubuh palsu itu. Serta informasi bahwa keduanya adalah peserta Battle of Realms yang lolos setelah pembantaian oleh empat makhluk super kiriman Blackz dan ... Felicita tidak ingat siapa nama seorang lagi yang katanya pemimpin kubu Heroes.

Hanya itu. Hanya informasi sepele itu yang ia ketahui. Informasi itu bahkan tidak berguna sama sekali.

Felicita menyandarkan tubuhnya di dinding seraya merapatkan rompi coklatnya. Suasana yang dingin ini membuatnya jadi sulit berpikir.

Bagaimana caranya menentukan keberadaan Tobari Hideya secara pasti? Ia cukup bersyukur karena di tempat ini hanya ada beberapa orang saja -mungkin sudah diatur sedemikian rupa agar tidak ada yang mengganggu jalannya pertandingan- jadi ia bisa menemukan Tobari Hideya lebih cepat.

Tersadar akan sesuatu lantas membuat Felicita tersenyum tipis.

'Mengganggu jalannya pertandingan ...'

Seharusnya itu yang ia lakukan. Hanya itu perintah yang diberikan oleh laki-laki nyentrik bernama F4rend. Jadi untuk apa repot-repot memikirkan keberadaan Tobari Hideya? Siapapun yang ia temui pertama kali harusnya tidak masalah sama sekali.

Namun Tobari Hideya ... entah apa yang membuatnya begitu penasaran akan peserta yang satu itu. Ada sesuatu pada peserta itu yang membuat Felicita begitu tertarik hingga tanpa pikir panjang langsung memasuki portal cermin di mana Tobari Hideya berada saat rapat Kubu X masih berlangsung. Padahal ia bahkan tidak punya satu informasipun mengenai laki-laki itu ...

"...laki-laki?"

Felicita mendengus geli.

Kenapa ia bisa mengabaikan informasi sederhana itu? Informasi yang terlihat sangat sepele namun begitu penting, khususnya dalam kondisi seperti saat ini.

Tobari Hideya adalah laki-laki dan Ezabelle Rosetta adalah perempuan.

Informasi sederhana itu sudah cukup untuk menemukan keberadaan mereka secara pasti.

* * *

Sudah lebih dari lima belas menit berlalu hingga akhirnya Hideya berhasil menemukan dapur kastil ini. Setelah sebelumnya ia telah berkeliling cukup lama, membuat rasa lapar yang menderanya semakin menjadi.

Hideya memeriksa isi terbawah lemari makanan di hadapannya. Namun yang ia dapati hanya jaring laba-laba beserta seekor laba-laba yang sedang membungkus seekor kecoa bernasib sial.

Hideya berpindah ke lemari gantung dan mulai membukanya satu persatu. Namun hasilnya sama saja, tidak ada satupun makanan di dalamnya. Hideya menghela napas. Ia pun berbalik dan melangkah, tepat di saat panci dan wajan yang tadinya ada di hadapannya terkena oleh sesuatu hingga terjatuh dan menimbulkan kegaduhan yang cukup berisik.

Sayangnya Hideya tidak melihatnya dan sama sekali tidak menyadarinya.

Hideya mulai mengunyah-ngunyah(?) lidahnya sendiri sebagai ganti permen karet kesukaannya kemudian kembali menjelajahi tiap sudut dapur tersebut berharap bisa segera menemukan makanan.

Hideya berhasil menemukan beberapa kacang yang sepertinya sudah tidak layak makan, juga sebotol minyak zaitun. Ia juga menemukan beberapa peralatan makan yang biasa ada di dapur. Sayangnya tidak satupun dari barang-barang yang ia temukan itu bisa dimakan.

Hideya melihat jam tangannya, memastikan waktu yang sudah ia habiskan secara sia-sia. Sambil memegangi perutnya yang mulai nyeri, Hideya berjalan keluar dari dapur dengan langkah gontai.

