[Ronde 4] Albiero Keith - Director's Cut

Sebuah pesawat ruang angkasa berukuran besar melayang dengan kecepatan stabil di ruang angkasa yang hampa. Perlahan, pesawat tersebut mulai bergerak mendekati satelit milik Bumi yang gersang bernama Bulan. Bagi sebuah pesawat seukuran battleship yang amat besar, sudah seharusnya keberadaan pesawat tersebut dapat terdeteksi oleh radar luar angkasa milik Bumi hanya dalam waktu singkat, namun kenyataannya pesawat tersebut dapat dengan mudah berenang di luar angkasa tanpa terdeteksi oleh radar paling canggih milik Uni Soviet sekalipun, karena saat ini pesawat tersebut sedang melayang dalam mirage mode, sebuah teknologi yang membuat pesawat ukuran mothership sekalipun dapat melayang bebas tanpa terdeteksi oleh apapun.

Pesawat tersebut tidak serta merta mendarat secara acak di bulan yang hanya berisi pasir putih dan kawah-kawah raksasa, pesawat tersebut bergerak perlahan menuju sebuah kawah yang cukup besar, yang di tengahnya tersapat sebuah bangunan kecil berbentuk seperti observatorium yang bertuliskan “Rabbit Hatch” Di dinding luarnya.

“Waw, ternyata tempat ini lebih bagus dari kelihatannya!” Ferrum, sang pria pengendali logam menyahut penuh semangat saat memasuki markas baru Hero yang disebut Rabbit Hatch.

“Tentu saja, kau kira siapa yang membuat tempat ini?” Di belakangnya, Clive sang gadis bertopi berkacak pinggang dengan bangga seraya berjalan memasuki ruangan.

“Sempit.”

“Gak ada mesin penjual minuman ya?”

“To-toiletnya dimana??”

“Canggih sekali, apa tempat ini buatan Nasa??”

Satu persatu para anggota kubu hero pun ikut masuk ke dalam markas baru mereka, dan selain Hillya yang kebingungan mencari toilert, seluruh anggota langsung duduk di sebuah bangku panjang melingkar dengan sebuah meja bundar putih besar di tengah ruangan.

“Jadi langsung saja, untuk apa kita ke tempat ini?” Tanya Ferrum tanpa basa-basi.

“Alasannya adalah…”

“Tunggu, sebelumnya aku punya pertanyaan!” Keith yang sejak tadi kehausan karena minuman kalengnya habis tiba-tiba mengangkat tangan.

“Ada apa?”

“Aku tidak begitu peduli kenapa kita ada di sini, masalahnya kenapa kita berpakaian seperti ini?”

Serentak para Hero melihat penampilannya masing-masing.

Awalnya mereka hanya diam sambil melihat pakaian yang dikenakan masing-masing, dan setelah beberapa saat akhirnya mereka sadar dengan penampilan baru mereka saat ini.

“HEEEEEEEEE???”

 

***

 

Seorang gadis muda, bermabur merah sebahu dan menyandang sebuah tas punggung tipis mengayuh pedal sepedanya sekuat tenaga. Nafasnya memburu. Sesekali gadis itu melirik ke belakang dengan tatapan cemas, seolah takut akan sesuatu yang mengejarnya.

“Kenapa ini harus terjadi padaku??”

Sambil terus bertanya gadis itu mengayuh sepedanya dan berbelok cepat memasuki sebuah jalan kecil yang diapit oleh rumah-rumah bergaya eropa yang berjajar rapih.

Sebuah bayangan besar mendadak jatuh tepat di atasnya, gadis itu mengadahkan kepala, dan melihat sesuatu seperti hewan berukuran besar yang memegang palu melayang jatuh dari atas.

“Hwaaah!!” Gadis itu menekan tombol booster yang ada di bagian tengah gagang sepedanya, seketika itu pula sebuah roket pendorong kecil muncul di bagian belakang sepeda gadis itu, mendorongnya ke depan tepat sebelum bayangan hitam besar tersebut jatuh menghantam tanah.

Sang bayangan hitam besar menggeram kesal karena mangsanya berhasil kabur, namun yang predator tidak serta merta membiarkan buruannya lari, dan segera mengejarnya sekuat tenaga.

