[Round 5] Edward Kalashnikov - Bloody Tear in Despair

Car 5

 

Edward tidak mempedulikan pemuda berjaket hitam-ungu—Albiero—yang berdiri di belakangnya dengan tatapan tidak suka. Edward merasa ada seseorang berdiri di belakangnya, namun ia pikir itu hanya ilusi hingga ia memutuskan untuk melirik.

Seorang pemuda berambut coklat dengan jaket hitam-ungu menatapnya dengan  tatapan suram—atau marah?

“Kau… nyata?” tanya Edward.

“Tsk.” Pandangan Albiero makin tajam ke arah penyihir tersebut. “Aku tidak suka kau seenaknya membuang nyawa orang lain.”

“Heh, memangnya kau siapa? Pahlawan?”

Albiero hanya melengos. Entah ia harus menganggap dirinya pahlawan atau bukan. Pria yang selama ini yang dipercaya melindungi nyawa lainnya kini harus diragukan, pasalnya pria tersebut—yang menjadi pemimpin Albiero—sudah tidak peduli dengan nasib orang lain. Albiero sendiri bertekad untuk menyelamatkan seluruh penumpang yang ada disini.

“Heh,  sombong sekali kau tidak menjawabku.” Edward menghunuskan tombaknya ke  arah Albiero, namun dengan sigap Albiero menghindar dan memunculkan sebuah penghalang kasat mata yang dapat menghalau agar tombak itu tidak mengenai dirinya.

“Wow, refleksmu hebat juga.”

Albiero kembali membuka satu kaleng dry ginger dan menyesapnya. “Kurasa akan sakit kalau kena.”

Edward mengambil ancang-ancang dan melontarkan api ke arah Albiero. Lagi-lagi, pemuda berjaket tersebut dapat meniadakan api lawan sebelum mencapai tubuhnya.

“Kau… penyihir?”

“Hah? Bukan. Aku bukan—“

Satu pukulan tangan kosong mendarat di pipi Albiero sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya. Albiero terguling di atas lantai gerbong dan Edward menginjak dadanya. 

“Matilah kau!!”

Sekali lagi Edward menghunuskan tombaknya menuju jantung Albiero, namun sekali lagi juga  pemuda berjaket itu berhasil melindungi tubuhnya dan membuat sang penyihir terlempar .

Edward tersudut. Ia melihat tidak ada yang salah dengan sosok pemuda di hadapannya. Pemuda tersebut hanya pemuda biasa yang senang minum jahe kalengan. Tidak ada mantra yang diucapkan oleh pemuda itu, dan bahkan matanya bisa melihat tidak ada yang menutupi tubuh pemuda itu selain jaketnya. Edward mengernyitkan alis.

Mengapa tombaknya selalu dapat dihalau bahkan sebelum menyentuh pemuda itu?

“Kau berbohong.” Edward menggertakkan giginya.

“Berbohong soal ap—”

Kepulan asap putih menguar di hadapan Abiero dan ketika asap itu memudar, sosok Edward sudah tidak ada disana.

“Apa-apaan? Dimana dia?”

Albiero memandang ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan jejak keberadaan Edward.  Albiero mendongakkan kepala keluar jendela dan tidak menemukan apa-apa selain pekatnya malam dan angin padang pasir yang dingin. Menghela napas lega, Albiero kembali duduk dan menyesap jahe kalengan yang sudah tidak terlalu hangat—tanpa Albiero tahu bahwa Edward memperhatikan gerakannya dari atas.

 

*

 

Seekor kelelawar terbang menukik ke arah Albiero dan menabrak pipi pemuda itu dengan kepalanya. Albiero terkesiap, mencoba mengenali benda asing apa yang baru saja menubruknya. Kelelawar itu menukik lagi, namun kali ini Albiero menghindar. Ia memperhatikan kelelawar itu dengan seksama dan mengetahui bahwa kelelawar itu bukan kelelawar biasa. Beradu tatap, Albeiro mengenali pemilik mata yang dimiliki kelelawar tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan pemuda berjubah yang tadi melawannya.

Albiero mengambil ancang-ancang untuk menurunkan kelelawar tersebut dengan Gravitation Barrier-nya. Dipejamkan mata, dan dihelanya napas dalam-dalam sebelum akhirnya kelelawar tersebut jatuh ke lantai gerbong disertai dentuman yang keras.

Ia berdecit. Mencoba berdiri.

Namun terjatuh lagi.

Kepayahan, ia menyerah bergerak dan kembali ke wujud asalnya yang berupa manusia.

Albiero juga merasakan hal yang sama dengan si kelelawar. Tubuhnya terasa berat, namun ia coba untuk bertahan  sampai kelelawar tersebut tidak bisa menggerakkan badannya.