Selama perjalan Hideya mencoba mengabaikan rasa laparnya dengan cara mengamati arsitektur bangunan ala Eropa ini. Mengamati tiap perabotan yang menghiasinya ... dan saat itulah ia menyadari ada yang tidak beres dengan pantulan bayangannya di vas bunga porselen yang ada di sisi pintu salah satu ruangan.

Ia mendapati bayangan orang lain selain dirinya pada permukaan mengkilap vas tersebut. Meskipun tidak begitu jelas, namun Hideya memastikan kalau orang asing tersebut pasti membuntutinya sejak tadi.

Hideya mencoba tetap melangkah dengan santai sambil memperhatikan gerak-gerik penguntitnya dari pantulan bayangan mereka pada benda-benda mengkilap di sekelilingnya.

Hideya merogoh sakunya hendak mengeluarkan sebuah kartu, namun diurungkannya niatnya itu. Ia harus membuat keadaan ini menguntungkan dirinya. Terlalu cepat menggunakan kartu Arcana bisa jadi keputusan yang ceroboh.

Hideya pun memutuskan untuk mengambil jalan memutar untuk kembali ke dapur. Untuk saat ini rencana yang ada di kepalanya hanyalah 'itu'.

***

Felicita menggertakkan gigi kuat-kuat. Ia kesal, benar-benar kesal. Tidak satupun jarumnya yang berhasil mengenai pemuda itu. Semuanya meleset. SEMUANYA. Entah karena Hideya diberkati oleh keberuntungan sejati atau karena rasa penasaran yang berlebihan membuat Felicita justru kurang fokus hingga membuat serangannya jadi tidak maksimal.

Yang manapun itu Felicita tidak peduli. Ia berlari menyusul Hideya dan berhenti tepat di belakang pemuda itu. Ia mencoba mengatur napas kemudian berkata dengan sungguh-sungguh,

"Tobari Hideya! Aku, Felicita Verrall, Menantangmu untuk bertarung!!"

...

Hening.

Hideya masih berjalan lurus dan sepertinya tidak mempedulikan perkataan Felicita. Felicita semakin geram dan mencoba mencengkram pundak pemuda tersebut agar tidak mengabaikannya.

Namun, sebelum Felicita menyentuh pemuda itu, Hideya langsung berlari. Sesaat Felicita terbengong, namun kemudian ia sadar kalau Hideya berusaha kabur. Dengan kesal ia pun berlari mengejar Hideya, dan adegan kejar-kejaran antara Felicita dan Hideya pun berlangsung. 

Hideya berlari sepanjang koridor, sesekali melirik bayangan si gadis berkacamata pada permukaan benda-benda mengkilap. Beberapa meter di depannya,ia mendapati ada persimpangan jalan. Dengan segera Hideya menambah kecepatan dan berbelok ke kiri yang tak lama kemudian disusul oleh Felicita.

Namun betapa terkejutnya Felicita saat Hideya tiba-tiba berhenti berlari dan berbalik seolah sengaja menunggu Felicita menghampirinya.

* * *

Belle tidak mengerti kenapa di tempat seperti ini banyak sekali benda-benda yang memantulkan bayangan.

Menguntungkan apanya? Tempat seperti ini justru membuatnya frustasi dengan banyaknya cermin yang tersebar di seluru penjuru kastil. Benda-benda mengerikan itu membuatnya tidak bisa tenang walau hanya sesaat. Seolah setan-setan cermin, Eldric, atau bahkan wanita penyihir itu, Amelia, bisa muncul kapan saja dan menyeretnya masuk ke dunia cermin yang mengerikan itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.

Belle menyentuh belenggu di lehernya seraya sesekali melirik pada bayangan-bayangan hitam yang muncul di permukaan perabotan-perabotan keramik yang ada di tiap sudut. Bayangan-bayangan hitam itu terlihat menyeringai, seolah senang melihat Belle ketakutan seperti saat ini.

Belle meneguk ludah, dikenakannya tudung jubahnya agar ia bisa fokus melihat ke depan. Ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat mengerikan ini, dan satu-satunya cara adalah dengan mengalahkan lawannya segera.