“Kenapa….kenapa mereka terus mengejarku?!”

Sang gadis muda berteriak kesal, dan dengan sekuat tenaga dia memacu sepeda bertenaga roketnya memasuki sebuah gudang tua yang gelap. Begitu masuk, gadis berambut merah sebahu itu segera membuang sepedanya dan berlari menuju ruang bawah.

BRAAAKK!!

Tepat saat gadis itu hendak menuruni tangga, atap gudang tua tersebut tiba-tiba hancur saat sebuah sosok hitam besar mendobrak masuk dari atas.

“Jangan harap bisa lari dariku, manusia kecil!!”

Sang sosok berbulu lebat berteriak lantang. Mendengar suara yang begitu mengerikan, sang gadis secara refleks langsung berlari menuruni tangga secepat mungkin, yang sama saja dengan memberitahu keberadaannya pada sang pemburu.

“Di sana rupanya.”

Sosok besar yang bernama Altem tersebut segera melompat menuju tangga yang menghubungkan gudang mesin dengan ruang bawah tanah, dan menghancurkannya.

“Hwaaaaah…!!”

Sang gadis muda terlempar jauh akibat efek dari hpendaratan Altem yang kurang sempurna. Alhasil, sang gadis pun jatuh berguling hingga menabrak dinding keras keras.

“Si-siapa kau? Kenapa kau mengejarku??”

“Kau tidak perlu tahu siapa diriku karena sebentar kau akan segera mati!” Jawab Altem kejam.

Sang gorilla besar menciptakan sepasang gada besar dengan kekuatannya, dan langsung berlari menerjang sang gadis muda seraya mengayunkan kedua gadanya sekuat tenaga.

“RAMblade slash!!”

Tiba-tiba, entah darimana datangnya, sesosok manusia mungil muncul dari samping dengan sepasang pedang yang sudah terayun menuju kepala Altem. Sontak Altem segera memutar tubuhnya ke samping seperti bor untuk menghindari serangan tersebut.

“Lamban!” Seru Altem meremehkan.

“Heh!” Yang dibalas oleh hillya dengan sebuah seringai kecil.

“Terima ini!” Dari arah yang berlawanan dengan kedatangan Hillya, sebuah suara terdengar lantang. Detik berikutnya sebilah tombak besi melesat cepat menembus pinggang kanan Altem dan menancap dalam.

“AAAARRGGGHH!!”

Sang predator meraung keras sebelum akhirnya jatuh berdebam ke tanah dengan keras. Hillya melompat menuju si gadis berambut merah yang kelihatannya masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

“Siapa…kalian?”

“Pertanyaannya nanti saja, yang penting sekarang adalah mengeluarkanmu dari sini.”

“Tapi kemana??”

“Hillya, jangan buang-buang waktu lagi!” Dari kejauhan Ferrum memberi perintah. Ternyata si pria pengendali besi itulah yang barusan melempar tombak hingga melukai Altem.

“Baik!” Tanpa menunggu lagi Hillya langsung menarik tangan gadis yang seumuran di belakangnya itu dan berlari menuju Ferrum.

“HAHAHAHAHAHAHA!!”

Keduanya sontak berhenti saat Altem tiba-tiba tertawa keras. Sang predator besar perlahan bangkit dan mencabut tombak besi yang menancap di pinggangnya dengan satu tarikan keras.

“Kalau kalian pikir bisa lari semudah itu, berarti penulis cerita ini sudah gila!” Sahutnya lantang.

“Berisik!! Makan tombak-tombak ini!!” Ferrum kembali melempar beberapa bilah tombak besi kea rah Altem.

“Percuma!”

Tepat setelah ucapan Altem barusan, puluhan bola api kecil melesat dari arah samping dan menghantam tombak-tombak besi Ferrum hingga terbakar dan meleleh sebelum berhasil menyentuh targetnya.

“Siapa??”

“Akulah lawanmu!” Seorang pria berpakaian seperti penyihir jaman eropa kuno berjalan santai dari dalam kegelapan.

“Kau lagi!! Mau apa kau datang ke tempat ini?!”

“Mau apa? Jawabannya sudah jelas bukan, aku datang untuk membunuh gadis itu!” Jawab Edward seraya menunjuk gadis berambut merah yang bersembunyi di belakang Hillya.

