Chris - Proses Pembalasan Dendam

: untuk tab Stories Kemudian.com :)

Proses Pembalasan Dendam

oleh Chris



***


Tanpa diminta, Lukas menunjukkan bekas luka di bagian atas kepalanya pada Jahtra, begitu Pak Kebun meninggalkan mereka sendirian di tapian hulu. Jahtra tahu luka itu. Lukas sedang ingin membawa mereka ke masa-masa saat masih di sekolah dasar. Lukas berkata:

“Besok aku kembali ke Cikarang.” Di atas mereka bulan bersinar cukup terang menyinari permukaan air yang mengalir pelan. “Sebelumnya, aku butuh bantuanmu,” katanya melanjutkan.

“Sebenarnya kau tinggal di Jakarta atau Cikarang? Dan omong-omong, bantuan apa?” tanya Jahtra.

“Cikarang itu dekat Bekasi. Bekasi itu dekat dengan Jakarta. Orang-orang kampung kita tak mengenal Cikarang seperti mereka mengenal ibukota. Selama ini aku mengatakan tinggal di sana hanya untuk memudahkan penjelasan,” jelas Lukas sambil menggosok-gosok sela-sela jari kakinya menggunakan tangan. Beberapa detik ia sibuk dengan kegiatannya itu. “Aku mau membalas dendam pada Pak Abdul,” katanya agak berbisik.

Kening Jahtra berkerut. Pak Abdul? “Pak Guru?” tanyanya memastikan.

Lukas mengangguk.

“Kau gila.”

Lukas menggeleng.

Penduduk desa—meski beberapa sudah punya kamar mandi di rumah masing-masing—masih banyak yang mau mandi di sungai. Sungai itu hampir mengelilingi desa dalam lingkaran utuh. Sejak pukul enam Lukas sudah di sana, tapian hulu, bagian sungai tempat mandi khusus laki-laki. Tapian hilir untuk perempuan dan anak-anak. Sambil duduk di atas batu yang cukup besar, Lukas telanjang bulat.

Duduk di atas batu persis di seberang Lukas, Jahtra menghembuskan pelan-pelan asap rokoknya ke udara. Keduanya dipisahkan aliran sungai, bagian yang sedalam pinggang orang dewasa—tempat mereka akan merendam tubuhnya dan mandi. Di belakangnya menjulang pohon rumbia. Pucuk-pucuk semak belukar seperti bayangan hitam tumbuh subur di bawahnya. Jahtra terdiam, membiarkan telinganya menikmati nyanyian jangkrik di batang-batang pohon.

“Pak Abdul itu guru kita,” kata Jahtra sedikit memahami. “Kita memang sangat bandel dan susah diajari sewaktu kecil.”

“Bekas luka di kepalaku berdenyut setiap kali mengingatnya. Dendam harus kubalas, Jah. Tidak bisa tidak, aku harus buat perhitungan!” Lukas menanggapi.

“Dia yang mendidik kita, Kas. Kau dan aku bisa seperti sekarang ini karena dia. Dia gu—”

“—mantan guru kita. Aku tak peduli, aku tetap akan membuat perhitungan. Lagipula kau dan aku jadi seperti apa sekarang? Aku perantauan—pelarian. Lima belas tahun tinggal di kampung orang. Jadi kuli. Sedangkan kau? Seumur hidupmu akan kauhabiskan di kampung ini, menyembah-nyembah pohon rambung. Menderes! Atau menangkap ikan ke sungai pada malam hari. Menantang penyakit. Memangnya kita jadi apa sekarang?”

Jahtra hanya mendesah, menghisap dalam-dalam rokok kreteknya sementara Lukas masih membersihkan kaki. Selama beberapa menit keduanya memilih bisu. Lalu Lukas menceburkan diri ke bagian sungai yang agak dalam. Saat ia menyabuni tubuhnya, Jahtra bertanya: “Lantas kau mau membuat perhitungan macam apa?”

“…membuatnya babak belur.”

Jahtra kembali terdiam.

“Aku akan menghajarnya, tidak sampai membunuh,” kata Lukas yang membuat Jahtra merasa perlu menatapnya lebih lama.

“Kau sempat berpikiran untuk membunuh?”

“Maksudku, aku khawatir kau sudah berpikiran begitu.”