Belle terkejut saat mendengar suara berisik yang sepertinya berasal dari dapur. Belle bersembunyi di balik salah satu pilar dan mengamati dari jauh. Terlihat olehnya seorang pemuda keluar dari dapur itu dan berjalan lurus dengan tatapan kosong.

Itukah lawannya? Baru saja Belle hendak keluar dari persembunyiannya dan ingin menghampiri pemuda itu, sosok lain menyusul sang pemuda.

"...Apa? Lawanku ada dua??"

Belum reda rasa terkejut Belle, ia mendengar perempuan berkacamata hitam berteriak menantang yang sepertinya ditujukan pada sang pemuda.

Eh? Menantang? Bukankah mereka berdua seharusnya 'satu'? Apakah mereka berdua memang tim yang seperti itu? Saling berdebat, menantang bertarung satu sama lain tapi sebenarnya mereka adalah tim yang tangguh? Belle tidak boleh lengah. Ia pun mulai berkonsentrasi dan tanpa kedua orang itu sadari, Belle telah menumbuhkan tanaman di dekat mereka.

* * *

Felicita terkejut karena Hideya tiba-tiba berhenti melarikan diri dan justru berdiri berhadapan dengannya saat ini. Menyadari Hideya sedang merencanakan sesuatu, Felicita refleks melompat mundur untuk menjaga jarak.

Hideya merogoh sakunya, menggenggam sebuah benda dan segera melemparkannya ke wajah Felicita.

Benda berbentuk tabung itu terbuka di udara dan menghamburkan isinya yang berbentuk serbuk ke wajah Felicita. Felicita yang tidak mampu melihat benda yang melayang ke arahnya itu hanya bisa mematung.

"A-apa ini?!"

Tak lama setelah itu Felicita mulai merasakan perih di wajahnya dan mengalami bersin yang tak mau berhenti.

"Sial, ini bubuk cabe," gumam Felicita kesal.

Hideya memanfaatkan kesempatan itu dan berlari ke tempat sebelumnya melewati Felicita. Felicita mencoba menjangkau jubah(?) Hideya namun gagal. Hideya pun terus berlari menuju dapur.

Sesampainya di dapur ia segera menjalankan rencananya. Mengambil beberapa benda yang sempat ditemukannya tadi dan meletakkannya di atas taplak meja. Dibungkusnya benda-benda yang dirasa berguna tersebut. Tidak lupa ia menebar kacang tak layak makan tadi di lantai tepat di pintu masuk dapur tersebut.

Merasa bahwa si Kacamata akan muncul sebentar lagi, Hideya pun bersembunyi di kolong meja tak lupa membawa buntalan kain di tangannya.

* * *

"Percuma bersembunyi dariku, Tobari Hideya!" geram Felicita yang akhirnya tiba di depan dapur.

Amarah membuatnya tidak berkonsentrasi akan sekelilingnya dan tidak menyadari bahwa keputusannya untuk memasuki dapur adalah tindakan yang ceroboh.

Felicita menginjak kacang-kacang yang bertebaran di lantai yang sukses membuatnya jatuh terjengkang. Felicita mengerang kesal. Ia berusaha bangkit namun terjatuh lagi. Hideya memanfaatkan keadaan ini dan mulai merangkak di antara meja dapur.

Felicita yang menyadari pergerakan Hideya pun segera menghentakkan kaki kanannya ke lantai seraya memunculkan jarum besar yang tersembunyi pada hak sepatunya. Hal itu berhasil mencegahnya jatuh saat mencoba berdiri kembali. Felicita pun mulai berkonsentrasi dan berhasil mengetahui letak-letak kacang menyebalkan itu beserta posisi Hideya.

Felicita mulai melangkah tanpa takut terjatuh lagi. Hideya yang menyadari bahwa Felicita berhasil lolos dari jebakannya pun mulai panik. Ia mendongak, dan mendapati Felicita sudah berdiri di depannya dengan kekesalan yang menumpuk.