“Kenapa kalian semua mengincarku?? Aku salah apaaaa??” Protes gadis itu kesal.

“Yah kami juga tidak begitu mengerti sih, yang jelas kami para heretic diperintahkan untuk membunuh gadis bernama Hozuki Ferrari untuk bisa memenangkan pertarungan di ronde ini,” Jelas Edward dengan nada tidak peduli.

“Lalu kalian pikir kami akan membiarkan kalian membunuhnya begitu saja?”

“Yah kami sudah menduga sih kalau akan seperti ini, jadi kami membawa bala bantuan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.”

“Bala bantuan?”

Untuk kedua kalinya, sebuah serangan dadakan berelemen api kembali muncul dari salah satu sudut gudang, seekor burung api terbang melesat dengan cepat mengincar Hillya dan gadis bernama Hozuki tersebut. Keduanya tidak sempat menghindar dalam keadaan mereka saat ini.

“Absolute breaker!!”

Seorang pria suram mendadak muncul dan langsung menahan serangan burung api tersebut dengan mengayunkan tangan kanannya, memukul burung api tersebut hingga hancur seperti pecahan kaca.

“Untunglah aku datang tepat waktu,” Ucap Keith sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

“Keith!!” Sahut hillya yang terkejut karena kedatangan Keith yang tiba-tiba.

“Maaf kami terlambat!”

Dari arah reruntuhan tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan ruang bawah tanah, seorang pemuda berjaket merah putih dan seorang wanita berambut ikal berlari tergesa-gesa menuju Ferrum.

“Kalian para heretic keparat beraninya mengeroyok seorang gadis lemah!!” Seru Mahesa.

“Benar, apa kalian tidak punya kemaluan, eh, maksudku tidak tahu malu?!” Tambah Belle.

“Emangnya gue pikirin?!” Balas Haruo dengan nada cuek.

“Bener, lagian ngapain kalian sok keren begitu, padahal datangnyas aja telat!” Edward ikut memaki.

“Dasar manusia munafik,” Lanjut Altem meramaikan suasana.

“Waduh, ngajak berantem rupanya mereka!” Merasa tersinggung, Ferrum langsung membuat sebilah tombak lain dan maju dengan tampang menantang.

“Aku tidak terima dihina oleh penjahat seperti kalian,” Mahesa ikut maju dengan busur di tangannya.

“Akan kucincang kalian sampai habis!” Sahut Belle yang juga kesal.

“Apa luw?”

“Pecundang luw!”

“Miskin luw!”

“Wibu luw!”

“Me-mereka kenapa?” Tanya Hozuki yang bingung melihat tingkah para hero dan heretic yang seperti bocah alay.

“Aku juga tidak tahu, yang jelas ini kesempatan kita untuk keluar dari sini!” Hillya berbisik pada Hozuki.

Walau masih sedikit ragu, namun Hozuki akhirnya mengangguk setuju dan mulai berjalan pelan menjauhi kumpulan orang galau yang hendak tawuran tersebut.

Keduanya semakin mempercepat langkahnya karena ruang bawah tanah saat ini sudah berubah menjadi arena tawuran antara hero lawan heretic. Saat keduanya melihat tangga yang menuju lantai dasar tidak jauh di depan, wajah kedua gadis kecil tersebut berubah cerah, dan saat mereka hampir tiba di depan tangga, tiba-tiba Hillya melompat ke samping seraya menarik Hozuki.

BAANG!!

Sebutir peluru kaliber besar menghantam salah satu anak tangga hingga berlubang. Andai saja Hillya terlambat menyadari serangan barusan, pasti keduanya kini sudah tewas dengan tubuh berlubang.

“Luar biasa, tak kusangka kau bisa mengelak dari tembakanku.”

Seorang wanita berjaket putih muncul dari arah sumber tembakan barusan. Wanita itu menatap Hillya dan Hozuki seraya tersenyum, seolah lega melihat keduanya masih hidup.

“Andai kau tidak sengaja meleset aku pasti sudah mati,” Balas Hillya dengan wajah menantang.

“Oh, kau menyadari hal itu rupanya, aku jadi semakin kagum padamu.”