“Kenapa… kenapa…” Edward menggertakkan giginya dan menggeram berulang-ulang.

Albiero mendekat perlahan. Tidak mengerti apa yang terjadi pada penyihir malang.

“Kenapa kau menggunakan sihir ini padaku? Aku tidak mau mengingat mereka! Jangan mengaduk-aduk dadaku!! Hadapi aku, penyihir sialan!!” Edward mulai meracau.

Albiero masih tidak mengerti. Siapa yang dimaksud dengan penyihir oleh pemuda berjubah ini. Well, Albiero memang bisa menciptakan penghalang tidak terlihat, namun dirinya masih belum bisa dikatakan penyihir, bukan? Lalu, apa maksudnya?

“Kau meracau. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik kalau kau mau.” Albiero menyentuh pundak Edward yang masih bersimpuh di lantai meski efek Gravity barrier sudah tidak terasa.

“JANGAN MENYENTUHKU!!!” Satu gerakan dan Edward mengenyahkan tangan Albiero di bahunya. “JANGAN PENGARUHI AKU DENGAN SIHIRMU!!”

Albiero menggeleng. Ia yakin sekarang, bahwa pemuda berjubah ini sudah mulai kehilangan kesabarannya.

“Kurasa kau salah paham—”

“AKU BILANG DIAM!!” Edward melemparkan pecahan otak anak kecil yang dihancurkannya tadi. Di kepalanya, sosok Melody, Artie dan Hideya masih terus berputar. Luka di dahinya mengalir melintasi mata marun yang membengkak sebelah. Tangannya gemetar dan perlahan digambarnya sebuah lingkaran bertuliskan huruf aneh. Albiero tidak mengerti mengapa Edward menjadi autis dengan menggambari dinding dan lantai dari darah anak kecil tersebut. Seksama ia memperhatikan Edward yang berubah menjadi tidak peduli pada kehadirannya di tengah gerbong.

Edward terus menggambari dinding serta lantai gerbong dengan darah anak kecil dan dan darah hewan buas yang ia bawa dari Oase. Albiero masih waspada, meski Edward seolah tidak berdaya sekarang—seperti anak TK, Edward masih bertanggung jawab atas kematian seorang anak kecil di depan matanya. Sekalian untuk berjaga-jaga jika Edward melakukan hal yang bisa membahayakan nyawanya.

“Kenapa kau mundur, penyihir tengik?” Edward sudah selesai menggambari tiga perempat gerbong dan menghampiri Albiero yang perlahan menciptakan jarak diantara keduanya.

“Aku bukan penyihir!”

“KALIAN SEMUA TIDAK BERGUNA!! KALIAN SEMUA HARUSNYA MATI SAJA!! KENAPA KALIAN DATANG LAGI KE KEHIDUPANKU?!”

Edward masih meracau tidak jelas. Kewarasannya hanya setengah, sedangkan setengah lagi hanya halusinasi. Entah apa yang dilakukan ‘waktu’ padanya hingga ia seperti ini.

Albiero mengambil sikap waspada. Di hadapannya saat ini bukan lagi anak TK, melainkan orang gila yang setiap saat bisa saja melakukan sesuatu di luar logika.

“Maaf, sepertinya aku harus menghentikanmu sebelum kau menghentikanku menyelamatkan mereka.” Albiero mengatakan dengan suara datarnya.

“HAHAHAHA!! APA KAU TAHU, BOCAH?! SUDAH TIDAK ADA YANG PEDULI PADA KALIAN!! BERLUTUTLAH PADAKU, SERAHKAN JIWA KALIAN!!”

Albiero menggertakkan giginya. Ia tahu peraturan ronde kali ini sangat bertentangan dengan prinsipnya. Ia bertekad akan menyelamatkan semuanya dengan caranya sendiri.

“Apa kau tahu, orang berjubah? Tidak akan kubiarkan kejahatan sepertimu bebas berkelana..”  Albiero menggenggam tangan kirinya erat.

“JANGAN SOMBONG, BOCAH! MENATAPKU SEOLAH MENGATAKAN KAU TIDAK TAKUT. APA YANG BISA KAU LAKUKAN SENDIRIAN?!”

Albiero menggeritkan giginya. “INFINITE BARRIER!!!”

Puluhan hingga ratusan barrier tidak kasat mata berdiri tegak layaknya domino. Edward mencodongkan badannya ke depan, bersiap menyerang Albiero. Namun ia masih kalah cepat dengan Albiero yang sudah menggerakkan tangannya untuk mendorong Edward  menggunakan barrier tersebut.