“Kau gila. Aku tak punya dendam apa-apa pada Pak Abdul.”

“Jah, ini memang dendamku. Aku hanya minta sedikit bantuan. Kau tak perlu ikut menghajarnya nanti. Cukup temani saja aku menyusup ke rumahnya. Berjaga-jaga di luar. Selebihnya biar aku yang lakukan. Ketika urusanku beres, kita pulang.”

Jahtra tak tahu harus berkata apa.

“Aman, Jah. Kita takkan ketahuan,” kata Lukas karena melihat kekhawatiran di wajah teman lamanya itu.

Namun Jahtra berusaha membatalkan niat Lukas. Di jalan setapak ketika mereka pulang, ia berkata: “Yang berlalu biarlah berlalu, Kas.”

“Sejak kecil aku sudah bersumpah—”

“Tahu apa anak kecil soal sumpah?”

Lukas menghentikan langkahnya. Ia kini berhadapan dengan Jahtra dan memegangi kedua bahu temannya itu. Jahtra bisa melihat kedua mata Lukas yang membelalak, membulat penuh, serasa memancarkan api dendam masa lalu. Butuh beberapa jeda lamanya bagi Lukas sebelum bertanya: “Kau temanku atau tidak?”

Jahtra tidak bisa menghindar lagi.


****


Sebelum tepat tengah malam, mereka mengendap-endap di antara semak belukar sebelum akhirnya menyeruak di belakang rumah Pak Abdul. Sinar bulan semakin terang di atas mereka. Sementara itu, sesekali lolongan anjing kampung terdengar di kejauhan. Malam terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.

Rumah Pak Abdul agak terpisah dengan rumah penduduk lain. Dinding beton dan atap genteng, halaman depan cukup luas, lantai keramik, adalah hasil pengabdiannya pada negara selama bertahun-tahun. Di halaman depan terdapat tanaman hias dalam pot yang disusun rapi, terlindungi oleh pagar bambu hasil kerja keras Pak Abdul sendiri. Isterinya merawat tanaman itu sementara Pak Abdul mengajar setiap hari. Belum pensiun.

Lukas dan Jahtra di belakang rumah. Pelan-pelan mereka merayap ke dinding sebelah kiri—yang menghadap ke lahan seluas lapangan tenis. Seberangnya adalah tanah perkuburan yang memisahkan perkampungan dengan ladang penduduk. Jahtra membisikkan sebaiknya mereka menerobos masuk melalui pintu belakang. Lukas setuju, namun demi melihat sebuah jendela yang masih terbuka, ide membongkar pintu itu dibatalkan. Melalui jendela itu, Lukas menyusup masuk. Jahtra, sebelumnya hanya ingin berjaga di luar, juga ikut masuk. Mungkin ia takut berada di luar sendirian.

Faktor usia membuat tuan rumah lupa memastikan jendelanya sudah tertutup atau belum. Alhasil tanpa kesulitan berarti, kedua bekas murid Pak Abdul itu sudah bersembunyi dalam ruangan tanpa penerangan. Lukas meyakinkan dirinya bahwa itu bukan gudang, sedangkan Jahtra merapatkan tubuhnya ke sebuah benda yang ia yakini sebagai lemari—yang permukaannya terasa dingin. Sambil meredam degub jantungnya, Jahtra berbisik, “Kau dengar orang bercakap-cakap?”

Lukas mempersiapkan telinganya—mendengarkan lebih saksama. Beberapa detik ia tak menangkap suara apa-apa selain dengung lampu listrik. Namun setelahnya ia bisa mendengar apa yang Jahtra tanyakan.

“…tamu?” bisik Jahtra.

“Sepertinya tamu penting makanya belum pulang jam segini,” balas Lukas dengan berbisik pula.

“Sial. Kau mau membalaskan dendammu saat dia ada tamu?”

“Kita tunggu. Sebentar lagi tamunya pasti pulang.”

“Terserah kau saja.”

Jahtra menutup jendela karena angin masuk ke ruangan—membuatnya kedinginan. Lalu kegelapan semakin erat memeluk kedua sahabat itu. Jarak pintu ruangan yang mereka masuki hanya beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi. Sedikit terbuka. Ada cahaya masuk yang membantu Lukas dan Jahtra saling mengamati. Jahtra bisa melihat betapa Lukas penuh persiapan. Posisi tubuhnya mantab dan tanpa terlihat takut sedikitpun, sedangkan ia harus lebih bekerja keras menenangkan debar jantungnya sendiri.