Hillya perlahan bangkit, gadis itu tahu kalau lawannya saat ini terlalu kuat untuk dirinya, ditambah lagi RAMblade miliknya tidak mungkin bisa menandingi kecepatan peluru yang ditembakan oleh wanita yang berdiri di hadapannya saat ini.

“Kalau kau menyerahkan gadis itu baik-baik, maka aku akan membiarkanmu pergi,” Tawar wanita bersenjata api tersebut.

Hillya tidak menjawab, dan malah membalas tawaran tersebut dengan mengacungkan RAMblade andalannya pada lawannya tersebut.

“Jadi kalau masih mau melawan? Apa boleh buat, sebenarnya aku tidak suka menyakiti gadis kecil.”

Wanita berpakaian serba putih itu mengangkat senjata, di saat yang sama Hillya langsung maju menerjang wanita tersebut.

Tiga pulur melesat dalam waktu yang hampir bersamaan, Hillya menggunakan permukaan RAMblade yang tebal untuk menahan peluru tersebut, peluru pertama dan kedua berhasil ditahannya dengan sempurna, namun peluru ketiga berhasil menyerempet  lengan kirinya.

“Uuukh!!”

Tanpa memperdulikan luka di lengan kirinya, Hillya kembali maju.

“Dimension Scabbard!!”

“Apa?”

Sebuah bola cahaya kecil muncul di antara Hillya dan lawannya, bola tersebut semakin besar, dan saat ukurannya mencapai ukuran tubuh Hillya, gadis berpedang tersebut langsung melompat menuju bola cahaya tersebut dan lenyap seketika.

Sang wanita berjaket putih kebingungan, kedua matanya mencari-cari keberadaan gadis kecil yang menjadi lawannya tersebut, dan menemukannya sudah berada tepat di belakangnya.

“Sial!” Umpat wanita itu.

“HAAAAAA!!” Hillya mengayunkan kedua pedangnya tepat kea rah kepala lawannya tersebut, memang pedang tumpul seperti itu tidak akan mampu untuk membunuh lawannya, tapi setidaknya bisa membuatnya pingsang saja sudah lebih dari cukup.

“Sayang sekali..”  Tiba-tiba wanita itu menyeringai lebar.

“Hah??”

 

BZZZZTT—

 

Hillya sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhnya terhenti di udara, dan yang lebih anehnya lagi, entah kenapa seluruh pandangan di sekitarnya berubah seperti layar televise yang rusak karena kehilangan sinyal.

Dan begitu gadis itu mengedipkan mata, dia sudah berada di hadapan wanita berjaket putih tersebut, dalam posisi melayang setelah melompat untuk menggunakan dimension scabbard.

“Apa yang…”

Belum sempat Hillya menyelesaikan ucapannya, wanita yang berdiri dihapdannya tersebut sudah lebih dulu menarik pelatuknya senapannya. Sebutir peluru melesat menembus perut Hillya, mendorongnya kasar hingga jetuh berdebam ke lantai dalam posisi terlentang.

“AAAAGGGHHH…”

Darah mengalir deras dari perut dan mulut Hillya, gadis itu mengerang kesakitan seraya memgangi perutnya yang berlubang.

“Be-bertahanlah..!!” Melihat keadaan Hillya yang sangat mengenaskan, Hozuki langsung berlari mengahampirinya dan langsung membantu gadis itu.

“La…lari…!!” Hillya berteriak dengan seluruh sisa tenaganya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Kedua mata Hozuki terbelalak lebar, ini pertama kalinya dia melihat seseorang mati dihadapannya, dia tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya mulai kacau dan kesadarannya pun perlahan mulai pudar.

“Sebenarnya aku tidak ingin membunuhnya, tapi apa boleh buat,” Gumam wanita bernama Rexanne tersebut seraya menghela nafas lelah. “Untung saja kau datang tepat waktu, Hideya.”

Suara langkah kaki perlahan terdengar mendekat, seorang pria, berjaket hijau dan mengenakan google yang menutupi sebagian wajahnya berjalan santai mengahmpiri Rexanne seraya mengunyah permen karet di mulutnya.