Namun di luar dugaan Hideya ternyata tetap terlihat tenang seolah sudah menduga hal ini sebelumnya. Di tangan kanan Hideya sudah tergenggam sebuah kartu Arcana. Digumamkannya nama kartu itu dan ...

* * *

Belle terkejut saat melihat sesuatu terhempas keluar dari dapur dan menabrak dinding di ujung dengan keras.

"UAGH!!!"

Ternyata itu adalah sang gadis yang tadi mengejar si laki-laki nyentrik. Belle mengalihkan pandangannya kembali ke dapur dan mendapati laki-laki nyentrik tadi kembali berlari dengan membawa buntalan kain di tangannya. Namun lari laki-laki itu tidak secepat tadi, wajahnya juga pucat. Sepertinya ia bukan tipe yang sering berolahraga.

Belle yang merasa sekarang adalah waktu yang tepat segera menarik sulur yang sukses membuat Hideya jatuh terjerembab. Hideya meringis dan menoleh pada benda yang menyebabkannya terjatuh. Belle segera berlari menghampiri Hideya. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk bertarung, hanya ingin berbicara sebentar dengan Hideya. Namun sepertinya Hideya salah paham dan mencoba merangkak kabur dari Belle yang semakin dekat.

"Tunggu! Aku hanya ingin bicara sebentar!"

Hideya menoleh dan menatap Belle dengan ragu, meskipun sebenarnya ekspresinya tetap datar, tidak berubah sama sekali.

"Apa kau Heretic?"

Hideya terdiam. Meskipun tidak bisa mendengar, tapi sepertinya ia paham dengan apa yang dikatakan Belle.

"Hei, apa kau ..."

"EZABELLE ROSETTA!!"

Belle tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati gadis berkacamata tadi bersusah payah bangkit. Ia masih belum bergerak dari posisinya, seolah sesuatu yang tak kasat mata menahannya untuk melangkah lebih jauh.

"Ezabelle Rosetta! Menjauhlah darinya, dia berbahaya!"

Belle mengernyit lalu menoleh pada Hideya. Dilihat dari sisi manapun, laki-laki tersebut tidak tampak berbahaya sama sekali. Justru laki-laki tersebut tampak lemah. Yang mencurigakan justru si wanita berkacamata yang mengejar-ngejar laki-laki ini sejak tadi.

"Percayalah padaku! Aku datang ke sini untuk membantumu mengalahkan dia, Tobari Hideya."

"Siapa kau ...?" tanya Belle curiga.

"A-aku dikirim ke mari oleh Amelia Burn! Kau pasti mengenalnya, kan? Dia yang memintaku ke mari untuk membantumu memenangkan pertarungan ini!"

Tadinya Felicita pikir rencananya membuat Belle percaya akan berhasil. Namun di luar dugaan Belle justru berteriak marah.

"Kau adalah utusan wanita mengerikan itu! K-kau ... Aku akan membunuhmu!!!"

Hideya yang hanya mengamati situasi sejak tadi segera paham. Sepertinya ini akan menguntungkan baginya. Buru-buru ia meraih buntalan kainnya yang sempat terlepas dari tangannya kemudian berdiri hendak kabur.

"Hei, tunggu! Jangan kabur Tobari Hideya!"

"Kau yang jangan kabur, utusan Amelia!"

Entah dari mana Belle mendapatkannya. Tapi kini di tangannya sudah tergenggam sebuah pisau dapur. Dan ... Felicita mengernyit. Tangan kiri Belle meneteskan darah banyak sekali. Sepertinya ia sengaja memutuskan tangannya sendiri. Felicita tidak mengerti, namun kemudian ia sadar ...

Belle memiliki kemampuan regenerasi sel yang tidak biasa. Intinya, Belle tidak bisa mati.

Felicita tersenyum kecut.

"Semua yang hidup pasti akan mati. Sayangnya aku tidak ada urusan denganmu, Nona."

Setelah mengucapkan itu, tiga jarum melesat melewati Belle dan menuju Hideya.