Mereka menunggu.

… mendengarkan Pak Abdul berbincang-bincang dengan seorang tamu. Lukas benci bekas luka di kepalanya berdenyut-denyut, lalu memilih berfantasi apa yang akan terjadi sesaat lagi.

Masih menunggu. Waktu. Beberapa menit.

“Ikut sertifikasi karena SK masih dua-tiga tahun lagi. Itu butuh uang. Bapak pikir tidak usah. Pensiun saja. Lagipula Bapak sudah tua. Isteri juga. Kalau Bapak masih mengajar, siapa yang akan menemaninya di rumah?” suara Pak Abdul masih terdengar tegas dan kuat seperti terakhir kali Lukas mendengarnya. Suara itu membuat denyut lukanya semakin menyakitkan.

“Menikmati hidup, Pak. Hahaha. Sampai lupa waktu jadinya. Sudah tengah malam begini saya pamit dulu, Pak. Terima kasih atas nasihatnya.”

“Sama-sama.”

Bunyi pintu ditutup. Denyutan itu seolah berbunyi kini. Lukas memandang ke sahabatnya—menghindari rasa sakit. Selama beberapa menit mendengarkan perbincangan korban dan tamunya itu, Jahtra sempat tenang. Namun begitu tamu tadi pulang, detak jantungnya kembali memacu. Bola matanya membesar. “Akhirnya,” kata Lukas yang membuatnya semakin gemetaran.

Pak Abdul menarik gorden jendela ruang tamu. Setelah menekan saklar di dekat pintu, ia berjalan melewati ruang tengah. Lukas dan Jahtra melihat bayangan melintas dari celah pintu yang sedikit terbuka. “Sepertinya ia ke dapur,” bisik Lukas.

“Kau yakin mau melakukannya, Kas?” tanya Jahtra ketika Lukas berhenti persis di belakang pintu—mengintip melalui celah itu.

Mencoba meredakan rasa sakitnya, Lukas membenarkan letak penutup wajah yang ia kenakan. Ia menarik napas. Pelan. Jahtra terpengaruh melakukan hal yang sama. Dengan sangat perlahan, Lukas keluar dari tempat persembunyian, mengendap-endap dengan kaki telanjang. Tidak ada suara sama sekali. Hanya bunyi air. Jahtra gelisah tak menentu—antara ikut mendukung Lukas atau diam saja di tempatnya. Ia memilih mengintip. Satu bola matanya bergerak-gerak tak karuan sementara satunya lagi menyipit.

Pak Abdul sedang menunggu gelasnya terisi air dispenser. Pada saat itu ia sama sekali tak menyadari mantan muridnya mengintai di balik punggungnya. Pada saat hendak minum, ia terkejut bukan main. Cepat sekali Lukas membekap mulut Pak Abdul dari belakang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya menarik pergelangan tangan Pak Abdul—membuatnya terlambat meronta. Gelas plastik itu terjatuh. Lantai basah. Mendadak waktu terasa tak adil. Pak Abdul yang sudah renta dimakan usia tak mampu melakukan perlawanan sekecil apapun.

Jahtra keluar dari tempat persembunyian, membantu temannya. Ia menarik Pak Abdul ke arah kursi, memaksanya duduk: mengikatnya dengan tali. Sementara Jahtra melakukan tugasnya, Lukas menarik sapu tangan dari saku belakang celananya. Lalu ia sumpalkan kain itu ke dalam mulut Pak Abdul. Pria tua itu merasakan mulutnya penuh—tidak sempat berteriak meminta tolong. Kini, bahkan tak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Namun ia menjejak lantai. Kursi itu ia hentak-hentakkan, melakukan perlawanan—mencoba berdiri. Lukas tanggap. Diinjaknya kursi di bagian selangkangan Pak Abdul. Ditekan kuat-kuat, lalu ia meninju wajah pria tua itu sekali. Pak Abdul mengerang tak jelas merasakan panas dan nyeri di wajahnya.