Pria itu hanya diam tanpa berucap sepatah katapun. Kedua matanya melirik Hozuki yang masih memeluk tubuh Hillya yang tak bernyawa, namun sama sekali tidak terlihat sama iba atau simpati dari kedua mata sayu pria itu.

“Sekarang mari kita akhiri saja ronde ini,” Rexanne menodongkan pistolnya ke kepala Hozuki.

“Jangan dendam ya,” Rexanne bersiap menarik pelatuk.

 

“HOOOZUUUKIIIII….!!!”

Baik Hozuki maupun Rexanne langsung terkejut saat mendengar teriakan lantang tersebut, dan saat keduanya menoleh ke arah sumber suara, seorang pria berjaket ungu terlihat melompat menerjang kea rah mereka dengantangan kiri yang terayun cepat.

BUUAAAK…!!

Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Rexanne, membuatnya terlempar ke belakang beberapa meter sebelum sempat menarik pelatuk pistolnya.

Keith mendarat di antara Hozuki dan Hideya. Hideya yang melihat kedatangan Keith langsung mengambil posisi siaga, sedangkan Keith hanya menatap Hideya dengan wajah yang amat geram.

“Beraninya kau….kau sudah membunuh satu-satunya loli di kubu hero!!” Bentak Keith geram.

Di pihak lain, Hideya sama sekali tidak mendengar ucapan Keith karena dirinya tuli.

“Akan kuhabisi kau!!” Keith melompat menerjang Hideya dan mendorongnya ke belakang dengan sekuat tenaga.

Keduanya jatuh berguling bersamaan, dan saat keduanya bangkit, mereka semua, termasuk para hero dan heretic yang sejak tadi masih sibuk tawuran tiba-tiba menemukan diri mereka berada di sebuah lembah gersang yang biasanya dipakai untuk pengambilan gambar acara televisi anak yang memunculkan pahlawan bertopeng warna-warni.

“Ke-kenapa kita ada di sini??” Haruo yang pertama kali sadar dengan perubahan aneh yang terjadi.

Lalu kemudian satu-persatu para petarung mulai  menyadari hal yang sama dan mulai bertanya-tanya.

“Apa yang terjadi??”

“Apa ada yang melakukan teleport?!”

“Bukan, ini bukan teleport!!” Sahut Ferrum memotong kekacauan.

“Kalau bukan teleport lalu apa??”

“Tidak salah lagi, ini adalah…TOKUSATSU LOGIC!!”

“toku…apa itu?”

“Ini adalah kejadian yang umum terjadi di serial tokusatsu dimana saat jagoan utamanya mendorong monster lawannya, keduanya langsung berpindah tempat ke area yang lebih luas untuk memudahkan pertarungan!!”

“Mu-mustahil…”

Setelah mendengar penjelasan singkat namun padat dari Ferrum, akhirnya para petarung mulai mengerti keadaan mereka, dan segera memisahkan diri menuju kubu masing-masing.

“Kalau begitu sekarang apa yang akan kita lakukan?!” Tanya Mahesa.

“Tentu saja kita bertarung!!” Jawab Keith.

“Kita akan balaskan dendam Hillya!! Ayo semuanya, ambil belt kalian!!”

Entah darimana asalnya, tiba-tiba seluruh petarung, baik hero maupun heretic mengambil benda berbentuk belt yang bermacam-macam jenisnya.

“Henshin!!”

Kubu hero mendapat giliran untuk berubah lebih dulu, Keith, Mahesa, Ferrum dan Belle mengaktifkan belt mereka secara serempak, dan dalam sekejap, mereka berempat langsung berubah menjadi jagoan bertopeng yang biasanya muncul di acara televisi setiap hari minggu pagi.

 

“Hen…shin..”

Kini giliran kubu heretic yang berubah, kelima orang heretic pun langsung berubah serempak menjadi ksatria bertopeng seperti para hero.

“Ayo semuanya, kita habisi para heretic!!” Keith yang menjadi pemimpin kubu Hero langsung memerintahkan pasukannya untuk maju menyerbu para heretic.

“Jangan sisakan satupun!!” kubu heretic pun ikut maju, dan dalam sekejap, lembah gersang itupun langsung berubah mejadi medan perang.