'Satu ... dua ... sial!'

Tiga jarum akupuntur yang ditujukan ke Hideya tak satupun berhasil mengenainya. Sementara itu Belle mulai melayangkan pisaunya dengan membabi buta ke arah Felicita.

Felicita tidak tahan lagi. Setelah menahan tangan Belle yang menggenggam pisau, dengan gerakan yang begitu cepat ia pun menancapkan beberapa jarum pada titik lumpuh gadis itu. Gerakan Belle pun terhenti. Ia hanya bisa menatap dengan penuh nafsu membunuh pada Felicita yang berlalu meninggalkannya dalam kondisi seperti itu.

Hideya memacu larinya menuju tangga, ia menoleh sembentar untuk memastikan jaraknya dengan si Kacamata. Si Keriting -Belle- tidak terlihat mengejar.

Hideya memilah-milah nama Arcana yang terlintas di kepalanya. Kartu apa yang akan ia gunakan? Ia tidak menyangka kalau pertarungan babak pertama ini adalah pertarungan tiga arah.

Tiba-tiba Hideya teringat akan 'tiang nyawa' yang dijelaskan oleh Blackz. Tiang nyawa si Kacamata ini juga seharusnya ada di kastil ini. Seharusnya.

Hideya mulai menapaki anak tangga satu persatu. Napasnya nyaris habis. Ia sudah terlalu banyak berlari hari ini. Sesampainya di anak tangga paling atas, Hideya berhenti kemudian berbalik. Merogoh sesuatu pada isi buntalan kain yang dibawanya sejak tadi, Hideya sesekali melihat kondisi sekelilingnya.

Felicita mengernyit karena merasakan pergerakan Hideya terhenti. Apa dia menyerah? Pikirnya.

Tiba-tiba Felicita menjadi awas karena mendengar desingan logam bergesekan dengan angin. Felicita menghindari tiap serangan yang mengarah padanya dengan refleks yang teramat bagus. Konsentrasinya semakin meningkat, sepertinya Hideya mulai sadar bahwa dirinya buta. Ia harus meningkatkan kewaspadaannya mulai sekarang.

Felicita mendadak limbung saat suara berdenging yang begitu nyaring menembus telinganya.

"Gyaaa! Suara apa ini?! Hentikan! Hentikaaan!"

Felicita jatuh terduduk sambil berusaha menutup telinganya. Sementara itu Hideya berdiri di atas sambil menatap Felicita dengan tatapan kosong. Di tangannya kini tergenggam dua garpu tala. Sepertinya ini cukup untuk menghentikan si Kacamata sementara.

Baru saja Hideya hendak berbalik, sebuah ikat pinggang merah-putih melesat ke arahnya. Hideya mencoba berkelit, namun seolah seperti ular ciptaan sang penyihir, ikat pinggang tersebut terus mengikutinya dan berusaha melilitnya.

'Sedikit lagi ...,' batin Felicita sambil menggertakkan gigi.

Tiba-tiba sebuah pengait melesat, melilit ikat pinggang Felicita secara horizontal dan mengarah tepat ke wajahnya. Felicita yang menyadari hal tersebut segera memiringkan kepalanya sedikit.

"Ugh ...!"

Meskipun tidak sepenuhnya berhasil menghindar, setidaknya pengait itu hanya berhasil menggores pipinya. Namun, belum sempat Felicita bergerak lebih jauh, gerakan pengait itu berubah arah, melesat kembali ke arahnya sambil tetap melilit ikat pinggang miliknya.

"Sial!" Umpat Felicita sambil meraih beberapa jarum sekaligus dari gelang kirinya dan melesatkannya secara lurus pada siapapun di ujung pengait tersebut.

Sosok hitam yang tak lain adalah Blackz sang pemimpin Heretic, memberi kode pada Hideya untuk mundur. Hideya yang tidak mau terlalu ambil pusing soal pertandingan ini hanya menurut saja kemudian memutuskan untuk bersantai sambil duduk bersandar di dinding.