“Ohok!!” Edward tidak mengerti mengapa Albiero bisa mendorong tanpa menyentuhnya. Ia ingin bergerak melawan, namun tidak bisa. Dorongan yang ia terima terlalu kuat hingga tidak memberikan dirinya ruang gerak untuk melawan.

Edward terpojok. Belakangnya merupakan pintu gerbong yang menghubungkan gerbong lima dan enam. Tak hanya gerakannya yang terkunci, namun dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tidak bernapas. Edward memukul dadanya sendiri, mengangkat tangannya untuk melakukan pengorbanan dengan meledakkan salah satu anggota tubuhnya. Namun saat ia coba mengangkat kepalanya, sebuah tendangan putar yang dilayangkan Albiero mengenai pipinya hingga ia berputar sebelum akhirnya tersungkur.

Beberapa gigi geraham Edward patah, hidungnya berdarah saat berbenturan dengan lantai. Ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Tubuhnya kepayahan saat ia mencoba bangkit.

“Parakalo̱!!!”

Coretan Edward  di dalam gerbong mengeluarkan cahaya. Tidak hanya satu, melainkan semuanya. Albiero memandang cahaya-cahaya tersebut dengan memicingkan matanya. Bahkan sebelum ia berhasil mengaktifkan Absolute Breaker, kilatan cahaya—yang sebenarnya api putih—itu telah menyelimutinya.

 

Read previous post:  
43
points
(7678 words) posted by dismyname 7 years 1 week ago
61.4286
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Battle of Realms | HxH
Read next post:  
100

Akhirnya agak anti-klimaks. Tapi progress ronde ini mulai dari pra ronde sampai hari-h nya sangat bagus. Gorenya saya suka. Penuh darah dan sadis ^_^.
.
+4

Makasih, bang Manik ^_^

80

Dari semua r5, ini serius favorit saya. Saya ga akan ngomong sekedar soal battle - saya suka eksekusi ceritanya. Mulai dari perlahan ngebuka dengan cerita nasib mereka yang keliminasi, ngebangun sesuatu yang potensial buat canon edward, dan si ed sendiri keliatan jadi main char banget di cerita ini dengan gimana dia ngadepin karakter" lain satu persatu
.
+4

Uwaa.. Thank you kak Sam udah mau mampir... :3
.
Awalnya itu sebenarnya RTR yang belum sempat ketulis.. Hehehe

>[Edward melepaskan jubahnya dan
mengibasnya di atas lantai. Dari dalam jubah,
keluarlah sosok Tobari Hideya yang juga tidak
sadarkan diri, sama seperti Haruo.
Xia mendekati jasad Hideya ]
^
hmmm...jadi masi idup apa mati?

> [ia menyerah bergerak dan kembali
ke wujud asalnya yang berupa manusia.
Albiero juga merasakan hal yang sama dengan
si kelelawar. Tubuhnya terasa berat, namun ia
coba untuk bertahan sampai kelelawar tersebut
tidak bisa menggerakkan badannya.]
^
bukannya da jadi manusia?

>mencacah itu bukannya memotong hingga halus ya? bukannya tombak cm bisa nusuk?

>sayap rexie ga bisa buat terbang...whwhhwhwhwhhw

>kenapa ada bbrp page yg rasanya sama persis, adakah yang saya lewatkan? kenapa battle yg lbh berasa battle hanya vs albie? rexie nya mati mudah...dan...altem di trick...whwhhwhwhwhwhwh
.
.
#unggg...maaf saya kasih +3...karena battle nya...berasa "koq gitu doank" (kecuali vs albi)....
maappppppp....
TT A TT

1. Jasad mestinya tubuh.
.
2. seharusnya itu "kelelawar--yang telah jadi manusia--"
.
Thank u...
.
Well.. ujung tombak nusuk emang, tapi kalau ditekan terus2an ya halus juga... Saya gituin tikus sih #eh
.
Yay! emang fokus ke albie mbak
.
Makasih ya udah mampir

kau.....sadis nak....

=A=

>[Edward melepaskan jubahnya dan
mengibasnya di atas lantai. Dari dalam jubah,
keluarlah sosok Tobari Hideya yang juga tidak
sadarkan diri, sama seperti Haruo.
Xia mendekati jasad Hideya ]
^
hmmm...jadi masi idup apa mati?

> [ia menyerah bergerak dan kembali
ke wujud asalnya yang berupa manusia.
Albiero juga merasakan hal yang sama dengan
si kelelawar. Tubuhnya terasa berat, namun ia
coba untuk bertahan sampai kelelawar tersebut
tidak bisa menggerakkan badannya.]
^
bukannya da jadi manusia?

>mencacah itu bukannya memotong hingga halus ya? bukannya tombak cm bisa nusuk?

