Siapa?

Duduk termenung, pikiran menglanglang buana ke alam bawah sadar. Indahnya ketika menjelajahi alam ini. Ketika angin menghembuskan mantra gaibnya, sehingga membuatku bergerak tepat ke depan gerbang ilusi. Tak sadar ku melupakan hal yang begitu nyata dan itu bukan hanya bayangan. Oh tidak! Aku tak mau meninggalkan alam itu.

Stop! Hadapi kenyataan, berpikir positif, dan coba untuk tenang. Hanya itu yang dapat dan mampu ku lakukan. Sabar.

"Permisi! Ada yang mau menemuimu, Mbak!"
"Siapa?"
"Lihatlah sendiri!"

Aku melenturkan tubuhku walau aku bukanlah seorang penari. Badan ini sungguh lelah walau aku bukanlah atlet. Pikiranku penat walau aku bukanlah seorang profesor. Akhirnya aku bisa keluar dari bui ini walau hanya sekejap, setelah sepuluh tahun aku mengurung diri atau lebih tepatnya terpaksa mengurung diri di sini.

Aku berjalan dengan rangkaian besi di kedua tanganku, serta ditemani cowok berbalut seragam hijau dengan topi anehnya. Entah aku ini apa, sehinggaku dibuntuti seperti ini. Aku jadi sedikit malu. Di perjalanan menuju ruang depan, aku memberanikan diri berbicara.

"Akhirnya ada yang menjengukku, hahaha!"
"Mbak ini belum pernah dijenguk sekalipun?"
"Belum."
"Berapa lama mbak di sini?"
"Hahahaha sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama, hahaha!"
"Mmm."
"Om, wajahku masihkah cantik??"
"Hm hm mungkin hm." Sepertinya dia terkekek.

Tak sadar aku telah sampai di ruang depan. Cukup melelahkan walau hanya sejauh 15 meter. Kutemui seseorang yang telah mau menjengukku. Kutatap wajahnya lamat-lamat. Semburat di wajahnya mengingatkanku pada seseorang yang pernah ada di hatiku. Tapi, aku kini benar-benar tak tahu itu siapa. Dia terlalu tua untuk tambatan hatiku. Apakah dia ayahnya? Apakah dia akan melamarku?

"Siapa ya?" Aku bertanya sambil menarik kursi.
"Kau masih sama. Susah untuk menjelaskannya. Aku ke sini akan menjemputmu karena kau seharusnya tak ada di sini."
"Hm?" Jujur saja aku tak mengerti.
"Kau sekarang boleh pulang dan biar aku yang merawatmu. Aku salah telah menitipkanmu di sini."
"Kau siapa? Kau tampak terlalu tua jika ingin mengurusiku."
"Masih tak ingat?"
Aku menggeleng.
"Telah tiga puluh tahun kita bersama dan beberapa hari kau disini, kau masih saja tak ingat aku? Aku suamimu."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Siapa? (3 years 18 weeks ago)
90

bagus

Writer neeyachan
neeyachan at Siapa? (3 years 18 weeks ago)

makasih :)