Blackz mengalihkan pandangannya pada Felicita yang terlihat benar-benar kesal dengan situasi saat ini. Jarum-jarum yang telah dilemparkan oleh gadis akupuntur tersebut kini tergenggam dengan mantap di tangan kanan Blackz. Wajahnya yang hanya menampakkan warna hitam dihiasi seringai lebar entah kenapa terlihat menyebalkan. Sayang Felicita tidak bisa melihatnya, tapi ia tahu itulah yang dilakukan Blackz saat ini.

"Sepertinya kau senang sekali, Blackz ...," desis Felicita sambil tetap mempertahankan ikat pinggangnya yang masih saling melilit dengan pengait milik Blackz.

"Felicita Verrall ... bukankah seharusnya kau sudah ... 'pulang'?"

Felicita mendelik kesal, "Hentikan bualanmu itu, brengsek!"

Dengan sekali sentakan, ikat pinggang Felicita berhasil lepas dari jeratan pengait Blackz. Baik ikat pinggang Felicita maupun pengait Blackz melesat ke arah pemiliknya masing-masing.

Blackz tersenyum, "Bualan apa maksudmu, hm?

Felicita diam, ia terlihat begitu tenang. "Aku sudah tahu semuanya. Kau ..."

"Lantas kau mau apa? Menghancurkan turnamen ini?"

Blackz tertawa terbahak-bahak, jelas sekali kalau itu hanya dibuat-buat, membuat Felicita muak mendengarnya. Namun kemudian ia tersenyum.

"Bukan 'Aku', tapi 'Kami'," ujar Felicita tenang.

"Oh? Menarik ...," Blackz bertepuk tangan. "Kutunggu aksi kalian kalau begitu," ujarnya malas.

"Dari sikapmu sepertinya kau tidak terkejut sama sekali."

"Kau ingin aku terkejut? Oh, baiklah ... 'Wah, aku terkejut sekaliii. Ada sekelompok sampah yang ingin menentangkuuu!' ... itu terdengar menjijikkan, kau tahu? Tentu saja aku tidak terkejut. Justru ini hal yang mungkin sempat terpikirkan olehku." Lagi-lagi Blackz menyeringai.

" 'mungkin'? Heh ... secara tidak langsung kau mengakui bahwa kau juga cukup terkejut, iya kan?" Ejek Felicita.

Seringai Blackz lenyap.

"Baiklah, sudahi saja pembicaraan tidak penting itu. Yang ingin aku tanyakan adalah apa tujuan kalian? Tidak, lebih tepatnya ... tujuanmu, Felicita Verrall."

Felicita menyeringai, "Tujuanku? Kau pasti sudah tahu."

"Tidak, tidak sepenuhnya. Hanya menduga-duga."

"Kalau begitu berharaplah dugaanmu itu benar. ...atau kau ingin menghabisiku sekarang?"

Blackz tertawa.

"Tidak. Itu tidak akan seru. Aku akan menghabisi kalian pada akhirnya, itu pasti. Karena aku adalah Tuhan dan kalian hanyalah [salinan] gagal. Sama sekali tidak berguna. Sementara kalian menyia-nyiakan waktu dengan hal bodoh di dimensi ciptaanku ini, di luar sana diri kalian yang asli, dirimu yang ASLI, mungkin saja sudah mencapai tujuannya. Atau mungkin sudah hidup bahagia. Atau justru sudah mati, mungkin? Kalau aku mau, aku bisa menghapusmu sekarang."

"...Salinan?" felicita tertawa terbahak-bahak. "kau ini bicara apa?"

Blackz tersenyum mengasihani. "Kalian semua hanya salinan. Kubumu yg kau sebut Herotic itu, hanya sekumpulan salinan gagal. Pada akhirnya keberadaan kalian akan--"

"Tuan Blackz yang terhormat," ujar Felicita tenang. "Tak ada yg namanya salinan di sini." sambungnya lantas tersenyum.

"...Apa maksudmu?"