Teriakan dan raungan terdengar memenuhi langit hari itu, tidak ada satupun dari kedua belah pihak yang berniat untuk kalah, mereka semua bertarung habis-habisan, karena pada akhirnya hanya ada satu yang akan mejadi pemenang, yaitu yang berhasil bertahan paling akhir.

“Terima ini, Hellios Blaster!!” Mahesa yang berubah menjadi Bima ksatria Garuda melesatkan sebuah anak panah berkekuatan super yang langsung meledak dan mementalkan dua orang heretic bersamaan.

“Sialan, terima ini, flame style!!” Edward yang berubah menjadi kamen rider wizard menembaki para hero dengan senapan berelemen api andalannya, dua orang hero terpental jatuh.

“UWAAAAAARGGHHH!!!”

“Ap-apa itu??”

Api berkobar begitu panas mengelilingi haruo yang berubah menjadi kamen rider Burning agito, dan dengan kekuatan apo yang luar biasa tersebut, dirinya berhasil memukul mundur satu orang hero yang berada di dekatnya.

Kini hanya tinggal Keith yang tersisa. Keith yang berubah menjadi kamen rider Black RX benar-benar tersudut, lima lawan satu, sungguh tidak seimbang!!

“Sialan, kenapa cuma aku sendiri yang jadi rider showa??”

“Menyerah saja, kau tidak akan bisa menang melawan kami!” Sahut Altem yang berubah menjadi kamen rider Beast.

“jangan pernah meremehkan rider jaman Showa!!” Sambil berteriak lantang, Keith mengangkat tangan kanannya tinggi ke atas, dan dalam sekejap seluruh kostumnya berubah menjadi biru.

“RX Bio form!! Liquid mode!!”

Keith melompat maju dan seketika itu pula tubuhnya berubah menjadi semacam cairan dan menyerang kelima heretic seperti cambuk ynag terbuat dari air. Satu persatu para heretic mulai tumbang oleh kekuatan dari RX Bio, hingga hanya tinggal Hideya yang tersisa.

“Habislah!!”

Tepat sebelum Keith berhasil menyentuh Hideya, Hideya yang berubah menjadi kamen rider Decade langsung menggunakan salah satu kartu andalannya, [The tower] dan menendang Keith yang masih dalam wujud air.

“Uwaaaghh!!”

Diluar dugaan, Tendangan tersebut berhasil membuat Keith kembali ke wujud fisik. Sang ksatria baja hitam perlahan bangkit dengan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk kembali menyerang Hideya.

“ONORE DIKEIDOOOOOOOOOOO….!!!!”

Keith melompat dan melakukan drop kick legendaries milik kamen rider Black RX, tendangan maut!! Yang langsung mengarah pada Hideya.

Di pihak lain, Hideya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, sang ksatria pengguna kartu tersebut kembali menarik salah satu kartunya, [The Justice] dan langsung mengayunkan sebuah pukulan keras untuk menghalau tendangan Keith.

“HEEEAAAAAAAAAAAHHHH….!!!”

Tendangan dan pukulan bertemu, menciptkana sebuah gelombang serangan yang amat kuat, bahkan terlalu kat hingga membuat keduanya terhempas mundur dan jatuh.

 

***

 

Hozuki yang sejak tadi menyaksikan peperangan tersebut dari jauh perlahan berjalan mendekati medan perang yang menjadi tempat pertarungan para rider. Wajahnya yang pucat semakin pilu, karena yang ada dalam pandangannya saat ini adalah tubuh-tubuh yang tergeletak tak berdaya di atas tanah. Mereka adalah korban peperangan yang sia-sia, korban dari konspirasi antara kedua orang yang ingin menggunakan kekuatan mereka hanya demi tujuan pribadi masing-masing.

“Kenapa…kenapa jadi begini…?”

Hozuki hanya bisa merapati pemandangan nista tersebut tanpa bisa berbuat apapun. Dan saat kedua matanya hampir menumpahkan air mata, sesosok tubuh perlahan bangkit, dan diikuti oleh sosok yang lain.

Sosok itu adalah Keith yang sudah berubah kembali menjadi manusia biasa, dan sosok satunya adalah Hideya.

“Hentikan, jangan bertarung lagi!!” Sahut Hozuki berusaha menghentikan keduanya.