Lukas dan Jahtra bisa berdiri tenang di hadapan Pak Abdul. Keduanya seperti dua algojo di hadapan terhukum mati: mantan guru mereka sendiri. Ia terikat pada salah satu kursi di ruang makan. Mulutnya penuh dengan buntalan membuatnya hanya mampu mengerang. Ia berusaha menenangkan jantungnya dan memahami situasi. Bola matanya bergerak-gerak; memandang Lukas dan Jahtra bergantian. Di benaknya menggantung beberapa pertanyaan.

Lukas tersenyum di balik penutup wajahnya menatap wajah Si Tua Abdul yang penuh keriput itu, kemudian menoleh pada Jahtra. Jahtra tak berani memandang Pak Abdul terlalu lama. Ia sedikit takut kalau-kalau mantan gurunya mengenalinya dari sorot mata. Bagaimanapun Jahtra tidak seperti temannya itu. Besok Lukas akan pergi. Tidak ada satu pun yang tahu persis di mana ia tinggal. Ia aman sedangkan Jahtra tidak. Jahtra tinggal di kampung ini. Ia bertemu dengan Pak Abdul hampir setiap hari.

Jahtra merasakan ngeri dengan apa yang hendak dilakukan Lukas yang berjalan mendekati Pak Abdul. Degub jantungnya meningkat tajam. Ia gelisah, bergerak-gerak tak karuan. Desah napasnya semakin keras terdengar. Ia tak kuasa menahan imajinasinya sendiri tentang kengerian yang akan ia lihat sesaat lagi. Jahtra hampir berteriak: “Kau tak harus melakukannya.” Suaranya sedikit tertahan.

“Kau diam saja,” kata Lukas dengan nada tinggi. Denyut di bekas luka itu bergejolak hebat. Tak menunggu lama, ia tahu obatnya apa. Lukas meninju lagi Pak Abdul di bagian wajah. Pria tua itu merasakan sakit luar biasa pada bagian pipinya. Ia tahu—dan bersyukur—di dalam rongga mulutnya yang disumpal kain, 32 giginya masih utuh.

Hening.

Pak Abdul tak bisa berteriak kesakitan. Jahtra terpaku demi menyaksikan adegan tersebut. Ia tampak khawatir pukulan itu membuat Pak Abdul tewas seketika. Namun ia keliru. Pak Abdul kembali menoleh ke arah mereka. Perlahan-lahan, Lukas meyakini denyutan di kepalanya mereda.

“Puas kau memukuliku dulu, ha?” Lukas bertanya. Sambil menyerang dengan pertanyaan itu, Lukas juga mengerahkan pukulan demi pukulan ke perut Pak Abdul. Ia menampar, meninju, mencengkeram—lalu menampar lagi. Ia benar-benar membalaskan dendamnya. Pak Abdul tak berdaya. Ikatan Jahtra sempurna membuatnya tak mampu melakukan perlawanan. Ia tak tahu berapa lama ia bisa bertahan menerima pukulan demi pukulan. Air mata mulai menetes dari sudut matanya. Sementara itu, Lukas sudah mulai letih. Keringat mengalir di balik bajunya. Jika denyut bekas luka di kepalanya sudah berangsur-angsur reda, kini kepalan tangannya berdenyut hebat.

Terbersit sesuatu di pikirannya, Lukas melepas topeng penutup wajahnya sendiri. “Pak Guru. Ingatkah kau dengan Lukas di kelas tiga? Tahun 1987. Ia menarik celana sekolahnya yang melorot. Ibunya tak bisa membelikan celana baru.”

Jahtra semakin gelisah. Ini tidak ada dalam rencana. Bukan tidak mungkin Lukas akan memintanya melepaskan penutup wajahnya juga.

“Pak Guru. Lukas yang bodoh itu kau pukul kepalanya dengan bambu. Sampai bocor, berdarah. Bekasnya berdenyut-denyut sampai sekarang. Kau ingat?!”

Lukas meninju tepat pelipis Pak Abdul.