"Maksudmu kau telah mengopy diri kami yg asli, begitu? Jadi kau menganganggap kami HANYA salinan? Kau salah besar."

Blackz hanya diam mendengarkan penjelasan Felicita.

"Setelah mengcopy kami, sama saja artinya kau menciptakan eksistensi yang baru. Yang terlahir saat itu juga. Aku ya aku. Aku tidak kenal sama sekali dengan yg kau sebut aku yg asli. Siapa dia? Dia bukan aku. Dia berada di tempat yg berbeda denganku, melakukan hal yg pastinya beda denganku. Siapa dia? Aku tak peduli. INI adalah kehidupanku. INI adalah tempat di mana eksistensiku berlaku. Dan KAU ..." Felicita menatap Blackz dengan tajam. "Sama sekali bukan tuhan."

Meskipun tidak melihatnya namun Felicita tahu pasti bahwa Blackz sangat kesal saat ini.

"Manusia menentang Tuhan ... itu berbahaya sekali, Nona."

Felicita tersenyum.

"Kadang manusia jauh lebih menakutkan dibanding tuhan. Bukankah selama ini makhluk yang berani menentang tuhan hanyalah manusia?"

"Tapi pada akhirnya semua akan berakhir di tangan tuhan."

"Menurutmu kau adalah 'tuhan'?"

Pertanyaan sarkastik itu cukup untuk membungkam Blackz.

"Jangan konyol, Blackz. Kau bukan tuhan. Dia juga bukan. Kalian hanya manusia yang terlalu berambisi menjadi tuhan."

Tidak jauh di belakang Felicita berdiri seorang pemuda yang tengah menggendong Belle di punggungnya. Belle tidak sadarkan diri entah sejak kapan. Pemuda yang terlihat lebih mirip tukang kebun itu mencoba menyapa Felicita dengan hangat yang dibalas oleh senyum angkuh Felicita.

"Kalian berdua sama sekali tidak berhak melenyapkan kami. Kehidupan kami milik kami sendiri, bukan milik kalian yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan."

"Tapi bukankah mereka mau saja menuruti perkataan kami? Mereka mengikuti segala yang kami perintahkan. Mereka hanyalah alat untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas menjadi tuhan di antara kami."

"Jaga ucapanmu, Yami! Kau ..."

"Kami hanya pionmu, begitu?" Ujar Felicita memotong ucapan Tsuki. "Kau bukan Tuhan ... kau adalah Iblis ...," desis Felicita.

"Terserah apa katamu. Moon, segera persiapkan ulang arena ini. Aku tidak ingin ada pengganggu dalam turnamen kita."

"Kau memerintahku, eh? Kau pikir siapa dirimu, ha?"

Blackz menyeringai. "Aku tidak ingin melakukan pertarungan yang tidak perlu, Moon. Yang lebih penting saat ini adalah membuat pertarungan ini tetap berjalan dengan normal tanpa ada gangguan." Ujar Blackz seraya melirik Hideya yang entah sejak kapan sudah terlelap.

"Kau, sampaikan salamku pada teman-teman Heroticmu itu. Katakan pada mereka bahwa aku akan dengan senang hati menunggu aksi kalian."

Felicita hanya tersenyum kemudian mengambil sebuah cermin kecil dari balik rompinya. Tangan-tangan hitam bermunculan dari dalam cermin tersebut dan melilit tubuh Felicita yang dalam sekejab menariknya masuk ke dalam cermin.

"Apa yang akan kita lakukan pada mereka berdua, Yami?" Tanya Tsuki seraya melirik Belle dan Hideya.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, sebaiknya kita ulangi pertandingan ini. Dan lenyapkan ingatan mereka soal gadis akupuntur tadi. Cukup kita saja yang berurusan dengan para sampah itu."

* * *

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
2550

hwehee maap br mampir >w< #telat #ditendangkejurang
.
sy suka endingnya wkwk pertandingan ulang XD
.
Hideya nya lucu bgt ngumpet2 di bawah kolong >w<