“Ini tidak akan berkahir sebelum salah satu diantara kami mati!” Jawab Keith.

“Kenapa?? Kenapa kalian harus membuang-buang nyawa seperti ini??”

Keith tersenyum kecil. “Kami semua bertarung demi alasan kami masing-masing, tapi khusu untukku, aku bertarung demi melindungimu,” Jelasnya singkat.

Mendengar jawaban tersebut, akhirnya air mata Hozuki meleleh membasahi pipinya.

“Aku…tidak pernah memintamu melindungiku, aku bahkan tidak tahu apapun tentang semua kejadian ini, kalian tiba-tiba muncul dan bertarung satu sama lain, aku juga tidak tahu siapa kalian, kenapa kalian harus mati-amtian melindungiku??”

“Itu karena kau adalah teman kami!” Sahut Keith seraya memukul dan lalu menunjuk Hozuki.

“Teman..?”

“Benar, kau adalah teman kami, dan itu sudah cukup menjadi alasa untuk kami melindungimu!”

Hozuki kehilangan kata-kata. Hanya karena alasan seperti itu, orang-orang itu rela bertarung demi dirinya? Siapa sebenarnya orang-orang itu?

“Sekarang ayo kita selesaikan semua ini!”

Keith meraih belt baru entah dari mana dan memasangnya di pinggang. Sang pria suram lalu memasang sebuah benda semacam switch pada belt tersebut dan mengaktifkannya.

“Henshin!”

Dalam sekejap mata seluruh tubuh Keith terselubungi oleh energy kosmik yang luar biasa, dan detik berikutnya dia sudah berubah menjadi kamen rider Fourze Cosmic state!

Hideya terlihat tidak peduli dengan wujud baru Keith dan kembali berubah menjadi kamen rider Decade.

Hideya langsung berlari menerjang seraya mengaktifkan kartu [The World] andalannya dan langsung berubah menjadi Decade Complete form!

“Terimalah kekuatan pedang kosmik ini!!” Keith memusatkan seluruh kekuatannya pada pedang kosmik andalannya, lalu maju dan menerjang Hideya dengan sekuat tenaga.

Keduanya saling menerjang satu sama lain dan bertubrukan, namun Keith lebih unggul karena bantuan roket pendorong di punggungnya, dan dengan mudah Hideya pun didorong mundur hingga memasuki cosmic gate.

Saat keduanya berhasil melewati gerbang kosmik, keduanya langsung berada di luar angkasa. Hideya kebingungan setengah mati, bagaimana mungkin dia bisa ada di tempat itu??

“Kesuraman ini, akan mencapai alam semesta!!”

Keith kembali memusatkan tenaga, pedang kosmik di tangannya bersinar terang dan siap untuk menghabisi semua lawannya. Dan dengan satu tebasan lebar, tubuh Hideya pun terpotong dan hancur berkeping-keping bagai asteroid yang bertabrakan di luar angkasa.

 

Tamat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

diriku biasanya kalauw nonton kamen rider, , berasa asik gituh pas scene henshin~
tp di sini soul henshinnya belum berasa sama sekali~
parodynya kamen ridernya nice tapi~
#ampooooniii
```
segera #sungkem sama master~
~~~
titip +3

80

Wkwkwkwk, duh kadang ngakak tapi kadang juga bingung.
.
+3

90

+2,5 karena ... saya ga berhasil nemu masalah pelik dari si civilian.
.
dan kedua ... saya gagal paham. Siapa itu Hozuki Ferrari?

90

pfftt---
aduh, al....
#ngakak
.
+4 deh

sbnrnya aku pengen jg bilang komen yg sama kyk Mas Sam, tapi sulit soalnya ini battle sama komedi dominannya, jd +3 dulu

80

Salut deh. Kamu beneran master parodi, bisa aja dapet ilham dan selesai nulis ginian dalam waktu singkat...make Galilei Donna, rasanya langsung 'wah, bener juga' pas liat Hozuki Ferrari. Rasanya ini bakat spesialisasi sendiri (y)
.
Dan semua jadi Kamen Rider.. LOL Hideya make [The World] buat jadi Decade complete from (approved!), rasanya pas. Saya kagum karena biar mepet, saya dapet impactnya, ga kerasa tulisan half-assed.
.
+4