>sayap rexie ga bisa buat terbang...whwhhwhwhwhhw

>kenapa ada bbrp page yg rasanya sama persis, adakah yang saya lewatkan? kenapa battle yg lbh berasa battle hanya vs albie? rexie nya mati mudah...dan...altem di trick...whwhhwhwhwhwhwh
.
.
#unggg...maaf saya kasih +3...karena battle nya...berasa "koq gitu doank" (kecuali vs albi)....
maappppppp....
TT A TT

80

nice story kak dee. dari awal aliran ceritanya enak diikuti. adegan-adegan pembunuhannya juga menarik, sadis-sadis gimana gitu... >_<
.
cuman rasanya kurang greget nih pertarungan edward sama albieronya, kurang in de hoy~ #plak
.
+3

Thanks udah mampir kak sun..
.
Jangan terlalu indehoy, cintanya Edward cuma buat seseorang di Heretic. :v
#plak

50

first kasih poin +3,5

Huaaaa...... Edd, makin kesini makin imuuuutttttt >.<
*cubitin pipi Ed...

Dari berbagai karya kak Dee, disini saya kurang ngerasain Ed kejam :3 imo, kurang deskripsi. *saaayyaaa suka baca deskripsi >.<

dan penyihir yang dikejar Ed seperti tak ngaruh apa-apa dan kayak kurang di-eksplor #pukpukAnonimWizie

Tapi saya suka ngeliat(visualisasi) ed disini.. wkwkwk

Umiii...Makasih >w<
.
Ed sebenarnya masih sedih kehilangan Hideya #Ini bukan BL
.
Wizienya itu ndak ada... Itu kan mesin batu bara :')
.
Thanks sekali lagi XD

80

Eddie.. dirimu selalu sadis... X'D
.
kak Dee pinter banget cara nulis kmatian Hideya hikkss T_T
.
suka cara kematian Rexanne (emg mesti ditipu dgn kelembutan spertinya (?) x'D ) tp paling suka cara matinya Albiero... keren yg pas adegan tombak itu.. >.<
.
smntara Altem cenderung mati konyol wkwkwk
.
eaaa.. dialog caps bertebaran..
.
Ceritanya bagus, cuma IMO kurang berkesan buat saya.. ada Melody, sma bapaknya.. tapi yaudah gitu doang, kyaknya ndak berdampak apa2 sama Edward kecuali galau sesaat.. dan shock gegara bapaknya itu terlalu tell... terlalu tiba2..
.
btw itu pengunjung2 lain ndak panik lihat pembunuhan atau gerbong meledak di deketnya ??
+3

makasih, jadi malu //// (eddie)
.
saya ga tau kayak apa nulisnya. asal aja lol
.
Albie juga susah sebenarnya OAO)w
.
eaaa itu dialog caps ngga tanggung2.. saya lagi suram #apa
.
Melody, Artie, Hideya itu halusinasi ed aja kok. Distorsi waktu.. Dan ya emang bapaknya ngagetin #eh #bapak?
.
Pengunjung cuma di gerbong 12 kayaknya dan mereka semua kayak ga peduli satu sama lain sejakmereka berasal dari dunia yg berbeda. Kalau soal ledakan, saya bikinnya sih seolah itu cuma getaran aja. ga ada suaranya karena masing2 gerbong kedap suara.
.

Makasih udah mampir <3

90

bingung mau komen apa~ >_<
td typo udah, ,
nice dah detail tiap gerbong
titip +4

Makasih bang hael <3
Sampe dobel
.
ditunggu hilyanya :3

90

bingung mau komen apa~ >_<
td typo udah, ,
nice dah detail tiap gerbong
titip +4

80

Edward ini parah banget, anak kecil kepalanya diawur2 gitu. Yang kurasa niat banget dari Mas Dee ini adalah bahwa karakter2 selain Edward juga sesuai banget dgn konsep karakternya, baik itu Rexanne, Albi, Altem, bahkan Blackz. R5 Edward jg dibikin sesuai dgn kanon panitia yg rumit. Paling keren pas bagian adu tusuk vs Albi, taktiknya lawan Altem jg jitu soalnya Altem paling gak bisa tipu2an. Cuma kengerian dari api putihnya aja yang kurang digambarin kayak apa.

kasih +4 ah :D

yey!
Makasih pak po... X3
.
Sebenarnya itu OOC, orz. Dan albiero itu susah dikalahin. uhuhuhu...
.
Makasih udah mau mampir + kasih poin x3
.
Kalau lolos sih, kengerian api putihnya bakal dijelasin di ronde depan.. Kalau sekilas bisa saya jelaskan. Pertama-tama api putihnya itu silau, terus langsung ngerubah apa yang dilahapnya jadi abu. Gt aja sih. cepet kok, paling nggak 5-10 detik.