“Ia sudah tersiksa…” kata Jahtra terdengar menghiba. Kenangan masa lalu menariknya ke masa-masa di sekolah dasar. Ia tahu betapa nakal dan bodohnya dirinya dan Lukas. Mereka suka mencuri buah-buahan di ladang para penduduk. Mereka ahli memanjat pohon. Mereka ahli menangkap ikan. Sungai yang mengeliling desa mereka adalah kenangan yang tak terlupakan. Di sekolah, mereka kerap berkelahi, menyembunyikan buku anak-anak lain: membuat menangis anak perempuan juga merupakan kenangan. Keduanya sering dihukum karena tidak mengerjakan PR, menerima hukuman dipukul dengan lidi pada masing-masing betis mudanya. Ia tahu, Pak Abdul menjalankan tugasnya mendidik. Guru yang sering menghukum mereka—sekalipun menurut Lukas itu sangat kejam. Tidak ada guru yang memukul kepala muridnya dengan bambu sampai luka. Tidak ada guru yang seperti itu, kata Lukas dulu. Jahtra berkelahi dengan pikirannya: adakah murid seperti kami?

Jahtra menangis menatap Pak Abdul yang tak berdaya. Namun ia tidak berani menghentikan pembalasan dendam itu.

“Aku tak peduli.” Satu pukulan lagi mematahkan hidung Pak Abdul. Kursi tempat ia terikat oleng lalu jatuh ke lantai—menimbulkan suara gaduh.

Tiba-tiba Jahtra mengamuk. Ia melompat menerkam Lukas. “Cukup! Dia guru kita!”

Keduanya terjengkang. Punggung Lukas membentur lemari, membuatnya sejenak berhenti bernapas. Sesuatu meluncur dari salah satu raknya, menuju lantai. Suaranya memecah memenuhi ruangan—menyusul bunyi kursi dan tubuh Pak Abdul yang menghantam lantai. Jahtra kaget bukan kepalang. Suara itu seolah-olah tertahan di ruangan dapur. Lama sekali rasanya baru memudar. Hilang. Pecahan piring kaca berserakan di lantai.

“Kau kenapa?” Lukas mencoba bangkit sambil menahan nyeri pada tulang belakangnya. “Kenapa kau mendorongku?”

Jahtra sudah bangkit. Ia mencoba membangunkan Pak Abdul yang masih terikat di kursinya. Lukas meraih benda apapun di lantai. Ia mendapatkan pecahan piring yang cukup besar. Ia melempar Jahtra yang beruntung melihat kejadian itu. Ia mengelak tepat saat kursi tempat Pak Abdul terikat sudah kembali berdiri. Meleset. Pecahan piring itu melesat menabrak lemari yang lain.

“Hentikan, Jah!” Lukas berteriak. “Kau jangan ikut campur!”

“Sudah cukup! Ia bisa mati kalau terus kaupukuli!”

“Dia pantas mati!”

Belum tuntas Jahtra melepaskan ikatan yang membelit pinggang serta tangan Pak Abdul—seseorang muncul di balik pintu kamar.

Teriakan perempuan memenuhi ruangan.

“Jaaahhh!!” Lukas ikut berteriak.

Jahtra tak tahu bagaimana akhirnya ia berlari menerkam isteri Pak Abdul. Ia terjatuh, menubruk tubuh renta perempuan itu. Pintu kamar berdebam menghantam dinding.

Isterinya tak bergerak sedikitpun. Demi melihat kejadian itu, tubuh Pak Abdul bergetar hebat. Menggunakan sisa kekuatannya, ia mengamuk. Ikatan yang hendak dibuka Jahtra tadi berhasil terlepas. Pak Abdul mengangkat kursi tempat ia sebelumnya disiksa. Jahtra yang coba membangunkan isteri Pak Abdul tidak melihat bahaya yang mengancamnya. Ia panik—terdengar seperti menangis. Ini tidak ada dalam rencana. Sebelum teriakan Lukas merambat sampai ke telinganya yang tertutup penutup wajah, kaki kursi menghantam tepat punggung Jahtra. Entah mana yang berderak; kursi atau tulang punggungnya.

Jahtra terpekik menahan sakit luar biasa. Kedua bola matanya membelalak sementara napasnya terhenti sesaat. Tubuhnya ambruk, telungkup di atas perempuan itu. Pak Abdul menariknya dan seperti sampah, ia mencampakkannya begitu saja. Jahtra masih belum menemukan keseimbangan. Tubuhnya menubruk pinggir meja, lalu terhempas ke lantai.

Lukas sudah bangkit, menerkam Pak Abdul yang memanggil-manggil sebuah nama. Keduanya bergumul menimpa tubuh perempuan itu. Sekuat tenaga Pak Abdul menahan bobot Lukas di atas punggungnya. Lalu seketika ia menubrukkan Lukas pada pintu. Entah apa yang terjadi pada tenaganya. Berkali-kali Lukas menerima siksa yang sebelumnya tak pernah ia perkirakan. Wajahnya babak belur. Darah mengalir dari lubang hidungnya.

“Sialan! Bangsat! Jah! Bantu aku menghajar kakek ini! Hahaha!”

Lukas meronta. Serangan balasannya tak menemukan sasaran. Hanya memukul lemah angin, sementara satu tangan Pak Abdul mencengkeramnya di leher. Jahtra hanya bisa menyaksikan keadaan berbalik buruk bagi ia dan temannya—dengan posisi kepala miring. Pemandangan itu memilukan hati. Ia bisa mendengar Lukas tertawa pasrah: menyumpah serapah Pak Guru. Jahtra berusaha bangkit. Ia ingin membantu. Namun kini ia ragu harus membantu siapa.

“Kau murid kurang ajar. Jangankan memukul kepalamu, kalau perlu akan kubakar kau hidup-hidup malam ini!”

Jahtra yakin mendengar tawa Lukas yang terdengar aneh karena bercampur dengan darah yang keluar dari gusinya. “Kau guru brengsek! Tak pantas kau jadi guru!” Lukas meludahi Pak Abdul dengan darahnya. “Harusnya kau mati sejak lama. Tapi umurmu panjang karena aku harus tumbuh dewasa untuk membuat perhitungan denganmu.”

Pak Abdul menjambak kasar rambut basah Lukas. “Kau dan temanmu mati malam ini!”

Jahtra menelan ludahnya sendiri.

Tawa Lukas terhenti saat wajahnya menghantam pintu. Darah segera meninggalkan bercak di sana. Lukas kehilangan kesadaran. Pak Abdul belum puas. Ia menginjak-injak tubuh kurus Lukas. Berkali-kali. Lukas sudah tak merasakan apa-apa. Ia tidak tahu seberapa cekung perut di balik jaketnya berbekas tapak kaki gurunya sendiri. Lalu Pak Abdul membiarkannya tergeletak. Ia punya satu pekerjaan lagi.

Namun ia tidak menemukan Jahtra di kaki meja. Ia telah menghilang. Pak Abdul memperhatikan seisi dapur. Tidak ada. Ia berjalan terengah-engah mendorong pintu gudang. Jendela terbuka. Suara sesuatu terjatuh. Pada saat hendak melompat keluar, perempuan itu terbatuk. Pak Abdul urung melakukan pengejaran.

“Kau tidak apa-apa?”

Ia menemukan isterinya sadar dari pingsan.


***


Berlari menerobos semak belukar, Jahtra hanya memikirkan satu tempat. Sungai. Ia harus segera membasuh tubuhnya yang penuh keringat. Jahtra tahu harus berlari ke arah mana sekalipun gelap menyelimuti kebun kopi di belakang rumah Pak Abdul. Ia terisak dalam pelarian. Ia mencoba mengingat bagaimana Lukas meneriakkan namanya. Ini tidak ada dalam rencana. Ia merutuk marah. Ini tidak ada dalam rencana.

Beberapa menit kemudian ia tiba di sungai. Setelah melepaskan penutup wajahnya, ia hempaskan tubuhnya ke bagian yang dangkal. Telungkup. Pelan-pelan air tapian hulu mendinginkan panas tubuhnya yang hebat. Jantungnya masih berdebar-debar, namun perlahan ia kedinginan. Hening. Hanya terdengar suara jangkrik di pohon-pohon rambung yang gelap.

Cuma sebentar, lalu Jahtra bangkit. Apa yang harus ia lakukan sekarang ia sudah tidak tahu lagi. Ini tidak ada dalam rencana. Apa yang baru saja terjadi ia mencoba memahami. Ini gila. Lukas tertawa bahkan saat ia dalam keadaan tidak berdaya. Ia pasti sudah mati. Bilapun belum, ia akan buka mulut.

Lukas pasti tidak mau dibakar Pak Abdul hidup-hidup.

Jahtra menggigil karena takut tidak bisa pulang. Bulan di atas kepalanya.

Sedetik kemudian tangisnya pun pecah.



*****

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Chris - Proses Pembalasan Dendam (7 years 43 weeks ago)
80

no comment, soalnya gak tega sama Lukas...hehehe

Writer kemalbarca
kemalbarca at Chris - Proses Pembalasan Dendam (7 years 46 weeks ago)
80

pesan cerita ini : jangan jadi guru galak

80

Aduh maaf saya merasa adanya komentar yang kurang perlu dalam cerita ini. Misal saja kalimat ini:
.
>> Faktor usia membuat tuan rumah lupa memastikan jendelanya sudah tertutup atau belum.
.
Terkesan penulis serba tahu tapi juga ragu-ragu. Tidak pasti. Kalaupun kalimat ini tidak ada, pembaca bisa dibiarkan bertanya-tanya sendiri, "Eh, kok jendelanya terbuka?" Dan kemudian tahu sendirilah ia, o, rupanya Pak Abdul masih ada tamu...
.
Juga kalimat ini:
.
>> Jahtra berkelahi dengan pikirannya: ...
.
Kalimat-kalimat sebelumnya sudah menunjukkan kelebatan pikiran Jahtra, yang ditutup dengan satu pertanyaan simpulan yang bahkan dipertegas dengan dimiringkan. Pembaca saya kira sudah bisa tahu sendiri bahwa Jahtra sedang bergulat dengan pikirannya tanpa penulis harus memberitahukannya sbgm dalam kalimat di atas.
.
Selain itu, saya takjub sama Pak Abdul. Ketika bercakap-cakap dg tamunya, diberitahukan kalau ia masih tegas dan kuat (dari suaranya). Tapi kemudian disebutkan kalau ia sudah renta, ketika Lukas menyerangnya. Tapi lagi, ternyata Pak Abdul masih bisa membalas Lukas dan Jahtra dengan tidak kalah kerasnya. Padahal menurut KBBI, (tua) renta itu berarti sudah tidak bertenaga lagi. Jadi penggunaan kata "renta" di sini saya kira tidak tepat. Wajar kalau pada serangan pertama Lukas berhasil, karena Pak Abdul mesti kaget. Nah kemudian Pak Abdul sudah bisa menguasai keadaan sehingga bisa balas menyerang.
.
Begitu saja. Maaf kalau kurang berkenan. Saya hanya coba mengapresiasi hehe. Peace.

“Dia yang mendidik kita, Kas. Kau dan aku bisa seperti sekarang ini karena dia. Dia gu—”
“—mantan guru kita. Aku tak peduli, aku tetap akan membuat perhitungan. Lagipula kau dan aku jadi seperti apa sekarang?
<<<< saya agak nggak nyaman sama bagian ini. Kenapa harus dijadikan dua bagian? Andai ada penjelasan mengenai deskripsi si pembicara, saya rasa nggak masalah (misal: “si kampret lagi ngomong” katanya sambil memakai celana “apa harus kita hajar?”), tapi ini nggak ada. Seperti dua bagian terpisah. Saya sih ngeliat dari segi estetis ajah :P
.....

“Kau sempat berpikiran untuk membunuh?”
“Maksudku, aku khawatir kau sudah berpikiran begitu.”
“Kau gila. Aku tak punya dendam apa-apa pada Pak Abdul.”
<<< itu saya merasa pada percakapan pertama dan kedua, yang ngomong orangnya sama yak? Soalnya saya agak bingung untuk nyambungin ke bagian selanjutnya.
.....
“Kau temanku atau tidak?” <<<< gaenak nih oom. “kau temanku atau bukan?” itu baru asoy :D
...
“Pak Abdul sedang menunggu gelasnya terisi air dispenser. Pada saat itu ia sama sekali tak menyadari mantan muridnya mengintai di balik punggungnya.” <<< dari balik punggungnya kayaknya oke tuh. Yang awal juga udah asoy sih, Cuma kayaknya yang saya benerin lebih asoy (karena saya keren. Loh?? :P)
itu dolo, sisanya bar yang lain.
........

ooh saya suka settingnya nih. kayaknya si oom buruburu bikinnya. kayak selalu ada yang kurang gitu. deskripsi ruangan misalnya. saya ngeliat kayaknya memang mencoba mendeskripsikan tentang ruangan (yang dikatakan sebagai gudang tersebut, cuma kayaknya lebih enak kalau digambarkan sembari membiarkan si karakter melakukan apa yang dijalankan ceritanya. biasanya si oom jago kalo masalah deskripsi. pegimana sih?